
ting
Alfin terkejut kala dia melihat Kenanga berdiri di hadapannya menunggu lift. Kenanga juga nampak terkejut. Tidak menyangka akan bertemu Alfin lagi.
Namun raut Kenanga kembali datar dan langsung masuk ke dalam lift. Mereka berdiri berjajar.
"Saya tidak menyangka akan bertemu denganmu." ucap Alfin.
"Hem." balas Kenanga singkat.
"Kakak tinggal disini?"
Kenanga hanya mengangguk.
"Kau juga?" tanya balik Kenanga.
Kini Alfin yang mengangguk, "Saya baru saja pindah."
Kenanga nampak biasa saja, "Oh."
"Soal kemarin, batalkan saja." tandas Alfin.
Kenanga menoleh, "Kenapa?"
"Karena kakak juga tidak sengaja menyetujuinya."
Kenanga mendesah pelan, "Itu tidak bisa ditarik lagi."
"Kenapa?" tanya Alfin.
"Karena keluarga kita akan sedih. Terutama bundamu. Saya tidak ingin membuatnya sedih."
"Hah?"
"Saya suka Tante Alena." tandas Kenanga mantap.
"Kak Anggi suka bunda saya?" tanya Alfin masih tak percaya.
Kenanga mengangguk, "Dia baik dan alangkah bagusnya kalau saya memiliki calon mertua sepertinya."
Alfin tersenyum kecil, "Beliau juga pasti berfikir demikian. Alangkah bagusnya memiliki calon menantu seperti kakak."
Kenanga lagi-lagi mendesah pelan, "Saya tidak cocok dijadikan sebagai istri."
"Saya punya banyak kekurangan. Pekerjaan saya menjadi tentara aktif akan menguras semua waktu kita. Kalau kau siap menikah tanpa merasa sudah menikah, maka saya setuju."
"Menikah tanpa merasa sudah menikah?" tanya Alfin bingung.
"Saya tidak akan bersama kamu semau saya. Saya akan pergi tugas dan waktunya tidak tahu sampai kapan. Saya tidak punya banyak waktu di rumah. Dan karena itulah, akan sangat sulit menemukan stabilitas dalam hubungan kita. Kamu akan merasa ini selalu berat sebelah."
"Kenapa kakak selalu saja bicara seperti ini? Kenapa selalu membicarakan kekurangan?" tanya Alfin.
"Karena itu artinya saya bukan takdirmu. Kita tidak berjodoh karena sangat bertolak belakang." pungkas Kenanga.
"Bukankah pernikahan seperti konsep saling melengkapi? Perbedaan ada untuk saling menyatukan. Tidak ada orang yang sama dengan pasangannya. Semuanya berbeda dan itulah makna pernikahan hadir. Untuk saling melengkapi." tukas Alfin.
"Tapi saya hanya kasihan denganmu." balas Kenanga.
"Saya tidak perlu dikasihani. Kalau memang kakak tidak ingin seharusnya kakak meralatnya kemarin. Kenapa melimpahkan kesalahan ini pada saya?" balas Alfin dengan nada sedikit tinggi.
"Kenapa malah marah-marah?"
"Saya tidak marah. Saya hanya kecewa karena kakak tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang kakak katakan. Kakak selalu saja membahas kekurangan kakak. Padahal saya sudah bilang tidak masalah. Kalau seperti ini terus, lebih baik kita batalkan saja!" ucap Alfin langsung keluar lift begitu sampai di lobi.
Dan Kenanga hanya berdiri diam, tak percaya dengan tindakan Alfin yang pergi begitu saja.
***
Alfin masuk ke ruangannya dengan suasana hati yang buruk. Dia melemparkan tas kerjanya ke meja begitu saja dan duduk di kursinya. Dia memijat pangkal hidungnya.
Alfin masih dikuasai kemarahan. Entah kenapa dia malah marah. Seharusnya dia tidak marah tapi ucapan Kenanga yang tarik ulur seperti itu memancing emosinya. Dalam pehamannnya, seharusnya Kenanga lebih bersikap dewasa.
Tok Tok
Satya datang tidak sesuai waktu. Lelaki itu tidak menyadari bahwa suasana hati temannya sedang buruk dan tak ingin diganggu.
"Eh Fin, aku baru saja mendapatkan kabar dari Siska bahwa dia akan kembali tiga bulan lagi." cerita Satya sembari duduk di depan Alfin.
"Hem." balas Alfin malas.
"Ada apa denganmu? Sakit?" tanya Satya mulai peka.
Alfin menggeleng pelan.
