
Ponsel Alfin bergetar. Alfin langsung mengangkat telfon yang ternyata dari Akra.
"Halo, assalamualaikum, om." ucapnya.
Suara Akra terdengar bergetar, "Kenanga telah meninggal dunia."
Brak
Alfin langsung menjatuhkan ponselnya begitu saja. Meninggal dunia? Tidak mungkin!
"Halo."
Suara Akra kembali terdengar di ponselnya, Alfin cepat-cepat mengambilnya di lantai. Tangannya gemetaran berusaha menempelkan ponsel di telinganya.
"Bisa om jelaskan apa maksud om tadi?" tanya Alfin gemetaran.
Di ponselnya terdengar suara bergemirisik.
Alfin mengernyit kala tak terdengar balasan Akra, "Halo, om?" ucapnya lagi.
KRINGGG
Alfin langsung terbangun dari tidurnya. Nafasnya terengah-engah. Sial. Tadi hanya mimpi buruknya. Jantungnya masih berdetak kencang. Meski itu mimpi, rasanya sangat nyata.
Alfin diam-diam menghela nafas lega.
Alfin menyugar rambutnya lalu melirik jam di nakasnya. Pukul 04.00 pagi. Alfin meregangkan tubuhnya lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
***
Pukul delapan lewat lima menit Alfin sudah berada di rumah sakit. Dia berjalan menuju ruangannya dengan tangan menggenggam kopi. Koridor yang lenggang membuat Alfin berjalan-jalan santai.
"Fin, Alfin!" teriak Satya dari arah belakangnya.
Alfin berbalik, terlihat Satya berdiri dengan tangan tertumpu di lututnya. Nafasnya ngos-ngosan.
Setelah itu, dia menghampiri Alfin.
"Aku mencarimu dari tadi, brengsek. Kau kemana saja?" sambar Satya kesal.
"Jalan-jalan. Ada apa sih?" tanya Alfin santai.
"Kau sudah tahu?" tanya balik Satya.
"Tahu apa?" Alfin bingung.
Satya melotot, "Jadi kau tidak tahu?!" pekik Satya.
Alfin menggeleng tidak mengerti. "Apa sih yang mau kau katakan? Aku tahu apa?"
"Alfin Adendra, Letnan Kenanga sekaligus istrimu tertembak tadi malam!" pekik Satya pelan tapi penuh penekanan.
Alfin membeku. Dia seketika tertawa keras. Saking gelinya, dia sampai memukul-mukul bahu Satya.
"Leluconmu sangat receh." tawanya.
Satya berdecak, "Aku serius, brengsek!"
Alfin langsung terdiam.
"Fin." tegur Satya bingung dengan reaksi Alfin.
Brak
Kopi yang dipegang Alfin tiba-tiba jatuh. Satya berjengit kaget kala kopi itu tumpah didekat kakinya.
"Apa?" pekik Alfin pelan.
Jadi mimpi itu sungguhan?
***
Kenanga langsung dibawa ke Jakarta setelah dilakukan pertolongan pertama. Baik Dani, Angga, Panji, Bagas dan Riko juga langsung ke rumah sakit mendampingi Kenanga. Rumah sakit seketika ramai dan riuh. Banyak pengunjung rumah sakit yang memerhatikan banyaknya tentara yang berkeremun di depan ruang UDG.
Kenanga yang sudah tak sadarkan diri langsung masuk ruang operasi. Tim Rajawali dengan tampilan berantakan karena baru selesai menjalankan misi duduk lunglai di kursi tunggu. Mereka semua terpukul dengan keadaan Kenanga yang tengah diambang kematian. Terutama Bagas, sang kapten yang merasa lalai melindungi anggota timnya.
Drap drap
Alfin datang sambil berlari. Nampak wajahnya mengeras.
Angga hendak menyapa tapi Alfin langsung berlari masuk ke ruang operasi. Angga mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Akra dan Meilani juga datang.
"Bagaimana keadaan Kenanga?" tanya Meilani panik.
"Letnan masih ditangani." jawab Riko pelan.
Meilani terduduk lunglai, Akra langsung menggapai tubuhnya.
"Ma, tenang." ucapnya.
"Bagaimana aku bisa tenang? Anak itu benar-benar selalu membuat khawatir!" isaknya.
"Kenanga pasti baik-baik saja. Dia adalah wanita yang kuat. Bukan hal baru Kenanga terluka karena bertugas." hibur Akra.
Meilani tak menjawab. Dia masih menangis dipelukan suaminya.
Bagas yang merasa bersalah menghampiri Akra dan Meilani. Dia melepaskan topinya dan menunduk dalam.
"Maaf panglima, ini salah saya." ucapnya lirih.
"Kenapa ini bisa salah kamu?" tanya Akra.
