
Semua Tim Rajawali kecuali Angga sedang berkumpul di markas setelah pulang bekerja. Semuanya bersantai. Panji dan Dani bermain catur, Bagas dan Riko membaca buku sedangkan Kenanga fokus dengan laptopnya.
Laporan Perkembangan Miracle
Miracle adalah organisasi mafia paling tertutup namun sangat berbahaya. Tidak ada yang mengetahui siapa pemimpinnya, dimana markasnya dan berapa banyak anggota mereka.
Cara menentukan anggota mereka adalah adanya simbol Miracle di belakang leher orang yang terbunuh.
Perekrutan para anggota adalah dicari orang yang tidak punya keluarga, dan miskin. Tapi itu tergantung dengan beban tugas dan posisi.
Anggota yang terdeteksi :
Ahmad Hibar, menteri pertahanan dan keamanan. Pemasok ratusan senjata ke Lebanon dan dalang dari kerusuhan masyarakat. Meninggal karena kecelakaan yang tampak disengaja.
2. Arman, orang yang menjalankan pabrik penyelundupan narkotika dan dalang dari insiden zombie. Dibunuh dengan ditembak oleh orang misterius.
3. Mila,
4. Nurman, tidak punya keluarga, direkrut di jalanan oleh orang asing berpakaian serba hitam dan mempunyai tato kupu-kupu di pergelangan tangan kanannya. Meninggal keracunan Compound 1080 yang dilarutkan di air minum. Dicurigai adanya sabotase menjurus pembunuhan terencana.
Kenanga menatap hasil penyelidikannya itu dengan seksama. Tak ada petunjuk yang lebih krusial lagi soal Miracle. Bahkan informasi dari Nurman pun masih sangat abu-abu untuknya. Nyatanya, petunjuk yang dia kumpulkan bahkan tidak mendekati lima persen sekalipun.
"Bang Angga pasti sedang sibuk mengurus pernikahannya kan?" celetuk Panji memecahkan konsentrasi Kenanga.
"Pasti begitu. Dia sedang mengajukan nikah kantor dengan calon istrinya." balas Riko sambil tetap fokus membaca bukunya.
"Berarti kita akan punya kakak ipar baru." timpal Dani.
"Setelah Bang Angga, kira-kira siapa lagi yang akan menyusul ya?" tanya Panji.
"Kalau itu seharusnya Kapten." jawab Riko.
"Saya? Kenapa saya?" sela Bagas terkejut.
"Karena Kapt sudah matang untuk menikah. Kapten juga sudah mapan. Belum lagi kapten sedang dalam masa promosi kenaikan pangkat." jelas Riko.
"Tapi saya masih belum ingin menikah." tukas Bagas.
"Kenapa?" tanya Dani.
"Bagaimana saya menikah kalau pasangan saja tidak ada?" sahut Bagas.
"Jadi Kapten tidak punya pacar? Kapten menjomblo?!" seru Panji tidak percaya.
"Apa ada yang salah?" tanya Bagas bingung.
"Itu berarti Kapten kalah telak dari Panji soal menjalin asmara." celetuk Kenanga.
"Memangnya apa salahnya tidak punya pacar? Apa itu melanggar hukum?" tanya Bagas tidak mengerti.
"Bukan begitu, hanya tidak menyangka bahwa seorang Bagas masih sendiri. Anda tidak tertarik pacaran?" tanya Riko.
"Ten-tu saya tertarik. Tapi saya belum menemukan pasangan saya." aku Bagas.
"Kalau begitu, perempuan yang disukai ada?" tanya Panji penasaran.
Bagas terdiam gelagapan. Panji, Dani dan Riko menatapnya dengan pandangan penuh rasa penasaran. Pada akhirnya Bagas mengangguk.
"Punya?!" seru Dani, Panji dan Riko kaget. Kenanga sampai menoleh akibat teriakan mereka itu.
"Siapa yang Kapten sukai? Dari non-TNI?" tanya Dani.
"Itu--" Bagas ragu mengatakannya.
"Atau, sesama TNI?" tebak Riko.
Bagas mengangguk.
"Hah? kapten suka dengan sesama prajurit?" seru Dani tak percaya.
