
Alfin sedang menikmati secangkir teh melati di pelataran villa. Tak lama, Satya datang. Dia nampak rapi dan terkesan tengah bergegas.
"Kau mau kemana?" tanya Alfin.
"Ah, aku harus menghadiri simposium. Astaga, aku sudah terlambat!" balas Satya panik.
"Simposium? Kalau kau ada simposium, kenapa kamu ikut kesini?"
"Itu karena Siska. Siska marah karena aku acuh padanya berhari-hari jadi dia memaksaku ikut kesini."
Alfin mengangguk mengerti, "Sekarang harus berangkat?"
"Tentu saja, kawan. Aku harus pergi sekarang. Meski Bandung ke Jakarta memang tidak akan lama."
"Yasudah, hati-hati."
Satya mengangguk, "Aku pergi ya. Sampai ketemu di rumah sakit. Oh ya, sampaikan permintaan maafku pada yang lainnya soal aku yang harus pergi lebih dulu."
"Tapi Siska sudah tahu kau akan pergi, kan?"
Satya kembali menganggukkan kepalanya, "Kalau dia tidak tahu, dia tidak mungkin akan di kamarnya sepanjang malam dan tidak mengantarku karena dia sedang merajuk."
"Aku pergi ya."
Setelah mendapat anggukan dari Alfin, Satya melangkah menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
Begitu mobil Satya melaju meninggalkan villa, Kenanga datang dari arah rumah.
"Kemana Satya pergi?" tanyanya.
Alfin menoleh, "Ke Jakarta."
"Untuk apa?"
"Menghadiri simposium. Dia hampir terlambat atau mungkin sudah."
Kenanga mengernyitkan dahi, "Simposium? Semalam ini?"
"Apa maksudmu?" tanya balik Alfin tidak mengerti.
"Sekarang pukul sepuluh malam."
Alfin terdiam, baru menyadari sesuatu, "Biasanya simposium yang selalu kuhadiri akan berakhir pukul sebelas malam. Kalau Satya sampai, kemungkinan acaranya sudah selesai."
"Dan seharusnya dia menyadari itu bahwa percuma bila dia pergi saat ini karena kenyataannya, acara itu sudah berakhir begitu dia sampai." Kenanga berhenti sesaat, "Kecuali, kalau dia memiliki suatu urusan yang lain."
Alfin mengangkat satu alisnya, "Urusan yang lain?"
Kenanga tak menjawab. Dia menunjukkan tangkapan layar pesan yang dikirimkan ke akun darknetnya pada Alfin.
Datanglah ke Jalan Margaretha No.34, Jakarta Timur. Kesanalah sendiri karena kau yang membeli obatnya. Waktunya begitu siang dan malam bertemu.
Alfin makin mengernyit dalam melihat pesan itu. Dia menatap Kenanga.
Alfin tahu apa yang difikirkan Kenanga.
"Tidak mungkin Satya datang kesana." tukasnya tak percaya.
"Ini hanya pendapatku." ujar Kenanga.
Alfin menggeleng, "Kenanga, aku tahu Satya seperti apa. Dia tidak mungkin....terlibat."
"Sudah kubilang ini hanya simpulanku saja. Menurutmu tidakkah kau merasa akhir-akhir ini Satya menjadi aneh?"
"Aneh? Apa maksudmu? Satya biasa-biasa saja dan dia jelas baik-baik saja." ucap Alfin penuh penekanan.
"Kenapa kau menjadi sangat marah?" kernyit Kenanga.
"Karena kau menuduh temanku!" balas Alfin.
"Aku tidak menuduhnya. Aku tidak mengatakan bahwa dia adalah otak dari Miracle."
"Lalu untuk apa kamu tunjukkan pesan itu setelah kepergian Satya seolah-olah kau menyudutkan temanku bahwa Satya ada hubungannya dengan Miracle."
Kenanga berdecak tak percaya, "Dengar, aku tidak tahu apakah Satya adalah anggota Miracle atau bukan. Tapi dia jelas sangat aneh dan mencurigakan. Beberapa hari yang lalu, Siska mengatakan padaku bahwa Satya sedang meneliti suatu obat anestesi. Dan tidakkah itu cocok dengan apa yang sedang dilakukan Miracle?"