"Saya sebagai kapten tim seharusnya melindungi anggota saya. Saya yang harusnya berada di garda terdepan dan melindungi misi dan tim saya bukannya membiarkan anggota saya yang berkorban. Saya memohon maaf dan saya berjanji, saya akan menerima sanksi apapun untuk mempertanggung jawabkan kelalaian saya." Perkataan panjang Bagas disaksikan oleh semua anggotanya.
Akra mendesah pelan, "Kamu tidak perlu sampai seperti ini. Dilihat dari sikap Kenanga, dia pasti tidak mematuhi perintahmu."
Bagas masih menunduk.
"Masalah ini kitq bicarakan nanti saja setelah Kenanga baik-baik saja. " pungkas Akra.
Bagas mengangguk, "Siap pak."
***
Di sisi lain, Alfin langsung menerobos masuk ke ruang operasi. Wajahnya nampak cemas melihat Kenanga terbaring lemah.
"Dokter Alfin." sapa salah satu dokter.
"Dokter Aji, bagaimana situasinya?" tanya Alfin.
"Pasien tertembak di dada sebelah kiri, dua cm dari jantung. Pelurunya sudah berhasil diambil tapi pendarahannya tidak berhenti. Sepertinya ada kebocoran di pembuluh darahnya, kita harus membedahnya kembali." jelas Dokter Aji.
Alfin makin cemas, dia membasahi bibirnya yang kering.
"Baik, dok."
Alfin akhirnya masuk ke ruang operasi. Dia langsung mengambil alih. Alfin berusaha tetap tenang agar tangannya tidak gemetaran dan malah memperburuk keadaan.
Waktu seakan berjalan lambat. Ketika Alfin membedah dada istrinya sendiri dan turut menjahitnya juga. Dia harus benar-benar mengerahkan semua kemampuan bedahnya agar nyawa Kenanga tertolong. Dia tak akan menyerah meski harus mengorbankan banyak waktu di meja operasi.
Dan rasanya otaknya ingin mendramatisasi keadaan ketika kenangannya dengan Kenanga terputar. Terutama saat mereka bertelfonan di malam yang sama saat Kenanga tertembak.
"Jadi kakak suka makanan apa?"
"Mie." jawab Kenanga.
"Mie?"
"Itu adalah makanan yang selalu disiapkan ibu saya. Setiap kali beliau pergi bertugas, dia selalu membuatkan saya mie lebih dulu. Atau tiap kali dia pulang dari medan perang, dia juga selalu pergi ke dapur dan memasak mie lalu mulai bercerita soal pengalamannya."
"Tapi kenapa harus mie?"
"Mungkin karena ibu saya tidak pandai memasak? Sama sepertimu, papa saya yang lebih jago masak."
"Baiklah, saya akan memasak mie begitu kakak pulang."
Alfin teringat dengan janjinya pada Kenanga bahwa dia akan memasakkan mie untuk tentara wanita itu.
Aku sudah berjanji padamu dan aku tidak mau melalaikannya jadi bangunlah batin Alfin.
tit tit
Alfin dan para dokter tersentak ketika monitor menunjukkan grafik tidak stabil. Tekanan jantung Kenanga menurun begitupun dengan denyut nadinya yang melambat.
Kenanga, kumohon bertahanlah. Kau wanita terhebat yang pernah kutemui. harap Alfin.
Tapi kondisi Kenanga makin tak stabil. Alfin langsung membeku. Tangannya tidak bisa digerakkan semaunya lagi. Dia tidak tahu apa yang telah terjadi. Bunyi monitor yang terus terdengar bagai nyanyian berdengung di telinganya. Alfin seketika blank.
"Dokter Alfin!" tegur dokter lainnya.
"Dokter Aji, gantikan Dokter Alfin!" ucap Dokter Wayan dari luar meja operasi.
__ADS_1
Melihat Alfin nampak linglung, akhirnya salah satu perawat mendorongnya pelan ke luar. Penanganan kembali dilanjutkan dibawah kendali Dokter Aji.
Ada apa denganku? gumam Alfin, dia memegang kedua sisi kepalanya frustasi.
"Kau akan menungguku pulang?"
"Tentu saja. Saya akan menunggumu pulang. Bukankah sudah saya katakan?"
"Kalau begitu, saya harus segera pulang agar kamu tidak perlu menunggu lama."
Tiba-tiba Mata Alfin terbuka lebar begitu ucapan Kenanga bergema diotaknya. Tidak, Kenanga tidak boleh pulang selain kesini, ke dunia nyata. Maka Alfin langsung menerobos masuk kembali. Semua orang di ruang operasi terkejut. Tapi Alfin tak peduli, dia langsung merebut pisau bedah dari tangan Dokter Aji. Dia harus menyelamatkan Kenanga apapun yang terjadi.
Kini tangannnya dengan mantap mulai menyelesaikan operasi.
***
Sret
Pintu ruang operasi terbuka, semua anggota Tim Rajawali berserta Akra dan Meilani langsung mendongak. Bagai sekumpulan lebah yang melihat bunga, mereka langsung menyerbu Dokter Aji.
