
"Alfin, apa kau menyukaiku?"
Tiba-tiba sebuah pertanyaan tak terduga terlontar dari bibir Kenanga. Begitu jelas dan terus terang.
"Eh?"
Mendengarnya, mata Alfin bergetar pelan. Dia mati kutu tak tahu harus menjawab
Dan Kenanga masih menatap lelaki itu, terus menunggu jawaban Alfin.
Sedangkan Alfin masih nampak kebingungan. Entah bagaimana mencari jawaban keluar atas pertanyaan dari Kenanga.
"Saya menyukaimu, kamu orang yang baik." Hanya itu jawaban yang bisa Alfin berikan.
Kenanga mengangkat satu alisnya, "Kau yakin saya orang baik?"
Alfin kembali tersentak.
"Saya...ti-tidak terlalu yakin tapi firasat saya meyakininya." jawab Alfin terbata-bata. Hatinya mencelos, sial, dia tidak tahu apa yang telah mulutnya katakan itu.
"Bagaimana kalau saya tidak sebaik yang kamu kira?"
Alfin sungguh ingin angkat kaki sekarang juga. Dia tak yakin mampu bertahan dengan pertanyaan bertubi-tubi Kenanga yang terus terang itu.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Kenanga.
Alfin mendesah. Baiklah, dia akan mengatakan apa saja yang terlintas dalam benaknya. Toh blak-blakan juga salah satu sifatnya.
"Saya tidak tahu kenapa kamu bertanya soal kamu orang baik atau tidak. Dan jawaban saya adalah saya tidak terlalu yakin kamu orang baik dalam standarmu sendiri. Tapi pada dasarnya, di dalam standar saya kamu adalah orang yang baik hanya saja.." Alfin menjeda ucapannya.
"Hanya saja kakak jangan terlalu ganas." Alfin tiba-tiba tertawa pelan, "Kadang saya mengkerut bila kakak mulai bertanya aneh-aneh." lanjutnya jujur.
"Emang saya bertanya apa hingga kamu seperti tikus ketakutan?" tanya Kenanga tidak mengerti kenapa.
"Tadi contohnya. Kakak tidak mungkin tidak tahu apa pertanyaan kakak tadi bisa diklasifikasikan pada pertanyaan super terus terang."
Kini Kenanga yang kehabisan kata-kata.
"Sudah, tidur saja." ucapnya langsung memutuskan pembicaraan.
"Tidak mau dilanjutkan?"
"Tidak."
"Sayang sekali, saya kira kakak masih ingin mengobrol." ujar Alfin pura-pura kecewa padahal sebenarnya dia tengah menggoda Kenanga.
Kenanga tak menjawab, dia malah menendang pinggang Alfin hingga Alfin terjatuh dari kasur.
Bruk
Alfin mengerang sakit. Dia memegangi pinggang bagian kanannya yang ditendang Kenanga.
"Kak!" Nada Alfin naik setengah oktaf.
Kenanga melipat kedua tangannya dan menatap Alfin menantang, "Kenapa? Jangan kira saya sedang sakit, saya tidak bisa menendang kamu."
Alfin menghembuskan nafasnya kasar, dia tidak bisa membalasnya sekarang. Tapi lihat saja nanti. Sisi pendendam Alfin sepertinya muncul.
"Sana tidur, anak lelaki jangan begadang malam-malam." ujar Kenanga setengah mengejek.
"Siapa yang kakak maksud anak lelaki? Saya lelaki dewasa!" tegas Alfin.
Kenanga hanya memalingkan wajahnya tak peduli.
Alfin beranjak berdiri, dia duduk di sofa sambil tetap menatap kesal Kenanga.
Kenanga hanya menahan senyumannya. Perempuan berbaju pasien itu langsung membaringkan tubuhnya dan menutup matanya. Tubuhnya menyamping menghadap sofa dimana Alfin duduk.
