The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 46. Dancing in the Rain


__ADS_3

"Sejak kau menikah, kita tidak pernah nongkrong atau sekedar berbincang." ucap Siska sebal. Dia membawa dua kaleng soda ke meja.


"Tidak ada hubungannya dengan pernikahanku." tukas Kenanga sembari memotong pizza yang baru mereka pesan.


Saat ini Kenanga memang sedang berada di apartementnya menemui Siska yang merengek-rengek ingin berbincang dengannya lagi.


"Lalu alasanya kenapa hingga kamu tidak mau menemui temanmu sebentar saja?"


"Sibuk." jawab Kenanga.


"Kau sedang sibuk apa? Tim kalian bahkan tidak mendapat misi apapun saat ini."


Kenanga menoleh, "Darimana kau tahu?"


Siska hanya mengendikkan bahu acuh, "Kelihatan. Dani akan menghubungiku tanpa henti begitu dia tidak punya kerjaan."


"Dani sering menghubungimu?" tanya Kenanga tak terlalu percaya.


Siska mengangguk, "Sebenarnya apa rekanmu itu suka padaku?" tanyanya.


Kenanga menggeleng tidak tahu.


"Tapi kurasa dia memang menyukaiku. Eh tapi pesan yang terakhir dia kirimkan cukup aneh."


"Aneh maksudmu?"


"Dia bertanya kenapa aku harus mengambil pakaian yang sama padahal pakaian itu sudah kubuang, menurutmu apa maksudnya?"


Kenanga terdiam sesaat, "Dia bertanya kenapa kau harus balikkan dengan Satya."


"Benarkah? Ini sangat aneh." sahut Siska mengerutkan dahi.


"Kurasa Dani memang menyukaimu. Oh ya, minggu depan kami akan jalan-jalan, ikutlah bersama kami."


Mata Siska langsung berbinar, "Jalan-jalan? Kemana?"


"Ke pantai. Ajak juga Satya."


Siska mengangguk setuju saja.


"Eh tapi aku tidak yakin Satya bisa ikut." ujar Siska tiba-tiba baru sadar.


"Kenapa?"


"Dia sedang sibuk."


"Sibuk? Dia hanya dokter."


"Entahlah tapi dia bilang dia sedang meneliti suatu obat pereda nyeri."


Kenanga terkejut, "Obat apa katamu?"


"Obat pereda nyeri. Katanya kalau obat itu sudah legal dan dipastikan aman, akan mampu mengganti anestesi pada operasi."


Kenanga mengernyitkan dahinya, "Kenapa Satya meneliti hal seperti itu?"


Siska menggeleng, "Tidak tahu. Tapi wajar dia kan seorang dokter."


Tapi Kenanga tidak mewajari hal ini. Dia teringat dengan perkataan Rizal tentang apa yang sedang diteliti Miracle. Sebuah narkoba yang berkamuflase menjadi obat pereda nyeri super ampuh.


***


Beberapa hari setelahnya, Kenanga banyak menghabiskan waktu untuk mulai menyelidiki Miracle. Dia meyakini bahwa basis Miracle ada di Amerika jadilah dia meminta bantuan beberapa orang kenalannya yang bekerja di bidang intelijen seperti FBI hingga Interpol untuk memberikannya sedikit informasi soal Miracle.


Dan ada sebuah fakta yang mencengangkan Kenanga.


Di sisi lain, Alfin hendak pulang bekerja tapi di jalan dia dihadang Amelia.


"Alfin, mau pulang bekerja?" tanyanya.


Alfin mengangguk, "Iya."


"Aku juga. Ayo bareng saja ke parkiran." ajaknya.


Alfin mengangguk, mereka berjalan bersama menuju parkiran.


Tapi begitu Alfin hendak masuk mobil, mobilnya tiba-tiba tidak bisa dijalankan. Sepertinya ada yang tak beres. Alfin keluar mobil untuk mengeceknya.


"Apa yang salah?" tanyanya membuka bumper depan.