Bagas hanya bisa mengusap tengkuknya. Dia kelabakan karena terus ditanyai hal sepribadi ini tapi tidak mampu menolak.
"Siapa? Kowad? Kowal? Pangkatnya tidak lebih tinggi dari Anda kan?" tanya Panji beruntun. Saking tertariknya dengan topik ini, matanya sampai melebar.
Melihat Bagas yang nampak kewalahan dicerca seperti itu, Kenanga membuka mulutnya, "Hentikan gosip kalian atau kepala Kapten akan berasap saking frustasinya."
"Letnan, ini hal yang penting dari sekadar gosip. Akhirnya Kapten menyukai perempuan juga. Kita harus membantunya." tukas Riko.
"Siapa yang menyukai perempuan juga?" sela Angga yang baru datang. Dia duduk tanpa permisi di samping Riko.
"Eh, Ngga, kau sudah selesai pengajuan?" tanya Riko mengalihkan pembicaraan lebih dahulu.
Angga menganggukan kepalanya. "Tinggal ke KUA saja." ucapnya senang.
"Baguslah, lihat kan pengajuan nikah tidak lama kalau syaratnya sudah semua." ucap Riko.
Angga mengangguk membenarkan, "Saya kira awalnya akan sangat sulit dan melelahkan."
"Ternyata?" sela Panji.
"Sama saja. Bahkan jauh lebih cape!" seru Angga.
Riko tersenyum mendengarnya, "Tenang saja. Prosesmu itu juga akan dilalui oleh empat anggota lajang ini. Mereka juga akan sama menderitanya." ucapnya santai.
Wajah Angga seketika langsung cerah, "Benar juga. Terutama Kapten dan Letnan. Kalian sudah berusia sangat matang untuk menikah." tunjuk Angga.
"Kapten akan menyusul, dia bilang dia menyukai salah satu prajurit TNI." jawab Panji.
Angga membelalakan matanya, "Hah serius Kapt? Saya tidak salah dengar kan? Kapten mau nyusul?!"
"Kapan saya bilang seperti itu? Saya cuma bilang saya suka sama perempuan, bukan akan menikah." protes Bagas.
"Jadi siapa yang Anda sukai? Katanya sesama prajurit. Dari TNI AD? Pasukan khusus?" tebak Angga.
Bagas mengangguk, "Dia tergabung ke Kopasus." jelasnya.
"Kalau Kopasus, saya rasa tidak cukup banyak prajurit wanita bergabung, benar kan Letnan?" tanya Dani.
Kenanga membalikkan tubuhnya menghadap rekan-rekannya, "Tidak juga. Ada banyak anggota perempuan tapi memang tidak sebanding dengan laki-laki."
"Lantas siapa namanya?" tanya Riko penasaran.
"Rahasia." jawab Bagas singkat.
"Kenapa dirahasiakan?"keluh Panji.
"Iya, siapa tahu kita bisa membantu." timpal Dani.
Sudut bibir Kenanga terangkat sedikit, "Apa yang bisa para jomblo bantu?" sindirnya tanpa berdosa.
"Letnan, ucapanmu sungguh keterlaluan!" seru Panji kesal.
"Benar, menyebut kami jomblo padahal Letnan juga masih jomblo, tidak berkaca pada diri sendiri?" timpal Dani.
"Eh sudah-sudah. Kita hentikan pembicaraan ini. Lebih baik kita makan siang saja." lerai Riko.
"Saya tidak bisa ikut, kalian saja." ucap Kenanga.
"Setelah menyebut kami jomblo, Letnan mau kabur?" tanya Panji sinis.
Kenanga hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak bisakah kau ikut? Atau kau memang ada urusan?"sela Bagas.
Kenanga menutup laptopnya dan memasukkannha ke tasnya, "Maaf, kapten, saya sungguh tidak bisa. Kalau begitu saya pergi dulu." Pamitnya. Dia keluar ruangan sambil menjinjing tasnya.
Bagas menatap kepergian Kenanga dengan raut tak bisa diartikan.
__ADS_1
***
Rumah sakit sedang ramai-ramainya. Alfin baru saja keluar dari ruang operasi setelah berjuang selama tiga jam. Kini waktunya makan siang, dan dia sungguh lapar.