"Jangan terus menatapku, bola matamu seperti hampir keluar." ujar Kenanga sambil tetap memejamkan matanya.
"Iya, nanti mata saya datang mencaplok mata kakak." balas Alfin sebal.
Sebagai tanggapan terakhir, Kenanga membalikan tubuhnya dan membelakangi Alfin. Dia tidak berniat menjawab.
Alfin lagi-lagi mendesah kasar. Hari-hari Alfin akan berat selanjutnya. Karena sepertinya akan sulit tinggal satu atap dengan perempuan gunung es macam Kenanga.
***
Paginya ruang rawat Kenanga menjadi sangat ramai. Itu karena tak lain keluarga Alan datang menjenguknya. Ada bunda, ayah, Kansha, Alan dan putra kecil mereka, Alka.
"Bagaimana keadaan kamu? Dokter bilang apa saja?" tanya Alena. Wajahnya terus menunjukkan kekhawatiran.
"Dokter bilang saya hanya perlu istirahat selama satu minggu di rumah sakit, benar kan, Fin?" Kenanga menatap Alfin yang sedang asik bermain dengan Alka.
"Ah, Alfin dokter penanggung jawab kamu?" tanya Alena.
"Bukan, bun." jawab Kenanga.
"Lalu kata siapa istirahat satu minggu?"
"Alfin. Dia bilang seperti itu."
"Fin, serius hanya istirahat satu minggu saja?" tanya Bunda.
Alfin menganggukan kepalanya.
"Ya sudah. Istirahatlah dengan baik biar cepat pulih." ujar bunda. Kenanga mengangguk.
__ADS_1
Kansha lalu mendekati ranjang, dia tersenyum.
"Apa Alfin terus menjagamu?"tanyanya.
"Tidak juga. Terkadang dia keluar karena ada urusan." balas Kenanga mengerti.
Kansha mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dia harus bertanggung jawab padamu. Kalau dia mangkir dari tugasnya, potong saja adiknya." saran Kansha.
Alfin langsung melotot, "Kansha, apa maksudmu?"
"Eh, kenapa malah panggil Kansha? Ingat, kau adik iparku." tegas Kansha.
Alfin berdecak, "Lama-lama kau seperti Nana, sulit diatur."
"Nana? Ah, kau membawa nama Nana kemari karena sadar belum bisa melupakannya?" tuduh Kansha. Alan berdeham, dia melirik Kenanga yang rautnya masih tetap sama.
"Siapa Nana?" sela Kenanga.
Semua orang menatap Kenanga, dan Alfin sudah nampak merasa bersalah. Dia juga takut Kenanga berfikir macam-macam.
"Nana itu sahabatku. Dia dan Alfin cukup dekat hingga orang bisa salah paham karena kedekatan mereka." jawab Kansha santai.
Kenanga mengangguk mengerti, "Mantan pacar?"
Alfin langsung menggeleng, "Hanya seseorang yang gila yang umurnya lebih tua dan tak cocok denganku.
"Kamu nampak panik." tukas Kenanga.
"Ti-tidak." jawab Alfin cepat.
"Sudahlah Kenanga, percuma bertanya dengan Alfin. Mereka itu seperti anjing dan kucing. Tak ada yang mau mengalah. Setiap kali bertemu, seperti ada perang." sela Kansha.
"Saya jadi penasaran soal Nana." tanggap Kenanga.
"Tenang saja, Nana akan pulang setelah mengurus semuanya. Fin, bawa Kenanga dan Nana berkenalan."
"Apa?" seru Alfin kaget.
Bukankah itu artinya perang ketiga? Nana pasti akan berbicara macam-macam nanti.
***
Setelah beberapa hari ini, kondisi Kenanga makin pulih. Bahkan setelah dirawat selama satu minggu, dia dinyatakan telah sembuh. Jadilah Kenanga bisa pulang ke rumah.
