
Setelah terpergoknya Kenanga dan Alfin oleh Angga, mereka kini diseret Angga untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dan disinilah mereka, di sebuah restoran yang letaknya cukup jauh dari markas. Mereka menjauh sengaja menghindari curiga dari para rekan tentara yang lain.
Kenanga duduk berhadapan dengan Angga sedangkan di meja belakangnya, Alfin harus duduk menahan canggung dengan calon istri Angga, Bela.
Kenanga diam saja dan tak terpengaruh meski Angga menatapnya terus dengan tatapan menyelidik.
Kenanga risih terus ditatap sepeti itu, akhirnya dia membuka suara. "Tanyakan saja."
"Memang ada yang saya ingin tanyakan. Jadi apa yang terjadi? Kenapa Letnan dengan Dokter Alfin? Dan memakai baju yang seragam?"
"Menurutmu?" tanya balik Kenanga.
"Menurut saya, kalian akan menikah." ucap Angga terdengar cukup ragu.
"Kau sudah tahu jawabannya." tandas Kenanga acuh.
"Serius Letnan? Kok bisa? Sejak kapan kalian pacaran? Kenapa tiba-tiba memutuskan menikah dan tidak memberitahu kami? Kami kira Letnan masih lajang!" tanya Angga beruntun. Kenanga mengusap telinganya yang pengar.
Melihat reaksi Kenanga yang acuh itu, Angga jadi geregetan. "Ah Letnan, jawab pertanyaan saya!" serunya.
Kenanga mendesah lelah, dia mengangguk kecil.
"Kami dijodohkan, bukan pernah pacaran dan akan menikah. Saya baru tahu soal itu sebulan lalu dan saya tidak yakin saya harus mengatakannya pada kalian." jelas Kenanga.
"Dijodohkan katamu? Bukan--ini sudah zaman modern, masih ada tren perjodohan? Saya kira ini hanya ada di novel-novel yang sering dibaca Bela." ujar Angga tak percaya.
"Jadi, tolong rahasiakan ini dari yang lainnya. Saya tidak mau mereka tahu sebelum waktunya." pinta Kenanga.
"Kenapa?" tanya Angga.
"Karena situasi kami." tandas Kenanga. Dia melanjutkan, "Kami dijodohkan dan setuju menikah karena sama-sama sudah dewasa dan mengandalkan akal sehat tanpa cinta. Saya harus meneguhkan dulu hubungan kami, seperti komitmen hidup berdampingan dalam waktu lama agar apa? Agar saya tidak mendapat masalah di militer dan masa depan Alfin juga baik-baik saja. Itu sebabnya saya merahasiakannya dulu agar hubungan kami lebih kuat dulu sebelum datang gangguan eksternal. Dan yang paling penting, agar saya tetap bisa menjadi tentara aktif seperti biasanya." jelas Kenanga panjang lebar.
Angga tertegun, dia tidak menanggapi sama sekali dan malah menatap Kenanga seakan terpesona sesuatu.
Kenanga mengerutkan dahinya kala tidak mendengar tanggapan dari Angga.
"Kau mengerti tidak?" tegur Kenanga.
Angga mengangguk lalu menggeleng, "Saya tidak mengerti satu patah katapun tapi saya takjub dan tak percaya kalau akan mendengar ucapan amat panjang keluar dari mulut Letnan." ucapnya.
Kenanga menatap datar Angga, "Intinya rahasiakan." tegas Kenanga.
Angga mengangguk, "Baik Letnan. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Bolehkan saya diundang ke nikahan Letnan?" tanya Angga. Dia buru-buru menjelaskan ucapannya kala melihat raut Kenanga sudah amat datar. "Anggap saja saya sebagai perwakilan rekan kerja. Meski hanya akad nikah tapi ada banyak tamu juga lebih baikkan?"
Kenanga terdiam sebentar lalu mengangguk.
Angga tersenyum senang, "Terimakasih Letnan!"
"Hem." balas Kenanga.
***
Setelah pembicaraan mereka selesai, Kenanga dan Angga kembali menghampiri Alfin dan Bela. Mereka duduk di tempat masing-masing.
"Apa yang terjadi?" bisik Alfin.
"Bukan hal serius." balas Kenanga.
Angga memerhatikan Alfin dengan seksama, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Ekhem, dokter, selamat datang di keluarga besar kami." ucapnya.
Alfin membalas uluran tangan Angga dan tersenyum, "Terima kasih." balasnya. Kemudian tautan tangan mereka terlepas.
