The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 43. Dingin yang Menghangatkan


__ADS_3

Alfin membawa dua mangkuk mie yang dimasaknya ke meja makan.


"Ini janji saya." ucap Alfin menaruh semangkuk mie kehadapan Kenanga.


Kenanga terdiam singkat sambil menatap mie miliknya. Dia tersenyum tipis.


"Terima kasih." ucapnya.


Alfin mengangguk, "Ayo makan."


Alfin dan Kenanga masing-masing mulai makan.


"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Kenanga memerhatikan laptop Alfin yang masih menyala.


Alfin menghentikan makannya, "Ah, saya sedang membuat laporan medis."


Kenanga mengangguk mengerti.


Mereka kembali makan dan pembicaraan terhenti begitu saja. Lima menit kemudian, mereka selesai makan. Kini yang tersisa hanyalah mangkuk kosong.


"Saya cuci dulu." ucap Alfin langsung membawa mangkuk miliknya dan mangkuk Kenanga ke wastafel. Suara air keran menyala.


Kenanga menunggu dalam diam di kursi, setelah itu Alfin kembali begitu selesai mencuci mangkuk.


"Alfin, ceritakan soal kekasihmu." celetuk Kenanga tanpa basa-basi.


Alfin yang baru saja duduk, langsung terkejut. "Hah?"


"Saya ingin tahu terutama soal kehidupannya di Spanyol."


Kenanga perlu menyelidiki dan memastikan apakah kekasih Alfin yang dimaksud surat kaleng milik Rizal.


"Kehidupan Syafira biasa saja disana. Kegiatannya hanya belajar, melukis dan minum kopi di kafe. Itu rutinitas hariannya. Tapi kenapa kakak bertanya? Ataukah kakak mulai mempertimbangkan untuk bekerja sama dengan saya menyelidiki Miracle?"


Kenanga berdecih, "Hanya dalam fikiranmu. Keputusan saya tidak berubah." tegasnya.


Alfin mendengus kecil.


"Pernahkah kekasihmu mengikuti semacam organisasi di lingkungannya?"


Alfin menggeleng, "Setahu saya tidak. Syafira hanya pernah mengikuti organisasi seni di kampusnya. Tidak ada yang lain."


Kenanga diam bingung. Kalau Syafira hanya mengikuti satu organisasi yang bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan Miracle, lantas bagaimana cara Syafira mengenal mereka? Atau bukan Syafira orangnya?


***


Setelah beberapa hari beristirahat, Kenanga mulai kembali bekerja. Dia dan Alfin juga sudah pindah ke apartement lelaki itu.


Di markas, Kenanga disambut dengan sukacita para rekannya.


"Selamat datang, Letnan!" pekik kelima tentara lelaki Tim Rajawali.


"Terima kasih ya kalian sudah menjenguk saya." ucap Kenanga.


"Tentu kita adalah keluarga. Apalagi pekan depan kita bisa mengambil cuti setelah misi." ucap Riko.


"Ah saya baru ingat. Pekan depan libur, kita mau jalan-jalan tidak?" tanya Panji.


"Itu ide bagus. Bagaimana kapten?" Dani bertanya dengan semangat.


Bagas mengangguk mengiyakan, "Tentu, ayo berkendara."


"Yeay!" sorak mereka.


"Kita bisa berkendara lalu berkemah di pantai, bagaimana?" saran Angga.


"Tentu, kalian juga bisa ajak keluarga kalian. Sekaligus mempererat jalinan silaturahmi." timpal Bagas.


"Membayangkannya saja membuat lesung pipi saya semakin dalam." ujar Angga senang. Anggota lain tertawa.


"Oh ya, Letnan, sekalian ajak Dokter Siska." ujar Dani.


"Kenapa?" tanya Kenanga.


"Tentu saja agar Dani bisa pedekate." celetuk Panji mengundang tawa semua orang. Dani memerah malu.


"Kalau itu niatmu, saya harus mengatakan, sayangnya Siska sudah punya pacar." sahut Kenanga.


Perkataan Kenanga membuat Dani membeku terkejut. "Su-sudah punya pacar?" tanyanya dengan raut tak percaya.


Kenanga mengangguk, "Dia kembali balikan dengan Satya."


