The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 60.


__ADS_3

Alvaro terdiam mendengar ucapan Nana.


"Papa? Apa maksudmu?"


Nana langsung tertawa, "Aku becanda, Al. Astaga, wajahmu lucu sekali. Kamu harus lihat seperti apa wajahmu saat kau terkejut dan bingung seperti tadi, hahaha." kekehnya.


Alvaro mendengus, "Tidak lucu, Na. Aku bingung dan berfikir beberapa saat tadi ketika kau mengatakan seperti itu. Lihat, Jack juga diam saja. Kamu juga merasa ya bahwa ucapan mamamu tidak lucu." Alvaro meminta pembelaan dari Jack.


"Jack tidak tahu apa-apa. Tapi aku memang selalu sedih bila memikirkan keadaan Ruben. Makin hari kondisinya makin memburuk." raut wajah Nana berubah menjadi mendung.


Alvaro merasa simpatik dengan keadaan yang menimpa Nana. Bagaimanapun dia juga salah satu orang yang meski tidak terlibat langsung dalam kisah percintaan Nana dan Ruben, tapi dia juga tahu bahwa perjuangan Nana dalam mencintai Ruben dan bagaimana Ruben akhirnya bisa takluk pada Nana. Dan begitu mendengar berita buruk ini, Alvaro juga merasa kasihan dan sedih.


"Tidak apa-apa, aku yakin Ruben akan baik-baik saja. Dia lelaki yang kuat terlebih ada kamu dan Jack. Kalian adalah alasan terbesar Ruben untuk bisa bertahan hingga kini." hibur Alvaro.


Nana mengangguk, "Aku tahu dia makin merasa kesakitan setiap harinya. Aku tahu andai dia tidak mengingat kami, dia ingin menyerah. Tapi aku juga egois bila memaksanya berada di dunia sedangkan tubuhnya sudah tak mampu lagi." Mata Nana berkabut. Dia menahan air matanya sebisa mungkin.


Alvaro mendesah, hatinya juga tak tega melihat Nana seperti ini. Memang sejak setahun lalu, Alvaro makin dekat dengan Nana. Sahabat Kansha ini banyak bercerita soal masalah rumah tangga mereka. Dan Alvaro yang mendengarnya merasa kasihan. Terlebih pada Jack, anak Ruben dan Nana yang kini berusia 3 tahun itu tidak tahu apa-apa mengenai kondisi sang papa yang semakin mengkhawatirkan.


"Jadi kau pulang karena ingin memberitahu Kansha dan Alfin?" tanya Alvaro.


Nana mengangguk, "Sejujurnya aku tidak ingin membebani mereka tapi rasanya aku sudah lelah harus menanggung beban ini sendirian."


"Tidak apa. Aku akan menghubungi Alfin dan Kansha untukmu kalau kau belum sanggup."


Nana mengangguk, "Terimakasih Al. Kamu banyak membantu." ujarnya tersenyum.


Alvaro ikut tersenyum, "Sahabat Kansha, sahabatku juga."


***


Siska tidak pernah sehancur ini sebelumnya. Tak pernah dia seputus asa ini dalam hidupnya selama ini. Namun dengan kejadian ini, Siska merasa bahwa langitnya telah runtuh. Dia kehilangan segalanya.


Kehancuran mendekapnya sedemikian erat.


Sidang putusan Satya sudah digelar tadi siang. Dan begitu mendengar hasil putusan hakim, Siska menjerit keras dan langsung terjatuh pingsan. Dani yang mendampinginya seketika panik.


Satya dijatuhi hukuman mati atas perbuatannya.

__ADS_1


Malam ini, ketika Siska telah siuman, perempuan itu meronta-ronta di rumah sakit ingin bertemu dengan Satya. Hanya kurang dari satu bulan sebelum lelaki itu dieksekusi, dan Siska ingin menemuinya. Ingin mendekapnya dan menangis dihadapannya. Dia merindukan kekasihnya.


Dani yang tak tega akhirnya meminta petugas lapas untuk mengizinkan Siska bertemu Satya meski jam besuk telah berakhir. Siska pun diizinkan meski hanya sebentar.


Disinilah Siska, duduk di tengah-tengah sebuah ruangan yang dingin namun terang. Ada seorang petugas sebenarnya. Namun dia duduk di balik mejanya di depan pintu ruangan.


Tak lama Satya datang bersama dua petugas yang mengapitnya dari sisi kanan dan kiri. Lelaki berpakaian tahanan dengan tangan terborgol itu nampak tenang.


Namun berbanding terbalik dengan Siska, seketika pecah tangisnya begitu Satya sudah duduk dihadapannya. Kedua petugas itu keluar ruangan memberi ruang bagi mereka untuk berbicara.


Cukup lama Siska menangis. Satya hanya diam, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya hingga berhenti sendirinya.


Lima menit kemudian, Siska berhenti menangis menyisakan sesenggukannya.


"Kamu bawa tisu? Kamu menangis cukup lama." ucap Satya.


Siska menghirup nafas namun ternyata udara itu mencekik lehernya hingga dia kesakitan.


"Apa kau tidak sedih?" tanya Siska.


"Sedih karena apa?" tanya balik Satya.


"Tidak perlu. Pada akhirnya kalaupun aku tidak dijatuhi hukuman mati maka aku akan dipenjara seumur hidup. Dan itu lebih menyiksa." jawab Satya.


"Apa kau tidak kasian padaku? Setidaknya aku bisa menjengukmu setiap harinya. itu masih lebih baik daripada harus terpisah dunia denganmu." sanggah Siska.


