The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 45. Bekerjasama


__ADS_3

Baik Kenanga dan Alfin tertegun melihat janazah Rizal yang sudah terbujur kaku. Terutama Kenanga, perempuan itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia gagal dan gagal lagi.


"Dasar sialan!" teriak Kenanga emosi.


"Ini sebenarnya apa yang terjadi, kak? Kenapa dia..." Alfin nampak masih syok.


Kenanga tak menjawab, perempuan itu mengambil ponsel selulernya dan langsung menghubungi Dimas, ajudan om nya.


"Halo, om. Kirim ambulans, Letkol Rizal meninggal dunia." ucap Kenanga dengan nada berat.


Usai mengabari Dimas, Kenanga menatap Alfin. Sepertinya dia harus jujur sekarang.


"Ikut saya." ucap Kenanga berjalan lebih dulu keluar rumah. Alfin mengikuti tanpa banyak bicara.


"Ada apa, kak?" tanya Alfin begitu mereka sudah di luar rumah.


Kenanga mengatur nafasnya, mencoba menangkap timing yang pas untuk menjelaskan segalanya pada lelaki itu.


"Alfin, jenazah itu adalah Letkol Rizal. Beliau pernah menjenguk saya ke di rumah sakit, kamu ingat?"


Alfin mengangguk, "Tentu saja. Kami sempat berpapasan."


"Nah, kematian Letkol Rizal bukanlah kecelakaan melainkan dia sengaja dibunuh."


"Saya tahu. Meski dilihat sekilas saja, kematiannya memang tidak wajar."


Kenanga menganggukan kepala, "Letkol Rizal dibunuh oleh Miracle."


Alfin tersentak, "Apa?"


"Ketika saya berdinas di Papua saat itu, Letkol Rizal menghubungi saya, beliau teryata satu tim dengan mendiang ibu saya, Nike. Dan beliau menjelaskan kebenaran yanh terjadi 10 tahun silam kepada saya. Mereka pernah satu tim, namanya Tim Chavi 02, saat kejadian naas itu mereka sedang bertugas di Gurun Chihuahua. Ada yang mengirimkan surat kaleng pada mereka, mengatakan bahwa tak jauh dari markas mereka, ada sebuah pabrik kosong di bekas Zona A-31 yang merupakan milik Miracle. Tapi ketika mereka menyelidikinya, mereka semua meninggal karena ledakan bom yang ditanam setelah pabrik itu terbengkalai. Dan yang satu-satunya selamat adalah Letkol Rizal."


Alfin masih diam, dia kesulitan mencerna penjelasan panjang Kenanga.


"Lalu setelah bungkam selama 10 tahun, Letkol Rizal akhirnya menceritakannya pada saya tapi begitu beliau cerita, beliau mendapatkan pesan ancaman yang saya yakini dari Miracle. Dan akhirnya sudah kamu ketahui, beliau, satu-satunya saksi mata 10 tahun lalu meninggal karena dibunuh. Bahkan keluarganya juga."


"Lalu kenapa kakak memberitahukan hal ini pada saya?" tanya Alfin tidak mengerti. Pasalnya, Kenanga tak seperti biasanya. Hari ini dia begitu murah hati memberinya petunjuk.


"Itu karena kau yang bilang sendiri bahwa kita harus bekerjasama menyelidiki Miracle!"


"Jadi kakak setuju bekerjasama dengan saya?!" seru Alfin kaget.


Kenanga mengangguk, "Kita memiliki target yang sama. Kau tahu, saya tidak pernah mengatakan ini tapi karena lawan kita adalah Miracle. Saya ingin bilang, dua lebih baik dibanding satu."


Alfin tersenyum senang, "Benar kak. Dua lebih baik dibanding satu. Jadi kita adalah tim?"


Kenanga mengangguk, "Tim."


Alfin nampak bahagia karena akhirnya dia berhasil bekerjasama dengan Kenanga untuk menyelidiki Miracle, dalang yang Alfin yakini telah membunuh kekasihnya, Syafira.


Sedangkan Kenanga, dia cukup ragu apakah mereka akan berhasil. Tapi dengan situasi chaos seperti sekarang, tidak ada yang bisa dia percayai kecuali Alfin. Mereka memiliki banyak kesamaan, dari mulai latar belakang hingga tujuan mereka. Miracle.


