The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 35. Menunggu Pulang


__ADS_3

NB : Kisah ini adalah fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tempat dan organisasi tertentu hanyalah kebetulan semata dan tidak bermaksud menyinggung.


...----------...


"Kau tahu, cerita sepuluh tahun lalu bukanlah kebenarannya. Ibumu meninggal karena ledakan yang dibuat Miracle karena ibumu tahu rahasia mereka."


"Kau becanda denganku? Kenapa malah berbicara omong kosong denganku?" ucap Kenanga masih tak percaya.


"Saya tahu kau pasti tidak akan percaya. Itu sebabnya ayo bertemu setelah kamu selesai bertugas. Saya akan menceritakannya semuanya."


Kenanga nampak kehilangan akalnya, wajahnya seketika nampak termenung, dia bingung sebingung bingungnya


"Dimana kita akan bertemu?" tanya Kenanga.


"Saya akan mengabari Anda lagi selanjutnya, Letnan."


Telfon pun terputus. Kenanga terdiam cukup lama. Dia sungguh tak yakin apakah orang itu benar-benar rekan ibunya, Nike. Dia juga tak yakin apakah dia harus bertemu dengan orang itu.


Lama Kenanga terdiam dengan otak penuh pemikiran. Hingga Dani yang baru tersadar bahwa Kenanga terus diam menegurnya.


"Letnan, ada apa?" tanyanya.


Kenanga terkesiap, dia langsung menggeleng.


"Semuanya sudah beres?" tanya Kenanga balik.


"Tinggal bagian ini saja." jawab Dani menunjuk hasil pekerjaannya.


Kenanga mengangguk, "Ayo selesaikan." serunya. Kenanga kembali mengerjakan pekerjaannya, berusaha tak memikirkan percakapannya di telfon tadi.


Duarr


Hanya selang dua jam, langit tiba-tiba berubah gelap. Padahal waktu belum beranjak malam. Dan tak lama hujan turun dengan deras. Internet seketika terputus.


Dani mengumpat kesal, pekerjaannya tertunda kembali di waktu kritis. Sedangkan Kenanga hanya mendesah pelan, dia sibuk memijat-mijat kelopak matanya yang kelelahan.


"Semuanya mari berkumpul." ucap Kapten Mawardi.


Semua anggota Tim Rajawali dan Tim Lembah berkumpul di meja rapat kembali. Mereka sama-sama menghadap Kapten Mawardi.


"Kita sudah mengerjakan tugas ini selama enam jam, saya ingin melihat hasil perkembangannya untuk bisa mengetahui kapan operasi final dilaksanakan."


Dani maju ke depan, dia mulai menjelaskan tentang program yang dibuatnya tadi bersama Kenanga.


"Program ini memungkinkan kita untuk memetakan semua tempat yang pernah dilewati musuh. Saya menghubungkannya dengan drone yang diperbaiki Serda Panji. Kita bisa melihat jejak kaki yang ditinggalkan di tanah dan mengindentifikasinya." jelas Dani.


Kapten Mawardi mengangguk, "Kerja bagus, Serda Dani. Itu hasil yang luar biasa." pujinya


"Lalu soal informasi dari satelit, hasilnya bagaimana?" tanya Bagas setelahnya.


Riko maju dan mulai menjelaskan.


"Saya dan Angga sudah menganalisisnya dan di titik-titik yang ditandai merah itu adalah beberapa titik pemberhentian mereka. Mengikuti tanda dari jejak api dan asap yang membumbung, kita bisa mempelajari pola pelarian mereka. Mereka bergerak ke arah utara."


"Ada apa di utara, Kapten?" tanya Bagas pada Kapten Mawardi.


"Sebuah lembah bernama Lembah Tamonte. Kontur tanahnya cukup kasar dan berbatu. Disana banyak sampah-sampah hasil dari banyak pertempuran antara militer dan OPM. Tempat itu sangat terkenal." jelasnya.


"Kalau begitu artinya mereka pasti pergi kesana. Kita bisa melakukan operasi mikiter secepatnya." pungkas Panji.