Tapi Alfin sama sekali tidak mengerti dengan mobil. Dia tidak tahu cara memperbaikinya.


Amelia yang kebetulan belum pulang, langsung turun kembali dan menghampiri Alfin.


"Kenapa dengan mobilmu, Fin?" tanyanya.


"Entahlah, aku juga tidak terlalu mengerti." jawab Alfin menggaruk kepalanya bingung.


"Dokter Alfin!" panggil seseorang dari kejauhan.


Alfin dan Amelia sontak menoleh, terlihat seorang laki-laki paruh baya dengan sneli tergopoh-gopoh menghampiri Alfin.


"Dokter Aji, ada yang bisa dibantu?"


"Saya mencari Anda kemana-mana, saya takut Anda sudah pulang tapi untungnya belum."


"Ada apa?"


"Saya ingin meminta bantuan, laporan medis untuk pasien RSAM yang dipindahkan ke rumah sakit Kencana sudah selesai, saya tidak bisa mengantarnya kesana jadi saya meminta bantuan Anda untuk mengantar dokumen ini."

__ADS_1


"Saya sih bisa saja tapi masalahnya mobil saya mogok." ujar Alfin.


"Ah benarkah? Saya tidak tahu kepada siapa saya harus meminta tolong sedangkan dokter yang bisa saya temui saat ini hanya Anda." ucap dokter Aji dengan wajah keruh.


Alfin jadi merasa tak enak, dia tidak bisa membantu.


"Tapi kenapa tidak Anda yang mengantarkannya saja?" tanya Alfin.


"Kalau saya bisa, saya tidak perlu meminta bantuan Anda. Tapi masalahnya, malam ini saya memiliki kunjungan Panglima di rumah sakit. Rumah sakit sibuk sekali dan dokumen ini juga harus diantar malam ini agar prosedur penanganan bisa segera ditentukan."


Alfin mengerti, "Saya bisa naik taksi saja." ucapnya.


Mata Dokter Aji berbinar, "Benarkah? Kalau begitu tolong ya, maaf merepotkan." ucapnya menyerahkan dokumen itu.


Alfin tersenyum, "Tidak--"


"Um, bagaimana kalau saya mengantar Anda saja?" sela Amelia yang sedari tadi diam.


Atensi Alfin dan Dokter Aji kini terarah pada Amelia.


"Bolehkan Dokter Aji?" tanya Amelia.


"Tentu saja boleh, saya tidak keberatan. Terserah Dokter Alfin saja." jawab Dokter Aji.


"Tidak perlu, saya bisa naik taksi saja." tolak Alfin halus.


"Naik taksi hanya akan mempersulitmu saat pulang. Menurut prakiraan cuaca, malam ini akan turun hujan, jarang ada taksi yang beroperasi saat hujan turun deras."


Dokter Aji mengangguk setuju, "Tidak apa-apa, Dokter Alfin biarkan Dokter Amelia mengantarmu."


Alfin mau tak mau mengiyakan, "Baiklah, kalau begitu. Maaf sudah merepotkan, dok."


Amelia tersenyum sembari menggeleng, "Tidak masalah, saya bahkan senang membantu."


Maka Alfin terpaksa diantar Amelia mengantar dokumen dengan mobil perempuan itu.


***


Kenanga sedang berkutat di ruang buku. Puluhan berkas berserakan di meja besarnya. Semuanya adalah informasi yang berhasil dia kumpulkan mati-matian.


Di salah satu informasi disebutkan bahwa Miracle sedang mengalami masa keruntuhan ketika rantai bisnis terbesar di Amerika dihancurkan oleh FBI. Perusahaan-perusahaan cangkang yang menyuplai banyak kekayaan pada organisasi kini hanya tinggal nama. Bisa dibilang, Miracle sudah hancur di Amerika hingga mereka tak lagi diperhatikan dan diawasi.