Semua anggota langsung menatap kasihan pada Dani.


"Jadi masih mau mengajak Siska?" tanya Kenanga hati-hati.


Dani tersenyum cerah, "Ajak saja. Lebih banyak lebih ramai." ucapnya pura-pura biasa saja.


"Ya sudah." angguk Kenanga.


"Oh iya Letnan, sekalian ajak Dokter Alfin." celetuk Angga.


Kenanga mendelik tajam tapi Angga pura-pura tak peduli.


"Benar, Dokter Alfin pernah membantu misi kita. Dia bahkan pernah menyelamatkan Letnan saat di Puncak dulu." timpal Riko.


Kenanga mendesah kasar, dia sungguh kesal pada Angga karena terus mengungkit Alfin didepan rekan-rekan mereka.


"Bisa saja. Oh ya tapi bagaimana cara mengajaknya?" tanya Bagas.


"Kalau itu serahkan saja pada Letnan Kenanga." sahut Angga menyeringai.


Kenanga tersentak, "Saya?"


Angga mengangguk, "Diantara kami semua yang memiliki hubungan paling dekat dengan Dokter Alfin adalah Anda. "


"Hubungan paling dekat?" tekan Kenanga.


Angga terkesiap, dia segera meralat maksudnya.


"Maksud saya, Dokter Alfin pernah menyelamatkan Letnan. Jadi yang berhak mengajaknya disini adalah Anda."


"Oke." angguk Kenanga pasrah.


"Eh tapi bagaimana dengan yang lajang? Masa kami tidak membawa gandengan, tidak adil nantinya." protes Panji tiba-tiba.


Semua orang langsung menatap sersan dua itu dengan pandangan mengasihani.

__ADS_1


"Kenapa menatap saya seperti itu?" tanya Panji bingung.


"Apa boleh buat, para lajang hanya bisa gigit jari." ujar Angga menepuk pundak Panji.


Di samping Panji, ada Angga yang mengangguk sependapat.


***


Di malam harinya, Kenanga baru saja pulang dari markas. Tapi ketika dia hendak membuka sepatu, telfonnya berdering. Kenanga mengernyit melihat sebaris nomor tak dikenal yang memanggilnya. Lalu fikirannya tertuju pada Rizal. Kenanga langsung menerimanya.


Kenanga tak membuka suaranya, membiarkan si lawan bicaranya, berbicara lebih dulu.


"Halo, Kenanga. Ini saya."


Kenanga masih diam, meski suaranya seperti Rizal tapi dia harus tetap waspada.


"Saat kau datang ke rumah sakit, warna seprai apa yang kupakai?"


Tak ada jawaban disana. Kenanga mengernyitkan dahi.


"Warna biru langit dengan aksen renda putih seperti awan."


Kenanga mendesah lega. Jawabannya benar.


"Pengamatan Anda masih luar biasa." puji Kenanga.


"Sebagai purnawirawan tentara, tentu saya harus tetap mempertahankan penglihatan tajam saya."


"Sekarang Anda ada dimana?"


"Di sebuah rumah kecil yang sederhana di pinggiran Jakarta. Sangat tenang dan aman."


"Anda sendirian?"


"Iya."


"Dimana istri dan anakmu?"


"Mereka ada di rumah. Mereka tak ada hubungannya apapun dengan masalah ini. Mereka akan aman. Saya sudah menugaskan penjaga untuk melindungi mereka."


"Baik. Saya mengerti."


"Oh ya sejujurnya saya menghubungimu karena ada yang ingin saya katakan padamu."


"Ada apa?"


"Saya bertemu dengan seorang tentara di parkiran rumah sakit dan entah kenapa saya merasa bahwa ada yang aneh dengannya. Dia tak seperti kebanyakan tentara lain."


"Siapa?"


"Itu dia, saya tidak tahu. Karena sebelum saya bertemu dengannya, saya mendapat sebuah pesan ancaman."


"Pesan ancaman?"


"Benar. Isinya mengatakan bahwa dia akan membunuh saya karena berani membocorkan apa yang terjadi sepuluh tahun silam padamu."


Kenanga terdiam. Polanya tidak sama dengan para korban Miracle lainnya yang langsung dibunuh tanpa peringatan sebelumnya.