"Tidak semudah itu. Meskipun tempat itu terkenal tapi tidak semua operasi militer disana berhasil. Lembah Tamonte adalah salah satu wilayah kekuasaan mereka. Mereka sudah mempelajari kondisi alam disana. Tak mudah memenangkannya." tukas Letda Anan.


"Apalagi disana banyak ular berbisa." timpal Sertu Yoga.


"Wah, kalau begitu cukup sulit juga." komentar Panji.


"Tapi meski begitu bukan berarti kita tidak bisa menang. Ingat, daratan apalagi hutan Papua adalah taman bermain favorit Kopasus. Jangan menyerah sebelum bertempur." ucap Kenanga.


Riko mengangguk setuju, "Proritas kita adalah para sandera. Kita harus segera menyelamatkan mereka."


"Tidak peduli esulit apapun atau seterjal apapun jalannya, selagi kita bekerja sama, kita pasti bisa." tambah Angga.


"Saya senang kami bisa bertemu dengan orang-orang penuh rasa optimis seperti kalian." puji Kapten Mawardi.


Dan begitu mengucapkan itu, hujan sudah berhenti. Hanya tersisa sisa air hujan merintik pelan.


"Hujan sudah reda. Ini seperti pertanda bahwa langit mendukung usaha kita menyelamatkan semua sandera." celetuk Serda Bima.


"Kita sudah bisa melacak pergerakan mereka." cetus Bagas.


"Kenanga, Panji siap di posisi kalian." titahnya.


Kenanga membuka laptopnya, sedangkan Panji mulai menyalakan drone yang sudah dia perbaiki sebelumnya. Kenanga mulai mengetik di keyboardnya dibantu Dani.


"Sudah bisa." lapor Kenanga.


"Mulai terbang." titah Bagas.


"Siap kapten." sahut Panji.


Panji mulai menerbangkan drone itu. Mereka semua sudah berkumpul di luar markas.


"Nyalakan mode pemindaian." ucap Panji menekan sebuah tombol. Kenanga juga mukai mengklik tombol enter.


Drone itu langsung terbang ke atas cakrawala.


Drone yang diterbangkan Panji menelusuri tempat-tempat yang disinyalir persinggahan para OPM dan sandera mereka.


Semua orang memerhatikan layar laptop Kenanga. Cahaya merah muncul di segala tempat yang dilalui musuh.


"Lapor kapt, mereka benar-benar menuju Lembah Tamonte." lapor Panji.


"Titik terkini?" tanya Bagas.


"Di sebuah rawa kecil, berjarak delapan kilo dari Lembah Tamonte." sahut Bagas.


"Kita tidak bisa mendekati mereka begitu saja. Kita harus menunggu mereka sampai di lembah saja." cetus Kapten Mawardi.


"Dani, kira-kira berapa lama jarak yang dibutuhkan?" tanya Bagas.


"Dengan kecepatan rata-rata 5 km/ jam, seharusnya mereka sampai sekitar 1 hingga 2 jam." jawab Dani.


"Itu cukup lama." komentar Riko.


Bagas mengangguk mengerti. Dia lalu menoleh pada Kapten Mawardi.


"Kita bisa melakukan operasi malam ini juga. Begitu mereka tiba di Lembah Tamonte, kita langsung menyergap mereka. Jadi tidak ada waktu bagi mereka bersiap-siap." saran Bagas.


"Saya setuju dengan ide Kapten Bagas. Lebih cepat lebih baik." timpal Kapten Mawardi.


"Tapi jarak menuju Lembah Tamonte dari markas perlu hingga 3 jam." celetuk Letda Anan.


"Tiga jam? Itu sangat lama." seru Riko.

__ADS_1


"Ada jalur alternatif menuju kesana? Yang lebih cepat." tanya Kenanga.


"Tidak ada. Itu hanya satu-satunya jalan yang tersisa. Jalan lain sudah diblokir akibat konflik yang memanas." balas Kapten Mawardi.


"Lalu bagaimana?" tanya Panji. Tapi tidak ada yang menjawab. Suasana seketika hening.


Dani mengotak-atik program tadi. Dia melihat-lihat adakah yang bisa dilakukan. Tapi tiba-tiba matanya membulat.


