
Maafkan kemarin gak update huhu:'(
...------...
Kenanga dan Alfin berkendara menembus udara malam Jakarta. Perjalanan mereka masih jauh ketika tiba-tiba hujan turun dengan deras. Kenanga buru-buru menghentikan motornya dan menepi di halte bus.
"Wuah." Alfin dan Kenanga sama-sama bergidik kedinginan.
Disana tak hanya ada mereka berdua melainkan juga ada sepasang suami istri.
"Maaf ya kak, gara-gara saya, kita jadi terjebak hujan." ucap Alfin merasa bersalah.
"Salah saya juga kenapa tidak pakai mobil alih-alih motor." balas Kenanga kesal.
"Oh iya benar juga, saya baru pertama kali lihat kakak pakai motor ninja seperti itu."
"Kenapa kakak memakai motor?" tanyanya.
Tentu saja gara-gara lelaki itu. Begitu Kenanga mendengar bahwa Alfin sedang bersama Amelia, Kenanga buru-buru menyambar kunci motornya. Dia lebih memikirkan kendaraan mana yang jauh lebih cepat untuk menjemput Alfin.
"Lebih cepat." jawab Kenanga.
Alfin mengangguk-anggukan kepala.
"Haccih." tiba-tiba Kenanga bersin. Hidungnya langsung merah.
"Kakak baik-baik saja? Pakai ini." Alfin buru-buru melepas jaketnya dan menyampirkannya pada pundak Kenanga.
Kenanga melirik jaket Alfin yang tersampir di kedua bahunya, "Bukankah itu sama saja bohong? Jaketmu juga basah dan rasa dinginnya akan dua kali lipat." tukas Kenanga.
"Tidak, bukan seperti iti cara kerjanya. Jaket ini tahan air, hanya luarnya saja yang basah. Dalamnya hangat kok."
Kenanga hanya mengangguk saja.
"Wah, si mas perhatian sekali ya sama mbaknya." celetuk ibu-ibu itu yang sedari tadi diam memerhatikan mereka.
Alfin tersenyum kecil, "Kalau saya tidak perhatian, saya akan kena semprot begitu pulang."
Kenanga berdeham.
"Pacaran anak muda memang manis ya. Jadi teringat masa lalu ya, pa?" ucap ibu-ibu itu pada suaminya.
Suaminya mengangguk. "Kalau zaman dulu, pacaran paling manis itu ya naik becak, keliling pasar dan alun-alun kota." kenangnya.
"Bunda saya juga pernah bicara hal yang sama." balas Alfin tersenyum.
"Sekarang, sudah ada motor, mobil, romantismenya digantikan sama gengsi." ujar ibu itu.
Alfin dan Kenanga mengangguk setuju.
Lama Alfin, dan suami istri itu berbincang. Kenanga yang pada dasarnya tidak bisa berbasa-basi dan bercakap-cakap hanya menanggapi seadanya. Tapi hujan lama-lama makin deras sedangkan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kenanga memiliki sesuatu untuk dikerjakan malam ini.
"Fin," panggil Kenanga menyenggol lengan Alfin yang masih asik berbicara.
"Iya?" sahut Alfin menoleh.
"Kita pulang saja." bisik Kenanga.
"Tapi hujan masih deras."
"Terobos saja. Saya memiliki pekerjaan malam ini."
Alfin terdiam bimbang. Dia lalu melirik Kenanga yang berdiri dengan tubuh sedikit menggigil. Dia baru teringat bahwa Kenanga baru saja sembuh. Berada di luar dengan hawa dingin hanya akan membuat Kenanga jatuh sakit lagi. Tapi hujan sangat deras, Alfin lebih takut Kenanga makin drop karena memaksa menerobos hujan.
"Cepatlah." decak Kenanga.
"Kalau begitu, saya yang mengendarai motornya."
"Kau bisa?"
"Tentu saja."
Kenanga mengangguk setuju.
"Umm, maaf pak, bu, kami pergi lebih dulu." ucap Alfin.
"Loh, ini kan masih hujan. Tunggu sebentar lagi hingga reda." ucap ibu itu.
Kenanga menggeleng, "Kami punya urusan yang mendesak. Lagipula tempat tinggal kami hanya tinggal beberapa kilo lagi."
