The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 55. Satria yang Meluruh


__ADS_3

Bersamaan dengan Kenanga yang mengejar Satya, Alfin juga keluar dari gedung. Tapi dia tak dapat menemukan Kenanga, malah Siska yang dia lihat tengah berdiri linglung di pinggir jalan. Alfin langsung menghampirinya.


"Siska, kau tahu kemana Kenanga?" tanya Alfin.


Siska menatap Alfin dengan tatapan kosong, "Alfin, kutanya padamu. Apa benar Satya adalah pemimpin Miracle?" tanyanya dengan gemetar.


Alfin terdiam tak tahu harus mengangguk atau tidak. Dia tak tega melihat raut Siska yang seperti hendak menangis itu.


"FIN JAWAB!" bentak Siska.


Alfin tersentak kaget ketika Siska tiba-tiba berteriak padanya.


Hingga akhirnya dia mengangguk.


"Ya, Satya adalah pemimpin Miracle." jawab Alfin.


Siska merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Kakinya bahkan mulai tak kuat menopang tubuhnya. Otaknya seakan hampir mati rasa.


"Siska, kau tidak apa-apa?" tanya Alfin khawatir.


Siska menumpukan kedua tangannya di atas lututnya, "Tidak mungkin Satya, Alfin." tukasnya menolak kenyataan.


Alfin menghembuskan nafas pelan, "Aku juga ingin menyangkal fakta ini. Tapi jujur, aku tidak mengenal Satya hari ini. Dia sudah membunuh banyak orang. Dan bahkan hampir membunuh kami bertiga. Aku melihat sisi aslinya hari ini."


Siska menitikkan air matanya, "Aku bodoh sekali." rutuknya.


"Siska, kutanya padamu sekali lagi. Apakah kau melihat Kenanga? Dia tadi keluar gedung tapi aku tak dapat menemukannya." Alfin kembali teringat dengan Kenanga.


Siska mengangguk. "Dia mengejar Satya."


"Apa?Kemana?" kaget Alfin.


"Mana kutahu?!" sentak Siska masih sedih. "Satya meminjam mobilku dan pergi begitu saja. Tak lama Kenanga juga muncul, dia sepertinya meminjam salah satu mobil polisi."


Alfin mendesah keras.


Tak lama Bagas muncul diikuti semua anggota Tim Rajawali.


"Kemana Letnan Kenanga?" tanya Bagas langsung.


"Dia pergi mengejar Satya." jawab Alfin.


Bagas langsung mendesah lesu.


"Dani, kau lacak letnan Kenanga kemana dia pergi. Kita harus membantunya menangkap Satya. Jangan biarkan dia kabur." titah Bagas.


Dani mengangguk, "Baik, kapten."


Dani langsung mengeluarkan ponsel khusus buatannya yang super canggih. Dia berdiri diam mengutak atik ponselnya.


"Kenapa Kenanga tiba-tiba mengejar Satya?" celetuk Alfin.


"Apakah ini ada hubungannya dengan pembicaraan antara Kenanga dan Satya?" tanya Bagas.


"Pembicaraan apa?" sela Panji.


"Tidak tahu. Kami dibawa pergi oleh Black ke ruang eksekusi. Sedangkan Kenanga tetap tinggal dengan Satya disana." jawab Bagas.


"Siska kau pasti melihat bagaimana raut Kenanga kan?" tanya Alfin.


Siska mengangguk, "Dia terlihat sangat marah. Dia bahkan membentakku."


"Pasti karena ini hubungannya." cetus Riko.


Semua mata langsung memandang Riko. Riko mengeluarkan selembar dokumen yang cukup lusuh.


"Apa ini?" tanya Angga bingung.


"Misteri kematian mendiang ibu Letnan Kenanga, Letjen Nike terungkap kebenarannya. Beliau tidak meninggal akibat ledakan di pabrik bawah tanah itu melainkan dibunuh oleh Antonio Razalea."


Alfin terkejut. Semuanya terkejut. Pasalnya.mereka semua tahu bahwa semua anggota Tim Chavi 02 yang dipimpin Nike, mendiang ibu Kenanga semuanya tewas dalam ledakan bom yang ditanam itu.