"Letnan, ada jalur lain." serunya di memecah keheningan.


Kenanga menatap tempat yang ditunjukkan Dani.


"Ini bagaimana kapten?" tanya Kenanga.


Semua orang menatap jalur yang ditemukan Dani.


"Kita tidak bisa melewati itu." cetus Serda Bima.


"Kenapa?" tanya Panji.


"Itu jalur kematian, ada banyak ranjau bekas penjajahan. Sebagian ranjau bertekanan tinggi dan menjangkau radius hingga 10 kilometer bila meledak." jelas Serda Bima.


"Tapi tidak ada cara lain. Lagipula Lembah Tamonte jelas lebih berbahaya. Dan kita sudah diberi bekal cara menangani ranjau. Tidak perlu khawatir." ujar Angga santai.


Panji menyikut lengan Angga, "Bagaimana bisa Anda mengatakannya sesantai itu?" serunya kesal.


"Kenapa kau kesal? Kau takut?" tanya Angga mengejek.


"Saya tidak takut." sanggah Panji.


Angga hanya terkekeh mengejek.


"Kita putuskan saja. Malam ini operasi final akan dilaksanakan di Lembah Tamonte. Dan kita akan menggunakam jalur itu." putus Kapten Mawardi.


Semua orang pada akhirnya mengangguk setuju.


Kapten Mawardi lalu menatap arlojinya.


"Sekarang sudah pukul delapan malam. Kita istirahat sejenak. Lalu berkumpul kembali untuk mengatur strategi."


"Siap, kapten."


"Bubar." titah Kapten Mawardi. Semua orang pun meninggalkan ruang rapat. Terkecuali Kapten Mawardi, Bagas, Kenanga dan Letda Anan untuk membahas strategi penyelamatan.


***


Kenanga keluar dari markas dengan bahu pegal-pegal. Dia terlalu lama duduk dan kepala belakangnya berdenyut karena pusing memikirkan strategi.


Dari arah belakang, Bagas muncul dengan ditangannya memegang dua kopi botolan.


"Lelah, Letnan?" tanyanya sambil berdiri di samping Kenanga. Dia menyerahkan satu botol minuman kopi pada Kenanga.


"Lelah tapi sudah terbiasa." jawab Kenanga menerima kopi itu. Kenanga meminumnya.


"Ternyata tidak terasa kita sudah bekerja bersama selama 4 tahun." celetuk Bagas.


"Waktu berlalu cepat." timpal Kenanga seadanya.


Bagas mengangguk setuju, "Benar. Saya tidak banyak mengingat kenangan kita saat awal-awal. Hanya beberapa. Andai saya lebih memerhatikannya, saya tidak akan selupa ini.


"Oh ya, Letnan." Bagas menoleh pada Kenanga, "Setelah misi ini ada yang ingin saya katakan padamu." ucapnya.


"Apa itu?" tanya Kenanga.


Kenanga mengangguk, "Ya sudah." ujarnya.


Bagas tersenyum misterius, "Jangan lupa setelah misi ini ya. Saya pergi dulu." setelah mengatakan itu Bagas kembali ke dalam.


Kenanga tak terlalu memedulikannya. Dia tidak terlalu tertarik dengan apa yang ingin diucapkan Bagas. Wanita itu lebih meminum sisa kopinya.


Puk


Kenanga tersentak kala bahunya ditepuk dari belakang. Dia berbalik. Angga tersenyum menatapnya.


"Ada apa denganmu?" tanya Kenanga malas.


"Sudah menelfon dokter Alfin?" tanya balik Angga.


"Tidak." jawab Kenanga singkat.


"Kenapa tidak?" tanya Angga.


"Untuk apa?" Kenanga berkata acuh.


"Tentu saja untuk mengabarinya. Kalian sudah bersama saat ini. Komunikasi sangat penting." ucapnya dengan nada berbisik.


"Hubungan kami tidak sedekat itu." tukas Kenanga.


"Tetap saja itu perlu. Mungkin Anda tidak peduli, tapi bagaimana kalau Dokter Alfin ternyata menunggu telfon Anda?"


"Tidak mungkin." sangkal Kenanga.


