
Keesokan paginya, Kenanga kembali masuk kerja. Di ruangan sudah ada Riko, Bagas dan Panji. Sedangkan Dani dan Angga masih belum kelihatan batang hidungnya.
"Letnan, kamu pulang selamat semalam?" tanya Riko.
Kenanga yang sedang bersiap membuka laptopnya seketika menatap Riko.
"Lantas siapa yang berbicara denganmu saat ini?" tanyanya datar.
"Hehe." ringis Riko baru menyadari bahwa pertanyaannya konyol.
Panji cekikan melihatnya. Dia lalu tak sengaja melirik Bagas. Panji seketika menghentikan tawanya kala melihat pandangan tak biasa dari kaptennya. Pandangan Bagas tertuju pada satu objek. Panji mengikuti arah pandang Bagas. Dia terkejut tapi otaknya langsung mengerti.
"Kapten, mau sarapan bersama?" tawar Panji.
"Saya sudah sarapan." tolak Bagas.
"Kalau begitu temani saya saja." ucap Panji.
Bagas mengangguk. Panji lantas berdiri dan langsung pergi ke luar ruangan.
"Saya pergi dulu." pamitnya mengikuti Panji.
***
Panji dan Bagas berjalan menuju kantin tapi di pertengahan jalan, Panji tiba-tiba berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Bagas.
Panji langsung tersenyum manis, "Kapten, itu hanya alasan saya." ucapnya.
"Apa maksudmu?" tanya Bagas mengernyitkan dahi.
"Astaga, saya selalu terpukau dengan kepekaan perasaan saya. Saya mudah memahami orang yang jatuh cinta." ucap Panji riang.
"Apa yang sebenarnya mau kamu katakan?"
"Saya tahu siapa yang Kapten sukai." tandas Panji.
Wajah Bagas seketika berubah. Dia menatap Panji dengan serius.
"Dia adalah..."
"Jangan katakan." potong Bagas panik.
Panji kembali menyunggingkan senyumnya, "Saya bisa membantu Anda." bisiknya di telinga Bagas.
"Membantu apa?"
"Tentu saja untuk mendekatinya. Orang sepertinya harus diberitahukan batasan yang jelas mana rekan kerja dan mana sikap seorang laki-laki. Kapten harus mulai memperlakukannya sebagai seorang laki-laki dihadapannya. Bukan rekan kerja." jelas Panji.
"Apakah selama ini saya memperlakukannya seperti rekan kerja?"
"Kapten tidak menyadarinya?"
Bagas hanya menggeleng.
Panji mendesah pelan, "Pantas Anda jomblo terus menerus. Anda belum bisa membedakan mana sikap seseorang yang jatuh cinta dan mana yang tidak. Perjalananmu masih panjang."
Bagas ingin menjawab tapi Panji memotongnya.
"Tapi tenang saja! Ada Panji yang bisa menjadi konsultan cinta Kapten. Saya juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Anda menggapai cinta Anda. Percintaan di Dunia Militer memang menarik."
"Apa yang bisa kamu lakukan?"
"Pertama..." Panji berfikir. "Makan malam! Pura-puralah mengajak makan malam tim tapi sebenarnya itu adalah cara Kapten untuk memberikannya perhatian." saran Panji.
"Dia selalu menolak dan terlihat sibuk akhir-akhir ini. Melihatnya saja di markas sudah syukur." tukas Bagas.
"Ada saya. Saya yang akan memaksanya ikut. Dia tidak pernah menolak ajakan saya apapun itu." tandas Panji yakin.
"Kau yakin?" tanya Bagas ragu.
Panji mengangguk mantap, "Meski harus merengek dulu tap dia selalu menuruti keinginan saya."
***
Dia adalah Penyihir
Tante dan om akan terbang ke New York hari ini. Nanti kunci rumah tante titipkan ke satpam depan. Sekalian ambil paket tante. Hari ini akan datang.
Di sore hari, Kenanga membaca pesan dari Meilani dengan raut datar. Lagi-lagi, mereka berlibur tidak tahu tempat dan waktu. Kenanga mendesah pelan. Dia mulai membereskan pekerjaannya.