"Pasti Letnan mengetahui ini. Dia tahu bahwa ibunya ternyata dibunuh oleh Miracle." tandas Angga.


"Itu sebabnya dia mengejar Satya. Dia marah besar karena tindakan Miracle pada ibunya." timpal Bagas.


Alfin terdiam. Dia baru mengetahui fakta ini. Dan semakin difikirkan Alfin, dia semakin pusing. Ada banyak rahasia dan cerita yang tak pernah dia dengar dari Kenanga. Dan kalau difikirkan kembali, rasanya dia memang tidak tahu apapun soal hidup Kenanga.


"Kita harus mengejarnya. Keselamatan Letnan Kenanga dipertaruhkan." cetus Riko.


"Ketemu, kapt!" seru Dani tiba-tiba mengagetkan semua orang.


"Dimana?" sambar Alfin langsung.


"Mereka menuju laut."


"Laut?"


"Ada kemungkinan mereka sudah pergi jauh. Ayo kita susul. Tapi ingat, ada dua misi disini. Satu, jaga keamanan Letnan Kenanga dan dua, tangkap Satya hidup-hidup. Dia harus diadili." ujar Bagas sambil melirik Siska di akhir kalimatnya.


Mereka mengangguk. Maka Tim Rajawali dibagi menjadi dua tim. Satu mobil, diisi Bagas, Alfin dan Angga. Sisanya di mobil kedua.


Tapi begitu hendak menjalankan mesin, Siska menghadang mereka.


"Ada apa, Siska?" tanya Alfin membuka kaca mobil.


"Aku ikut." tandas Siska.


Alfin dan Bagas saling berpandangan. Bagas menggeleng.


"Jangan. Ini terlalu berbahaya."


"Tidak, aku tetap mau ikut."

__ADS_1


Mereka semua terdiam bingung. Alfin tak tega melihat Siska yang sudah sangat tertekan itu. Tapi juga tak memiliki hak melarangnya sedangkan target mereka adalah Satya, kekasihnya.


"Asal kau bisa kooperatif, aku mengizinkanmu ikut." putus Alfin.


"Dokter Alfin." tegur Bagas tak setuju.


"Tidak apa-apa, kapten." balas Alfin. Dia lalu menatap Siska lagi, "Masuklah."


Siska mengangguk. Dia langsung membuka pintu mobil dan duduk disamping Angga.


***


Di sisi lain, pengejaran Satya masih terjadi. Kenanga mengemudikan mobil polisi dengan kecepatan gila-gilaan karena si Bajingan Satya juga melakukannya. Beberapa kali dia memijat perutnya yang amat sakit. Wajahnya sudah pucat dan keringat dingin mengaliri wajahnya. Dia tak tahu apa yang telah terjadi tapi rasa sakit ini menjadi semakin tak tertahankan.


Malam juga menjadi tidak kooperatif. Hujan turun dengan deras disertai angin kencang. Jalanan di sisi tebing curam itu melicin. Kenanga harus pintar-pintar mengendalikan kemudinya.


"SATYA, BERHENTI!" teriak Kenanga menjulurkan kepalanya lewat kaca mobil.


Sedangkan Satya yang dikejar Kenanga mengumpat marah. Dia berkali-kali melirik kaca spion.


"Wanita sialan itu." rutuknya kesal.


Satya menyadari bahwa Kenanga berjarak tak jauh darinya, Satya menekan gas dengan kuat. Mobilnya melaju dengan kecepatan 120km/jam.


Kenanga tahu itu, dan dia juga turut mengumpat kesal. Akan seberapa cepat lagi lelaki keparat itu mengemudikan mobilnya?


"Dasar lelaki gila!" umpatnya.


Kenanga tak menyerah, dia tetap berusaha menyamai kecepatan mobil Satya. Kebetulan lima ratus meter nanti akan ada persimpangan. Dia bisa menjegal Satya disana.


***


Tim Rajawali dibagi ke dalam 2 tim. Satu tim, terdiri dari Bagas, Alfin, Angga dan Siska akan mengikuti jalur yang sama dengan Kenanga dan Satya. Dan sisanya yaitu Riko, Panji dan Dani akan memutar dari jalan berlawanan agar bisa menyergap Satya nantinya.


