
Kini Kenanga, Alfin dan wanita asing itu yang ternyata baru diketahui Kenanga bernama Nana. Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu dengan Nana yang memangku Jack, anaknya.
"Siapa dia?" tanya Kenanga langsung.
Alfin menggaruk kepalanya bingung. Saat tadi mendapat telfon dari Kenanga agar segera pulang, Alfin terkejut mengetahui bahwa ada Nana, sahabat kakak iparnya datang tanpa memberi tahunya. Yang Alfin tahu selama ini Nana tinggal di Australia bersama Ruben dan putra kecil mereka, Jack.
"Kenanga, kurasa aku harus memberitahumu sesuatu. Kenalkan dia Nana, sahabat kakak ipar ku Kansha dan juga sahabatku. Ini Jack, anaknya. Dan Nana ini Kenanga, istriku." ucap Alfin memperkenalkan keduanya pada satu sama lain.
Nana terkejut, "Istri? Kau sudah memiliki istri? Oh maafkan aku, Alfin, aku tidak tahu kau sudah memiliki istri." ucap Nana agak merasa bersalah. "Omong-omong, ini salahmu karena tidak mengatakannya padaku bahwa kau sudah menikah." lanjutnya.
Alfin tersenyum tak enak, "Maaf, Na. Aku belum sempat memberimu kabar tentang ini."
"Tidak masalah, mungkin kamu belum siap dengan kabar pernikahan itu." balas Nana santai. Kenanga mengerutkan keningnya.
"Omong-omong, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah kita berbicara berdua saja?" tanya Nana melirik Kenanga. Tampak menyiratkan bahwa Kenanga tak perlu terlibat pembicaraan penting antara mereka.
Alfin menoleh pada Kenanga. Kenanga langsung menatap datar, "Aku ke kamar." ucapnya langsung pergi.
Sebelum Kenanga pergi, Nana terlebih dulu berkata, "Bisakah kau bawa Jack? Pembicaraan ini agak sedikit tidak nyaman bagi anak seusianya." pintanya.
Kenanga berdecak dalam hati. Tadi saja wanita itu dengan angkuhnya mengabaikan kehadirannya saat berbincang dengan Alfin dan sekarang malah meminta bantuannya menjaga anak kecil.
Namun Kenanga mau tak mau menurutinya. Dia menatap malas pada Jack yang sedang bermain robot.
Tanpa kata Kenanga langsung melengos pergi. Nana lalu melihat ke arah Jack, "Jack ikut Tante itu dulu ya. Bermainnya disana saja dulu. Mama pengen ngobrol sesuatu dengan Ayah." ucap Nana lembut.
Jack mengangguk, lalu mengikuti Kenanga yang sudah melenggang masuk ke kamar.
Setelah kepergian mereka berdua, Alfin menatap Nana.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.
***
Di kamar, Kenanga duduk di ujung kasur dengan malas. Tangannya melipat di dada dengan bola mata berputar malas. Sekarang di kamar ini hanya ada dirinya dan anak kecil itu. Mereka diasingkan. Kenanga kesal.
Rasanya Kenanga jadi ingin tahu apa yang tengah dibicarakan keduanya. Kemudian satu ide terlintas di benaknya. Dia lalu bergegas mengambil gelas yang selalu ada di atas nakasnya. Dan bergegas menempelkan ke pintu. Cara itu sangat konvensional dan entah mengapa Kenanga ingin mencobanya.
Namun tak ada suara apapun yang terdengar, Kenanga berdecak kesal. Idenya sangat konyol.
"Apa yang Tante lakukan?" tanya Jack memperhatikan tingkah Kenanga dengan tatapan bingung.
Kenanga berdiri tegak seketika, dia mengembalikan gelas kosong itu ke atas meja kembali. Lalu menatap Jack dengan datar.
"Aku cuma ingin tahu apa yang ibumu bicarakan dengan suamiku." jawab Kenanga sedikit sewot.
"Omong-omong kenapa kau memangil Alfin dengan sebutan ayah? Ayahmu jelas bukan Alfin kan? Dia tidak mungkin memiliki anak di luar sepengetahuanku." lanjut Kenanga. Nadanya benar-benar tidak ramah pada anak lelaki itu mungkin karena dia masih kesal dengan ibunya Jack.
__ADS_1
"Ayah bukan papa kandungku. Aku memiliki papa, namanya Ruben. Ayah Alfin adalah sahabat mama." jawab Jack. Kenanga tak menyangka bahwa anak ini tahu lebih dari yang ia harapkan.
"Lalu dimana papamu? Kenapa namamu malah menempel pada Alfin padahal sudah bersuami?" Kenanga benar-benar tidak mengontrol kalimatnya sama sekali meski itu di depan anak kecil macam Jack.
"Papa ada di rumah. Sebenernya rumah kami bukan di Jakarta, kami tinggal di Bali ." jawab Jack.
"Bali?" Jack mengangguk.
"Lalu Tante siapa? Kenapa Tante bisa satu rumah dengan ayah?" kini giliran Jack yang bertanya. Tatapan anak itu berubah menjadi menelisik curiga.
Kenanga melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku istri Alfin." jawabnya dengan nada bangga.
Mata Jack membulat, "Ayah sudah memiliki istri?" serunya terkejut.
"Berhentilah memanggil suamiku dengan sebutan ayah. Kau memiliki papa kandung." tegur Kenanga tidak suka.