Alfin sudah menanggalkan snelinya ketika Riska, asistennya mengetuk pintu.
"Apa jadwal saya sore ini?" tanya Alfin.
"Anda tidak memiliki jadwal sore nanti." jawab Riska.
Alfin mengangguk, "Baguslah. Saya memiliki urusan setelah ini jadi hubungi saya bila ada sesuatu."
"Baik dok."
Alfin lalu membereskan perlengkapannya dan merapikan mejanya. Dia juga melepas dasinya agar tidak terlalu formal. Setelah siap, Alfin hendak pergi tapi bingung kala Riska ternyata masih ada di ruangannya.
"Kamu belum pergi?"
"Umm, begini dok. Dokter mau makan siang bersama?" tanya Riska dengan ragu-ragu.
"Ah, tidak bisa hari ini. Kebetulan saya sudah ada janji dengan seseorang." jawab Alfin menolak halus.
Riska nampak kecewa, "Ah begitu dok. Tidak apa-apa." balasnya tetap tersenyum.
Alfin mengangguk, "Kalau begitu saya permisi." pamit Alfin meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Alfin, Riska hanya mendesah keras, "Lagi-lagi gagal." rutuknya.
***
Alfin berjalan cukup cepat karena khawatir dia akan terlambat. Dia takut Kenanga menunggu. Apalagi tempat janjian mereka cukup jauh dari rumah sakit. Menurut Satya, Kenanga adalah tipe manusia tepat waktu dan tak suka bila menunggu meski hanya satu detik.
Dan Alfin tidak ingin memberikan kesan buruk padanya.
Tapi dipertengahan jalan, dia dihadang oleh dokter Eva, dokter umum di UGD yang kedapatan menyukainya.
"Selamat siang, dokter." ucapnya lembut.
Alfin hanya tersenyum singkat, "Siang, Dokter Eva." balasnya.
"Dokter sepertinya sudah selesai bekerja. mau makan siang?" tanyanya basa-basi.
Alfin mengangguk, "Iya, begitulah."
Raut Eva seketika cerah, "Kebetulan sekali dok, saya juga mau makan siang, bagaimana kalau bersama saja? Hitung-hitung lebih bisa saling mengenal antar rekan kerja." tawar Eva manis.
"Bagaimana ya...saya sudah ada janji." ucap Alfin.
"Janji? Dengan siapa? Atau bagaimana kalau bersama saja, dokter ajak teman dokter itu." balas Eva.
"Saya tidak yakin dia mau." ujar Alfin sangsi.
"Tidak apa-apa, saya yakin dia tidak keberatan. Meski awalnya akan canggung tapi lama kelamaan pasti akan akrab bahkan nyaman. Seperti kita." ucap Eva dengan nada pelan di kalimat terakhirnya.
"Tapi saya tetap tidak bisa. Lain kali saja ya." tolak Alfin.
"Tapi dok--"
"Saya permisi." potong Alfin cepat-cepat pergi.
Tapi Eva bukan tipe wanita mudah menyerah. Dia yang tidak ingin kehilangan kesempatan, tiba-tiba saja berjalan cepat dan menjegal kakinya sendiri, bermaksud pura-pura terpeleset.
"Aw! Dokter Alfin!" pekiknya.
Alfin membalikkan badannya, dia membulatkan matanya kala melihat Eva yang hendak jatuh.
Greb
Tapi belum sempat Alfin menyelamatkan, seseorang sudah menyelamatkannya lebih dulu. Dan Alfin terkejut, tidak menyangka bahwa Kenangalah yang menyelamatkannya.
"Kau tidak apa-apa, Dokter Eva?" tanya Kenanga tenang.
Dokter Eva yang awalnya terperangah karena tubuhnya ditangkap Kenanga alih-alih Alfin.
Bruk
Kenanga langsung melepaskan pelukannya dan Eva jatuh terjerembab ke bawah. Doa meringis sakit. Pemandangan itu diperhatikan semua orang.
"Anda tidak apa-apa? Perlukah dibawa ke dokter tulang?" tanya Alfin khawatir.