"Letnan Kenanga sudah hampir sampai di titik persimpangan. Tapi ada yang tak beres." ucap Dani terdengar di suara walkie talkie.


"Lanjutkan." titah Bagas.


"Kecepatan mobilnya 130 km/jam. Itu sangat berbahaya di jalanan yang licin karena hujan deras. Ditambah lagi dengan kecepatan angin mencapai 15m/detik. Bila Letnan Kenanga terus menyamai kecepatan mobil Dokter Satya, ada kemungkinan dia gagal berbelok dan menabrak pohon besar di kiri jalan."


Semua yang berada di mobil Bagas seketika menarik nafas terkejut. Terlebih Alfin yang sudah sangat khawatir tersebut.


"Bisakah kau menyambungkan komunikasi dengan Kenanga?" tanya Bagas.


"Saya sudah mencobanya, Kapt. Tapi sinyal terus memburuk, berkali-kali saya gagal menangkap sinyal satelit dari radio telepon mobil polisi tersebut."


"Tidak adakkah cara lain?! Kita harus tersambung dan berbicara dengan Kenanga!" sentak Alfin risau.


"Tenang, Dokter Alfin." ucap Angga menenangkan Alfin. Dia tahu bahwa Alfin saat ini tengah cemas setengah mati pada istrinya.


Bagas melirik Alfin. Dia cukup merasa aneh melihat betapa cemasnya Alfin pada Kenanga. Tapi Bagas tak berfikir macam-macam. Saat ini fikirannya sudah dipenuhi Kenanga.


"Kita tetap pada rencana awal saja. Sergap Satya dari dua sisi. Biarkan dia berbelok menuju pantai, setidaknya disana tempatnya luas kalaupun terjadi sesuatu yang tak diinginkan, masyarakat sipil tak akan terlibat." titah Bagas.


"Itu benar."


***


Kenanga terus mengejar Satya. Kini jarak mereka dengan persimpangan hanya lima puluh meter lagi. Suara petir masih terdengar memekakkan telinga. Hujan terus turun dengan derasnya.


srrtt


Kenanga melirik ke arah radio telepon. Suara gemirisik itu yang didengarnya tadi kini berubah menjadi suara Dani.


"Letnan? Letnan? Kau mendengarnya? Letnan?"


Kenang menekan salah satu tombol yang ada, "Iya, saya mendengarnya." ucapnya.


"Akhirnya! Saya mencoba menyambungkan komunikasi denganmu tapi gagal terus." Ucap Dani lega.


"Bang Riko, beri tahu Kapten bahwa kita sudah tersambung dengan Letnan Kenanga." suara Panji terdengar.


"Kapten bilang, bisakah kau menghubungannya menjadi tiga arah juga? Dia perlu berbicara dengan Letnan." kata Riko.


"Saya tidak yakin. Kapten menggunakan mobil type berbeda dengan dua mobil yang lainnya." balas Dani.


Setelah mendengar pembicaraan rekan-rekannya, Kenanga melirik radio telepon lalu berkata, "Katakan saja pada kapten. Saya akan menghadang Satya agar tak menuju pemukiman. Sergap dia di pantai. Kirim helikopter juga untuk membantu. Cuacanya sangat buruk bila diteruskan dengan mobil saja." ucap Kenanga.


"Kapten memang merencanakan seperti itu, Letnan." timpal Panji.


"Yasudah, ikuti saja rencana itu."


"Baik, Letnan. Anda berhati-hatilah. Kurangi kecepatanmu saat sampai di persimpangan." pesan Dani.


Kenanga mengangguk, "Saya mengerti."


Bip


Kenanga memutuskan sambungan mereka. Bersamaan dengan itu, mereka sudah hampir tiba di persimpangan jalan. Kenanga melirik ke arah pantai, terlihat ombak besar yang saling bergulung dan warna pasir yang gelap menyatu dengan malam. Tapi setidaknya disana tidak ada siapapun.


Kenanga mulai menekan pedal rem tapi ada yang aneh. Wajahnya mengerut bingung, dia berkali-kali menginjak rem tapi kecepatannya tak berkurang sama sekali. Wajahnya memucat.


"Sial, remnya blong." ucapnya.


Kenanga menekan sambungan telepon kembali.


"Ada masalah, Letnan?" tanya Dani.