Alfin menggeleng, "Tidak, bisa saja itu kebetulan."
"Alfin, buka matamu baik-baik. Satya saat ini sedang menuju tempat Miracle menjual obat-obatnya! Entah dia yang menjual atau membeli."
"Tidak mungkin, Kenanga. Satya sedang menuju simposium. Dia tidak mungkin kesana." sanggah Alfin.
Kenanga menatap tak percaya, "Kau tidak percaya?"
"Tentu saja. Dia temanku, aku tahu seperti apa dia."
"Sekali saja kau percaya padaku." pinta Kenanga.
"Atas dasar apa aku harus mempercayai perkataanmu yang tiada lain adalah sebuah tuduhan tak berdasar pada Satya?" decih Alfin.
Kenanga kehabisan kesabaran, susah sekali memberitahu Alfin.
"Aku melihatnya sendiri." ujar Kenanga.
"Melihat apa?!"
"MELIHAT DIA MENDAPAT PESAN YANG SAMA!"sentak Kenanga.
Keadaan menjadi hening sesaat.
"Aku melihatnya sendiri ketika aku berjalab menuju kamar dan melewati kamarnya. Setelah itu dia menelfon seseorang, aku tidak tahu siapa tapi dia mengatakan bahwa dia akan segera sampai jadi siapkan helikopter agar dia bisa segera sampai dengan cepat." tutur Kenanga kini dengan nada kembali tenang.
Alfin terdiam, dia kemudian menggeleng tidak percaya.
"Kenanga, bisa jadi kau salah dengar."
"Alfin!" decak Kenanga frustasi. "Sudah jangan banyak bicara, ikut aku."
Kenanga langsung menarik kerah baju Alfin dan menyeret lelaki itu menuju halaman.
"Eh, lepas. Kenanga kau kasar sekali!" pekik Alfin tapi Kenanga tak menghiraukannya. Dia menyeret Alfin menuju mobil lelaki itu.
Tit tit
Kenanga membuka kunci mobil Alfin dengan mengambil paksa kuncinya di saku Alfin.
"Masuk." titah Kenanga begitu pintu mobilnya terbuka.
"Kemana?" tanya Alfin was-was.
Kenanga hanya menatap datar.
"Ini mobilku. Jadi setidaknya jawab aku!" desak Alfin.
Kenanga mendengus, "Kau ternyata sangat merepotkan."
Bug
Kenanga mendorong Alfin masuk ke mobil hingga Alfin jatuh tersungkur. Setelah Alfin masuk, Kenanga menutup pintunya.
Tok tok
Alfin mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan kesal, "Kenapa kau suka sekali melakukannya dengan cara kasar?!"
Kenanga masuk ke pintu pengemudi di sebelahnya. Setelah duduk dan menutup pintu, dia memakai sealt beltnya. Sama sekali mengacuhkan Alfin.
"Aku sedang bicara denganmu." ucap Alfin penuh penekanan.
Kenanga sama sekali tak takut. Dia menoleh dengan malas.
"Berisik sekali. Ternyata aku menikahi lelaki yang cerewet." dengusnya.
Usai mengatakan itu, Kenanga menginjak pedal gasnya, dan mobil Alfin melaju keluar villa.
***
Panji terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara mobil yang dinyalakan. Dia mengibaskan tirai jendelanya karena kebetulan dia mendapat kamar di ruang tamu.
Panji mengernyit melihat Kenanga dan Alfim berada di dalam mobil. Mereka nampak berdebat sebentar sebelum Kenanga menjalankan mobilnya. Panji tidak tahu kemana mereka berdua pergi.
Ceklek
Panji beerbalik menoleh ketika pintu dibuka. Ternyata Dani.
"Hoam, ini baru pukul sepuluh malam tapi aku sudah mengantuk sekali." keluh Dani. Dia lalu menatap Panji, "Kau sudah bangun?"