Eva hendak menjawab tapi Kenanga menyelanya, "Dia tidak apa-apa, Dokter Alfin. Dokter Eva hanya jatuh dari ketinggian tiga puluh senti, tulang ekornya jelas tidak patah."
Eva nampak malu, "Saya tidak apa-apa. Terimakasih Letnan. Dokter Alfin saya permisi dulu." ucapnya langsung kabur dari tempat itu.
Kenanga menatap Alfin yang masih memerhatikan Eva yang pergi dengan tangan memegang bokongnya, dia kelihatan masih kesakitan.
"Kau ingin membopongnya?" celetuk Kenanga datar.
Alfin langsung menoleh dan seketika menggeleng.
"Saya tidak bisa melakukan itu."
"Baguslah, ayo pergi." ajak Kenanga langsung pergi meninggalkan Alfin.
Alfin tidak punya waktu untuk bertanya meski dia sempat bingung kenapa Kenanga ada di rumah sakit. Lelaki itu hanya bisa mengikuti Kenanga yang sudah pergi lebih dulu.
***
Alfin dan Kenanga sampai di restoran. Makanan sudah diantarkan dan mereka berdua makan dengan tenang. Tapi Alfin terus melirik Kenanga di sela-sela makannya.
"Kak Anggi, kenapa kakak bisa ada di rumah sakit? Apa hanya kebetulan?" celetuk Alfin.
"Saya tidak bawa mobil dan malas naik taksi jadi menemuimu untuk menumpang." jawab Kenanga.
"Oh." Alfin mengangguk-anggukan kepalanya.
Tak lama mereka selesai makan siang. Tapi Alfin dan Kenanga belum beranjak dari restoran karena niat mereka tidak hanya makan melainkan untuk membahas sesuatu.
Kenanga lalu memberikan dua buah lembar kertas berisi catatan-catatan.
"Ini adalah syarat untuk pengajuan menikah. Kertas biru ini milik saya, silakan dibaca yang ini saja." Kenanga menyodorkan kertas berwarna putih pada Alfin.
Alfin membacanya dari awal hingga akhir, dia terperangah dengan banyaknya persyaratan.
"Seperti yang kamu lihat, pernikahan ini bukan hanya sah secara sipil melainkan juga secara militer. Kita urus ini dahulu. Kamu persiapkan semua persyaratanmu sendiri dan saya yang akan mengurus pengajuan nikah kantor karena saya adalah tentara. Jadi urusi persyaratan sendiri baru kalau ada yang harus diurus bersama, maka kita urus bersama-sama." jelas Kenanga.
"Apa ini wajib?" tanya Alfin menunjuk pada salah satu syarat yaitu pemeriksaan latar belakang keluarga.
Kenanga mengangguk, "Tentu saja. Kita harus memastikan apakah keluargamu memiliki riwayat pernah mengikuti gerakan atau organisasi yang melanggar persatuan dan kesatuan NKRI."
Alfin mengangguk mengerti.
"Kalau semua persyaratan untuk menikah kantor sudah selesai, kita akan melakukan pengajuan bersama-sama. Setelah itu baru mengurus di KUA."
"Saya tidak menyangka akan serumit ini tapi bisa dipahami alasannya." komentar Alfin.
"Sudah saya bilang, menikah dengan tentara itu tidak mudah."
"Baik saya mengerti. Kalau ada yang saya tidak ketahui, saya akan menghubungimu untuk bertanya."
"Silakan, hubungi saya kapan saja."
***
Dan begitu Alfin sampai rumah, dia langsung menyiapkan segalanya. Dimulai syarat termudah sepertoi fotocopy KTP, akta kelahiran dan lain-lain. Dia juga meminta buku nikah kedua orang tuanya. Dia menyiapkan apa yang bisa disiapkan sekarang. Meski tanggal belum dibahas, tapi alangkah baiknya bila persiapan sudah dilakukan. Karena pernikahannya bukan pernikahan pada umumnya.
Setelah membereskan semua dokumen, Alfin menyimpannya dengan rapi di atas meja belajarnya. Tapi kemudian matanya melirik foto Syafira di atas meja. Dia tertegun.
"Fira, aku tidak tahu apa yang kulakukan ini benar atau tidak? Aku akan menikahi perempuan lain padahal aku masih mencintaimu."