Kenanga menenangkan hatinya yang cemas lalu menjawab dengan tenang, "Saya tidak akan berbelok menuju pemukiman tapi terus lurus. Tim satu yang menyergap di arah berlawanan dengan kami langsung masuk ke pantai dengan jalur lain."


"Tidak bisa seperti itu, Letnan. Kalau Anda hanya lurus dan tak berbelok, dengan kecepatan Anda, Anda akan menabrak sebuah warung di ujung jalan. Kecepatan Anda saat ini 140 km/jam, Anda setidaknya harus mengerem paling tidak satu menit lebih cepat dan itu tidak mungkin. Anda tidak bisa memaksakan rem sekaligus bila Anda tidak ingin terpental." papar Dani panjang lebar.


"Saya tahu tapi saya tidak punya pilihan lain. Daripada saya berbelok ke pemukiman, itu akan lebih berbahaya."

__ADS_1


"Kenapa Letnan? Tunggu, kenapa kecepatan Anda tidak menurun? Anda seharusnya mulai mengerem saat ini!" sela Dani.


Kenanga menelan salivanya. Nafasnya sudah naik turun seiring dengan kecemasannya.


"Letnan? Letnan, jawab saya. Anda masih disana, kan?" suara Dani kembali terdengar.


Kenanga terdiam sesaat, lalu menjawab dengan pelan. "Remnya blong."


Setelah mengatakan itu, sambungan telepon tiba-tiba terputus.


***


"Remnya blong."


Alfin, Bagas, Angga dan Siska tersentak kaget. Mereka melotot tak percaya dengan ucapan Dani barusan.


"Apa? Lalu bagaimana nasib Kenanga?" tanya Alfin bertambah cemas.


"Saya tidak tahu. Sambungan tiba-tiba terputus. Dan kami tidak bisa menghubunginya lagi. Tadi Letnan Kenanga berkata bahwa dia akan melaju lurus alih-alih berbelok untuk meminimalisir kerusakan. Dan kami akan masuk ke pantai agar tidak bertabrakan dengannya."


"Apa dia sudah gila? Itu sama saja dengan membunuh dirinya sendiri!" pekik Bagas.


Alfin terdiam cemas. Dia tak tahu harus melakukan apa. Kepapanya benar-benar pusing akibat masalah yang menimpa Kenanga.


Tak lama, suara Dani terdengar lagi.


"Kapt, mobil Satya berhasil masuk ke pantai."


"Letnan Kenanga?" tanya Bagas.


"Mobilnya melaju lurus. Kalau dia tidak melompat keluar dalam sepuluh detik, dia akan menghantam warung."


Mobil Bagas juga mendekati persimpangan. Alfin tanpa aba-aba langsung membuka pintu mobil dan tiba-tiba melompat keluar.


"DOKTER ALFIN!" teriak Bagas, Angga dan Siska yang syok.


Terlihat Alfin berguling-guling di tanah beberapa kali.


"Apa yang dia lakukan?" seru Siska syok.


"Bagaimana Kapt?" tanya Angga cemas.


"Kita tidak bisa berhenti. Saya akan nengarahkannya ke pantai saja. Semoga Dokter Alfin baik-baik saja." putus Bagas.


Angga mengangguk, dia lalu berbicara di telepon.


"Hubungi medis dan suruh berjaga di depan pintu masuk pantai. Ada dua orang yang nasibnya diambang tidak baik-baik saja." ucap Angga.


Bagas melirik Alfin yang sudah berhenti berguling-guling dan hanya diam saja. Lalu membelokkan mobilnya menuju pantai menangkap Satya.


***


Satya benar-benar sudah diambang kekesalan karena ulah Kenanga. Dia jadi tak punya pilihan lain selain berbelok menuju pantai atau lurus. Sekejap Satya memilih untuk melaju lurus untuk menghindari penyergapan di arah pantai.


Brak


Mobilnya dihantam oleh mobil Kenanga dari samping kiri membuatnya seketika menghadap pantai. Satya berdecak kesal. Mau tak mau dia akhirnya berbelok ke pantai.


Tapi terasa ada yang aneh, Kenanga tidak ikut berbelok. Mobil polisi yang dikemudikan wanita itu terus melaju kencang.