"Satya." panggil Alfin setelahnya. Dia berdiri tegak menatap Satya.
"Apa?" tanya Satya santai sambil fokus bermain ponselnya.
"Lupakan saja." ucap Alfin datar.
"Ada apa sih? Kenapa ambekan?" tanya Satya menoleh.
Alfin berdeham singkat, dia kembali menatap Satya.
"Apakah semua wanita memang susah dimengerti?" tanyanya.
"Hah? Tentu saja. Wanita itu seperti soal matematika. Kalau kau tidak mengerti soalnya maka kau tidak akan tahu rumusnya dan akhirnya kau tidak bisa menjawabnya. Tapi kalau kau mengerti soalnya dan tahu bagaimana rumus penyelesaiannya maka kau akan bisa menjawabnya." jelas Satya.
"Bagaimana caranya?" tanya Alfin penasaran.
"Kau harus mengerti soal sebab akibatnya." tandas Satya.
"Sebab akibat?" Satya mengangguk.
"Ada alasan kenapa wanita marah-marah sama kita. Misal karena dia sedang pms. Nah kita harus mengerti bahwa wanita pms memang sensitif jadi kita tidak boleh menyinggungnya. Kita harus berbicara lembut, pokoknya buat dia senang. Maka dia tidak akan marah-marah lagi."
Alfin mengangguk-anggukan kepalanya.
"Lalu kalau soal wanita yang selalu membicarakan kekurangannya, bagaimana kita mengatasinya?" tanya Alfin.
Satya terdiam berfikir, "Hem..kau harus mengerti. Kadang sangat menjengkelkan kalau pacar kita selalu insecure. Tapi itu karena dia tidak ingin kehilangan. Jadi alih-alih dilawan, kita harus merangkulnya. Bilang tidak masalah pada apapun kekurangannya. Kita mencari pasangan untuk mendampingi kita. Dan kalau dia meminta putus, jangan didengarkan! Tutup kupingmu. Kalau kau dengarkan, maka dia akan merasa semakin rendah diri."
"Seperti, kita mengiyakan kekurangannya?"
Satya mengangguk mantap.
"Kecuali kalau kita sudah tidak cinta ya, tidak masalah." lanjutnya acuh.
"Ah begitu." angguk Alfin mengerti.
"Tapi kenapa kau bertanya?" tanya Satya baru sadar.
Alfin terkesiap, dia menggeleng.
"Aku hanya sekedar bertanya..." kilahnya.
"Bohong, katakan kau sedang mengencani siapa?" tanya Satya menyipit curiga.
"Tidak ada. Aku tidak mengencani siapapun." tukas Alfin salah tingkah.
Satya berdecak kecil, "Kau tidak akan bisa mengelabui doker cinta sepertiku. Katakan siapa orangnya?" tuntutnya.
__ADS_1
"Tidak ada." tandas Alfin.
"Katakan! Jangan menyembunyikan rahasia dariku."
"Tidak ada."
"Katakan!"
"Tidak ada."
"Alfin!" rengek Satya.
Alfin mendengus, "Pergi." usirnya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mengatakannya." pungkas Satya.
"Kau seorang dokter, jangan makan gaji buta." ucap Alfin.
"Kalau begitu tinggal katakan saja, apanya yang susah?!" balas Satya tidak mau kalah.
Alfin mendengus kesal.
drrt
Waktu yang tepat. Satya ditelfon oleh asistennya karena ada pasien.
"Jangan senang dulu. Aku akan menanyakannya lagi setelah aku selesai." tegas Satya.
"Pergilah." usir Alfin mengibaskan tangannya.
"Aku serius Fin." ucap Satya sambil berjalan ke arah pintu.
"Aku serius Fin. Kita sudah bersahabat bertahun-tahun, kau harus memberitahuku." tekan Satya yang kepalanya masih mengintip di depan pintu.
"Enyahlah!" teriak Alfin hendak melempar sepatunya.
Satya terbelalak, dia langsung menutup pintu.
***
Kenanga terdiam di mejanya. Dia melamun sanbil tangannya mengetuk-ngetuk meja.
"Letnan, kata Kapten ayo mulai rapat." celetuk Panji di depan pintu.
Tapi tidak ada tanggapan apapun dari Kenanga, hingga Panji memutuskan menghampirinya. Terlihat Kenanga yang asik melamun.
tuk tuk
Panji mengetuk-ngetuk meja. Kenanga tersentak kaget.
"Ada apa?" tanyanya.
"Letnan kenapa melamun?" tanya balik Panji.