__ADS_1
"Dari jam berapa saya tertidur?" tanya Panji.
"Dari jam tujuh. Wah, kamu sangat kebo." decak Dani.
"Kapten dimana?"
"Dia pergi."
"Pergi?" seru Panji mengernyitkan dahinya. Dani mengangguk.
"Kau tahu kemana dia pergi?"
Dani menggeleng, "Tidak. Yang jelas katanya dia memiliki urusan mendesak dan harus pulang ke Jakarta duluan."
Panji merasa ini aneh. Dia tak yakin kebetulan mendapati bahwa Kenanga satu mobil dengan Alfin dan pergi begitu saja ditambah Bagas yang juga pergi malam ini.
"Dimana yang lainnya?" tanya Panji.
***
Alfin dan Kenanga sampai di Jakarta setelah berkendara beberapa jam. Namun Kenanga tak langsung menuju tempat itu, melainkan mampir ke sebuah butik.
"Kau masuklah ke butik dan ganti pakaianmu dengan jas."
"Untuk apa?" tanya Alfin bingung.
"Tempat yang akan kita datangi adalah sebuah hotel. Jelas, kau harus memakai pakaian yang sesuai."
"Kau sendiri, pakaianmu juga tidak bisa dikatakan sesuai." balas Alfin menatap pakaian yang dikenakan Kenanga. Hanya kaus oblong berwarna hitam dan celana jeans belel.
"Sudahlah, ikuti saja kata-kataku. Cepat, kutunggu lima menit." tandas Kenanga.
"Kamu akan menunggu disini?" tanya Alfin.
Kenanga menggeleng, "Aku akan mencari toilet umum."
"Kenapa?"
"Perutku serasa tidak enak dari kemarin. Oh, aku memang sedang menstruasi." jelas Kenanga.
Alfin mengangguk, dia tidak ingin mengetahui itu lebih lanjut. Maka Alfin pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam butik sesuai ucapan Kenanga.
Dan sepeninggal Alfin, Kenanga juga bergegas keluar mobil dan berlari menuju belakang butik mencari toilet umum.
Setelah menemukan toilet, Kenanga langsung masuk. Dia menumpahkan semua cairan yang menggelegak di tenggorokannya ke dalam toilet.
"Huek."
***
Lima menit kemudian, Alfin sudah selesai memilih jas dan berganti pakaian. Dia masuk kembali ke mobil dimana Kenanga sudah menunggunya.
Kenanga terdiam, meneliti jas yang dikenakan Alfin. Dia mengangguk.
"Bagaimana?" tanya Alfin.
"Lumayan. Seleramu cukup bagus." jawab Kenanga.
"Cih, bilang saja langsung kalau kau ingin memujiku."
Kenanga mengerutkan dahinya, "Aku memang memujimu."
"Apa itu bisa disebut memuji? Kalau iya, kau mengatakannya dengan setengah hati." ketus Alfin.
Kenanga makin mengerutkan dahinya lebih dalam, "Perasaanku saja atau kau memang sangat sensitif akhir-akhir ini?"
"Aku tidak sensitif." sanggah Alfin cepat.
Kenanga menatap lurus ke balik kemudi, "Padahal aku yang sedang pms tapi kau yang sensitif." dengus Kenanga.
"Sudah kubilang, aku tidak sensitif. Kenapa keras kepala sekali?" kesal Alfin.
Kenanga hanya mengangguk acuh, jelas dia malas berdebat lagi.
"Jalan." titah Alfin.
"Baik, tuan muda." balas Kenanga malas. "Dasar pemarah." lanjutnya dengan bergumam.
Alfin mendelik, "Hei, aku mendengarnya tahu!"
Alfin tak menanggpi. Dia hanya mengerucutkan bibirnya dan bersandar dipunggung kursi sambil melipat tangan.
Melihat hal itu, Kenanga hanya menggelengkan kepalanya.
***
Panji dan Dani menuju kamar Bagas, tapi begitu dibuka, Bagas tidak ada di kamarnya.
"Lihat, kan saya benar? Kapten sudah pergi." ucap Dani pada Panji yang tidak percaya padanya sebelumnya.
