The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 40. Zona A-31


__ADS_3

NB : Kisah ini adalah fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tempat dan organisasi tertentu hanyalah kebetulan semata dan tidak bermaksud menyinggung.


...----------...


"Kau milikku, dan milikku tidak boleh direbut. Kau mengerti sekarang?"


Alfin masih tak percaya dengan apa yang diucapkan Kenanga. Beberapa kali dia memikirkannya, tak ada penjelasan yang masuk akal kenapa Kenanga bisa mengatakan demikian.


Satya datang menghampiri Alfin dengan dua kaleng soda ditangannya. Satu dia serahkan pada Alfin.


"Kenapa? Ada yang kau fikirkan?" tanyanya.


Alfin hanya menggeleng.


"Katakan saja. Aku tahu bagaimana ekspresimu saat stress." decak Satya.


Alfin menghembuskan nafas kasar, "Menurutmu, jika ada orang yang mengatakan kau milikku, milikku adalah milikku, tak ada yang bisa merebutnya. Menurutmu bagaimana?" tanya Alfin.


Satya terdiam berfikir, "Dia cemburu." ujarnya santai.


"Cemburu? Tidak mungkin!" tukas Alfin.


"Kenapa? Ah, jangan-jangan Kenanga cemburu pada Amelia?" tebak Satya.


"Untuk apa dia cemburu, padahal aku dan Amelia tidak memiliki hubungan apapun."


"Wajar saja bila seorang perempuan cemburu pada perempuan lain terlebih perempuan itu hendak merebut suaminya. Tapi, apa Kenanga benar-benar mengatakan itu?"


Alfin mengangguk.


"Wah, tidak kusangka ini amunisi Letnan Kenanga untuk melumpuhkan target." takjub Satya. "Eh, apa menurutmu Kenanga sudah jatuh cinta denganmu?" tanyanya penasaran.


"Tidak mungkin!" tukas Alfin.


"Kenapa?" tanya Satya.


"Aku tahu bukan seperti itu orang yang jatuh cinta. Kenanga tidak mungkin mencintaiku." ujar Alfin santai.


"Lalu seperti apa orang yang jatuh cinta?"


Alfin menatap Satya yang menatapnya penuh rasa penasaran, dia tersenyum manis.


"Yang jelas, tidak akan sebodoh dirimu." ujar Alfin enteng. Setelah itu dia menepuk pundak Satya dan pergi begitu saja.


Satya berdecak, tatapannya berubah kesal.


"Setelah mengejekku, dia langsung kabur. Woy, Fin, kemari kau brengsek!" teriak Satya.


Tapi Alfin hanya melambaikan tangannya tak peduli dan terus berjalan.


***


Siang ini, Kenanga kedatangan seorang laki-laki paruh baya dengan satu tangannya tidak ada. Dia mengenalkan dirinya sebagai Rizal, pensiunan TNI AD yang katanya satu rekan kerja dengan mendiang ibunya.


"Darimana kau bisa menemukanku?" tanya Kenanga.


"Mudah. Saya hanya perlu mengatakan saja." ujar Rizal.


"Kau kesini untuk masalah kemarin?"


Rizal mengangguk.


"Apa yang kau ingin katakan?"


"Semuanya."


Kenanga menatap serius Rizal, "Kau yakin? Sementara aku masih sangat curiga denganmu."


"Tentu saja tapi kenapa kau terus berkata tidak sopan padaku? Saya sudah berusia lebih lama dibandingmu." protes Rizal.


Kenanga hanya menatap tak peduli, "Beginilah saya bicara. Kalau kau tidak suka ya saya tidak peduli. Lagipula kau yang mencariku pertama kali jadi kau harus mengikuti aturan."


Rizal mendesah, "Baiklah-baiklah."


"Jadi ceritakan semuanya. Apa yang kau katakan bahwa ibuku meninggal karena Miracle."

__ADS_1


Rizal terdiam sesaat lalu mulai berbicara, "Sepuluh tahun lalu, kami mendapat tugas menjaga perbatasan AS-Meksiko selama perang gurun di gurun Chihuahua. Disana Nike mendapat sebuah surat kaleng yang mengatakan bahwa ada sebuah pabrik besar di area bekas angkatan militer Amerika selama perang dunia 2 dimana ditempat itu sebuah obat sedang dikembangkan. Area itu disebut Zona A-31."


Flashback On


Nike mendapat surat kaleng misterius saat berpatroli malam melintasi perbatasan gurun Chihuahua.


Ketika surat kaleng itu dibuka, secarik kertas yang sudah menguning dengan tulisan bahasa inggris sambung terlihat. Noda darah nampak mengotori kertas itu.


"Apa ini?" tanya Dito, salah satu anggota Tim Chavi 02.


Nike tak menjawab, dia mulai membaca isi surat itu dihadapan semua anggotanya.


"Ketika kau mendapat surat ini, maka aku telah tiada." ujar Nike lantang.


