The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 36. Pulang


__ADS_3

NB : Kisah ini adalah fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tempat dan organisasi tertentu hanyalah kebetulan semata dan tidak bermaksud menyinggung.


...----------...


Operasi Militer dimulai. Baik Tim Lembah maupun Tim Rajawali berjalan beriringan melalui jalur yang selalu disebut jalur kematian itu. Kedua Kapten mengapit dipaling ujung barisan dengan Kapten Mawardi memimpin di depan. Mereka hanya menyalakan beberapa senter agar tidak terlihat oleh musuh. Wajah mereka yang dicoreng hitam terhias penuh ketegangan. Disepanjang jalan, tak ada yang bersuara sedikitpun. Hanya terdengar jejak kaki mereka yang beradu dengan dedaunan kering disepanjang jalan setapak yang telah dilalui.


Mereka tak beristirahat sedikitpun. Terus berjalan menyisir jalur dengan tetap berhati-hati agar tak menginjak ranjau maupun ular-ular yang tersebar di seluruh jalur. Dan tak lama, mereka sampai di persimpangan jalan. Mereka berhenti.


"Kita akan ke kanan untuk sampai ke Lembah Tamonte. Tapi sebelum itu, kita harus mengecek perkembangan terkini mereka." ujar Kapten Mawardi.


Dani langsung membuka laptopnya. Terlihat titik kecil di layarnya. Itu adalah citra yang didapat dari drone Panji yang dia terbangkan diam-diam mengikuti kelompok itu. Titik itu hampir sampai di Lembah Tamonte.


"Mereka hampir sampai." beritahu Dani.


"Berapa lama lagi?" tanya Bagas.


"Lima menit lagi."


Kenanga terdiam sesaat lalu berkata, "Jika kita menyesuaikan kecepatan kita saat ini dengan mereka, kita akan sampai satu menit sebelum mereka."


"Kalau begitu, ayo pergi. Kita harus segera sampai." ujar Panji.


Maka Tim Lembah dan Tim Rajawali itu kembali berangkat.


***


Di luar dugaan, perjalanan mereka ternyata tak memiliki hambatan. Mereka bahkan sudah sampai di depan Lembah Tamonte. Terlihat Lembah luas itu sangat gelap dan sepi.


"Rasanya aneh. Perjalanan kita sangat mulus." celetuk Dani, menyuarakan fikirannya.


Letda Anan setuju, "Tapi bisa jadi kita sedang beruntung. Bagaimanapun Lembah Tamonte yang paling berbahaya."


Bagas berdeham, "Kita siap di posisi. Setelah diberi aba-aba baru kita menyerang."


"Siap, laksanakan."


Semua anggota langsung menyebar. Mereka berjaga mengelilingi Lembah Tamonte.


Suara 'srek' terdengar di earphice. Bagas terdengar berbicara.


"Siap di posisi. Mereka akan tiba dalam satu menit."


Semuanya fokus berjaga-jaga. Dan satu menit berlalu, terlihat secercah sinar yang terus membesar begitu mendekati lembah. Mereka bersiap di posisi. Mereka akan menyambut kedatangan musuh-musuh mereka.


"Jangan berkontak senjata dulu. Sandera masih ada ditangan mereka."


"Sertu Riko, Serda Bima dan Serda Dani segera di posisi. Masuk ke kelompok mereka dari belakang."


Mereka bertiga langsung menghilang di kegelapan malam. Menyusup ke kelompok musuh melalui belakang. Mereka menyergap dalam diam, melumpuhkan beberapa penjaga yang menahan sandera. Teknik serangan hening itu berhasil. Mereka mengamankan sandera yang berjumlah lima orang itu dengan selamat.


"Hostage safe." ucap Dani.


Bagas berbicara di earphice, "Dan selamat datang di Lembah Tamonte."


Dor


Kenanga meletuskan senjata pertama kalinya. Suasana seketika riuh dan mencekam. Musuh juga mulai menodongkan senjata mereka.

__ADS_1


"Jangan membunuh kalau bisa. Biarkan mereka diadili secara hukum."


"Hei, kalian para keparat, muncullah dengan berani. Jangan jadi pecundang!" teriak ketua pimpinan mereka.


Maka mereka menuruti mau kelompok lawan. Tim Lembah muncul menghadap mereka secara langsung. Bagai sebuah adegan ikonik, mereka muncul dengan tegap dari kegelapan malam.


"Hei, apa kabar Roberto? Kenapa masih betah main kucing-kucingan?" ejek Kapten Mawardi.


"Mawardi, kau keparat!" teriak Roberto.


Kapten Mawardi hanya tersenyum mengejek. "Silakan gunakan cara apapun tapi kau tidak akan mendapatkan yang kau mau."


Roberto berdesis kesal, "Sialan. Serang mereka!"


Tim Lembah dan OPM berkontak fisik. Mereka bertarung satu sama lain.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Panji.