Panji terdiam, "Kenapa Kapten tidak memberitahu kita? Kau juga tidak tahu kalau kau tidak berpapasan dengannya, kan?"
Dani mengangguk, "Kapten memang bersikap agak aneh."
Tak lama, Riko dan Angga yang mendengar keributan kecil itu datang. Pakaian mereka sudah berganti dengan piyama.
"Piyama yang lucu, Lettu Riko." puji Dani terkekeh.
Riko menatap pakaiannya dari atas ke bawah lalu menggaruk kepalanya. "Istriku yang memintaku berpakaian seperti ini."
"Wah, kalian padahal sudah lama menikah tapi masih seperti pengantin baru. Berbeda denganku dan Bella." timpal Angga.
"Ada apa dengan kalian memangnya?" tanya Panji.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja keromantisan pengantin baru kami masih kalah jauh dibanding keromantisan Lettu dan istri."
"Itu tidak mungkin." decih Riko dan Dani tak percaya.
"Meski saya belum menikah tapi saya tahu jelas bahwa setiap pengantin baru akan romantis melebihi apa yang bisa dibayangkan." timpal Panji.
"Kami memang seperti teman." balas Angga.
"Kau nyaman dengan itu?" sela Riko.
"Tentu saja. Berhentilah berbicara dengan nada khawatir. Kami baik-baik saja." jawab Angga santai.
"Tapi ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian ada di depan kamar Kapten?" lanjut Angga.
"Memastikan bahwa Kapten benar-benar sudah pergi atau tidak." balas Panji.
"Pergi? pergi kemana?" tanya Riko terkejut.
"Nah, benar kan, bahwa tidak ada yang tahu kemana Kapten pergi. Dia tidak berpamitan sama sekali." ujar Panji.
"Iya, tapi dia pergi kemana?" tanya Angga lagi.
"Ke Jakarta. Kapten pergi karena memiliki urusan mendesak." jawab Dani.
"Sedang apa kalian semua disini?" celetuk seseorang dari belakang.
Panji, Dani, Riko dan Angga sontak berbalik. Mereka mendapati Siska dengan wajah sembab menatap mereka penuh pertanyaan.
"Dokter Siska, ada apa dengan wajahmu? Kamu habis menangis?" seru Dani terkejut. Dia langsung mendekati Siska.
"Saya baik-baik saja. Jadi sedang apa kalian berkumpul disini?"
"Memeriksa apakah Kapten Bagas sudah pergi atau tidak."
"Kapten Bagas tidak ada? Dia pergi?"
Dani mengangguk, "Dan apa yang kamu lakukan disini bukannya tidur?" tanya Dani.
"Saya hendak ke kamar Kenanga." jawab Siska.
"Tapi Letnan Kenanga sudah pergi. Dia oergi bersama Dokter Alfin." sela Panji.
Semua orang menoleh ke arah Panji dengan terkejut.
"Kenanga juga pergi? dengan Alfin?!" Panji mengangguk.
"Darimana kau tahu?" tanya Angga.
"Saya melihatnya sendiri ketika saya bari saja terbangun karena suara deru mobil. Dan mendapati mereka memasuki mobil yang sama dan pergi."
"Aneh sekali, dia tidak memberitahuku sebelumnya. Satya juga pergi." kernyit Siska.
__ADS_1
"Dokter Satya juga pergi? Pergi kemana?" tanya Riko.
Wajah Siska jadi sendu, Dani menyadarinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Siska mengangguk mengiyakan.
"Satya harus menghadiri simposium. Saya sempat bertengkar dengannya. Itu sebabnya mata saya sembab." lirih Siska.
"Jadi, Kapten Bagas, Letnan Kenanga, Dokter Alfin dan Dokter Satya pergi tanpa pamit. Tidakkah menurut kalian kepergian mereka saling berkaitan?" sela Panji.
"Apa maksudmu?" tanya Dani tidak mengerti.
Panji menatap satu persatu. "Apa ini hanya sebuah kebetulan biasa?"