Kelima anggota Tim Chavi 02 itu seketika menarik nafas. Mereka kaget dengan ucapan pembuka surat itu yang mengerikan.


Nike melanjutkan kembali dengan kata-kata yang telah dia terjemahkan kedalam bahasa Indonesia.


"Aku seorang ahli kimia asal Amerika yang direkrut oleh sebuah organisasi mafia terbesar dalam sejarah bernama Miracle. Miracle ini adalah organisasi yang telah berdiri sejak Perang Dunia 2 ketika Jerman mulai menginvasi Polandia sebagai awal peperangan terbesar itu. Miracle menyuplai obat-obatan untuk Sekutu saat melawan Blok Poros dimana obat yang mereka suplai salah satunya adalah kokain. Mereka adalah orang pertama yang mengembangkan kokain menjadi obat legal tapi dengan kerusakan lebih dahsyat. Obat itu diberinama K-31 dan kami sedang mengembangkannya."


"K-31?"


"K-31 memiliki efek yang lebih dahsyat saat diberikan pada tubuh pengguna. Merasa gembira, energik, banyak bicara, menambah rasa percaya diri, mood yang mudah berubah, serta menghilangkan rasa sakit dan mampu meredakan sakit sehebat apapun dalam singkat. Semua efek itu bisa langsung dirasakan dan bertahan hingga enam-tujuh jam."


Semua Tim Chavi 02 tercengang dengan fakta itu. Mereka tidak menyangka bahwa ada sebuah rahasia besar yang tersembunyi di balik keluasan Gurun Chihuahua.


"Silakan berjalan 500 KM dari markas Anda. Kalian akan menemukan sebuah reruntuhan pabrik yang dilindungi pemerintah. Ruang produksinya berada di bawah tanah."


Flashback Off


"Setelah itu Nike menyarankan agar kita menyelidiki itu semua. Awalnya kami tak setuju karena itu artinya kita melalaikan tugas sebenarnya. Tapi keadaan menjadi tidak terkendali ketika Nike melaporkan hal itu pada kolonel dan mereka mengabaikannya. Dan akhirnya agar bisa membuktikan isi surat itu, kami mengirim drone menuju tempat itu. Tebak apa yang ditemui?"


Kenanga terdiam, cerita ini entah kenapa membuatnya tertarik.


"Sebuah reruntuhan gedung angkatan militer kosong dengan tanaman liar yang meninggi. Dilihat dari satelit pun, orang tak akan curiga karena itu hanya akan dianggap sampah atau memorial Perang Dunia 2."


"Kemudian kami memutuskan mencari tahu soal itu dengan dalih bahwa perang antar geng gurun menjadi tak terkendali hingga menyebar lebih dalam ke gurun. Pada akhirnya apa yang dikatakan surat itu benar, ada sebuah pabrik yang berada dibawah tanah. Kami menemukan pintu menuju kesana."


Flashback On


Tim Chavi 02 yang dipimpin Nike berjalan mendekat dengan perlahan menembus udara malam. Mereka satu persatu dengan tetap hati-hati memasuki pintu bawah tanah yang akan menuju sebuah pabrik dibawah reruntuhan benteng.


"Semua barang-barangnya tidak ada." timpal Kevin.


"Seperti apa kata kolonel, reruntuhan ini akan dihancurkan dan otomatis pabrik juga harus pindah." papar Nike.


"Apa yang harus kita lakukan, kapt?" tanya Rizal.


"Menyebar, cari jejak petunjuk." titah Nike.


"Laksanakan."


Semua anggota Tim Chavi 02 memeriksa bekas pabrik yang sudah kosong itu tanpa tahu bahwa sesuatu yang bahaya telah mengintai mereka sejak masuk.


"Kapten!" panggil Rizal pada Nike.


"Ada apa?" tanya Nike.


"Saya izin keluar sebentar, saya ingin kencing." izinnya dengan wajah malu.


Nike mendesah kesal, "Cepatlah." desaknya.


"Terima kasih kapten." ujar Rizal senang. Lelaki itu langsung keluar dari ruang bawah tanah.


"Kapten, rasanya ada yang tidak beres. Anda mencium bau hangus?" tanya Dodi.


Nike terdiam, mencoba mencari tahu apa yang dimaksud rekannya.


Di sisi lain, Rizal sedang kencing dibalik pohon dengan tubuh menghadap reruntuhan itu. Begitu dia selesai mengancingkan celananya, sebuah sinar dengan suara amat keras terdengar didepannya. Rizal bahkan sampai terpental dan radiasinya mengenai salah satu lengannya.


Duarr


Reruntuhan itu meledak hancur. Langit malam Gurun Chihuahua dalam terang benderang dalam sekejap.


Flashback Off

__ADS_1


"Pabrik itu meledak begitu saja?" tanya Kenanga tak percaya.


