The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 59.


__ADS_3

Setelah Bagas dan Panji pergi, hanya Angga yang menunggu di ruang tunggu. Alfin menghampirinya dan duduk disamping Angga.


"Bagaimana keadaan Letnan?" tanya Angga.


Alfin mendesah dengan berat, "Dia nampak berusaha tegar tapi saya tahu bahwa hatinya sama hancurnya dengan saya." jawab Alfin.


Angga mengangguk mengerti. "Lalu kenapa kau meninggalkannya sendirian? Dia butuh dukungan mental darimu."


"Dia bilang ingin sendiri. Mungkin menenangkan rasa sakitnya." jawab Alfin.


"Kau tidak bisa meninggalkannya sendiri apalagi di dalam situasi seperti ini! Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Letnan?!" seru Angga.


"Saya juga berfikir seperti itu tapi Kenanga tidak seperti perempuan pada umumnya. Dia jauh lebih tangguh dari yang kamu kira." ucap Alfin.


"Bagaimana kau bisa seyakin ini? Bagaimanapun ini adalah situasi paling menyedihkan yang tak ingin dialami semua perempuan di dunia." tukas Angga.


"Saya akan menemuinya lagi setelah lima menit."


***


Siska dibawa oleh Dani menuju Jakarta mengawal Satya yang siap diproses hukum. Perempuan itu tak sempat menengok Kenanga.


Dani dan Siska satu mobil bersama, saat itulah Dani melirik Siska yang terdiam melamun di kursi penumpang.


"Jangan terlalu difikirkan. Sudah sepantasnya Satya memang dihukum." celetuknya.


Siska menggeleng, "Aku tahu. Tapi aku sedang memikirkan Kenanga. Dia pasti sedih sekali dan aku tidak bisa disampingnya disaat-saat terberatnya."


"Ada Alfin yang menjaganya. Dan aku yakin Letnan bisa kuat menghadapi cobaan ini. Dia perempuan sangat kuat dan tangguh yang pernah kukenal." ucap Dani tenang.


"Kenanga bisa mengalami ini semua karena Satya. Dan aku yang bodohnya tidak tahu tentang kebusukan kekasihku sendiri." sesal Siska.


"Kamu tidak bodoh dan jangan menyalahkan dirimu sendiri. Tidak ada seorangpun yang menginginkan hal seperti ini." hibur Dani.


Siska menoleh pada Dani dengan berurai air mata, "Dani, apakah menurutmu Satya akan dihukum berat?" tanyanya.


Dani terdiam dan itu membuat Siska berharap-harap cemas.


"Kurasa iya." Siska menjawab pertanyaannya sendiri. Menyimpulkan dari keterdiaman Dani barusan.


Dani mendesah, "Kejahatannya sudah termasuk kejahatan luar biasa. Dia seorang anggota mafia yang memiliki banyak bisnis gelap. Dia membunuh, menjual narkoba, menjual organ manusia bahkan membantu melakukan kudeta pada pemerintah. Organisasinya juga memporak-porandakan Lebanon dan beberapa negara di Afrika. Tidak menutup kemungkinan hakim akan menjatuhkan hukuman berat untuknya." papar Dani.


"Apakah dia akan divonis eksekusi mati?" tanya Siska cemas.


Dani terdiam sesaat lalu mengangguk, "Kurasa begitu. Kau hanya perlu berdoa untuk saat ini."


Siska langsung lemas mendengarnya.


***


Kabar tentang tertangkapnya ketua organisasi mafia terbesar di dunia sudah menyebar cepat bagai hembusan angin. Berita itu menjadi trending topik di seluruh dunia. Dan jangan lupakan soal aksi heroik Tim Rajawali terutama Kenanga, mereka dianugerahi hadiah kehormatan.