Panji yang melihat gelagat aneh Kenanga langsung melirik Bagas. Bagas mengendikkan dagu.
"Letnan, kau mau pergi?" tanya Panji.
"Hem." balas Kenanga singkat.
"Bagaimana kalau kita makan malam tim dulu? Kita sudah lama tidak makan bersama." tawar Panji. "Iya kan, Kapten?" tanyanya melirik Bagas.
"Iya. Kita makan bersama dulu saja." jawab Bagas menahan gugup.
Riko dan Dani mengangguk setuju.
"Bagaimana Letnan?" tanya Panji penuh harap.
"Maaf lain kali saja." jawab Kenanga mengambil ranselnya.
__ADS_1
"Eh letnan, ayolah, sekali saja. Anda tidak pernah bergabung tiap ada makan malam." bujuk Panji.
"Saya tidak bisa." tolak Kenanga.
"Letnan, kita ini tim. Kita sudah bertahun-tahun bersama. Melewati banyak suka duka. Berbagi tenda bersama, berbagi makan bersama. Makan malam tim tidak akan membuatmu meninggal di tempat kan? Ayolah." bujuk Panji lagi.
"Tunggu sampai Angga masuk." ucap Kenanga.
"Kalau begitu lusa kita harus makan bersama." tegas Panji.
"Terserah." balas Kenanga. "Saya pergi dulu. Selamat sore." pamitnya langsung keluar ruangan.
Dani dan Riko hanya melambai pelan sedangkan Panji melirik Bagas yang mendesah kecewa.
"Masih ada hari esok." bisiknya memberi semangat. Bagas mengangguk.
***
Kenanga pulang menuju kediaman Akra. Dan sesuai pesan Meilani, perempuan itu mampir ke pos satpam.
"Ini kuncinya dan ini paketnya." ujar satpam sembari menyerahkan pada Kenanga.
"Terima kasih pak." jawab Kenanga.
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya permisi." pamit Kenanga.
Kenanga berjalan menuju rumah Akra sembari menenteng paket Meilani. Dia tidak bawa mobil dan tadi pulang dengan naik taksi.
Hanya berjalan lima menit, Kenanga sampai. Tapi sebelum masuk, ponselnya bergetar di saku celananya.
Kenanga merogoh sakunya. Dia mengambil ponselnya. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Tadi pak Aji bilang bahwa apartement baru mulai diperbaiki. Beliau meminta saya juga menyampaikannya pada kakak.
Kenanga mengernyit.
Ini siapa?
Drrt
Saya Alfin. Kakak tidak menyimpan nomor saya?
Membaca pesan yang ternyata dari Alfin membuat Kenanga sadar bahwa dia memang tidak menyimpan nomor lelaki itu. Tadi malam saat Alfin mengantarnya, mereka memang bertukar nomor.
Kenanga pun membalas pesannya.
Kenanga
Saya lupa.
Alfin
Kenanga
Saya tahu
Usai mengirimkan pesan, dia memasukkan kembali ponselnya dan masuk ke dalam rumah.
***
Dua hari kemudian, Kenanga masuk ke kantor dengan lesu. Dia lagi-lagi terkena flu. Tubuhnya demam, hidungnya tersumbat dan kepalanya pusing. Tidak ada Meilani yang selalu menyiapkan makanan membuat perempuan itu makan sembarangan.
Dan Angga juga masuk kembali setelah cutinya selesai. Air muka pengantin baru itu nampak bercahaya dan cerah.
"Sepertinya pengantin baru ini sedang bahagia. Kenapa tidak ambil cuti lebih banyak?" ucap Riko.
"Awalnya begitu tapi teringat dengan misi kita beberapa hari lagi. Saya tidak ingin menambah pekerjaan kalian karena saya masih dalam masa cuti." jawab Angga.
"Kalau begitu, untuk merayakan kembalinya Bang Angga sekaligus melaksanakan janji nona Kenanga kalau Bang Angga sudah kembali, kita akan makan bersama." tandas Panji. "Bagaimana Kapten?"
Bagas mengangguk dengan senyum cerah.
"Bang Riko, Bang Angga dan Dani juga harus ikut."
"Tenang saja. Kami pasti ikut." jawab Riko senang.