Brak


Suara dentuman keras terdengar beberapa detik setelah Kenanga melaju lurus. Satya awalnya kaget namun seketika tersenyum senang. Dia tahu apa yang terjadi.


"Kau mungkin berhasil membuatku masuk ke dalam rencana kalian tapi kau juga tidak beruntung menyelamatkan dirimu sendiri. Selamat tinggal Letnan. Kurasa kita akan sama-sama bertemu di Neraka nanti." kekehnya tertawa jahat.


***


Kenanga melajukan kecepatannya lebih tinggi. Ketika dia melihat Satya hendak melaju lurus, Kenanga langsung menyalip mobilnya dari samping kiri. Mobil mereka bergesekan cukup keras hingga dia merasakan getarannya.


Kenanga terus menggesekkan mobilnya dengan mobil Satya, Satya juga berusaha menyingkirkan Kenanga dengan menekannya ke dinding tebing tapi tidak cukup berhasil. Sebaliknya Kenanga berhasil menekan Satya hingga mau tak mau dia berbelok ke arah pantai.


Kenanga tersenyum tipis, karena dia berhasil menjalankan rencananya di tengah situasi kritis ini.


Tapi masalah sebenarnya baru datang kepadanya. Karena remnya blong, Kenanga tak bisa memelankan kecepatannya. Kenanga harus memutar otaknya ketika mobilnya melaju lurus dan sebentar lagi menabrak warung.


Sedetik setelah itu, semuanya seakan terjadi dengan cepat. Kenanga melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil. Dia melompat keluar tanpa berfikir panjang.


Bug bug bug


Kenanga terguling berkali-kali sebelum menghantam tanah. Dia meringis sakit begitu kepalanya terbentur kayu.


Brak


Kenanga meringkuk ketika pecahan puing-puing mobil terbang ke arahnya. Dia melihat mobil polisi yang sudah hancur dengan asap yang mengepul di dalam kabin. Warung itu juga sama hancurnya.


Menghindari ledakan yang mungkin terjadi, Kenanga memaksakan dirinya bangun. Dia tersentak ketika darah mengalir di bagian salah satu tubuhnya dan menetes di atas tanah yang becek.


Kenanga menyeret kakinya menuju tempat yang lebih jauh, tetesan darah itu mengikutinya membentuk sebuah jalan.


Kenanga makin tak kuat lagi. Pandangannya berputar-putar dan mulai samar.


Bruk


Kenanga terjatuh ke tanah lagi. Dia tak sadarkan diri. Darah yang rupanya dari arah kakinya ikut tergenang disampingnya. Air hujan membuatnya meluruh dengan cepat.


Kenanga tak ingat apa-apa lagi selain sebuah siluet menghampirinya dan memanggilnya dengan histeris.


***


Ketika Alfin mendengar bahwa ada masalah terjadi pada Kenanga, Alfin merasa otaknya berhenti berfikir. Namun setelah terdiam cukup lama, Alfin tiba pada sebuah keputusan Dia memutuskan untuk membuka pintu mobil dan melompat keluar mobil. Setelah itu dia akan berlari menuju Kenanga dan berusaha menyelamatkannya.


dan keputusan gila itu memacu adrenalin nya sedetik setelah itu dia Langsung melompat keluar. Berguling-guling di tanah beberapa kali dengan keras kemudian berhenti dan mendarat dengan kasar di atas tanah. Seluruh tubuhnya menjadi kotor karena tanah yang basah. Tubuhnya pun memar-memar dan sakit langsung terasa di sekujur tubuhnya karena dia terguling cukup lama namun dia tidak memiliki waktu untuk menikmati rasa sakit itu dan langsung bangkit berlari menuju mobil Kenanga yang dia harapkan kan si pemilik mobil tersebut baik-baik saja.

__ADS_1


Namun ternyata harapan Alfin tak terkabul. Karena begitu dia sampai di tempat mobil Kenanga berada, mobil tersebut ternyata sudah hancur menghantam warung di ujung Jalan yang juga sama hancurnya. Kedua kakinya melemas begitu melihat seorang wanita yang sejak tadi dicemaskan nya terbaring tak berdaya di atas rerumputan basah dan kotor dengan darah menggenang di tubuhnya.


__ADS_2