Alfin tiba-tiba mulai menangis, "Aku harus apa Fira? Aku harus melakukan apa agar kamu bisa ada di sisiku lagi? Aku masih sangat terluka karena kepergianmu dan kini aku akan menikahi wanita lain yang tidak kucintai. Bagaimana dengan pernikahanku nanti kalau tidak ada cinta diantara kami?"
__ADS_1
"Aku bahkan tidak bisa menolak. Rasanya seluruh hatiku sudah mati rasa. Aku tidak perlu cinta lagi dari wanita lain." ucapnya sambil menatap wajah Syafira yang tersenyum lebar di foto itu.
Drrt
Alfin menghapus air matanya kala telfonnya berbunyi. Dia langsung mengangkatnya.
"..."
Mata Alfin terbelalak, "Saya segera kesana."
***
Di tempat lain, Kenanga baru saja selesai mandi ketika menerima telfon dari Siska.
"Hem." ucap Kenanga sambil menggosok-gosokan handuk ke rambutnya yang basah.
"Mati aku, Kenanga!" pekik Siska.
"Kenapa? Ada musuh yang akan menembakmu disana?" tanya Kenanga acuh.
"Bukan itu, masih mending kalau memang seperti itu. Tapi ini jauh lebih gawat!"
"Apa maksudmu?"
"Aku meninggalkan kotak berisi coklat di laci mejaku sebelum aku berangkat dinas. Dan aku lupa apakah sudah membuangnya atau tidak."
"Apa? Kau gila Siska Diana! Itu sudah sebulan yang lalu!" seru Kenanga.
"Makanya, aku panik. Jadi aku meminta bantuanmu untuk mengeceknya di ruanganku." pinta Siska.
"Kenapa harus aku? Kau tahu aku paling benci hal menjijikan seperti itu." tolak Kenanga.
"Aku sungguh tidak ada pilihan lain selain memintamu. Aku benar-benar lupa dan sialnya kotaknya terbuka, aku takut bagaimana kalau disana sudah jadi sarang semut dan kecoa?!"
Kenanga menganga tak percaya, "Sebenarnya apa saja isi otakmu itu hingga bisa lupa separah itu?"
"Aku tidak tahu, Anga. Tolong dong bantu sahabatmu ini ya hem, please." pinta Siska.
"Aku tidak mau." tolak Kenanga.
"Kenanga!!! Aku benar-benar tidak ingin terkena sanksi lagi. Please tolong ceklah sebentar kesana." rengek Siska.
Kenanga mendesah kasar, "Besok pagi saja."
"Tidak bisa, Anga. Kalau besok pagi nanti akan ada keributan. Lakukanlah malam ini ya. Rumah sakit sedang sepi kalau saat malam."
"Dan kau menyuruhku kesana malam-malam? Kau sudah tidak waras!"
"Mau bagaimana lagi, aku tidak ingin ini tersebar kalau dilakukan di siang hari. Aku berjanji, akan mentraktirmu setelah aku pulang dinas." janji Siska.
"Aku tidak butuh traktiranmu." dengus Kenanga.
"Kalau begitu, kau mau apa? Katakan padaku."
Kenanga kembali mendesah kasar, "Lupakan saja. Aku akan mengeceknya sekarang. Sudah."
Kenanga langsung mematikan sambungan telfon dengan perasaan dongkol.
Ting!
Satu pesan masuk dari Siska.
Terima kasih, Letnan Kenanga. Kau memang pahlawanku, sayang kamu!
Kenanga mendengus kasar. Ingin dia mengumpat kesal pada sahabatnya itu.
Dasar merepotkan!
***
Kenanga sudah sampai di ruangan Siska. Dia langsung mengecek kesemua laci di ruangan itu. Tapi tidak ada coklat seperti yang disebutkan Siska. Sepertinya Siska kembali ceroboh. Dengan menahan emosi, dia mengetikkan pesan pada Siska.
Kenanga
Tidak ada coklat di ruanganmu. Kau yakin otakmu belum ingin diganti sarafnya?
Lalu pesan balasan muncul,
Siska
Aku lega. Aku baru ingat kalau aku sudah membuangnya sebelum pergi, hehe. Otakku masih normal hanya saja sedang error -_-
Kenanga tak menjawabnya. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dan meninggalkan ruangan Siska.