"Ini sudah terlalu malam. Sebaiknya Anda segera istirahat. Saya tidak akan menganggumu lagi."


"Baiklah, hubungi saya bila ada apa-apa. Saya juga akan meminta orang untuk mengecek kondisi keluargamu secara berkala."


Kenanga tersenyum tipis, "Selamat malam."


Kenanga menutup telfonnya. Tapi setelah itu dia mulai menghubungi seseorang.


"Bantu saya jaga lingkungan kediaman Kolonel Rizal."


***


Alfin sedang tertidur pulas di kamarnya. Tapi tidur damainya harus terpaksa diakhiri karena hujan yang deras disertai mati lampu.


"Sshh." Alfin meringis dalam mimpinya. Dia kembali bermimpi buruk untuk kesekian kalinya.


Mimpinya masih Syafira tapi kini kekasihnya itu memakai gaun putih kusut, di mulutnya keluar busa putih. Syafira seperti menggelepar di lantai kayu yang dingin, Dia sekarat dengan matanya yang melotot-lotot. Kemudian, Syafira tak bergerak lagi.


Tapi sedetik setelah, mata Syafira tiba-tiba terbuka lebar.


"Aaaaaa!" jerit Alfin seketika bangun. Nafasnya terengah-engah. Lagi dan lagi.


Brak


Pintu kamar lelaki itu dibuka keras oleh Kenanga yang terkejut mendengar teriakan Alfin.


"Apa yang terjadi?" serunya panik.


Alfin tak menjawab, wajahnya sudah memucat.


"Kau baik-baik saja?" tanya Kenanga menghampiri Alfin. Perempuan itu ternyata membawa lilin yang tinggal separuh.


"Kau bermimpi buruk?" tanya Kenanga lagi.


"Apa lampunya mati?" tanya balik Alfin pelan.


Kenanga menganggukan kepalanya, "Kau tidak sadar disekelilingmu gelap?"


Alfin tak menjawab lagi.


"Saya ambilkan kamu air." pungkas Kenanga. Tapi begitu dia hendak pergi, tangannya dicekal Alfin.


"Jangan pergi."


"Saya hanya ingin ke dapur membawakan air untukmu." jelas Kenanga.


"Tetaplah disini." tandas Alfin menarik tangan Kenanga hingga jatuh ke sisinya.


Kenanga terkejut dengan tindakan Alfin. Dia menatap lelaki itu, "Apa yang kau lakukan?"


Alfin menatap Kenanga hingga mereka saling bertatapan, "Untuk malam ini saja, saya mohon jangan tinggalkan saya. Temani saya." pintanya.


Kenanga terdiam mendengar permintaan Alfin yang diluar dugaan itu.


"Kenapa?" tanyanya. Alfin kan orang dewasa, tidak perlu ditemani. Tapi mungkinkah Alfin memiliki fobia gelap?


"Kau memiliku fobia gelap?" tebaknya. Alfin menggeleng.


"Lalu kenapa? Kau orang dewasa, hanya karena listrik mati sampai harus ditemani. Tidur saja, nanti juga menyala kembali." ucap Kenanga beranjak bangun. "Saya tinggalkan lilinnya untukmu. Kalau kurang terang, saya akan ambilkan senter." lanjutnya melangkah pergi.

__ADS_1


"Sejak tiga tahun lalu, saya tidak pernah tertidur nyenyak lagi."


Kenanga menghentikan langkahnya begitu suara Alfin terdengar.


"Saya selalu bermimpi buruk. Untuk bisa tertidur, saya memerlukan obat tidur. Tapi suatu ketika saya bisa tertidur pulas tanpa perlu meminum obat tidur. Tahukah kakak kapan itu terjadi?" tanya Alfin menatap


Kenanga.


Kenanga menoleh, "Tidak tahu." jawabnya.


"Yaitu saat saya merawat kakak semalaman, tanpa sadar saya tertidur dan begitu bangun ternyata hari sudah pagi."


Kenanga mendengus, "Kau tinggal mengatakan bahwa saya harus membalas budi karena kau sudah merawat saya dua kali."


"Saya tidak bilang begitu. Tapi kalau kakak menganggapnya seperti itu, ya sudah."