"Tidak ada." kilah Kenanga. "Jadi ada apa kemari?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Kata Kapten, ayo mulai rapat." jawab Panji.
"Ah oke." balas Kenanga. Dia langsung berdiri dan merapikan peralatannya.
Setelah itu dia dan Panji keluar ruangan.
***
Tim Rajawali selesai rapat. Sambil membereskan peralatan, mereka mengobrol ringan.
"Saya mau pengajuan nikah, letda. Tapi saya masih ragu." cerita Angga pada Riko. Riko adalah satu-satunya anggota Tim Rajawali yang sudah menikah.
"Kenapa? Karena takut meninggalkan anak istrimu?" tebak Riko tepat sasaran.
Angga mengangguk, "Pekerjaan kita sangat banyak bahayanya. Setiap kali pergi bertugas, saya selalu merasa kematian seperti mengintai saya di belakang. Dan kalau saya gugur saat bertugas, saya tidak tega meninggalkan keluarga saya." ujar Angga cemas.
Riko hanya tersenyum, "Kamu ini salah pemikirannya Angga. Orang-orang selalu saja berasumsi seperti itu. Nikah dengan tentara itu tidak enak. Bakal terus ditinggal, syukur-syukur kalau ditinggal terus pulang. Lah ini ditinggal tugas dan pulang cuma nama, bagaimana? Makanya gegara pemikiran seperti itu, saya sampai kesulitan meyakinkan ayah mertua saya."
"Jadi solusinya bagaimana?" tanya Angga.
"Ya hentikan persepsi seperti itu. Kalau teris dibiarkan, bisa-bisa para tentara jomblo terus." kekeh Riko. "Kamu harusnya bersyukur, sudah menemukan pasangan yang menerima kamu apa adanya dan mengerti tentang pekerjaanmu. Pasangan seperti itu seharusnya dipertahankan." lanjutnya.
"Membangun pernikahan itu sama. Cuma butuh tekad, kepercayaan dan cinta. Sudah itu saja. Soal umur, rezeki dan kematian jangan dicemaskan. Apa ada yang pernah bilang kalau jadi tentara umurmu pendek?"
Angga menggeleng.
"Nah bisa saja kan, orang lain non tentara umurnya jauh lebih pendek. Pernahkah melihat tentara atau purna tentara yang usianya sudah senja dan masih sehat sampai sekarang?"
"Pernah, bang." jawab Angga.
"Jadi untuk apa dicemaskan? Serahkan saja semuanya pada Tuhan. Tuhan yang mengatur urusan kematian kita. Kita hanya harus berdoa agar kita diberi keselamatan, kesehatan dan kebahagiaan. Sudah itu saja, kok repot." tutur Riko. Panji terdiam.
"Jadi masih mau dilanjut atau tidak?" tanyanya pada Panji.
"Lanjut, bang." tegas Panji. Kini dia lebih mantap setelah mendengar nasihat Riko.
"Baguslah itu. Cepat-cepat urus. Jangan ditunda-tunda. Kasihan calon istrimu nanti."
"Siap bang." ucap Panji.
"Wah sudah diduga, Letda Riko memang pintar berbicara." puji Bagas.
"Ah, saya hanya berbicara dari pengalaman saja, Kapt. Pengalaman adalah guru terbaik." ucap Riko merendah.
"Setelah mendengar nasihat Letda Riko, saya jadi ingin segera menikah." celetuk Dani.
"Saya juga." sahut Panji antusias.
"Kalau Dani dengan kepribadiannya, tidak akan masalah segera menikah. Dia bisa mendapatkan siapapun yang dia inginkan. Tapi kalau kau, Panji, saya sarankan sebaiknya kau memperbaiki kepribadianmu. Jangan suka mempermainkan wanita." celetuk Kenanga.
Semuanya tertawa keras mendengarnya. Dan Panji hanya bisa merengut sebal.
"Sudah-sudah." lerai Bagas. "Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum misi. Silakan nikmati waktu senggang kalian, kita bertemu lagi pukul tujuh malam." lanjut Bagas.
"Siap kapten."
"Ayo makan siang." usul Panji.
Dani, Riko, Angga dan Bagas mengangguk setuju.
"Letnan bagaimana?" tanya Panji menatap Kenanga.
Kenanga yang sedang membereskan peralatan seketika mengangguk.
"Kalau gitu, saya pesan tempat dulu."ucap Panji segera keluar ruangan.
"Kami tunggu di luar ya, letnan." ucap Riko.
"Hem." angguk Kenanga.
Semua anggota pun terkecuali Kenanga keluar dari ruangan. Sedangkan Kenanga masih membereskan peralatannya.