"Siapa tahu? Hati manusia tidak bisa ditebak." ujar Angga. "Jadi coba hubungi dia. Meski hanya mengatakan halo saja. Setidaknya dia tahu bahwa kau baik-baik saja. Itu sudah cukup."


Kenanga terdiam. Angga tersenyum tipis menyadari Kenanga mulai terpengaruh ucapannya.


Drrt


Ponsel Angga bergetar. Dia tersenyum melihat siapa penelfonnya.


"Lihat, selalu ada orang yang menunggu telfon kita." ujar Angga sembari menunjukkan layar ponselnya.


Setelah menunjukkan itu, Angga lalu menerima telfon yang ternyata dari istrinya, "Halo, sayang." ucapnya sambil melangkah pergi.


Sepeninggal Angga, Kenanga terdiam. Dia memikirkan apa yang barusan dikatakan Angga. Tapi benarkah Alfin menunggu telfonnya?Bagaimana kalau tidak? Lalu apa yang harus dia katakan nanti?


Kenanga menggeleng pelan. Tidak mungkin Alfin menunggu telfon darinya. Hubungan mereka tak sedekat itu.


Plung


Kenanga membuang bekas botol minuman kopi dari Bagas ke tempat sampah lalu memilih kembali ke dalam.


***


Di sisi lain, Alfin tengah duduk bimbang di ruang kerjanya. Di atas meja, ponselnya tergeletak dengan layar menampilkan nomor Kenanga.


"Kenapa dia tidak menelfonku?"


"Haruskah aku menelfonnya? Untuk menanyakan kabarnya?" gumamnya.


Alfin diliputi kebimbangan. Dia ingin menelfon Kenanga tapi malu dan tidak tahu harus berkata apa. Dia juga takut bahwa Kenanga sibuk dan akan terganggu dengan telfonnya. Tapi kalau tidak menelfon, maka Alfin tidak tahu bagaimana kabar Kenanga. Sedangkan Tante Meilani tadi mengatakan di telfon bahwa Kenanga jarang menghubungi mereka dan meminta bantuannya untuk menanyakan bagaimana kabar Kenanga disana.


"Tapi kami tidak dalam posisi bisa saling menghubungi meski tidak ada keperluan." cetus Alfin.

__ADS_1


Dia frustasi.


Alfin akhirnya mencoba mengalihkan fikirannya dengan membaca. Alfin mulai membaca buku favoritnya.


Tapi tak berapa lama, ponselnya berderingm Alfin langsung menutup bukunya dan seketika menyambar ponselnya.


Matanya terbelalak bahwa Kenanga sungguh menelfonnya.


***


Kenanga menunggu telfonnya tersambung dengan Alfin. Dia mengetuk-ngetukkan jari gugup.


"Halo?" Suara Alfin terdengar jelas ditelinganya.


Kenanga tersentak, dia kini bingung harus mengatakan apa. ****, ini gara-gara Angga. Kenapa dia harus menuruti ucapan Angga?


"Halo." akhirnya Kenanga bersuara.


"Kak Anggi, ada apa menelfon?" tanya Alfin. Di seberang sana, Alfin mengumpat dirinya sendiri. Kenapa dia malah bertanya seperti itu?


Kenanga kelabakan, dia berdeham singkat.


"Tidak ada, hanya ingin mengabarkan bahwa saya baik-baik saja. Maksud saya, kamu tidak perlu tahu sejujurnya." jawab Kenanga cepat.


"Saya hanya ingin mengatakan itu. Sudah ya, saya tutup." lanjut Kenanga buru-buru ingin menutup telfon. Wajahnya sudah memerah malu.


"Eh tunggu sebentar." cegah Alfin.


Kenanga tak jadi mengakhiri telfonnya.


"Ada apa?" tanya Kenanga.


"Sejujurnya..saya menunggu telfonmu. Saya penasaran apakah kamu disana baik-baik saja dan bagaimana pekerjaanmu disana lancar atau tidak." aku Alfin.


Kenanga tertegun. Alfin sungguhan menunggu telfon darinya.


"Lalu kenapa tidak menelfon lebih dulu?" tanya Kenanga.