"Saya sebagai rekan kerja Letnan selama tujuh tahun ini hanya bisa bilang bahwa meskipun Letnan memiliki raut datar yang akan membuat siapapun ingin menonjoknya," Kenanga melotot pada Angga, "Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang baik. Seperti apa kata pepatah, less talk, more action. Letnan adalah tipe orang yang tidak tahan melihat ketidakdilan atau kesusahan. Ibaratnya, kalau saat pelatihan ada yang satu tim dengannya, maka siapapun itu akan beruntung dan mendapat A."
Kenanga memutar bola matanya malas mendengar ocehan Angga itu.
"Kau Bela kan?" celetuk Kenanga. Perempuan di samping Angga itu menganggukkan kepalanya.
"Selamat atas pernikahanmu. Oh ya, saran saya tonjok saja Angga kalau dia menyakitimu. Tonjoklah dia area lengan dalamnya, itu adalah titik terlemahnya." ucap Kenanga datar.
Angga melotot kesal, sedangkan Bela hanya mengerutkan dahinya.
"Apakah ini saran untuk membunuh saya?" sela Angga.
"Apakah kau akan mati hanya karena ditonjok sekali?" balas Kenanga. Perempuan itu lalu menatap Bela lagi, "Hei, tonjoklah dia dengan pisau dapurmu saja." lanjutnya.
"Letnan..." rengek Angga. "Jangan bicara aneh-aneh pada calon istri saya."
"Saya hanya becanda. Tapi Bela, ingat saja kiat itu ya. Calon suamimu pernah ditonjok di bagian itu oleh Panji dan dia pingsan selama lima menit."
Angga mendengus kesal. "Ayo pergi. Jangan didengarkan lagi." Tiba-tiba Angga menarik tangan Bela dan mereka pergi begitu saja.
Kenanga yang melihat kepergian mereka dengan Angga yang nampa ngambek membuatnya ingin tertawa.
"Ternyata Kak Anggi cukup nakal juga." celetuk Alfin geli.
Kenanga mengangkat satu sudut bibirnya, "Saya sebenarnya serius. Itu kiat yang berguna." ucapnya menatap Alfin penuh keseriusan.
Alfin menurunkan lengkung senyumnya.
***
Seminggu kemudian, pernikahan Angga dilaksanakan. Setelah menyaksikan akad nikah pada pagi hari, Tim Rajawali kembali menghadiri resepsinya di malam hari. Mereka berpakaian semi formal. Keempat lelaki di tim itu, kompak memakai batik berwarna cokelat dengan motif berbeda-beda. Kulit coklat eksotis mereka terpampang jelas, menarik pesona semua kaum hawa.
__ADS_1
Mereka sedang duduk menyantap makan malam sekaligus menunggu Kenanga yang belum datang sedari tadi. Rencananya mereka akan naik ke pelaminan dan menyelamati pasangan pengantin itu bersama-sama.
"Dimana Letnan?" celetuk Panji.
Bagas melirik arlojinya, "Ini sudah pukul delapan." sahutnya.
Tepat setelah mengatakan itu, pintu besar ballrom itu terbuka. Semua menoleh ke arah pintu itu dan membeku kala melihat seseorang berjalan masuk dengan anggun. Khususnya Tim Rajawali. Mereka seakan kehilangan rahang mereka karena terus menganga menatap seseorang yang bersinar di balik sorotan lampu. Kenanga datang dengan tampilan elegannya menghampiri tempat mereka.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Kenanga bingung kala semua rekannya malah diam saja dan terus menatapnya.
"Saya lagi lihat Kenanga, Dewi Militer, atau Putri Inggris?" ucap Panji.
"Berpakaian seperti itu membuat wajah blasteranmu terlihat jelas." timpal Riko.
"Kapten, Letnan sangat cantik kan?" tanya Dani menyikut siku Bagas.
Bagas hanya terdiam tak menanggapi. Matanya terus menatap Kenanga dengan pandangan tak bisa diartikan.
Melihat reaksi aneh ini, Kenanga melirik pakaiannya dari atas ke bawah. Dia memang tampil beda malam ini. Dia memakai kebaya dengan rambut dicepol. Dan juga riasan. Suatu tampilan yang hanya pernah dia perlihatkan pertama kali saat pertemuan dengan keluarga Alfin.
"Apa ini cukup aneh?" tanya Kenanga sangsi.
Panji sontak menggeleng, "Tentu saja tidak. Perempuan memang harus berpakaian seperti ini. Hanya saja merasa aneh melihat Anda dengan tampilan memukau seperti ini. Tak diragukan lagi, Anda memang Dewi Militer!" puji Panji mengacungkan kedua jempolnya.
Kenanga mengibaskan tangannya, menyudahi pembicaraan ini. "Lebih baik kita ke pelaminan saja, menyelamati pengantin." ucapnya.