Tapi Kenanga tidak akan memberitahu soal fakta bahwa kekasih Alfin memang berhubungan dengan Miracle bahkan sampai membukakan jalan bagi organisasi itu untuk masuk ke Indonesia. Karena fakta ini akan Kenanga jadikan amunisi bila Alfin mencoba berkhianat darinya. Tentu saja, Kenanga tidak bodoh menaruh semua kepercayaannya meski pada Alfin sekalipun.


***


Berita terbunuhnya keluarga tentara paling bersahaja itu menjadi trending topic selama beberapa hari setelahnya. Semua orang yang berada di lingkungan militer tak pelak membicarakannya. Termasuk Tim Rajawali.


"Saya tidak menyangka ada yang tega membunuh Letkol Rizal dan keluarga." ucap Riko geleng-geleng kepala.


"Benar, apalagi pelakunya belum ditangkap." timpal Angga.


"Tapi menurut kalian kalau Letkol Rizal dibunuh, berarti pelakunya memiliki dendam pribadi pada korban, kan?" tanya Panji.


"Bisa jadi. Si pelaku mungkin memiliki dendam hingga tega membunuh korban. Tapi yang paling tidak saya sangka adalah pelaku juga membunuh keluarganya." balas Dani.


"Tapi menurut berita, lokasi kejadian dan waktunya tidak sama. istri dan anaknya di kediamannya dibunuh lebih dulu di kediamannya sedangkan Letkol Rizal dibunuh di rumah sederhana di pinggiran Jakarta." sahut Angga.


"Mungkinkah pelakunya ada dua? Atau berbeda pelaku?" sela Panji.


"Mungkin memang ada yang lebih dari satu pelaku tapi motifnya yang mungkin berbeda." balas Dani.


"Atau bisa juga, mereka adalah komplotan, dan sengaja membunuh keluarganya dulu untuk mengalihkan perhatian sementara si pelaku lainnya membunuh target utama." sela Bagas yang tadi diam saja kini ikut menyuarakan suaranya.


Kenanga yang hanya diam saja sontak menatap Bagas. Fikiran lelaki itu sama dengannya tapi itulah yang justru membuat Kenanga menjadi curiga.


Tidak mungkin ini kebetulan biasa.


"Darimana Kapten bisa tahu?" tanya Kenanga.


Bagas tak terkejut dan salah tingkah, dia berbicara biasa. "Bisa saja, kan? Untuk menurunkan kewaspadaan yang entah ditujukan oleh siapa, pelaku membunuh keluarganya lebih dulu. Ketika kabar keluarganya telah dibunuh, seseorang itu teralihkan perhatiannya. Dan begitu teralihkan, pelaku langsung membunuh target utama yaitu Letkol Rizal."


Kenanga mengangkat satu alisnya, "Menurut Kapten, seseorang itu siapa?"


"Bisa siapa saja. Mungkin Letkol Rizal mengetahui suatu rahasia dan membocorkannya. Dan agar tidak diketahui, pelaku membunuh Letkol Rizal untuk tutup mulut."


Tim Rajawali mendengarkan Bagas dengan seksama. Setengahnya merasa takjub atas penalaran Bagas. Tapi tidak bagi Kenangam Bagas jelas mencurigakan.


"Tapi kenapa harus membunuh keluarganya juga? Sedangkan mereka hanya perlu membunuh tokoh pentingnya saja." Ini adalah pertanyaan jebakan Kenanga yang lain.


Bagas terdiam sesaat, dan Kenanga terus memerhatikan setiap perubahan reaksi Bagas.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu. Saya hanya menebak-nebak." jawab Bagas tersenyum.


Kenanga tanpa sadar merasa ada sesuatu yang aneh pada Bagas. Sejak mereka di Puncak, Bagas entah kenapa terasa asing.


"Tapi penalaranmu sangat hebat, Kapt. Bagaimana bisa Anda berfikir seperti itu?" puji Riko.


"Saya hanya berfikir secara logika saja." cengir Bagas.


Bagas lalu menatap Kenanga, "Letnan, wajahmu sedari tadi sangat serius. Anda sedang memikirkan apa sebenarnya?" tanya Bagas.


Kenanga hanya menggeleng, "Tidak ada."