Tapi ada satu masalah disini. Yaitu soal tempat tinggal Kenanga. Meilani sudah memikirkannya matang-matang bahwa Kenanga akan tidur di rumah mereka sementara waktu.
Kenanga sih tak masalah tapi satu-satunya yang jadi masalah adalah Alfin. Karena statusnya sebagai suami, maka dia wajib menjaga Kenanga dan ada disisinya kemanapun perempuan itu pergi.
Malam tiba, Kenanga dan Alfin tidur berdampingan di ranjang yang sama. Ini semua karena ulah Meilani. Meilani memaksa mereka tidur sekamar. Ya alasannya sudah jelas.
Kamar hening selama beberapa saat hingga Kenanga tiba-tiba terduduk.
"Rasanya tidak nyaman kalau kau tidur di sofa sedangkan saya di ranjang."
Alfin yang sempat tertidur langsung membuka matanya.
"Tidak apa-apa. Ini kamarmu dan kakak masih sakit." balas Alfin.
Kenanga menggeleng, "Tidurlah disini."
Alfin terkejut mendengarnya, tapi dia langsung menolak, "Tidak perlu, kak. Sofa sudah cukup untuk saya."
"Kau yang kesini atau saya yang kesana?"
Alfin terdiam. Mereka tidak mungkin tidur di sofa. "Kalau gitu saya yang kesana."
Alfin langsung beranjak bangun dan menghampiri ranjang. Dia duduk di sisi ranjang dengan canggung.
"Jangan dibawa beban. Alasan kita tidur bersama karena berdasarkan kebiasaan tante Meilani, dia selalu masuk ke kamar tanpa izin dan tanpa suara. Hanya berjaga-jaga, repot kalau harus menjelaskan kenapa kita tidur terpisah." jelas Kenanga.
"Tante Meilani punya kebiasaan itu?" tanya Alfin terkejut.
Kenanga menganggukan kepala, "Rasa penasarannya sangat tinggi."
Alfin mengangguk.
"Tidurlah."
Alfin dan Kenanga langsung berbaring. Mereka tidur saling membelakangi.
"Sejak kapan kakak sudah tinggal disini?" celetuk Alfin.
"Lulus SMA tapi hanya beberapa bulan setelah itu saya bersekolah di luar negeri."
"Apa jurusan yang kakak ambil saat itu?"
"Manajemen bisnis."
Alfin cukup terkejut, "Kenapa?"
"Karena hanya bisnis, satu-satunya cara agar saya bisa berbicara dan berdebat dengan papa saya. Tapi itu semua sudah tidak berguna lagi."
Alfin mendengar nada kesedihan terselip di nada sumbang Kenanga.
"Saya fikir kakak mengambil jurusan hukum atau ilmu sipil atau apapun yang berkaitan dengan pekerjaan kakak." ujar Alfin.
__ADS_1
"Tentara tidak pernah masuk kedalam daftar pekerjaan yang saya inginkan. Saat itu saya tidak berfikir akan jadi tentara."
"Lalu kenapa kakak akhirnya memilih tentara?"
"Untuk balas dendam." balas Kenanga.
Kening Alfin mengernyit dalam, "Balas dendam? Kepada siapa?"
"Papa saya."
"Hah?"
"Saya mengambil pekerjaan yang sama dengan mama saya. Tapi saya tidak akan seperti beliau. Saya akan jauh lebih kuat agar papa saya tidak mengharapkan kematian saya di medan perang."
"Mana ada seorang ayah yang mengharapkan hal seperti itu." tukas Alfin.
"Hanya analogi. Intinya pekerjaan ini adalah pekerjaan favorit saya saat ini. Saat saya memakai seragam rasanya saya jauh lebih percaya diri."
Alfin menganggukan kepalanya mengerti
"Kau sendiri, kenapa jadi dokter?" tanya Kenanga gantian.
"Kenapa ya...mungkin karena ayah dan kakak saya memiliki pekerjaan serupa? Jadi saya ingin berbeda."