"Itu karena saya takut saat saya menelfon, kamu sedang sibuk. Saya takut menganggu."


"Saya baru pertama kali menelfon seseorang saat bertugas." cetus Kenanga jujur. "Jadi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan."


"Benarkah? Berarti saya yang pertama? Saya senang sekali."


Kenanga tersenyum tipis.


"Jadi bagaimana pekerjaan kakak? Semuanya lancar kan?" tanya Alfin.


"Lancar. Kami akan melancarkan operasi malam ini." tandas Kenanga.


"Malam ini? Serius? Bukankah itu terlalu berbahaya?"


"Tidak ada operasi militer yang tidak berbahaya. Dan kalau tidak malam ini, maka kapan lagi? Sedangkan ini adalah waktu emas untuk operasi."


"Semoga kalian baik-baik saja."


Kenanga tersenyum tipis kembali, "Sepertinya kau takut saya mati."


"Tentu saja. Akan tidak lucu bila saya kehilangan istri saya saat pernikahan baru berjalan satu hari." jawab Alfin cepat.


Kenanga membeku. Dia baru pertama kali mendengar dirinya disebut istri.


"Tenang saja, saya tidak akan mati hari ini. Jadi simpan rencanamu untuk menikah lagi." celetuk Kenanga.


"Baik, laksanakan." seru Alfin riang. Dia terkekeh.


Senyum Kenanga melengkung sedikit mendengarnya.


"Oh ya, kapan Anda pulang?"


"Entah. Tapi kalau malam ini sukses, besok juga bisa pulang."


"Benarkah?" seru Alfin dengan nada terdengar senang.


"Kau tampaknya senang sekali." komentar Kenanga.


"Tentu saja. Rasanya cukup lega bila kakak sudah pulang. Saya tidak perlu khawatir."


Kini Kenanga menyadari bahwa Alfin cukup jujur dalam mengatakan sesuatu. Dan itu membuat Kenanga sedikit menghangat karena perhatiannya.


"Kau tidak tidur?"


"Ini baru setengah sembilan. Mana ada orang dewasa tidur di jam segini." tukas Alfin terkekeh geli.


Kenanga tertawa dalam hati menyadari kebodohannya.


"Oh ya kak, apa makanan yang kau sukai?" celetuk Alfin.


"Kenapa tiba-tiba bertanya?"


"Hanya penasaran."


Mata Kenanga menyipit, "Jangan bilang kau ingin memasakkanku."tebaknya.


"Ketahuan." kekeh Alfin. "Soalnya kata Tante Meilani, tentara tidak bisa bebas memilih makanan saat bertugas itu sebabnya biasanya setelah kepulangan Om Akra, Tante Meilani selalu memasakannya makanan kesukaannya."


"Jadi kau ingin melakukan hal yang sama untukku?"


"Seratus untukmu." sahut Alfin.


Kenanga kini tak mampu menahan senyumnya.


"Jadi kakak suka makanan apa?"


"Mie." jawab Kenanga.


"Mie?"


"Itu adalah makanan yang selalu disiapkan ibu saya. Setiap kali beliau pergi bertugas, dia selalu membuatkan saya mie lebih dulu. Atau tiap kali dia pulang dari medan perang, dia juga selalu pergi ke dapur dan memasak mie lalu mulai bercerita soal pengalamannya." tutur Kenanga mengingat kenangan masa lalunya.


"Tapi kenapa harus mie?"


"Mungkin karena ibu saya tidak pandai memasak? Sama sepertimu, papa saya jah lebih jago masak."


"Baiklah, saya akan memasak mie begitu kakak pulang." tandas Alfin.


Kenanga menyandarkan tubuhnya ke dinding, dengan satu tangan terlipat. Dia mengangkat satu alisnya, "Kau akan menungguku pulang?"


"Tentu saja. Saya akan menunggumu pulang. Bukankah sudah saya katakan?"


Kini Alfin tak menjawab dengan ragu seoerti kemarin. Dan senyum Kenanga sepenuhnya terbit.


"Kalau begitu, saya harus segera pulang agar kamu tidak perlu menunggu lama."

__ADS_1


__ADS_2