Satya menatap Siska tanpa raut. Lelaki itu mendesah pelan. Dalam hatinya, dia mengakui betapa Siska mencintainya setulus hati. Tapi egonya tetap menguasainya. Dia tidak bisa mencintai Siska.


"Siska, aku minta maaf atas semua yang telah kulakukan padamu. Dan aku mohon padamu, berhentilah berharap. Berhentilah mencintaiku."


Siska mematung mendengar ucapan Satya. Berhenti mencintai dia bilang?


"Apa kau bilang?" Siska tak memercayai ucapan Satya.


"Aku telah jahat padamu. Melukaimu sedemikian dalam. Tapi mengapa kau masih menyukaiku? Kenapa kau tidak membenciku saja?"


Satu butir air mata Siska jatuh.

__ADS_1


"Aku berusaha. Aku tahu kamu menyakitiku sangat dalam. Aku tahu seharusnya aku membencimu, tapi tidak bisa Satya, nyatanya rasa cintaku mengalahkan kebencianku sendiri. Aku tidak bisa berhenti mencintaimu meski aku tahu bahwa kau tidak pernah mencintaiku."


Satya terdiam mendengarnya. Dia tahu telah menorehkan luka amat dalam bagi Siska. Dan rasanya, hati kecilnya merasa terenyuh melihat betapa menyedihkannya perempuan dihadapannya ini.


Sudah cukup, semuanya harus diakhiri.


Satya menatap Siska yang matanya telah membengkak. Tak ada rasa simpatik sedikitpun untuk hanya sekedar mengusap bekas air mata perempuannya. Yang ada Satya ingin mengakhiri segalanya. Secepat mungkin.


"Siska, aku tahu ini terdengar sangat jahat. Nyatanya aku memang sudah sangat jahat padamu. Tapi Siska, satu hal yang harus kau tahu, bahwa aku tidak pernah mencintaimu. Berpacaran denganmu adalah salah satu kesalahan fatal yang tak seharusnya terjadi." Satya berucap dengan tenang dan tanpa perasaan. Memang itulah dia.


Siska terdiam. Hatinya berdenyut ngilu mendengar pengakuan tak berhati dari Satya.


"A..aku tidak bisa melakukannya. Aku terlalu jatuh hati sangat dalam padamu, Satya." Siska berucap dengan tergagap.


Satya menggeleng, "Aku tidak mencintaimu sama sekali, Siska. Baik dulu maupun sekarang atau nanti. Kau hanya jatuh cinta sendirian. Dan sebagai kebaikan terakhirku padamu, berhentilah mencintaiku dan carilah lelaki lain yang bisa mencintaimu tanpa perlu kau repot-repot cintai lagi. Jangan seperti aku. Kau tak pantas melakukannya."


Perkataan Satya sangat melukai hati Siska. Siska menangis tanpa suara.


Satya lalu melepaskan sesuatu dari lehernya. Cukup sulit melakukannya karena kedua tangannya terborgol menjadi satu. Namun dengan satu tarikan yang menghasilkan luka goresan besi di tangannya, sesuatu itu berhasil dilepas dari lehernya. Ternyata adalah sebuah kalung berliontin kunci putih.


Satya meletakannya dengan sedikit melempar ke atas meja. Kalung itu berkelontangan pelan.


"Aku mengembalikannya padamu. Setelah ini hubungan kita benar-benar telah berakhir. Siska, hiduplah dengan baik. Carilah lelaki yang bisa memberimu kebahagian bukan rasa sakit. Itu pesan terakhirku untukmu." ucap Satya dingin.


Satya tanpa kata beranjak berdiri, namun baru saja beberapa langkah, dia berbalik.


"Aku menerima eksekusi mati itu. Kau tahu bahwa aku lebih baik dihukum mati dibanding harus hidup dalam kerangkeng para polisi sialan itu seumur hidup. Dan aku tidak ingin ditemuimu lagi." lanjut Satya.


Tap tap


Satya pun pergi diikuti petugas yang mengapit kanan kirinya keluar ruangan.


Setelah kepergian Satya, Siska menangis hebat di tengah ruangan putih yang kosong dan luas itu. Dia menangis dan terus menangis, tangannya menggenggam kalung Satya, tertunduk dalam. Siska tidak mengerti darimana asalnya hati jahat dan dingin Satya. Satu tangannya menggenggam kalung lain di lehernya. Sebuah kalung berliontin hati dengan lubang kunci ditengahnya. Itu adalah kalung pasangan dengan milik Satya. Dan kini kalung itu kembali pada pemiliknya. Dengan disertai rasa sakit.


Perpisahan itu akan membuat Siska berubah seumur hidup.


****

__ADS_1


Aku minta maaf karena telah ga update hingga sebulan lebih🙏😭 Aku tau ini terdengar alasan tapi ada banyak kejadian yang datang silih berganti selama aku ga update dan itu jujur saja memengaruhiku untuk fokus menulis. Aku sempat nulis hingga 2000 kata beberapa pekan lalu tapi itu hilang, aku sempat menulis ini di kolom komentar bab sebelumnya. Dan itu jujur saja sedikit membuatku mengeluh hingga akhirnya aku menunda menulis karen kehilangan inspirasi😌


Sekali lagi aku minta maaf, dan aku akan berusaha menulis lebih cepat agar kalian tidak menunggu sangat lama seperti ini. Aku tidak Hiatus ya teman-teman. Maafkan aku telah membuat kalian menunggu lama🙏😌


__ADS_2