"Tetap pada rencana." tegas Kenanga.


Tim Rajawali terus bersembunyi.


"Tim Rajawali, silakan bawa korban ke helikopter. Kami akan menyusul." ujar Kapten Mawardi.


Kemudian terdengar suara baling-baling helikopter terdengar mendekat. Posisi Panji dan Dani yang dekat dengan helikopter langsung membawa semua korban masuk ke helikopter.


"Kapan helikopter selanjutnya?" tanya Panji pada pilot.


"Akan tiba lima menit kemudian." jawabnya.


Panji mengangguk. "You are safe." ucap Panji pada korban.


Panji mengangguk. Dia lalu menutup pintu helikopter. Helikopterpun langsung terbang membumbung ke atas langit.


***


Tapi situasi menjadi tidak terkendali. Tim Lembah terdesak dan hampir kalah. Tim Rajawali segera membantu mereka.


Mereka bertempur sekali lagi di Lembah Tamonte. OPM bahkan membakar sebuah mobil rongsokan oleh obor mereka setelah dilumuri bensin. Api bahkan mulai menjalar, melahap kesemua tempat yang memang dipenuhi banyak ilalang kering. Lembah Tamonte segera saja mennjadi lautan api.


"Helikopter datang. Kita segera pergi." titah Bagas.


"Lalu bagaimana dengan Roberto? Kita tidak akan menangkapnya?" sela Sertu Yoga.


"Tidak bisa. Kita kewalahan." ujar Kapten Mawardi.


"Tapi sampah sepertinya yang hanya bisa menghasut orang-orang tak bersalah pantas diadili." tukas Kenanga.


"Kita tidak punya banyak waktu. Mereka mulai membakar tempat ini." sela Bagas.


"Kita pergi sekarang."


Maka satu-satu prajurit segera masuk ke helikopter.


"Kita hentikan mereka!" teriak Roberto.


Di antara semua anggota OPM, yang tersisa hanyalah Roberto saja. Anggota lainnya sudah terkapar. Dan telah dibawa menuju helikopter dengan tangan terikat.

__ADS_1


Kenanga tahu bahwa Roberto mencoba menghentikan mereka. Dia langsung maju menerjang Roberto. Kenanga dan Roberto berkelahi satu sama lain.


"Letnan, ayo segera pergi!" teriak Panji.


Kenanga hanya menoleh. Dia tetap bertarung dengan Roberto. Mereka sama-sama mengerahkan tenaga terakhir.


Kebakaran makin meluas. Anggota tim semakin panik. Pertarungan mereka seperti tak ada tanda-tanda selesai.


"Letnan, hentikan saja! Ayo segera pergi!" teriak Bagas.


Di tempat itu, Kenanga hampir kehabisan energi begitupun Roberto.


"Tidak ada gunanya kita berkelahi lagi. Cepat menyerahlah." ujar Kenanga terengah-engah.


"Aku tidak akan pernah berlutut didepan negara sampah seperti ini." tukas Roberto penuh dengki.


"Maka kau akan mati disini." desis Kenanga.


Bug


Dia menendang Roberto keras hingga tersungkur. Kenanga lalu tanpa kata berlari menuju helikopter. Semua anggota tim seketika menatap lega. Mereka berteriak agar Kenanga berlari lebih cepat.


"Letnan, awas!" Tiba-tiba Riko berteriak keras. Tangannya menunjuk arah belakang Kenanga.


Roberto tengah memegang senjatanya. Baru saja Kenanga berbalik, senjata telah diletuskan Roberto.


Dor


Kenanga tersentak mundur. Peluru timah panas menembus dadanya. Dia jatuh tersungkur.


Semua anggota menjerit. Mereka tidak sempat menolong Kenanga.


Di sisi lain, Roberto tersenyum puas melihat tembakannya mengenai sasaran.


"Kita akan mati bersama, tentara wanita." desis Roberto senang.


Duar


Mobil rongsokan yang dibakar OPM seketika meledak. Tubuh Roberto terbakar seketika dan menghilang didalam sinar kemerahan sang jago merah.


***


Prang


Alfin menjatuhkan gelasnya begitu saja. Dia terdiam seketika gelisah.


"Apa yang telah terjadi? Kenapa perasaanku tidak enak?" gumam Alfin.


Alfin tiba-tiba teringat dengan Kenanga. Dia baru teringat bahwa malam ini Kenanga akan melakukan operasi final.


Drrt


Ponselnya bergetar. Tangan Alfin tiba-tiba gemetaran, dia berusaha menggapai ponselnya. Ada telfon dari Akra.


"Assalamu'alaikum, om." ucap Alfin.


Suara Akra terdengar kembali. Tapi ucapan Akra membuat Alfin melemas. Ponselnya langsung terjatuh begitu saja.

__ADS_1


"Kenanga telah meninggal dunia."


__ADS_2