Ketika peralatannya sudah beres, Kenanga mendapat telfon dari nomor tak dikenal.
"Halo, selamat siang. Ada yang bisa dibantu?"
__ADS_1
"Halo Kenanga, ini bunda."
Kenanga membeku ketika pemilik nomor itu mengenalkan diri.
"Tante...Alena?"
***
Kenanga sampai di sebuah toko kue. Dia diminta Bunda untuk menemuinya sekaligus makan siang bersama. Kenanga yang tak enak menolak, akhirnya menyetujuinya. Jadilah dia mengirim pesan pada rekan-rekannya kalau dia tidak jadi ikut makan siang bersama.
Kenanga masuk ke toko kue. Aroma harum dan manis kue yang baru selesai dipanggang menggugah selera Kenanga.
"Kenanga." panggil Alena yang baru datang dari dapur.
"Selamat siang, tante." sapa Kenanga sopan.
"Kok tante lagi? panggil bunda." tegas Alena.
Kenanga mengangguk ragu, "Baik, bun..da."
Alena tersenyum senang. Dia membawa Kenanga duduk di salah satu kursi.
"Maaf ya bunda menyuruhmu datang kesini. Pasti jaraknya cukup jauh dari markas kan?" tanya Alena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa bunda." ucap Kenanga.
Alena lalu membawa makan siang. Kenanga dan Alena makan siang lebih dulu di toko kue milik Alena.
Sembari makan siang, Alena membuka pembicaraan lagi.
"Kalian sepertinya sudah saling mengenal."
Kenanga terdiam sesaat, dia lalu mengangguk.
"Bagaimana kalian saling mengenal?" tanyanya.
Tiga tahun lalu, saat kami tidak sengaja tidur bersama
"Rekan saya tidak sengaja melukai Alfin saat berolahraga sore." jawab Kenanga tidak sesuai dengan jawaban sebenarnya.
Alena menganggukan kepalanya.
"Sebenarnya, bunda termasuk orang tua beruntung. Bunda selalu dikelilingi oleh menantu yang luar biasa. Kakak iparnya Alfin, adalah seorang non-muslim tapi pada akhirnya dia menjadi mualaf. Awalnya pernikahan itu sempat diragukan, tapi bunda yakin bahwa mereka berjodoh. Bunda menerima meski dia bukan muslim. Tapi pada akhirnya, semuanya berakhir indah bagi hubungan mereka. Bunda tidak menyesali keputusan bunda untuk merestui mereka."
Kenanga mendengarkan dengan fokus.
"Dan kini, bunda kembali dihadapkan pada kasus hampir serupa. Calon menantu bunda bukanlah dari kalangan biasa. Dia seorang prajurit militer yang sudah mengabdi pada negara bertahun-tahun."
"Apa yang terlintas di fikiran bunda saat mendengar pekerjaan saya?" tanya Kenanga dengan nada hati-hati.
Alena tersenyum, "Apa yang bunda fikirkan? tentu saja mengagumimu. Bunda berfikir. kalau Alfin jadi menikah denganmu maka bunda akan punya menantu hebat lainnya. Bunda sangat senang memikirkannya."
"Tapi pekerjaan saya penuh resiko. Saya bahkan bisa saja gugur di medan perang." tukas Kenanga.
"Kematian adalah peristiwa alamiah yang pasti akan dialami setiap yang bernyawa. Kenapa kamu mencemaskannya?"
"Saya...hanya tidak mau suami dan anak saya nanti bersedih. Saya tidak ingin membebani mereka." aku Kenanga.
"Kenanga," bunda menyentuh lembut tangan Kenanga, "Sedih itu pasti tapi dibalik itu semua, mereka akan tetap bangga. Bahwa ibu saya adalah pahlawan yang melindungi kedaulatan negara. Ibu saya bisa saja berdiam di rumah dan tak menghasilkan apapun. Tapi ibu saya memilih maju berperang mempertaruhkan nyawanya. Siapa anak yang tak bangga? Apakah pernikahan itu akan terjalin selamanya? Apakah pasangan akan meninggal bersamaan? Bagaimana kalau Alfin yang lebih dulu tiada?"
Kenanga tertegun.
"Bunda tahu kekhawatiran kamu. Kalian juga belum saling mencintai. Tapi kalau boleh bunda membanggakan Alfin sedikit saja. Dia adalah lelaki yang terbaik yang bisa dijadikan sebagai suami. Alfin menerima apa adanya. Dia tidak peduli meski usia pasangannya lebih tua sekalipun. Kalau bunda bisa cerita sedikit, Alfin pernah memiliki kekasih tiga tahun lalu. Tapi naasnya, dia meninggal dunia."