***
Alfin dan Kenanga sampai di tempat pesta itu. Mereka terdiam di dalam mobil, memerhatikan lalu lalang orang berpakaian berkelas yang datang menghadiri pesta yang dibuat Miracle.
"Mereka sungguh-sungguh mengadakan pesta hanya untuk menjual obat?" tanya Alfin sangsi.
"Organisasi sekelas Miracle jelas harus melakukan ini. Tidak mungkin, kan mereka mengadakan pembukaan dagangan terbaru mereka di gedung kosong dan kumuh?" balas Kenanga.
Alfin mengangguk setuju.
"Sekarang turunlah dan hadiri pesta itu sebagai diriku." titah Kenanga.
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak pergi bersama saja?"
"Di pesan tertulis bahwa yang hadir haruslah sendiri yaitu orang yang memesannya."
"Tapi kamu yang memesannya, bukan aku." tukas Alfin.
"Itu tidak penting siapa yang memesannya. Yang jelas adalah kau harus masuk kesana." tekan Kenanga.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Alfin.
"Aku akan mencari pintu masukku sendiri." jawab Kenanga.
"Kau yakin?" Alfin jelas tidak percaya dan khawatir.
Kenanga menoleh pada lelaki itu dan tersenyum kecil, "Aku punya gayaku sendiri."
***
Akhirnya Alfin masuk ke hotel sebagai ganti Kenanga. Setelah memastikan Alfin sudah masuk, Kenanga mulai berjalan memerhatikan sekeliling hotel. Mencari pintu masuknya sendiri.
Pandangan Kenanga lalu teralihkan pada dua buah mobil pengiriman makanan yang melintas melewatinya. Dia memerhatikannya dan tak lama, berbondong-bondong orang berpakaian seperti staf muncul dari pintu belakang. Mereka bersama-sama memindahkan bahan makanan segar itu dari dalam mobil.
Kenanga tersenyum, itu adalah jalan masuknya.
Di sisi lain, Alfin dihadang dua staf berpakaian jas dengan topeng yang menutupi wajah mereka.
"Your invitation card, sir."
Alfin bingung, "Wh-what?"
"Message, sir."
Ah, Alfin mengerti. Dia mengeluarkan ponsel Kenanga lalu menunjukkan pesan yang dikirim Miracle tempo lalu. Mereka mengangguk.
"Choose one of the masks you like and put it on."
Mereka menyuruh Alfin memilih salah satu topeng yang tersedia di etalase. Topeng yang selalu dilihat Alfin di acara-acara pesta dansa.
Dan Alfin memilih sebuah topeng dengan paduan warna hitam dan silver. Motifnya seserhana dan jelas sesuai dengan pakaian yang dikenakannya.
"Perfectly, sir." puji staf itu. "Please, come in." Akhirnya mereka mempersilakan Alfin masuk ke ballroom.
Dan begitu pintu besar itu dibuka, Alfin langsung disuguhi interior mewah dengan puluhan orang bertopeng yang tengah menari dan juga berbincang-bincang.
Alfin menggeleng takjub. Bila itu orang awam, mungkin mereka tidak sadar bahwa disini sedang melakukan acara pembukaan obat ilegal alih-alih hanya mengangapnya pesta semata.
***
Kenanga menunggu kesempatannya. Dia bersembunyi di balik mobil bahan makanan itu. Dan ketika seorang perempuan datang hendak mengambil bahan makanan terakhir yang ada di mobil, Kenanga memukul belakang kepalanya.
Bruk
Perempuan itu pingsan. Kenanga langsung menyeretnya menuju semak-semak dan mengganti pakaiannya dengan pakaian perempuan itu. Itulah penyamarannya kali ini.
Perempuan malang itu dia ikat kedua tangqn dan kakinya dengan masing-masing tali sepatunya. Mulutnya dia sumpal dengan kaus kaki miliknya.
"Maafkan aku, tapi kujamin kaus kakiku tidak bau sama sekali." ucap Kenanga merasa cukup bersalah.
Setelah urusannya selesai, Kenanga akhirnya keluar dari semak-semak. Dia mengambil kotak berisi tomat-tomat yang ditinggalkan perempuan itu dan membawanya menuju gedung.