Kenanga mendesah kasar, dia berjalan mendekati Alfin kembali.


"Oke, katakan apa yang harus saya lakukan?" tanyanya mengalah.


Alfin menepuk sisi ranjangnya. Kenanga mengernyitkan dahinya, "Maksudmu saya harus tidur disini? Denganmu?"


Alfin mengangguk.


"Kau gila!" sentak Kenanga.


"Kalau begitu kakak tidur di sofa saja. Tapi rasanya tidak enak kalau membiarkan seorang perempuan tidur di sofa alih-alih di kasur."


"Kalau begitu kau yang tidur di sofa."


"Bisa saja tapi ini kamar saya. Masa pemiliknya tidur di sofa?"


Kenanga berdecak, "Kalau begitu di kamar saya saja. Saya pemiliknya, kamu bisa tidur di sofa." tandas Kenanga.


Alfin menggeleng, "Saya hanya nyaman di tempat sendiri." tolaknya.


Kenanga kehabisan kata-kata. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


"Kakak tidur disini. Beres." tandas Alfin santai.


"Alfin, saya tahu kita sudah menikah. Tapi kau sendiri yang bilang bahwa kita sebaiknya tinggal di kamar terpisah dulu. Sekarang kau ingin menjilat ludahmu sendiri?"


Alfin terdiam sesaat, "Saya rasa saya pernah mengatakannya tapi tidur bersama kali ini hanya semata-mata kakak membantu saya. Saya menyadari bahwa saya akan tertidur pulas di sampingmu."


"Kau sembarangan berkesimpulan." tukas Kenanga.


"Yasudah bagaimanapun saya hanya ingin meminta tolong. Sudah 1.094 hari saya tidak bisa tidur nyenyak. Saya hanya punya satu hari untuk bisa tertidur pulas. Kalau kakak takut kita tidak hanya akan 'tidur' saya tidak masalah. Saya akan begadang saja malam ini." tandas Alfin dengan nada cukup menyedihkan.


"Tunggu, apa maksudmu dengan tidak hanya akan tidur ?" sela Kenanga.


"Saya berfikir alasan kakak tidak mau adalah kakak takut kita melewati batas padahal kenyataannya tidak. Kakak bisa pergi begitu saya sudah tertidur."


"Siapa yang berfikir seperti itu? Saya tidak." tukas Kenanga.


"Kalau begitu, "Alfin menepuk kasurnya lagi, "Bantu saya tidur, sekali saja." mohonnya.


Kenanga mendesah pelan, "Kau adik kecil yang punya banyak kemauan." decaknya.


Kenanga mengalah. Dia akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Alfin. Mereka terbaring cukup jauh.


"Katakan, setelah ini apa?" tanya Kenanga.


"Bacakan saya sebuah cerita atau bernanyi. Asal yang membuat saya bisa tertidur cepat."


"Kau banyak maunya." komentar Kenanga. Tapi meski begitu, dia menuruti salah satunya.


"Saya akan bercerita saja."


Alfin mengangguk semangat, dia memperbaiki posisi tidurnya menjadi lebig nyaman.


"Kau pernah mendengar cerita Gadis Penjual Korek Api? Itu cerita pendek karya Hans Christian Andreson."


Alfin menganggukan kepalanya.


"Ibu saya ketika dulu sering menceritakan kisah ini tapi dengan jalan cerita berbeda. Dia bilang kisah aslinya terlalu sedih hingga dia mengubah alur ceritanya menjadi lebih bahagia."


"Saya ingin mendengarkannya." ucap Alfin.


Kenanga mengangguk, "Di suatu kisah, ada seorang gadis miskin yang tinggal di gubuk reyot di pinggiran kota. Setiap malam bersalju, gubuknya dipenuhi udara dingin yang mematikan. Dia tinggal dengan neneknya yang merupakan penjual bubur panas di tengah kota. Jadi setiap malam musim dingin, neneknya pergi menjajakan dagangannya ke tengah kota. Meninggalkan gadis itu sendirian di gubuk reyot mereka."


"Tunggu, bukankah ini masih sedih?" sela Alfin menginterupsi.


Kenanga berdecak pelan, dia menutupi wajah Alfin dengan selimut. "Dengarkan dulu." tegasnya.