***


Di sisi lain, Alfin menghampiri Satya di ruang kerjanya. Dan terlihat Satya sedang fokus mengerjakan sesuatu di mejanya.


"Kenapa kau tidak bawakan aku kopi kalau mau datang?" tanya Satya.


Alfin berdecak kesal, "Aku bukan pelayanmu! Ambil saja sendiri."


Satya menyengir lebar.


"Eh, kau sudah mendengar berita?" tanya Alfin duduk di depan Satya.


"Berita apa?" tanya Satya tetap fokus pada pekerjannya.


"Soal terbunuhnya Letkol Rizal dan keluarga."


Satya langsung terdiam, tangannya tiba-tiba gemetar. Tapi dia langsung melanjutkan pekerjaannya.


"Tidak." jawab Satya.


"Kau tidak melihatnya?!" seru Alfin.


"Pekerjaanku sangat banyak. Aku tidak memiliki waktu untuk sekadar menonton berita." ujar Satya mendesah.


"Benar juga. Oh ya, aku menghubungimu kemarin malam, kenapa kau tidak menjawabnya?"


Satya tampak terkejut, "Kau menghubungiku kemarin malam? Maaf, aku tidak tahu. Kurasa ponselku mati kemarin."


"Tidak kok. Ponselmu menyala. Kurasa aku menghubungimu dua kali." tukas Alfin.


Satya makin gelagapan, "Oh iya, ponselku menyala tapi aku mengubahnya menjadi mode hening."


Alfin mengangguk mengerti, "Angkat telfonku lain kali, jangan memakai alasan sibuk." peringatnya.


"Memangnya kau siapa?" balas Satya.


"Ah benar juga." angguk Satya baru sadar.


Alfin menendang kaki Satya dari bawah meja.


"Aw!" ringis Satya, "Kenapa kau menendangku?!" kesalnya.


"Hanya geregetan." jawab Alfin santai.


Tapi Satya terus mengaduh sakit, Alfin seketika menjadi serius.


"Kenapa? Kakimu masih sakit?"


"Tentu saja, bodoh!" balas Satya masih meringis.


"Tapi aku menendangmu cukup pelan." balas Alfin.


"Kau menendang kakiku yang terkilir." ringis Satya.


"Kakimu terkilir? Sejak kapan?" kaget Alfin.


Satya nampak tersentak, "Tidak terlalu parah, kok." Satya langsung bersikap seperti biasa.


"Syukurlah. Sudah periksa ke dokter?" tanya Alfin.


"Sudah, katanya hanya perlu beberapa hari saja untuk sembuh."


Alfin menganggukan kepalanya, lega.


"Get well soon, Sat." ucap Alfin.


"Terima kasih tapi sudah kubilang jangan panggil Sat!"


Alfin hanya mengendikkan bahu acuh, "Pergi dulu ya. Ada operasi." pamitnya.


"Hmm." balas Satya langsung memusatkan perhatian pada pekerjaannya lagi.


Alfin pun pergi dari ruangan Satya.


Namun sepeninggal Alfin, Satya mulai menunjukkan keanehan. Lelaki itu bergerak-gerak tak biasa. Dia nampak puas sekaligus cemas.


***


Sepulang bekerja, Kenanga diam di ruang buku di rumah Alfin. Dia berdiri terus menatap papan putih yang berisi banyak tempelan foto. Dimulai dari Ahmad, Nurman, Arman, Mila dan yang terbaru adalah Rizal berikut keluarganya. Dia juga menempelkan foto Syafira yang dia ambil tanpa sepengetahuan Alfin. Namun foto Syafira tersembunyi di antara foto-foto lain agar Alfin tidak menyadarinya.

__ADS_1


Kenanga memerhatikan semua kronologi dibunuhnya kelima korban kunci itu oleh Miracle. Dia harus mempelajari semua bukti yang berkaitan agar tahu harus melakukan apa selanjutnya.


"Tapi yang menjadi buntu disini adalah bagaimana cara Syafira membantu Miracle. Dan apakah dia pernah melihat wajah salah satu anggota Miracle?" gumam Kenanga. Dia bingung bagaimana menjawab pertanyaannya sendiri. Dia tidak bisa menggunakan hipotesisnya sendiri tanpa bukti fisik.


