The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 58.


__ADS_3

Kamu hamil, tapi keguguran.


Kenanga terdiam mendengar pernyataan dari Alfin barusan. Otaknya serasa berhenti beroperasi. Namun sedetik kemudian, dia merasa dadanya berdenyut. Hatinya serasa sakit entah kenapa.


Namun alih-alih langsung memercayainya, wanita itu kembali menatap Alfin. Kini dengan pandangan tak percaya. Wajahnya mengerut.


"Aku apa?" tanyanya ulang.


"Hamil." jawab Alfin.


"Tapi?" lanjut Kenanga.


"Tapi keguguran." tandas Alfin.


Dahi Kenanga mengerut semakin dalam. Rasanya tidak mungkin dan aneh tentang bagaimana dia bisa hamil, padahal dia dan Alfin..


Tunggu


Mereka pernah melakukannya.


"Dokter bilang perut kamu terkena banyak benturan keras dan itu yang membuat janin tidak selamat. Tapi aku mengerti. Dan tidak ada yang menyalahkanmu soal ini. Bagaimanapun kamu bisa seperti ini karena kamu sedang berjuang mempertahankan negara." lanjut Alfin dengan nada lebih tenang meski wajahnya masih tampak kalut. Jelas tak bisa dipungkiri bahwa kesedihan menggelayuti wajahnya yang tirus. Terlebih melihat Kenanga yang diam saja, Alfin menjadi lebih tak tega. Bagaimanapun lelaki itu merasa gagal telah menjaga keluarganya hingga terjadi hal seperti ini.


Dan Kenanga jelas syok setelah mendengar pernyataan Alfin yang berulang itu. Hatinya mulai memercayai semuanya.


Dan Kenanga tahu, berkat pernyataan Alfin, dunianya seakan mulai runtuh begitu saja.


"Kenanga." panggil Alfin kala Kenanga terdiam hingga beberapa menit lamanya.


Bibir Kenanga bergetar, "Apa karena pengejaran Satya?" tanyanya. "Aku sadar aku banyak dipukuli. Dan bodohnya aku tidak sadar ada sesuatu yang lain dalam diriku. Bodohnya aku." lanjutnya merutuki dirinya sendiri.


Alfin diam-diam mengusap air matanya yang turun karena melihat betapa rapuhnya istrinya kini. Lelaki itu menggenggam tangan Kenanga yang berada di atas perutnya.


"Bukan salah kamu. Semuanya sudah menjadi ketetapan-Nya." ucap Alfin.

__ADS_1


Kenanga seketika menggeleng, "Tidak, Alfin. Andai aku bisa lebih peka terhadap diriku sendiri, andai aku tidak egois, ini semua tidak akan terjadi. Aku tahu hubungan kita masih belum ada di titik dimana kita bisa menjadi pasangan orang tua yang saling mencintai tapi kehadiran seorang anak sangatlah penting. Aku minta maaf." Baru kali Alfin melihat Kenanga berbicara panjang lebar tanpa ekspresi datarnya. Dan semua perkataan Kenanga mengandung banyak kesakitan untuk mereka.


Kenanga memalingkan wajahnya dari Alfin, "Aku ingin sendiri. Bisakah kamu meninggalkanku sebentar?" pintanya tiba-tiba.


"Kenanga..." Alfin tiba-tiba saja panik.


"Kalau kamu berfikir aku akan menyilet nadiku atau menggantung diri maka buang jauh-jauh fikiranmu." tukas Kenanga mengerti apa yang difikirkan Alfin.


"Kau yakin?" tanya Alfin.


Kenanga mengangguk.


Alfin agak ragu terbukti dia tak beranjak dari tempat duduknya setelah itu hingga Kenanga kembali menoleh dan melihat dengan jelas ekspresi kekhawatiran yang kentara di wajah suaminya.


"Kumohon Fin, aku hanya ingin menenangkan diri saja." pinta Kenanga lemah dan pelan.


Alfin akhirnya mengangguk, dia sadar bahwa istrinya perlu ruang untuk mencerna dan menerima semua yang terjadi terlebih kejadian pahit seperti ini.


"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan melakukan hal yang melampaui batas. Kamu harus mengerti dan tahu bahwa aku akan selalu ada untukmu. Kita akan melewati ini semua bersama-sama." ucap Alfin tegas.


Alfin menghela nafas perlahan, lalu mulai beranjak bangun. Mengusap rambut Kenanga lembut, sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya kemudian keluar dari ruangan.