Meski begitu, keberadaan pemimpin Miracle masih belum diketahui hingga sekarang. Rekan intelnya menyimpulkan bahwa pemimpin organisasi mafia terbesar itu sedang melarikan diri atau menyamar menjadi warga biasa.


"Kalau benar tempat persembunyiannya ada di Indonesia, aku yakin dia ada di sekitarku. Pembunuhan-pembunuhan itu pasti didalangi olehnya. Lalu siapa dia? Dan ada berapa banyak pendukungnya disini?" gumam Kenanga.


Drrt


Di tengah rasa frustasi itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan datang dari Alfin.


Alfin


"Kenapa dia ingin aku menjemputnya?" gumam Kenanga membalas pesan Alfin.


Setelah membalasnya, dia langsung menaruh ponselnya kembali dan mulai bekerja.


***


Alfin


Mobilku mogok dan saya harus mengantar dokumen. Dan karena alasan itulah saya harus menumpang di mobil Amelia.


Alfin kini sedang menunggu pesan balasan dari Kenanga.


Drrt


Pesan balasan muncul,


Kenanga


Kenapa kau malah pergi dengannya?


Alfin


Saya terpaksa. Jadi tolong jemput saya atau kirim taksi kesini.


Alfin berhasil mengirim pesan tapi pesan terbarunya tidak dibaca Kenanga. Perempuan itu bahkan sudah tidak online lagi. Alfin mendesah pelan. Dia mungkin harus bersama Amelia lebih lama.


"Aku masih ingat ketika kita masih berkuliah dulu, kamu adalah mahasiswa yang sangat populer." celetuk Amelia membuka pembicaraan.


"Oh iya." jawab Alfin seadanya.


Amelia melanjutkan kenangannya lagi, "Aku juga masih ingat bahwa kamu pernah mengatakan tidak akan berpacaran sebelum lulus."


Alfin hanya berdeham singkat.


"Tapi ternyata kamu memiliki kekasih dan hubungan kalian sangat langgeng." lanjut Amelia pelan.


Alfin hanya mengangguk saja, "Ada perubahan tapi aku tetap bahagia."


Raut Amelia nampak keruh mendengarnya, "Jadi kekasihmu bernama Syafira kan? Tapi kudengar dia sudah meninggal dunia 3 tahun lalu."


Alfin terdiam.


"Maaf aku tidak bermaksud menyinggung lukamu." ucap Amelia merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, semua itu sudah berlalu. Syafira sudah tenang disana." desah Alfin.


Amelia mengangguk, "Jadi saat ini kamu sudah sendiri, kan?"

__ADS_1


Alfin menoleh, "Tidak juga." jawabnya.


"Apa maksudmu?" tanya Amelia terkejut.


Alfin tak menjawab, "Kita sudah sampai." ucapnya mengalihkan topik.


Amelia memberhentikan mobilnya, setelah itu Alfin bersiap turun.


"Terima kasih sudah mengantar saya. Kamu pulang saja." ucap Alfin hendak keluar.


"Tunggu, "Amelia memegang tangan Alfin, "Kalau aku pulang bagaimana kamu pulang nanti?"


Alfin tersenyum, dengan perlahan dia melepaskan cekalan Amelia di lengannya.


"Saya lelaki dewasa, saya akan mengurusnya sendiri." setelah mengatakan itu, Alfin keluar dari mobil Amelia dan berjalan masuk ke rumah sakit tanpa menengok Amelia lagi.


***


Tapi rupanya Amelia tidak beranjak pergi, dia menunggu Alfin karena khawatir Alfin tidak memiliki jemputan. Begitu Alfin terlihat berjalan keluar, Amelia langsung turun dari mobilnya.


"Alfin."


"Amel? Kenapa kamu masih disini?" tanya Alfin.


"Menunggumu."


"Aku sudah bilang, aku bisa mengurusnya sendiri. Ini sudah malam, tidak baik bila kamu belum pulang ke rumah."


Amelia menggeleng, "Tidak apa-apa. Urusanmu sudah selesai, kan? Ayo pulang."