"Dan Letnan Kenanga, bagaimana dengan Anda? Ingat, Anda sudah berjanji kemarin."
Kenanga yang sedang mengistirahatkan kepalanya hanya bisa mengangguk pelan.
"Tapi jangan lama-lama." ucap Kenanga lirih.
"Siap, sudah dipastikan malam ini kita pesta!" sorak Panji. Dani, Riko, Bagas dan Dani ikut berseru senang.
Mendengar keributan tiba-tiba ini, Kenanga mengerutkan keningnya yang berdenyut. Dia semakin membenamkan kepalanya ke lipatan tangannya.
***
Makan malam itu ternyata berjalan lebih lama dari yang disepakati. Karena sudah lama tidak keluar bersama, mereka sangat bersenang-senang.
"Letnan, kenapa tadi tidak makan di restaurant?" tanya Bagas dengan suaranya teredam oleh nyanyian sengau Panji.
Mereka memang berada di ruang karaoke. Restaurant itu juga ada fasilitas karaokenya.
"Saya tidak berselera." lirih Kenanga. Kepalanya serasa hampir pecah akibat nyanyian Panji yang tidak ketulungan itu.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja? Wajah kamu pucat." ujar Bagas seketika khawatir.
"Saya tidak apa-apa. Hanya sedang tidak enak badan sedikit." balas Kenanga lemah.
"Kalau begitu ayo ke rumah sakit. Takutnya kamu demam." ajak Bagas panik.
"Tidak usah. Saya baik-baik saja. Ditidurkan juga sudah cukup. Saya hanya ingin pulang." lirih Kenanga.
"Kalau begitu kita pulang. Saya antar kamu." tandas Bagas.
Kenanga menggeleng, "Saya bawa motor." tolaknya.
"Jangan menolak. Lagipula mana bisa orang sakit mengendarai motor dengan baik? Pokoknya saya antar kamu." tegas Bagas.
Kenanga akhirnya mengangguk.
Bagas lalu membisikan sesuatu ke Riko yang kebetulan duduk disampingnya.
"Saya pulang lebih dulu mengantar Letnan Kenanga. Dia sedang sakit." bisiknya.
Riko seketika melirik Kenanga yang matanya tengah terpejam itu.
"Parah tidak?" bisik Riko khawatir.
"Tidak terlalu. Dia bilang cukup tidur saja."
"Kalau begitu hati-hati dalam perjalanan pulang."
Bagas menepuk pundak Riko. Dia lalu mengusap pundak Kenanga pelan. Membangunkan gadis itu.
"Ayo." ajaknya.
Kenanga mengangguk pelan. Dia berdiri dengan susah payah dibantu Bagas. Mereka keluar dari restoran.
"Saya bawa motor, kita naik taksi saja." ucal Bagas.
"Tidak perlu. Terlalu merepotkan. Naik motor saja." tukas Kenanga.
"Tapi kamu sedang sakit. Angin malam tidak baik untukmu." sanggah Bagas tidak setuju.
"Tidak apa."
Tapi pada akhirnya Bagas mengalah. Mereka berboncengan menembus udara malam Jakarta.
Sepanjang perjalanan, Bagas berkali-kali melirik Kenanga yang kepalanya tertunduk di punggungnya. Bagas terdiam ragu. Tapi sedetik kemudian, dia melakukan apa yang dia fikirkan.
Takut Kenanga terjatuh, Bagas menarik kedua tangan perempuan itu menjadi melingkari perutnya. Setelah melakukan itu, dia melirik Kenanga takut-takut. Tapi gadis itu tidak bereaksi apapun. Dan Bagas menghembuskan nafas lega.
Bagas memelankan laju motornya dengan senyum mengembang. Dia tidak mengambil kesempatan saat Kenanga sedang lemah. Semua itu semata-mata untuk menjaga keselamatan Kenanga sendiri.
***
Bagas mengantarkan Kenanga ke apartement gadis itu sesuai keinginan Kenanga. Sepertinya Kenanga lupa bahwa apartementnya masih diperbaiki.
Bagas pun pulang meski hatinya masih cemas. Dan sepeninggal Bagas, Kenanga masuk ke dalam apartementnya yang gelap gulita.