Ceklek


Pintu ditutup dari luar oleh Alfin dan kini di ruangan serba putih itu hanya menyisakan Kenanga saja. Kenanga yang awalnya terdiam kini mulai memejamkan matanya, tanpa sadar lelehan air mata yang sedari tadi ditahannya meluncur turun. Perempuan itu menangis tanpa suara.


Nyatanya perempuan sekuat Kenanga juga bisa menangis. Hatinya yang katanya sekeras batu juga hanyalah hati seorang manusia.


Hari ini dia bukanlah seorang perempuan tangguh berpangkat letnan yang disegani. Namun hari ini dia adalah seorang ibu yang gagal menjaga calon anaknya. Seorang ibu yang tidak berperikemanusiaan.


Maafkan ibu, nak, ucap Kenanga dengan sebaris kalimat penuh penyesalan yang dia harapkan mampu didengar anaknya yang telah ada dalam dekapan Sang Pencipta.


***

__ADS_1


Panji duduk menemani Bagas di taman rumah sakit. Setelah terungkapnya fakta mencengangkan itu, Bagas memilih pergi dan menyendiri di taman rumah sakit. Panji yang merasa kasihan akhirnya menyusulnya.


"Kapt, kau baik-baik saja?" tanya Panji.


Bagas mendesah lalu tersenyum miris, "Siapa yang membuatmu bersimpati? Apakah saya yang sangat menyedihkan? Atau keadaan yang menyedihkan saat ini?" sebaris pertanyaan meluncur dari mulut Bagas.


Panji memperbaiki posisi duduknya lalu menatap air mancur taman dengan tatapan jauh, "Dua-duanya. Tapi kalau boleh jujur, Kapt lah yang terlihat paling menyedihkan."


"Kenapa?" tanya Bagas.


"Kapt tahu kapt banyak memiliki pertanyaan atas yang terjadi, menginginkan sebuah penjelasan yang masuk akal kenapa ini semua bisa terjadi tapi Kapt memilih diam. Kapt biarkan semuanya memfokuskan apa yang harus difokuskan dulu yaitu kesehatan Letnan. Kapt menahan ego Kapt sendiri. Padahal kalau Kapt mau, Kapt bisa menuntut penjelasan hari ini. Tapi Kapt tidak melakukannya. Dan itulah yang membuat Kapt terlihat lebih menyedihkan. Kapt terjebak sendirian dengan sejuta pertanyaan di kepala Kapt." jelas Panji panjang lebar.


"7 tahun lamanya saya menyukainya. Selalu mengaguminya dalam diam dan terus berdoa agar Tuhan meminangnya menjadi pasangan saya. Saat saya bertemu pertama kali dengannya saat itulah saya sudah jatuh hati padanya. Saya meletakkan rasa saya padanya dan berharap bahwa suatu hari nanti rasa itu akan sampai padanya." ucap Bagas tersenyum miris.


"Kalau Kapt sudah menyukai letnan selama itu, kenapa tidak disampaikan saja dari dulu?" tanya Panji penasaran.


"Andai saya bisa melakukannya, tentu sudah saya lakukan dari dulu." ucap Bagas. "Tapi saat itu ada beberapa hal yang menghalanginya hingga saya tak kuasa mengatakannya."


"Apa itu Kapt?"


"Beberapa tahun ini Kenanga terlibat masalah dengan papanya. Sejak kematian Kapten Nike, hubungan Kenanga dan papanya merenggang. Semuanya karena Kenanga mengetahui perselingkuhan papanya. Karena itulah Kenanga menarik diri dari segala hal tentang lelaki karena tak ingin seperti ibunya yang diselingkuhi. Itu sebabnya Kenanga juga memutuskan menjadi TNI agar dirinya semakin sibuk dan tak perlu memikirkan hubungan romantis." papar Bagas.


"Kalau memang seperti itu lantas kenapa Letnan bisa menikah dengan Dokter Alfin? Apalagi pernikahannya juga dirahasiakan dari kita? Saya bahkan tak yakin selain atasan, semua anggota di satuan kita pasti tidak tahu menahu." kernyit Panji bingung.


Bagas menghela nafas, "Soal itu saya juga tidak tahu."


"Lalu apa langkah Kapten selanjutnya?"


Bagas terdiam cukup lama.


"Kapt, sekedar mengingatkan bahwa Kapt tidak boleh mengejar Letnan lagi. Dia sudah memiliki pendamping hidup." lanjut Panji dengan nada hati-hati.


Bagas menatap air mancur yang berdiri megah itu.

__ADS_1


"Saya tahu." jawab Bagas dengan pandangan nanar dan kosong.


__ADS_2