Kenanga menaruh kotak bahan makanan terakhir itu di atas meja. Setelah itu dia berjalan dengan mengedar sekeliling. Jelas dia berada di dapur. Suaranya bising karena semua orang sedang memasak dan juga berhilir mudik kesana kemari.
Aku harus menemukan jalan menuju hall utama gumam Kenanga.
Bruk
Bahu Kenanga ditubruk seseorang. Kenanga berusaha tak mengaduh agar tidak ketahuan.
"Aku mencarimu kemana-mana. Cepat, ke aula utama. Isi bir nya!" titah orang yang menabraknya dengan keras.
Kenanga mengangguk, sambil memperbaiki topengnya yang hampir melorot.
Tanpa kata Kenanga berjalan mengikuti para staf yang lain sambil membawa senampan penuh berisi gelas bir.
***
Kenanga sampai di ballroom, dia tidak peduli dengan kemegahan pesta. Yang dia pedulikan adalah bagaimana menemukan Alfin di tengah-tengah lautan manusia bertopeng.
Dan sepertinya Kenanga sedang beruntung, ketika di kejauhan dia menemukan seseorang dengan postur mirip Alfin. Kenanga menaruh nampan itu di meja dan langsung berjalan menghampiri Alfin.
Sedangkan Alfin, dia hanya bisa terdiam. Dia harus menemukan Kenanga tapi tidak tahu Kenanga akan datang sebagai siapa. Jelas Kenanga akan menyamar karena dia tidak punya tiket masuk.
Puk
Bahunya ditepuk dari belakang. Alfin langsung berbalik. Dia mendapati seseorang berpakaian sebagai pelayan berdiri menghadapnya.
"Kenanga?" bisik Alfin ragu-ragu.
Kenanga mengangguk dan itu membuat Alfin mendesah lega.
"Kufikir aku tidak akan bisa menemukanmu. Tidak, diantara lautan manusia bertopeng ini."
Kenanga tersenyum tipis.
"Tapi bagaimana kamu bisa menemukanku?"
Kenanga terdiam sesaat, "Aku mengingat tubuhmu."
***
Setelah Kenanga dan Alfin bertemu, mereka mulai menjelajahi ruangan megah itu. Menyelidiki apa yang akan terjadi.
Tak lama, Kenanga menyipitkan pandangannya. Dia merasa melihat siluet Bagas. Lelaki berjas yang dikira Bagas itu berjalan menuju lorong sepi.
"Ayo." ajak Kenanga diikuti Alfin.
Kenanga dan Alfin membuntuti 'Bagas' ke lorong sepi. Dan begitu 'Bagas' masuk ke toilet laki-laki, Kenanga juga ikut masuk kedalam. Alfin sempat syok melihat Kenanga yang tanpa malu langsung menerobos masuk. Alfin pun mengikutinya masuk.
Begitu Alfin masuk, dia sudah mendapati Kenanga memelintir lengan 'Bagas'
"Kunci pintunya." titah Kenanga. Alfin mengangguk, dia langsung mengunci pintu.
Setelah pintu dikunci, Kenanga melepaskan kuncian lengannya dan membuka topeng itu dengan paksa. Dan benar seperti dugannya, itu adalah wajah kaptennya.
"Kapten Bagas, sedang apa kau disini?" tanya Kenanga langsung.
Bagas tak menjawab.
Kenanga menatapnya tajam, "Siapa kau sebenarnya, Kapten?"
...------...
Aku minta maaf karena beberapa hari ini, aku gak up🙏 Itu karena ada beberapa urusan mendesak yang gak bisa ditinggalkan. Jadi mohon pemakluman ya semuanya🙏😭.
Semoga kalian masih betah baca kisah ini ya. Maaf karena sebagai Author, aku kurang memiliki rasa tanggung jawab hingga membuat para pembacaku dan karyaku menjadi terkatung-katung🙏 Aku akan berusaha lebih keras agar tidak mengecewakan kalian semua🙏😊
__ADS_1