Kenanga berdiri diam, memerhatikan ke sekeliling rumahnya. Rumahnya sudah bersih dan tidak ada plastik yang membungkus perabotannya lagi. Sepertinya ucapan Pak Aji, pemilik gedung benar. Rumahnya selesai dalam tiga hari.
Kenanga merasakan tubuhnya makin panas dan lemah akhirnya pergi ke kamarnya. Dia langsung saja berbaring di ranjangnya. Setelah sebelumnya melepas sepatunya dengan susah payah. Tak berapa lama, Kenanga sudah berada di alam mimpi.
***
Di sisi lain, Alfin naik lift untuk turun ke lantai tujuh. Di tangannya ada kotak milik Kenanga yang berisi barang-barang berharga Kenanga yang dititipkan padanya. Alfin memang tengah membersihkan rumah Kenanga setelah tahu bahwa perbaikannya selesai. Tapi dia belum sempat memberi tahu Kenanga.
Ting
Alfin keluar dari lift. Dia mengetikkan kata sandi rumah Kenanga. Jangan tanya Alfin dapat darimana. Karena kalau sampai Kenanga tahu bahwa dia tidak sengaja melihatnya, Kenanga pasti akan memukulinya karena merusak privasi.
Setelah memasukkan kata sandi dengan benar, Alfin langsung membuka pintu dan masuk ke rumah. Tapi alangkah terkejutnya kala lampu di rumah Kenanga menyala.
"Apa dia sudah pulang?" gumam Alfin.
Alfin lalu melihat kamar Kenanga yang terbuka. Lelaki itu sontak menghampirinya. Dia tertegun kala Kenanga memang ada di rumah dan sedang tidur.
Alfin yang tidak mau menganggu tidur Kenanga akhirnya berbalik pergi. Tapi bekim juga selangkah, dia dikejutkan dengan ringisan Kenanga di dalam tidurnya.
Alfin kembali berbalik. Dia menyadari bahwa Kenanga nampak tak nyaman di tidurnya. Alfin akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar untuk mengecek apa yang terjadi.
Begitu sampai di pinggir ranjang, Kenanga terlihat sedang kesakitan. Dia juga tidak bernafas dengan benar. Sepertinya hidungnya tersumbat.
Alfin memberanikan diri menyentuh dahi Kenanga dan baru saja disentuh sedikit, Alfin langsung menarik tangannya kembalim Dia terkejut dengan betapa panasnya dahi Kenanga.
Kak Anggi sakit. fikirnya.
Alfin buru-buru ke dapur mencari p3k. Dia mencarinya di laci-laci dan akhirnya menemukannya. Disana ada plester demam untuk dewasa. Kotak p3k ini terlihat masih baru dan isinya utuh. Nampak si empunya tak pernah menyentuhnya sama sekali.
Alfin kembali ke kamar dengan plester demam di tangannya. Dia menempelkan pelster itu ke dahi Kenanga. Rasa dingin dari plester membuat Kenanga berangsur tenang.
Alfin lalu mengambil selimut tambahan di dalam lemari. Dia menyelimutinya pada Kenanga. Dia juga mengambil kaus kaki dan sepatu Kenanga yang tercecer. Menatanya dengan baik di dalam keranjang cucian. Dan menaruh sepatu di rak.
Setelah itu dia keluar kamar dan menutup pintu.
Alfin awalnya memutuskan pergi tapi dia tidak tega dan khawatir kalau-kalau suhu Kenanga naik tengah malam terlebih dia baru saja dapat pesan bahwa pipa rumah ya kembali jebol tadi saat diperbaiki. Jadilah, malam ini pipanya kembali diperbaiki.
Karena dua hal itulah, Alfin akan menginap semalam disini. Seperti kejadian dulu di rumahnya, dia akan tidur di sofa.
Alfin mematikan semua lampu kecuali lampu meja. Dia lalu menata bantal-bantal dan setelah siap, dia langsung membaringkan tubuhnya.
__ADS_1
Dia harus bangun sebelum Kenanga atau kalau tidak, maka dia tidak tahu Kenanga akan bereaksi seperti apa kalau tahu dia menginap semalaman di rumahnya.