"Yasudah, hati-hati di jalan ya."
"Terima kasih bu. Semoga hujannya segera reda. Bapak ibu juga hati-hati pulang."
Setelah berpamitan, Alfin dan Kenanga akhirnya pergi dengan Alfin yang kini mengemudikan. Mereka menembus jalanan basah Jakarta dengan rintik hujan yang cukup deras.
"Pegangan, kak." suara Alfin samar-samar terdengar karena terpecah hujan.
"Apa?" tanya Kenanga pasti tidak terdengar.
"Pegangan!" ulang Alfin lebih keras.
"Untuk apa?" balas Kenanga ikut berteriak.
"Kalau kakak tidak pegangan, kakak akan jatuh!" teriak Alfin.
"Tidak mau!" balas Kenanga.
Alfin berdecak, dia mempercepat laju motor hingga Kenanga yang tak siap langsung terdorong ke depan. Tangannya otomatis melingkar di perut Alfin.
Kenanga hendak melepas tapi satu tangan Alfin buru-buru menghentikannya. Alfin malah semakin mengeratkan tangan Kenanga ke perutnya. Satu tangannya memegang punggung tangan Kenanga.
__ADS_1
"I-ini.." Kenanga langsung terbata-bata.
"Jangan dilepas." ucap Alfin.
Begitu selesai mengatakan itu, Alfin melepaskan tangannya dan memegang setir kembali. Motor melaju lebih kencang setelah lelaki itu menginjak gas.
***
Alfin dan Kenanga akhirnya sampai setelah perjalanan panjang. Begitu masuk ke rumah. Kenanga dan Alfin langsung masuk ke kamar masing-masing dan mulai mandi dengan air hangat agar tidak flu.
Dua puluh menit kemudian, Kenanga sudah selesai mandi. Dia melihat jam dinding, sudah hampir tengah malam. Kenanga langsung duduk di meja kerjanya alih-alih pergi tidur.
Kenanga lalu menyalakan laptopnya. Terus menatap layar dan sesekali arloji di tangannya. Tak dipedulikan dengan flu yang menyerangnya, malam ini rencananya harus berhasil.
"Hacih." berulang kali Kenanga bersin. Sejak setahun lalu, kesehatannya memang makin memburuk. Dia rentan sakit seperti saat ini.
"Hacih." Kepalanya berdenyut-denyut, akhirnya Kenanga memijat pelipisnya karena tak tahan.
Tok tok
Pintu kamarnya diketuk, Kenanga mau tak mau memaksakan tubuhnya untuk bangun. Dia membuka pintu. Ada Alfin berdiri didepannya dengan membawa gelas.
"Ada apa?" tanya Kenanga datar. Kepalanya langsung berdenyut begitu dia berbicara.
"Wedang jahe untukmu." jawab Alfin. "Minumlah." Alfin mengangsurkan minuman yang dibawanya.
Kenanga mengernyit begitu aroma jahe menyengat hidungnya.
"Kenapa menyengat sekali?"
"Namanya juga jahe. Minum wedang jahe sesudah hujan-hujanan mampu menangkal flu."
Kenanga mau tak mau akhirnya meminumnya.
"Habiskan." titah Alfin.
Kenanga menghabiskannya dalam sekali teguk. Dan espresinya masih sama seperti tadi.
"Uh, pedas sekali." kernyitnya. Kenanga langsung memberikan gelas bekas itu pada Alfin.
Tit tit
Suara seperti alarm terdengar dari kamar Kenanga, Kenanga buru-buru kembali ke kamar dan duduk di depan laptop. Tangan dan matanya langsung sibuk.
Alfin yang penasaran kenapa Kenanga langsung terburu-buru pergi setelah mendengar bunyi alarm, memutuskan masuk ke kamar. Setelah mengetuk pintu, dia menghampiri Kenanga yang duduk fokus di depan laptop.
Alfin mengernyit melihat isi di layar laptop Kenanga. Layar menunjukkan sebuah halaman mirip situs tapi warnanya gelap dengan tulisan bahasa inggris yang anehnya tak dimengerti Alfin.