Jack berdecih, "Meski Tante adalah istrinya tapi aku lebih dulu kenal dengan ayah. Jadi aku lebih berhak dibanding Tante dan sebutan ayah, Ayah Alfin juga sama sekali tidak keberatan. Seharusnya Tante tidak berhak berkomentar apapun." ketus Jack.
Kenanga membulatkan matanya, anak ini benar-benar pintar menjawab ucapannya.
Kenanga memalingkan wajahnya, lebih memilih bermain ponsel dibanding meladeni Jack.
Lama mereka terdiam. Lalu suara Jack memecah kesunyian.
"Kenapa Tante bisa menikah dengan Ayah?"
Kenanga menoleh acuh lalu diam tak menjawab, kembali fokus pada ponselnya.
"Aku tidak mau punya ibu tiri jahat seperti Tante." ucapnya.
Kenanga memutar bola matanya malas mendengar ucapan melebaykan dari anak kecil disampingnya.
"Aku juga tidak ingin memiliki anak menyebalkan sepertimu." balas Kenanga datar.
"Ayah tidak mungkin menikahi Tante duluan pasti Tante yang merayunya." tuduh Jack.
Kenanga terkejut mendengar ucapan Jack, astaga darimana anak ini belajar kalimat seperti itu?
"Tante sangat kurus, wajah Tante juga keriput. Meski aku suka dengan hidung mancungnya tapi tetap saja Tante jelek dan tidak sesuai dengan ayah." lanjut Jack mengejek
"Kau sepertinya tidak mendapatkan pendidikan etika bagus dari ibumu." tanggap Kenanga berusaha mengendalikan emosinya. Ayolah, yang berada dihadapannya hanyalah anak ingusan songong.
Jack mengerutkan keningnya tidak suka, "Jangan mengejek mama!" serunya.
"Kalau begitu jangan menggangguku lagi." balas Kenanga singkat. Kenanga lalu ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Ceklek
__ADS_1
Pintu dibuka dari luar, Alfin datang dan Jack langsung tersenyum melihat kedatangannya.
"Ayah!" serunya senang.
"Hai, Jack. Sudah lama tidak bertemu. Kamu makin tampan." puji Alfin membawa Jack ke pelukannya.
"Tentu saja. Karena Aku mewarisi ketampanan papaku." sahut Jack bangga.
Alfin mengacak-acak rambut ikal Jack dengan tersenyum geli.
"Oh ya dimana Tante Kenanga?" tanyanya celingukan tak melihat istrinya di kamar.
"Maksud Ayah nenek sihir itu?"
"Nenek sihir?" dahi Alfin berkerut bingung.
"Iya, Tante Kenanga. Aku tidak menyukainya, dia sangat menyebalkan." ucap Jack.
Sebelum Alfin membuka mulut, Kenanga sudah keluar dari kamar mandi dan langsung menyahuti omongan Jack.
"Aku juga tidak menyukaimu, dasar anak nakal." sahut Kenanga.
"Anggi." tegur Alfin.
Kenanga memutar bola matanya malas, "Aku tidak tahu dia siapa tapi dia sudah mengejekku di hari pertama bertemu. Mengatakan bahwa wajahku keriput, bibirku tipis dan pucat bahkan mengatakan kalau merayumu duluan untuk menikahi ku. Cih, dia sok tahu sekali soal kehidupan rumah tangga." ujar Kenanga panjang lebar.
"Memang benar kok." sahut Jack tak mau disalahkan.
"Kau bahkan tidak tahu apa-apa soal kehidupan orang dewasa dan pernikahan. Bagaimana caranya merawat tubuh dengan pekerjaanmu yang luar biasa berat. Memang, kau hanyalah anak kecil yang hanya tahu cara menggoda orang lebih tua. Kau tidak tahu apa-apa."
"Cih, dasar anak ingusan songong." tandas Kenanga berlalu keluar kamar.
Sepeninggal Kenanga, Jack langsung mengadu pada Alfin. "Lihat ayah, dia sangat menyebalkan." adu Jack merengek.
"Jack, Tante Kenanga lebih tua dibanding kamu dan kamu tidak sepantasnya menjelekkannya. Bagaimanapun Tante Kenanga adalah orang dewasa yang harus kamu hormati. Dan ayahlaj yang menikahi Tante Kenanga duluan bukan karena Tante mencoba merayu ayah. Kami.." Alfin terdiam sebentar.
"Kami, apa ayah?" tanya Jack penasaran dengan kelanjutan kalimat Alfin yang terhenti.
"Kami memutuskan hidup bersama seperti papa dan mamamu. Itu namanya pernikahan." lanjut Alfin.
"Jadi ingat ya Jack, hormati semua orang terlebih lagi orang yang lebih tua darimu. Jangan mengejek mereka. Dan ingat juga, Tante Kenanga adalah istri ayah. Kau menghormati ayah maka kau juga harus menghormati Tante Kenanga."
Jack menghembuskan nafas pelan, "Dia tetap menyebalkan bagiku."
Alfin tersenyum kecil, dia mengacak-acak rambut Jack kembali, "Bagi ayah juga." ujarnya kemudian terkekeh.
...________...
__ADS_1
Aku minta maaf karena selalu lama dalam update ๐ญ๐
Omong-omong, Selamat Menjalankan ibadah Puasa ya bagi yang menjalankannya. Maaf aku baru mengatakannya sekarang๐๐ฅบ Semoga di bulan Ramdhan ini, kita tetap diberi kekuatan dan kesehatan untuk menjalani ibadah puasa dengan baik. Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya๐๐ค๐น