"Kurasa aku harus mulai dari menyelidiki latar belakangnya, berikut kehidupan sosialnya. Teman-temannya, orang yang dia temui sebelum dan saat berkuliah di Spanyol. Aku harus tahu, apa saja kegiatannya selama disana. Siapa tahu ada yang aneh." putus Kenanga.


Tok tok


"Kak?" panggil Alfin tiba-tiba dari luar.


Kenanga terkejut, dia buru-buru menutup foto Syafira di belakang foto Rizal untuk menyembunyikannya dari Alfin. Setelah itu, dia menutup papan dengan tirai dan menghampiri pintu.


"Ada apa?" tanya Kenanga begitu membuka pintu.


"Ayo makan malam." ajak Alfin.


Kenanga mengangguk, "Kau duluan saja ke meja makan. Nanti saya menyusul."


"Kenapa? Masih ada pekerjaan yang belum selesai?"


Kenanga langsung mengangguk.


"Itu bisa nanti, tapi urusan perut tidak boleh ditunda. Ayo." Alfin tiba-tiba menarik lengan Kenanga dan membawanya ke meja makan.


"Sudah kubilang nanti saja." gerutu Kenanga.


"Sudah, duduk saja." Alfin langsung mendudukan Kenanga di kursi. Kenanga menatap sengit Alfin.


Alfin yang sedang menata piring langsung tersenyum kecil melihat tatapan Kenanga. Alfin sudah tak takut lagi dan mulai terbiasa dengan sifat Kenanga yang satu ini.


"Jangan menatap saya seperti itu. Ayo makan saja." ucapnya.


"Saya masih belum lapar." balas Kenanga menolak makanan.


Alfin terdiam.


Kruyuk


Mendadak suara yang tak asing sekaligus memalukan keluar dari perut Kenanga. Kenanga berdeham menyembunyikan rasa malunya. Tapi sulit untuk tetap mempertahankan wajah datarnya.


Sedangkan Alfin menahan tawa.


"Jadi masih mau tidak makan?" tanyanya.


"Makan. Saya juga manusia, perlu energi." jawab Kenanga datar. Dia mulai menyendokkan nasi dan berbagai lauk pauk ke piringnya.


Alfin mengangguk, dia juga ikut makan.


Tapi begitu Kenanga menyuapkan makanan ke mulutnya, keningnya seketika mengernyit.


"Kenapa ini sangat hambar?" tanyanya.


"Karena kakak baru saja sembuh. Lebih baik tidak makan makanan yang memiliki rasa kuat dulu." jawab Alfin.


"Jawab dengan jujur, saya sembuh sudah cukup lama." tekan Kenanga.


Alfin berdeham singkat, "Kemarin kita baru makan makanan yang mengandung yodium dan glukosa tinggi. Jadi...." Alfin menggantung ucapannya.


"Kau menyindir masakanku." desis Kenanga.


"Saya tidak menyindir, hanya saja saya masih terkejut dengan rasanya." balas Alfin berusaha menyaring kata yang tak menyinggung Kenanga.


"Kau sendiri yang mau memakannya padahal sudah saya bilang tidak usah!" seru Kenanga tiba-tiba kesal.


Alfin menggaruk kepalanya, "Iya, memang saya. Tapi saya hanya menghargai masakanmu. Itu adalah kali pertama kakak masak makanan untuk saya."


Kenanga memalingkan wajahnya, dia sudah terlanjur kesal.


"Tidak mau makan lagi."


"Jangan begitu kak. Kakak harus makan." bujuk Alfin.


Tapi Kenanga masih bergeming.


"Kakak baru makan sedikit, ayo makan lagi. Jangan marah." bujuk Alfin lagi.


Melihat Kenanga tak menanggapi, Alfin memutar otaknya. Bagaimana dia membujuk Kenanga yang tiba-tiba mengalami perubahan emosi seperti ini.


"Saya akan ajari kakak memasak, bagaimana?"


Kenanga tiba-tiba menoleh, dia hendak membuka suaranya.


"Oke, kita sepakat ya. Saya akan ajari kakak memasak." pungkas Alfin.


"Saya belum tentu setuju." protes Kenanga.


"Harus setuju, karena memasak adalah kewajiban istri juga." tandas Alfin.


"Istri?"


Alfin mengangguk, "Iya, kamu kan istri saya."

__ADS_1


__ADS_2