Keempat lelaki itu berdiri dan Kenanga berjalan mendahului sedangkan para lelaki itu berjalan di belakangnya. Mereka bagaikan sedang mengawal Kenanga yang kini nampak seperti seorang ratu itu. Tim Rajawali menjadi pusat perhatian. Terutama Kenanga. Bahkan ada yang mengambil fotonya. Para rekan kerja mereka namun berbeda unit juga terlihat terpesona.
"Wah, ada rombongan ratu. Apakah ratu ini sedang disihir hingga mau berpakaian tidak seperti biasanya?" sambut Angga di atas pelaminan.
Kenanga mendengus, "Bolehkah kutonjok suamimu?" tanyanya melirik Bela.
Angga tertawa mendengarnya.
"Tapi wajahmu memang bersinar, pasti Letnan akan terlihat seperti ini saat menikah nanti." goda Angga.
"Kita harus menunggu beberapa tahun lagi untuk memastikannya." balas Dani.
"Atau mungkin tidak sama sekali." tambah Panji skeptis.
"Ah, bisa saja kan justru setelah ini yang menyusul Letnan." balas Angga jahil.
Kenanga melotot.
Panji tertawa geli mendengarnya, "Dia saja tidak punya kekasih, bagaimana akan menyusul?"
"Siapa tahu saja kan, jodoh siapa yang tahu?" timpal Angga.
"Iya, selamat ya Bang Angga dan Mbak Bela. Semoga langgeng. " timpal Panji.
Riko, Dani dan Bagas pun mulai menyelamati satu persatu. Setelahnya mereka berfoto bersama di pelaminan.
***
Kenanga pulang ke rumahnya begitu kondangan selesai. Dia memasukan kata sandi dan pintu langsung terbuka. Kenanga berjalan menuju ruang tamu.
Clek
Kenanga berhenti melangkah kala kakinya merasakan sesuatu yang aneh di lantainya. Merasa tak beres, Kenanga cepat-cepat menyalakan lampu. Dan betapa terkejutnya kala dia melihat genangan air memenuhi seluruh rumahnya.
Kenanga mendongak dan tetesan air itu ternyata dari unit diatasnya. Cepat-cepat Kenanga menghubungi keamanan.
Tak lama keamanan dan pemilik gedung datang. Mereka membantu membungkus semua perabotan Kenanga. Air pun sudah dihilangkan.
"Sekali lagi saya memohon maaf mbak atas kejadian ini. Kami juga sudah menghubungi pemilik di lantai atas soal kejadian ini." ucap si pemilik gedung.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Kenanga.
"Sepertinya ada kebocoran pipa dari apartement di lantai atas. Sebenarnya beliau sudah mengatakannya dari kemarin dan rencananya besok kami akan memperbaikinya sebelum ada insiden ini."
Tap tap
Seseorang masuk ke rumah Kenanga dengan terburu-buru.
"Pak, apa yang terjadi?" tanya orang itu yang merupakan pemilik apartement di lantai atas. Apartementnya tepat berada diatas Kenanga.
"Alfin?" sela Kenanga terkejut.
Alfin seketika menoleh, dan matanya terbelalak kala melihat Kenanga berdiri disana. Dia baru sadar ada Kenanga.
"Tunggu, jadi ini apartement kakak?" seru Alfin. Kenanga mengangguk.
"Kalian saling mengenal?" sela si pemilik gedung.
"Iya pak." jawab Alfin.
"Syukurlah kalau seperti itu. Jadi yang terjadi adalah pipa yang Mas Alfin laporkan bocor itu ternyata airnya membanjiri apartement Mbak Kenanga." jelasnya.
"Ah, saya minta maaf Kak. Saya sedang lembur di rumah sakit dan tidak tahu ada kejadian seperti ini." ucap Alfin merasa bersalah.
"Tidak masalah, tadi beliau sudah bilang kalau pipa itu memang bocor dan akan diperbaiki besok. Bukan kesalahanmu." kata Kenanga.
"Tapi tetap saja rumah kakak jadi basah begitupun semua perabotnya. Oh ya, pak berapa lama perbaikannya?"
"Hanya tiga hari. Saya pastikan pekerjaannya beres secepatnya." balas si pemilik gedung.
__ADS_1
Alfin mengangguk mengerti, "Nanti kakak akan tinggal dimana selagi menunggu?"
"Tentu saja di rumah Om saya."
"Kalau begitu sebagai kompensasinya, saya akan mengantarkan kakak dan barang-barang kakak bisa disimpan di tempat saya dulu."
"Baiklah, saya setuju."
Alfin mendesah lega. Dia lega Kenanga bukan orang yang sulit diajak negoisasi.
"Saya juga sebagai pemilik gedung merasa tidak enak atas ketidaknyamanan ini jadi sebagai kompensasinya, untuk biaya perbaikan dan pembersihan rumah, saya yang menanggungnya."