Tapi Kenanga makin hari makin mengurus. Perempuan itu masih menyesali atas kepergiaan anaknya karena kesalahannya sendiri. Meski bunda, Kansha bahkan Tante Meilani sudah menghiburnya. Dan Alfin, sang suami juga terus menemaninya. Tapi nampaknya kesedihan akan membutuhkan waktu lama menetap pada Kenanga.


Seperti saat ini, Alfin baru saja masuk ke dalam kamar inap Kenanga ketika dia melihat istrinya melamun.


"Hai." sapanya pada Kenanga yang tengah menatap pemandangan di atas jendela dengan pandangan kosong.

__ADS_1


Kenanga sempat menoleh lalu kembali memalingkan wajahnya kedepan.


Alfin menghembuskan nafasnya pelan. Kenanga yang dia lihat sekarang sangat berbeda dengan Kenanga yang dia lihat pertama kalinya di Bali. Kenanga yang dia jumpai 3 tahun lalu amatlah tangguh dan begitu dingin. Namun kini Kenanga yang dihadapannya adalah Kenanga yang memperlihatkan sebenar-benarnya manusia. Terlihat lemah dan Alfin tak suka itu.


"Apa ada sesuatu yang bagus diluar sana?" tanya Alfin mencoba membuka pembicaraan.


Namun sayang, Kenanga ta menjawabnya.


Alfin tak menyerah, dia kembali bertanya dengan lembut.


"Kamu belum makan? Tadi kulihat sup ayam yang dibawa bunda masih utuh di atas meja. Ayo makan, kusuapi."


Lagi-lagi Kenanga mengacuhkannya. Dia hanya diam bagaikan patung seakan tak menganggap kehadiran Alfin sama sekali.


Sudah cukup.


"Aku tidak suka melihatmu seperti ini." ucap Alfin berubah tegas.


Kenanga menoleh hanya sesaat.


Alfin mencoba bersabar dengan kelakuan Kenanga.


"Kenanga, kamu mendengarku?" tanya Alfin. Kenanga tak menjawab lagi.


"Aku suamimu dan apakah pantas kamu memalingkan wajahmu disaat suamimu sedang berbicara?" tanya Alfin tajam.


Kenanga akhirnya menoleh pada Alfin dengan tatapan datar.


"Bersedih boleh, tapi jangan berlebihan. Apalagi sampai kau mengabaikan segalanya. Kau harus peduli pada tubuhmu, orang-orang yang khawatir padamu daripada terus meratap seperti ini." ucap Alfin.


Kenanga terdiam.


"Musibah yang terjadi sudah merupakan ketetapan-Nya. Bukan hanya kamu saja yang sedih dan terluka, tapi aku juga. Meski kita tidak saling mencintai tapi kita terikat pada hubungan pernikahan. Dan aku juga menantikan kehadiran anak di antara kita. Tapi bila kita kehilangan dia bahkan sebelum kita menyadarinya, kita bisa apa selain sabar?"


Kenanga terdiam, wajahnya memanas.


"Aku tidak tahu kenapa kamu bisa seperti ini, Kenanga. Tapi kamu harus tahu bahwa ini tidak seperti dirimu."


Kenanga menelan salivanya, terasa tenggorokannya tercekat.


Tak sadar, air mata perempuan itu jatuh.


"Jawab aku, Kenanga. Apa yang kamu sesali? Apa yang kamu tangisi?"


"Aku juga manusia, dan aku seorang ibu. Aku yang paling merasakan kesedihan." jawab Kenanga pilu. Dia menangis untuk pertama kalinya di hadapan Alfin.


"Aku belum menyadarinya. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, egois pada kehidupannya. Dan ketika dia terenggut dariku, aku merasakan penyesalan. Aku mungkin seorang prajurit hebat tapi aku bukan ibu yang baik." lanjutnya sambil terisak.


Alfin tak tega, dia memeluk Kenanga. Kenanga membalas erat pelukan Alfin, melingkarkan tangannya di perut suaminya dan menangis tergugu. Selama ini berusaha keras untuk kuat dalam menghadapi cobaan apapun. Tapi begitu dia kehilangan anaknya, Kenanga merasa dia tak mampu.