Rumah sakit terasa sepi di malam hari. Tidak ada satupun yang berseliweran, semua dokter dan perawat hanya berjaga di temlat masing-masing.
Tapi ketika Kenanga melewati ruang tangga darurat, ada suara tangisan. Kenanga berhenti sebentar. Matanya menunjukkan raut tegang.
"Hiks hiks."
Kenanga mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Dia tidak takut serangga bahkan ular tapi dia tetap takut pada hantu.
Tapi Kenanga penasaran, akhirnya dia memberanikan diri untuk melihatnya. Dia dengan pelan membuka pintu tangga darurat, dan tertegun kala melihat Alfin sedang menunduk.
Kenanga menghampirinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kenanga membuat Alfin mendongak. Matanya memerah.
"Kau menangis?" tanya Kenanga lagi.
Alfin seketika menggeleng. " Saya hanya kelilipan. Apa yang kakak lakukan malam-malam disini?" tanya Alfin sambil menghapus bekas air matanya.
Ternyata dia berbohong, batin Kenanga.
"Saya ada urusan mendadak disini. Oh saya mendengar ada suara jadi memutuskan melihatnya. Dan ternyata kamu..." jelas Kenanga.
"Saya baru selesai operasi, dan duduk disini untuk beristirahat."
"Sambil menangis?" tanya Kenanga. Alfin tersentak.
"Sebenarnya saya melihat kamu dimarahi oleh orang asing. Mereka menyalahkanmu karena tidak bisa menyelamatkan pasien, benar kan?"
Alfin seketika mendesah, dia mengangguk.
"Bukankah kau sudah terbiasa menemui kematian pasienmu? tidak semuanya pasienmu akan hidup."
"Tapi dokter selalu dituntut untuk memastikan pasien mereka hidup alih-alih mengatakan mencoba menyelamatkannya. Seakan-akan kami adalah Tuhan." tutur Alfin pelan.
"Kau selalu menangis tiap pasienmu meninggal?"
"Bohong kalau saya mengatakan tidak. Nyatanya setiap kali pasien saya meninggal. saya selalu merasa paling bersalah. Andai kalau saya, andai tidak seperti ini, andai saja saya...Dan masih ada beberapa andai lainnya." lirih Alfin.
"Saya mengerti. Karena saya juga selalu seperti itu." tandas Kenanga. Alfin menoleh.
"Tiap kali ada rekan kami yang gugur, rasanya ingin menangis tapi kami harus menahannya. Kami bahkan harus terpaksa meninggalkannya di hutan tanpa bisa membawa jasadnya. Itulah sebabnya ada istilah, pulang tinggal dengan nama. Karena tidak semua jasad para tentara yang gugur bisa dibawa terlebih lagi di area musuh."
Alfin terdiam mendengarnya.
"Paling untung, kalau kami bisa membawanya. Kami menggotongnya melewati sungai, hutan untuk sampai ke pangkalan. Ingin rasanya menangis tapi tidak bisa karena takut didengar musuh. Terkadang kalau tidak bisa membawanya lagi, kami menguburkannya seadanya. Dan parahnya, para keluarganya tidak akan bisa mengunjungi makamnya."
"Pasti sulit untukmu." ucap Alfin.
Kenanga mengangguk, "Jadi setelah kami pulang, kami menangis bersama. Tapi rasanya sangat malu kalau tangisan kami dilihat dan didengar orang lain. Jadi kami melakukan ini."
Kenanga berjongkok di depan Alfin. Kedua tangannya menutup kedua telinganya sedangkan matanya terpejam erat.
"Silakan menangis sepuasnya. Saya tidak melihat dan tidak mendengarnya." ucap Kenanga.
Alfin tertegun. Dia terdiam menatap Kenanga. Posisi Kenanga masih sama dan Alfin hanya membeku.
"Menangislah, jangan pedulikan soal harga diri. Kata siapa lelaki tidak bisa memangis?"
__ADS_1
Dan begitu Kenanga mengatakan itu, sebuah air mata menetes di mata Alfin. Alfin terisak didepan Kenanga yang tetap setia menutup mata dan telinganya.