Rizal mengangguk, "Sepertinya kami masuk dalam waktu yang salah. Bom berkekuatan besar sudah ditanam disana."


Kenanga menghela nafas berat, "Tapi kenapa penyebab kematian mereka dipalsukan menjadi korban perang geng?"


Kenanga masih ingat saat itu. Ketika mendiang ibunya dan rekan-rekannya dinyatakan gugur dengan jasad hancur dampak dari ledakan dahsyat saat perang geng.


"Kami melanggar aturan dan melalaikan kewajiban. Kolonel saat itu sudah mewanti-wanti kami untuk tidak kesana karena lokasi itu sudah ditutup tapi kami bebal. Kami ingin tahu apa yang terjadi disana. Kami ingin tahu apakah benar disana sedang ada pengembangan obat terlarang."


Mata Kenanga bergetar, rasanya dia ingin menangis karena telah dipukul kenyataan.


"Lalu apa yang terjadi setelahnya?"


"Miracle saat ini masih mengembangkan obat itu. Di suatu tempat, dimana teknologi secanggih apapun tidak bisa mendeteksinya. Obat itu adalah versi upgrade dari K-31 dan diberi nama Klorafil."


"Klorafil?" Kenanga mengerutkan keningnya.


"Kenanga, nyawa saya dalam bahaya." ujar Rizal tiba-tiba. Wajahnya menunjukkan ketakutan amat dalam.


"Apa maksudmu dalam bahaya?"


"Hanya saya, satu-satunya manusia hidup saat kejadian itu. Hanya saya yang mengetahui semua rahasia mereka selama ini. Mereka mengintai saya."


Kenanga terdiam, itu sama dengan semua pelaku yang berhasil dia tangkap. Kenanga tahu, cepat atau lambat, Rizal pasti dalam daftar orang yang harus mereka bunuh untuk menghilangkan jejak.


"Kau benar, kau dalam bahaya. Mereka akan membunuhmu." tandas Kenanga.


Wajah Rizal langsung pucat pasi, "Jadi ada satu informasi lain yang harus kukatakan sebelum aku mati. Dengarkan baik-baik."


Kenanga mengangguk.


"Ada kelanjutan surat kaleng itu, tiga tahun yang lalu. Entah siapa yang mengirimnya karena orang yang memberi sura kaleng pertama itu telah meninggal. Mengatakan bahwa saat ini pabrik pembuatan obat itu berada di Asia Tenggara. Dan Indonesia akan menjadi negara pertama pendistribusian Klorafil itu."


"Apa?" seru Kenanga terkejut.


"Dan yang membuka jalan bagi Miracle ke Indonesia hingga mendapat surat lisensi dan izin dagang adalah seorang mahasiswa magister yang bersekolah di Spanyol."


Kini Kenanga benar-benar membeku. Spanyol?


Flashback On


"Tiga tahun lalu, setelah saya bertemu dengan Anda tanpa sengaja di Bali, sebenarnya setelah itu saya ke Spanyol.” Cerita Alfin. kenanga mendengarkannya dengan fokus.


“Saya ingin mengunjungi kekasih saya yang sedang melanjutkan studi disana. Tapi begitu saya kesana, ada ambulans dan mobil polisi terparkir di depan gedung flatnya. Disana sangat ramai, bahkan para tetangga pun keluar dari rumah dan mengerumuni tempat itu. Saat saya bertanya, katanya ada yang meninggal dunia.” Alfin berkata dengan nada penuh kesedihan.


“Kekasihmu?” tebak Kenanga tepat sasaran. Alfin mengangguk pelan.


“Dia bunuh diri katanya.” Jawab Alfin, “Tapi saya tidak percaya. Hingga saya menemukan sebuah simbol lingkaran dengan busur ditengahnya di belakang lehernya. Satya bilang itu simbol Miracle.”


Flashback Off


Kenanga membeku. Orang yang membukakan jalan bagi Miracle adalah kekasih Alfin?


Ceklek


Pintu terbuka. Kenanga dan Rizal sama-sama menoleh ke arah pintu. Ada Alfin yang berdiri disana dengan tatapan bingung.


"Saya tidak tahu ada tamu." ujar Alfin tak enak.


Rizal hanya tersenyum.


Alfin lalu menatap kebingungan dengan ekspresi Kenanga yang terus menatapnya.


"Ada apa? Oh ya ada rekan-rekanmu diluar." ucap Alfin.


Kenanga tak menjawab. Wajahnya masih mengernyit tak percaya.


Ini tidak mungkin!


***


Di sisi lain, seseorang berseragam prajurit mendengarkan semua percakapan Kenanga dan Rizal sebelum Alfin masuk ke ruangan. Rautnya tak bisa ditebak.


"Kapten Bagas?" panggil Panji pada orang itu.

__ADS_1


Bagas tersentak kaget, tapi wajahnya langsung penuh senyuman.


"Hai, Panji. Mau menjenguk Kenanga?"


__ADS_2