Alfin menganggukan kepalanya. Dia menurunkan selimut yang menutupi wajahnya dan kembali fokus mendengarkan Kenanga bercerita.


"Suatu hari, datang seorang peri ke mimpinya. Peri itu mengatakan pada gadis kecil itu bahwa asal batang korek api itu tetap penuh di dalam kotaknya, maka gadis itu diizinkan mengatakan satu keinginan."


"Kemudian sang nenek pulang ke rumah dan ditangannya terdapat satu kotak korek api yang berisi lima belas batang korek. Gadis kecil itu teringat dengan kata-kata peri tersebut jadi ketika neneknya memerintahkannya menyalakan lilin, gadis kecil itu menolak."


"Bahkan ketika dibujuk beberapa kali, gadis kecil itu terus menolak mengatakan bahwa korek api itu tidak boleh dibakar satu batangpun. Hingga ketika malam makin naik, udara makin dingin. Mereka tidak bisa tidur, terus bertarung dengan udara dingin musim bersalju. Ketika neneknya membujuknya untuk menyalakan satu batang korek api, gadis itu terus menolak dan teguh dengan keputusannya. Hingga suatu ketika, sang nenek sudah tidak kuat. Dia menggigil hebat. Gadis itu panik dan tidak tahu harus melakukan apa. Satu-satunya solusi adalah menyalakan tungku api tapi itu berarti dia harus menyalakan korek api. Gadis itu masih tidak mau. Tapi jika tidak, maka neneknya akan menderita karena kedinginan. Dia tersandung dua pilihan."


"Lalu apa yang akan dipilihnya?" tanya Alfin penasaran.


"Gadis itu pada akhirnya mengedepankan hati nuraninya daripada egonya. Dengan cepat dia menyalakan sebatang korek api dan menaruhnya di tungku. Tungku itu segera menyala. Gubuk mereka kembali hangat. Keadaan sang nenek sudah lebih baik."


Cerita itu terus berlanjut tapi Alfin sudah mulai terkantuk-kantuk.


"Gadis itu sangat sedih karena dia telah gagal. Tapi dia juga tetap senang bahwa nyawa neneknya bisa diselamatkan."


Tepat setelah itu, Alfin sudah tertidur pulas.


Tapi Kenanga tidak tahu itu, dia asik bercerita karena mulai menghayatinya.


"Dia fikir dia gagal tapi sebenarnya tidak. Peri itu datang kembali melalui mimpi, dan mengatakan bahwa gadis kecil itu telah berhasil. Dia lebih mengedepankan hatinya dibanding egonya memenangkan hadiah. Peri itu mengatakan bahwa besok, mereka akan mendapat hadiah yang bagus. Hadiah yang diinginkan si gadis kecil itu."


"Dan keesokan harinya, gadis itu terbangun. Tapi begitu terbangun dia berada di sebuah kamar yang hangat dan nyaman. Rupanya itu keinginannya, memiliki sebuah rumah yang hangat meski tengah berada di malam bersalju. Dan baru disadari bahwa semua kejadian yang dialaminya hanyalah sebuah mimpi. Ternyata dia tengah jatuh koma dan akhirnya kembali terbangun. Setelah itu dia memulai kembali hidup yang penuh cinta di tengah keluarganya."


"Bukankah menurutmu ini cerita yang indah?" tanya Kenanga menoleh ke sampingnya.


Tapi Alfin yang ditanyainya sudah tertidur pulas sejak tadi. Kenanga tertegun dengan wajah polos Alfin. Kini Kenanga menyadari kebenaran perkataan Alfin. Dari rautnya, dia sadar bahwa Alfin memang tak pernah tertidur nyenyak.


Kenanga tersenyum tipis, "Selamat malam." bisiknya. Setelah itu dia bangun dari ranjang Alfin dan keluar kamar dengan hati-hati.


Blam


Begitu pintu ditutup pelan oleh Kenanga, lilin separuh yang dibawa Kenanga telah mati. Tapi Alfin tak terbangun lagi. Lelaki itu masih terpejam damai dengan senyum tersungging.

__ADS_1


Di malam yang dingin ini, kamar Alfin masih tetap hangat berkat cerita Kenanga.


__ADS_2