"Apa itu?" tanya Alfin ketika melihat sebuah tayangan diputar Kenanga. Isinya langsung merujuk pada seseorang yang berteriak kesakitan terbaring di meja seperti meja operasi.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Kenanga.
"Tidak lama setelah kakak masuk. Itu video apa? kenapa seram sekali?" tanya balik Alfin.
"Maksudmu, dark web, internet gelap? Kakak mengaksesnya?!" seru Alfin syok.
"Apa salahnya mengakses dark web? Reaksimu sangat heboh." dengus Kenanga.
"Bukankah ini ilegal?" tanya Alfin masih tak percaya.
"Tidak juga. Tergantung siapa dan tujuannya."
"Lalu tujuan kakak apa?"
Kenanga terdiam sesaat, "Saya menjelajahi dark web karena hampir semua transaksi bisnis Miracle dilakukan di pasar gelap. Dimulai dari narkoba, penjualan organ hingga pembunuh bayaran. FBI berhasil meretasnya dan mengacaukan sistem mereka. Karena hal itulah, Miracle saat ini bisa dikatakan sedang mengalami masa keruntuhan. Semua situs milik mereka sudah tidak ada atau mungkin tidak lagi terindeks, tapi baru-baru ini saya menemukan sebuah lalu lintas mencurigakan. Dan sebuah situs penjualan obat anestesi akan diobral dipasar gelap, malam ini."
"Obat anestesi? Milik Miracle?"
Kenanga mengangguk, "Demo yang kau lihat tadi, hanya Miracle yang bisa melakukannya. Membuat manusia seakan-akan jadi kelinci percobaan. Mereka memodifikasi 'dagangan' mereka setelah diuji pada ratusan manusia."
"Jadi rencana kakak apa?"
"Tentu saja membelinya. Transaksi pasar gelap hampir sama dengan pasar biasa. Kau berinteraksi dengan penjual, dan saling mencari kesepakatan mau bertemu dimana. 'dagangan' mereka tidak bisa diserahkan pada tukang pengiriman sembarangan."
"Jadi maksud kakak, jika kita berhasil membelinya, maka kita akan bertemu dengan anggota Miracle secara langsung?"
Kenanga mengangguk, "Tentu saja. Miracle tidak pernah mempercayai orang luar, pasti mereka melakukannya dengan sendiri. Dan begitu transaksi ini berhasil, saya akan melacak IP nya agar tahu dimana lokasi mereka."
"Menurutmu, mungkinkah saat ini Miracle ada di Indonesia?"
Kenanga terdiam lalu mengendikkan bahu, "Tidak tahu. Tapi yang pasti mereka memang melarikan diri. Markas besar mereka ternyata di Amerika. tapi kini sudah tidak ada karena berhasil dihancurkan FBI."
Alfin mengangguk mengerti.
Ting
Sebuah pesan muncul di roomchat Kenanga dengan pemilik situs.
"Oke sudah."
Di pesan yang dikirim dengan bilangan biner itu, menyebutkan bahwa obat yang dibeli Kenanga akan tiba senin depan. Tempatnya sendiri akan dikirimkan pada Kenanga melalui sebuah pop up singkat di akun darknet milik perempuan itu.
"Berapa yang kamu butuhkan untuk membelinya?"
"Cukup murah, lima juta rupiah untuk satu gram."
"Lima juta?!"
Kenanga mengangguk.
"Itu mahal untuk sebuah obat yang tidak jelas kandungannya."
__ADS_1
Kenanga berdecak, "Alfin, tidakkah kamu sadar kenapa aku mau membeli obat yang harganya 5 juta?"
Alfin terdiam, "Untuk menyelidiki."
"Itu juga benar tapi tujuan sebenarnya adalah karena obat ini adalah sebuah undangan."
"Undangan?"
"Iya, Miracle membagikan undangan bagi semua pelanggannya untuk melihat peluncuran obat terbaru mereka."
Alfin mengangguk mengerti.
Tiba-tiba laptop Kenanga mati. Kenanga terkejut, dia berusaha menyalakannya. Tapi laptop tidak mau menyala.
"Mungkinkah ada yang menghacknya?" tanya Kenanga cemas.
"Saya rasa bukan." tukas Alfin.
"Kenapa?"
"Lihat." Alfin menunjuk pada lampu merah yang berkedap-kedip di bawah laptop.