Kenanga pernah mendengar cerita menyedihkan ini.
"Dia amat mencintai kekasihnya ini. Meski bunda hanya bertemu beberapa kali tapi bunda bisa lihat bahwa dia adalah perempuan yang baik. Alfin rela terbang pagi buta jauh-jauh menemui kekasihnya. Cinta mereka saling menguatkan masa-masa menunggu mereka. Alfin pernah kecelakaan fatal, dan kekasihnya ingin menemaninya. Tapi Alfin menolaknya dan menyuruhnya fokus dalam ujian. Hingga masa ujian selesai, kekasihnya pulang ke Indonesia untuk menemuinya."
"Bunda bisa merasakan keterkaitan mereka satu sama lain. Alfin setia pada kekasihnya, tidak peduli ada cobaan apapun yang menggoyahkannya. Jadi bunda merasa sedih saat Alfin kehilangan orang yang dia cintai ." tutur bunda lirih.
"Kenanga, Alfin masih belum pulih sepenuhnya. Dibalik keceriaannya, senyumannya, dia masih menyimpan luka yang dalam. Alfin butuh seseorang yang kuat. Seseorang yang dengan sabar mendampinginya melewati masa luka. Seseorang yang akan menyembuhkannya dengan cinta yang lain. Dan kamu adalah orangnya."
Kenanga terdiam tak menjawab.
"Kenanga, maukah kamu berjanji pada bunda?" pinta Alena.
"Janji?" lirih Kenanga.
Alena mengangguk. "Berjanjilah akan membantu Alfin menemukan dirinya lagi. Merekatkan kepingan hatinya yang hancur."
"Saya..." Kenanga kehilangan kata-katanya.
"Berjanjilah, nak. Bunda mohon." pinta Alena penuh harap.
Kenanga amat bimbang. Setelah lama terdiam, dia menganggukan kepalanya.
"Saya berjanji."
Dan Alena langsung memeluknya penuh rasa syukur. Hati Kenanga kembali menghangat oleh pelukan Alena.
***
Malam tiba. Sesuai dengan yang dijanjikan, Tim Rajawali berkumpul di depan sebuah kelab malam. Para anggota dengan tampilan berbeda mulai menyebar ke seluruh penjuru kelab. Ketika berhasil menemukan target mereka, Bagas berbicara melalui earphice.
"Mission start."
Mereka sedang melakukan operasi mata-mata untuk mendapatkan informasi. Dan yang menjadi mata telinga mereka tentu saja Kenanga. Dia harus mendekati target mereka dengan berpakaian seksi seperti pengunjung lainnya.
Setelah berjam-jam misi berjalan, Kenanga mulai kehilangan kesadarannya. Dia harus meminum alkohol sambil mengorek informasi. Dia cukup lelah makanya cepat mabuk.
Misi berjalan sukses. Target mereka sudah diringkus oleh polisi berdasarkan informasi mereka. Mereka menyusul Kenanga yang teler di atas meja.
Kenanga masih sedikit sadar, dia meminta agar diturunkan di apartementnya saja. Alhasil mereka mengantarkannya hingga apartement.
Kenanga tidak mau ditemani, dia memaksa sendirian saja. Akhirnya tim meninggalkannya setelah mengantarkannya hingga pintu lift.
Kenanga menekan lantai tujuh. Dia berdiri bersandar di dinding lift.
Ting
Lift terbuka. Kenanga langsung berjalan sempoyongan menuju salah satu unit. Perempuan itu bertelanjang kaki dengan memegang sepatunya.
Tok tok
Kenanga mengetuk-ngetuk pintu keras. Cukup lama, hingga seseorang akhirnya muncul di balik pintu.
Seseorang adalah Alfin, dia terkejut kala melihat Kenanga yang berdiri di depan pintunya dalam keadaan mabuk.
"Kak Anggi?" serunya syok.
"Anggi?" kenanga tertawa sendiri. "Saya Anggi. Alfin, saya menarik kata-kata saya." ucapnya tak jelas.
"Apa maksudmu?" tanya Alfin bingung.
"Jangan batalkan." jawabnya.
bruk
Kenanga oleng, dia menabrak dada Alfin. Alfin yang tak siap, langsung terjatuh ke belakang dengan Kenanga yang ada di atas tubuhnya.
"Kak Anggi?" ucapnya panik. Dia syok dengan posisi mereka.
__ADS_1
Tapi Kenanga tak menjawab. Dia sudah tertidur pulas.