"Aku sudah mencintainya Alfin, begitu cepat seperti dia meninggalkanku pergi." Isak Kenanga.


Alfin tak kuasa menahan air matanya, dia menitikan air matanya namun cepat-cepat dihapusnya. Tak ingin Kenanga melihat kerapuhan hatinya. Karena Alfin ada untuk menguatkan istrinya.


"Kita harus tabah ya. Ujian ini akan segera berlalu. Aku akan tetap disini, bersamamu." hibur Alfin.


Alfin melepaskan pelukannya, menatap wajah Kenanga yang basah karena air mata.

__ADS_1


"Bisa ya jadi kuat lagi? Mau kan pulih lagi? Aku ada sama kamu." ucap Alfin lembut.


Kenanga menganggukan kepalanya meski masih terisak.


Dan nampaknya dua manusia ini mulai menyatukan benang berjarak mereka. Mereka tak menyadarinya tapi sepertinya semesta punya hadiah istimewa untuk mereka setelah badai ini.


***


Dan setelah itu, Kenanga makin membaik. Dia sudah tak sedih lagi namun dia juga masih sama diamnya. Hanya menjawab jika ditanya. Tapi setidaknya Kenanga sudah mau membuka diri kembali.


Alfin menjadi suami yang pengertian. Kepeduliannya pada Kenanga dan menemani istrinya di masa-masa sulit membuat Meilani bersyukur bahwa keputusannya menjodohkan Kenanga dan Alfin adalah keputusan tepat.


Dan hari ini Kenanga dipulangkan dari rumah sakit. Alfin dan Kenanga kembali ke apartement Alfin lagi.


"Aku masuk dulu." ucap Kenanga hendak ke kamarnya.


Tapi begitu masuk dia terdiam, kamarnya terasa kosong. Barang-barangnya tidak ada. Dia kembali ke ruang tamu.


"Dimana semua barang-barangku?" tanya Kenanga pada Alfin yang baru saja dari dapur.


"Ada." jawab Alfin singkat.


"Dimana? Kenapa kamarku kosong?" tanya Kenanga lagi.


"Ah itu. Sekalian saja ada yang mau kusampaikan padamu."


Kenanga mengernyitkan dahi, "Apa?"


Alfin berjalan melewati Kenanga menuju kamarnya. Kenanga mengikutinya.


"Nah, nona, ini kamarmu." ucap Alfin memperlihatkan kamarnya.


"Apa maksudmu?" tanya Kenanga tidak mengerti.


Alfin tersenyum, "Aku memutuskan untuk mulai sekarang kita akan tidur sekamar. Dan berhubung kamarku paling besar yang ada di rumah kini jadi kujadikan sebagai kamar utama saja. Kamar kita."


"Apa?" sontak Kenanga terkejut.


***


Seorang perempuan menarik kopernya keluar dari bandara. Satu tangan yang lainnya menggandeng tangan seorang anak kecil yang amat tampan. Mereka berhenti di depan bandara.


Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.


Perempuan itu berdecak, dia sudah berkali-kali menghubungi tapi terus tak tersambung.


Tap tap tap


"Na." panggil seseorang dari kejauhan.


Nana menoleh, dia mendesah lega karena akhirnya melihat kedatangan seseorang yang sudah dia tunggu daritadi.


"Al, kamu lama sekali. Aku sudah menghubungi dari tadi. Jack kelelahan." keluh Nana.


Alvaro tersenyum tak enak, "Sorry, jalanan macet. Maklum Jakarta di siang hari." ucapnya.


Alvaro lalu menatap Jack yang nampak lelah, "Jadi Alfin sudah tahu soal ini?" tanyanya.

__ADS_1


Nana menggeleng, "Aku akan mengatakannya secepatnya. Bagaimanapun Jack butuh seorang papa."


__ADS_2