Alfin nampak ragu, dia sejujurnya tidak nyaman bila harus satu mobil dengan Amelia lagi.


"Fin, ayo!" ajak Amelia lagi ketika melihat Alfin hanya diam.


"Aku rasa..."


tit tit


Sebuah motor ninja besar dengan klakson nyaring tiba-tiba berhenti di depan mereka. Helm full kaca itu dibuka. Si pengendara itu adalah Kenanga, dengan pakaian serba hitam. Dia nampak seperti lelaki terlebih rambut sebahunya dicepol.


"Ayo pulang." ajak Kenanga.


Alfin kehabisan kata-kata melihat Kenanga berada di hadapannya dengan motor yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kejutan lainnya dari Kenanga.


"Tunggu, bukankah kamu si pasien kursi roda itu kan?" tanya Amelia mengenali Kenanga.


Kenanga tak menjawab, dia tak perlu repot-repot kan.


"Tunggu apalagi, ayo pulang." ucap Kenanga menatap Alfin.


Alfin tersadar, dia langsung menghampiri Kenanga.


"Helm." Kenanga memberikan sebuah helm pada Alfin.


"Tunggu." cegah Amelia mencekal lengan Alfin yang hendak naik ke atas motor.


Kenanga berdecak, "Ada apalagi, Nona? Sebentar lagi akan hujan dan saya tidak ingin kehujanan."


"Siapa kamu? kenapa bisa menjemput Alfin disini? Kamu siapanya?!" Amelia hampir berteriak marah.


Kenanga mendengus, "Saya tidak wajib menjawab."


"Ayo." ucapnya lagi pada Alfin tapi lagi-lagi tangan Alfin ditahan Amelia.


"Tolong lepaskan tangannya." tekan Kenanga.


"Kau tidak bisa membawanya begitu saja sebelum aku tahu siapa dirimu. Dan kuyakin kau bukan kekasihnya." cetus Amelia.


"Memang bukan." balas Kenanga.


"Lalu siapa kamu?"


Kenanga mendelik pada Alfin, "Haruskah kukatakan saja? Lama-lama saya gerah."


Alfin menggigit bibirnya, "Terserah padamu."


Kenanga mengangguk, dia melepaskan cekalan Amelia di tangan Alfin dengan keras lalu beralih menjabat tangannya.


"Saya Kenanga, istri Dokter Alfin." ucap Kenanga dengan tenang. Alfin diam-diam tersenyum mendengar ucapan Kenanga yang terdengar keren di telinganya.


Sedangkan Amelia membeku syok, "A-apa?"


Kenanga melepaskan jabatan tangan mereka, "Sudah kan? Ayo pergi, Fin." Alfin mengangguk, dia naik ke motor Kenanga.


"Tunggu." Amelia lagi-lagi menahan kepergian mereka. Tangannya memegang kepala motor.


"Istri? Bagaimana bisa kamu istrinya? Alfin sudah memiliki kekasih dan aku yakin itu bukan kamu." ujar Amelia tak percaya. Tapi nadanya cukup bergetar.


"Itu sudah tiga tahun lalu. Aku sudah membuka lembaran baru dan lembaran baruku akan kuhabiskan bersama istriku." sela Alfin.


Amelia nampak syok begitupun Kenanga yang terdiam. Bibir tipis perempuan itu melengkung.


"Ayo pulang." ajak Alfin.


Kenanga mengangguk, dia menyalakan mesin motor dan mereka melaju meninggalkan Amelia yang mematung sendirian.


Sepeninggal mereka, Amelia jatuh terduduk. Air matanya menetes. Dia sangat syok dan tak percaya bahwa Alfin sudah memiliki pendamping bukan kekasih lagi. Dia kehilangan dua kesempatan berturut-turut.


Tak lama hujan turun, Amelia tersenyum tipis.

__ADS_1


"Bahkan langit nampaknya tak mendukung impianku." lirihnya.


__ADS_2