"Bagaimana dokter?" tanya Meilani langsung.
"Operasinya berjalan lancar, meskipun pelurunya menembus dadanya tapi jaraknya cukup jauh dari jantung atau organ vital lainnya. Hanya saja peluru itu merobek otot disekitar dada kirinya dan pasien kehilangan banyak darah bahkan beberapa kali mengalami kolaps. Untung saja Dokter Alfin mampu menyelamatkan pasien saat-saat kritisnya. Hanya saja pasien masih kritis. Kita akan melihat besok apakah keadaannya membaik atau justru memburuk."
Meilani hampir jatuh bila tidak dipegangi Akra. Dia menangis terisak mengetahui kondisi Kenanga kritis.
"Terima kasih banyak dok." ucap Akra.
Dokter pun masuk kembali ke ruang operasi.
"Saya masih belum bisa lega. Letnan Kenanga masih kritis." ucap Panji lirih.
Semua anggota tim mendesah pelan.
"Lagi-lagi anggota keluarga kita terluka. Sesulit itukah hingga kita tidak bisa menjaga satu sama lain?" timpal Angga.
Bagas yang paling tertekan. Wajahnya bahkan terlihat menua beberapa tahun karena banyaknya beban yang dia tanggung.
Angga lalu memeriska ponselnya di saku, ada pesan dari komandan mereka untuk datang ke markas.
"Kita harus kembali ke markas. Komandan memanggil kita." ucap Angga.
Riko mengangguk, "Ayo kita kembali, Kapten."
Bagas menggeleng pelan, "Tidak. Saya ingin disana dulu. Kalian wakili saya." lirihnya.
Dani menepuk pundak Bagas, "Kapten, ini bukan kesalahanmu sepenuhnya. Kita semua ikut bertanggung jawab atas insiden ini. Jangan terus menyalahkan dirimu."
Bagas tak menjawab, dia menghembuskan nafasnya kasar.
Akra yang melihatnya menoleh, "Kalian kembali ke markas. Selesaikan pekerjaan kalian terlebih dahulu."
"Tapi panglima..." Bagas hendak memprotes.
Tapi Akra tak membiarkannya, dia langsung memotongnya.
"Saya atasan kalian, dan ini jelas perintah." tegasnya.
Bagas mendesah pelan, dia nampak tak terima tapi mau tak mau dia harus menurut.
"Kapten, kita memang harus menyelesaikan tugas kita dahulu. Baru setelah misi ini dinyatakan selesai, kita bisa menjenguk Letnan Kenanga kembali." jelas Riko.
"Ayo, Kapten." ajak Panji.
Bagas kembali mendesah kasar. Dia akhirnya mengangguk. Semua anggota mendesah lega.
"Kami permisi, panglima." pamit Bagas pelan. Setelah memberi hormat, dia berjalan mendahului rekan-rekannya.
***
Dan di lain tempat, Alfin duduk di samping ranjang Kenanga. Perempuan itu nampak menyedihkan dengan selang oksigen terpasang dihidungnya. Wajah yang biasanya menampilkan raut datar tanpa senyum kini berkali-kali lipat tak memiliki raut apapun dengan matanya yang indah terpejam damai. Bibirnya yang biasanya merah meski tanpa lipstik, kini tak berwarna dan pucat. Kenanga dihadapannya adalah gambaran tak biasa dari Kenanga yang dia kenal.
Alfin menatap kedua tangannya yang masih penuh noda darah. Ini adalah darah Kenanga. Alfin menumpukkan kepalanya di atas ranjang, dia mendesah pelan. Bagaimana kalau tadi Kenanga tak bisa selamat, maka mimpi buruknya akan jadi kenyataan.
Baru kali ini Alfin merasa selinglung ini saat mengoperasi pasien. Padahal dia adalah dokter bintang di meja operasi. Pembawaannya yang tenang dan cerdas membuat keberhasilan operasinya mencapai 90%. Tapi tadi, dia tidak bisa berfikir sama sekali. Rasanya seakan-akan otaknya dia tinggalkan di rumah.
Alfin kembali menatap Kenanga. Dia tertawa kecil.
"Tiba-tiba saya terfikirkan kalau dua hari lalu kita menikah. Rasanya aneh dan tak biasa melihat istri saya sendiri terbaring lemah dihadapan saya. Padahal dia berjanji pada saya bahwa dia akan segera pulang agar saya tak lama menunggu." Alfin membasahi bibir bawahnya yang kering.
"Tapi pada akhirnya saya menunggu lama meski dia sudah pulang. Entah karena dia tak cukup bertanggung jawab dengan perkataannya atau karena memang masih ingin berkelana." Alfin berhenti sebentar, dia menarik nafasnya.
__ADS_1
"Tapi saya tetap akan menunggu dia pulang. Saya tidak akan kemana-mana. Saya akan tetap disisinya."
Dan begitu Alfin mengutarakan itu, jemari Kenanga bergerak.