"Saya ingat kalau mereka berdua pilot."
Alfin mengangguk, "Sejak dulu, mas saya sudah tertarik dengan ilmu penerbangan. Dia suka ketika ayah saya memakai seragam pilotnya. Awalnya dia tak diizinkan bunda. Tapi itu cita-citanya. Kita tidak berhak memaksanya kan?"
"Lalu apakah kau menjadi dokter karena keinginanmu?"
"Iya. Berbanding terbalik dengan Mas Alan yang lebih suka fisika, saya sangat menyukai biologi. Kalau saya tidak jadi dokter, maka saya ingin jadi profesor biologi. "
"Oh ya, apa benar kakakmu dan istrinya pernah menjadi korban pesawat jatuh?"
"Benar. "
"Itu tidak mungkin."
Alfin mengangguk, "Benar, bila menurut akal logika, itu tidak mungkin. Mereka bahkan terdampar selama satu bulan sebelum ditemukan dan belum lagi dengan luka mereka. Seharusnya mereka sudah meninggal di pulau meskipun selamat dari pesawat."
"Tapi itu semuanya adalah takdir, asal Allah sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menolaknya."
Kenanga mengangguk setuju.
"Tidurlah." ucap Kenanga.
Alfin dan Kenanga menyudahi percakapan mereka dan mulai memejamkan matanya. Terlelap dalam damai meskipun tidur saling membelakangi.
***
Kenanga terbangun dari tidurnya. Dia melirik jam di atas nakas, pukul satu pagi. Kenanga lalu menoleh ke sampingnya, sisi yang ditiduri Alfin kosong. Kemana Alfin?
Kenanga akhirnya memutuskan bangun. Dia keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Dan begitu sampai, dia langsung menemukan lampu dapur yang menyala. Pasti itu Alfin.
Kenanga menghampiri dapur dan benar saja ada Alfin disana. Sedang memasak sesuatu di atas panci. Kenanga lalu melirik meja makan, ada laptop yang menyala dan beberapa berkas dokumen.
"Kau begadang?" celetuk Kenanga.
Alfin yang belum menyadari kehadiran Kenanga langsunh terkesiap. Dia menoleh.
"Kak Anggi? Kenapa bangun?" tanyanya.
"Haus." jawab Kenanga.
Alfin tanpa kata langsung mengambil gelas dan mengisinya dengan air setelah itu memberikannya pada Kenanga.
"Terima kasih." ucap Kenanga langsung meneguk air sampai tandas.
"Kau sedang memasak mie?" tanyanya ketika melihat ada kemasan mie instant di samping kompor.
Alfin mengangguk, "Iya. Saya lapar dan sengaja masak mie." jawab Alfin sambil mengalihkan mie dari panci ke dalam mangkuk.
"Kakak mau?" tawarnya.
Kenanga diam sesaat, lalu mengangguk. Tidak apa-apa sekali-kali makan mie di tengah pagi buta.
"Buatkan satu tapi jangan terlalu pedas."
"Oke."
Sesuai dengan permintaan Kenanga, Alfin langsung memasakan mie yang baru. Hanya butuh tiga menit kurang dan mie untuk Kenanga siap disajikan. Alfin membawa dua mangkuk ke meja makan.
"Ini janji saya." ucap Alfin menaruh semangkuk mie kehadapan Kenanga.
Flashback On
"Kakak harus segera sembuh agar saya bisa menunaikan janji saya."
"Janji apa?" satu alis Kenanga terangkat.
"Mie." tandas Alfin singkat.
"Mie?" Kenanga mengerutkan dahinya bingung.
Alfin mengangguk, "Saya berjanji bahwa saya akan memasakan kakak mie setelah selesai tugas."
Flashback Off
__ADS_1
Kenanga terdiam. Jadi itu yang dimaksud Alfin. Dia menatap mie pemenuhan janji Alfin itu. Hatinya entah kenapa menghangat karena perhatian lelaki itu.