"Ah." Kenanga mendesah lega. "Ternyata baterainya habis."
Alfin tersenyum kecil, "Ternyata kakak cukup ceroboh." gelinya.
Kenanga mendelik, "Saya juga manusia, tidak luput dari kesalahan."
Kenanga melihat ke sekeliling, mencari dimana charger laptopnya. Seingatnya, dia menaruhnya di kamar tapi lupa dimana detail spesifiknya.
Kenanga melihatnya di atas nakas, dia lalu hendak beranjak bangun tapi langsung limbung dan kembali duduk.
"Kakak tidak apa-apa?" seru Alfin cemas.
Kenanga menggeleng, "Flu sialan." umpatnya pelan.
Alfin tersenyum geli, "Ini kali kedua saya mendengar kakak mengumpat."
"Baguskan umpatan saya? Hanya tahu kata sialan saja." timpal Kenanga acuh.
"Hem, bagus. Menarik perhatian." kekeh Alfin. "Saya ambilkan saja, kakak mau ambil chargeran, kan?"
"Tolong ambilkan di atas nakas."
Alfin mengangguk. Lelaki itu mengambil charger setelah itu juga mencolokkannya ke terminal.
"Saya mengantuk." celetuk Kenanga. "Dan panas." lanjutnya.
"Kalau begitu tidur saja. Ayo saya bopong." Alfin hendak menggapai Kenanga tapi Kenanga menahannya.
"Apa yang kau lakukan?!" seru Kenanga.
"Tadi kamu limbung, pasti tidak kuat jalan. Ayo."
Tanpa aba-aba, Alfin langsung mengangkat Kenanga.
"Eh-eh." seru Kenanga kaget.
Alfin menggendong Kenanga menuju ranjang tapi sayangnya, kaki Alfin terantuk karpet.
Bruk
Mereka terjatuh dengan Kenanga berada di bawah Alfin.
Alfin mematung.
"Ma-maaf." ucapnya.
Kenanga malah terdiam, dia menatap wajah Alfin dari jarak sedekat ini. Dengan dua tangannya menyentuh dada bidang Alfin. Meneliti setiap fitur di wajah rupawan Alfin. Dimulai dari alis tebal yang tertata rapi, bulu mata dan kelopak mata yang indah, hidung mancung hingga bibir tebal Alfin yang berwarna pink. Jelas lelaki ini tidak pernah merokok.
Kenanga tiba-tiba membayangkan bagaimana rasanya mencium bibir indah itu. Dan karena itulah pipinya tiba-tiba memanas.
"Minggir." titah Kenanga dengan terbata-bata.
Tapi Alfin tidak bergeming. Dia menatap manik Kenanga dengan dalam.
"Saya juga tiba-tiba panas."
Kenanga tersentak. Dia berusaha mengalihkan tatapannya.
"Bolehkah?" tanya Alfin serak. Dia menatap bibir Kenanga yang sedari tadi memancingnya.
Kenanga menelan salivanya, dia menatap Alfin lagi. Terlihat tatapan Alfin yang sudah sayu.
Rintik hujan masih terdengar jelas melalui jendela besar yang sudah tertutup tirai.
"Sa-saya.."
Cup
Alfin langsung menempelkan bibirnya pada bibir Kenanga. Mata perempuan itu terbelalak. Tapi hanya sedetik, setelah itu mulai terbawa suasana. Mereka saling memagut.
Apakah ini karena segelas wedang jahe yang diminumnya? Tapi itu tidak masuk akal.
Ciuman lama dan intens itu berakhir. Tapi suasana panas dan bergairah malah menjadi-jadi. Kenanga dan Alfin tidak bisa berfikir jernih memikirkan seperti apa status mereka sebenarnya.
"Matikan lampunya." lirih Kenanga.
Alfin mengangguk, langsung menuju saklar dan mematikan lampu. Seketika kamar gelap gulita.
Apa yang terjadi setelahnya, hanya mereka yang tahu. Hanya saja bagaimana bisa mereka mencapai titik ini, mungkin akan membuat mereka tersadar esok hari.
__ADS_1
Hujan masih turun dengan deras, menyanyikan musik pengiring di malam yang indah.