"Boleh pak, terima kasih ya." ucap Alfin tersenyum.
Si pemilik gedung dan staf keamanan pun pergi setelah memastikan semuanya. Sedangkan Kenanga meminta izin untuk mengganti pakaiannya dan menghapus riasannya sebelum pergi. Jadilah Alfin menunggu di ruang tamu.
Tak lama, Kenanga sudah berganti dengan pakaian lebih nyaman. Dia lalu memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas untuk disimpan di rumah Alfin. Setelah membereskannya, perempuan itu pun kembali ke ruang tamu.
Alfin langsung menoleh kala Kenanga sudah berada di hadapannya, "Ayo kak." ajaknya sambil mengambil alih tas yang ditenteng Kenanga.
Kenanga mengangguk, dia keluar rumah diikuti Alfin.
***
Di suatu belahan dunia lain, Siska sedang bermain ponsel di dalam tendanya yang temaram dengan lampu minyak. Ada tiga batang sinyal di malam cerah ini. Dan Siska jelas tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia berselancar di dunia maya.
Siska lalu melihat postingan Meilani yang sedang berada di butik. Captionnya membuat Siska mengerutkan dahi.
"Mencoba busana calon mertua. Apa maksudnya?" tanyanya bingung.
Drrt
Tante Meilani
Wah, tante tidak sengaja lihat kamu online. Apa kabar Siska?
Kebetulan, ada pesan dari tante Kenanga itu. Siska langsung menjawabnya.
Siska
Iya tante langit Harare sedang cerah-cerahnya dan sinyal menghampiriku seperti durian runtuh. Oh ya tante, soal postingan tante yang calon mertua..Kak Abimanyu akan menikah?
Tante Meilani
Kamu ini mabuk apa gimana? Abimanyu kan sudah menikah. Dia sudah hidup bahagia di London dengan anak istrinya. Tante menolak adanya poligami!
Siska meringis kecil, dia menyalahkan otaknya yang tidak berfikir dahulu.
Siska
Lalu siapa yang tante maksud? Kenanga mana mungkin.
Tante Meilani
Siapa bilang? Justru Kenanga yang akan menikah nanti.
Byur
Siska yang kebetulan sedang minum air seketika menyemburkan air yang diteguknya. Dia melotot tak percaya dengan pesan balasan dari Meilani. Cepat-cepat dia mengetik balasan.
Siska
Kenanga akan menikah?! Kapan? Kok aku tidak tahu?!
Tante Meilani
Minggu depan, kamu sudah pulang kan saat itu? Kalau soal itu tante tidak tahu. Kamu tanyakan sendiri kenapa dia tidak memberitahumu.
Siska berdecak tak percaya dengan apa yang terjadi. Dia hanya membaca pesan Meilani.
"Kenapa dia tidak memberitahuku? Dasar wanita beraut datar itu!" gerutunya sebal.
Dia lalu menekan sebaris nomor di ponselnya, menunggu dengan tak sabaran agar segera telfonnya diterima orang itu. Setelah terdengar dering ketiganya, telfonnya tersambung.
"Halo, Ernie? Masih ada sisa satu kursi untuk kepulangan kloter pertama kan?" tanya Siska langsung.
"....."
"Oke, saya akan ambil itu. Pokoknya saya harus pulang besok!" sambar Siska.
***
Seseorang berlari sekuat tenaga di jalanan sempit didalam sebuah gang. Gang itu buruk sekali, tak ada pencahayaan yang cukup dan sangat becek. Orang itu berlari menghindari kejaran seseorang bertopi yang tepat mengikutinya dari belakang.
Lelaki itu berdecak kesal kala dia menengok ke belakang, dia masih dikejar. Dia mempercepat larinya. Jantungnya berdegup cepat seiring langkah kakinya yang berusaha tak melambat meski sudah amat kelelahan. Hidupnya dipertaruhkan disini.
Dia kembali menengok ke belakang, orang yang mengejarnya sudah tak terlihat lagi Dia menghela nafas lega. Lelaki itu berhenti berlari dan berjalan sambil terengah-engah.
"Dasar sial--" Lelaki itu hendak mengumpat tapi terhenti ketika tudung hoodienya ditarik dari samping.
Lelaki itu seketika ketakutan karena orang yang menarik tudungnya adalah orang yang sama yang mengejarnya.
Mata rusa dari balik masker orang misterius itu menyipit. Dia membuka maskernya dan seulas senyum menyeringai langsung terlihat dari wajahnya yang dingin.
"Kau tertangkap." desisnya. Dan lelaki itu hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.
"Maafkan aku, Kak Bagas." lirihnya.
__ADS_1