The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 57. Runtuh


__ADS_3

Siska terduduk lemah di kursi di ruang tunggu markas TNI di Bandung. Satya sedang diinterogasi di dalam. Entah apa saja yang dibicarakan, Siska tak mampu mendengarnya.


Puk


Pundaknya ditepuk pelan oleh seseorang. Siska menoleh ke sampingnya, ada Dani yang tengah memegang secangkir teh hangat di tangannya. Lelaki itu tersenyum lalu duduk di samping Siska.


"Minumlah dan kamu akan merasa lebih baik." ucap Dani mengangsurkan teh itu.


Siska menerimanya lalu dengan pelan menyesapnya. Aroma harum melati dan teh terasa menenangkan hatinya. Serta hangatnya teh juga menghangatkan tubuhnya. Siska menjadi sedikit lebih rileks dari pada sebelumnya.


"Bagaimana situasi disana? Satya dia..."


"Dokter Satya masih ditahan dan akan segera dibawa ke markas pusat." Dani lalu menoleh pada Siska dan berbicara dengan nada hati-hati, "Dia harus diadili sesuai kejahatannya."


Bahu Siska melemas kembali. Kepalanya seketika menjadi nyeri.


"Dia akan baik-baik saja kan? Maksudku, hukumannya tidak akan berat kan?" tanya Siska risau.


Meskipun Satya adalah tersangka dengan kasus yang parah, Siska tak menampik bahwa dia tak ingin Satya dijatuhi hukuman yang berat. Meskipun lelaki itu mengkhianatinya selama ini dan hanya memanfaatkannya, Siska tak urung mengakui bahwa Satya masih tetaplah lelaki yang dia cintai.


"Cinta itu buta ya? Dan bikin bodoh juga." komentar Dani menyindirnya dengan cukup sarkas. Siska menyadari itu.


"Kau tidak tahu rasanya sampai kau mengalaminya sendiri." balas Siska.


"Maka dari itu aku tidak ingin mengalaminya. Bagiku cinta adalah hal terindah tapi bila itu membuat kita keliru saat membedakan mana yang salah dan benar, kurasa itu juga bukan cinta."


Siska hendak menjawab ketika pintu terbuka. Riko muncul dengan wajah kuyu dan lelah.


"Bagaimana Satya?" sambar Siska langsung.


Riko mengangkat wajahnya menatap Siska yang menanti jawabannya dengan penuh harap.


"Sejauh ini berdasarkan kesimpulan Dokter Satya terbukti sebagai otak Miracle dan tersangka utama. Dia akan diadili di pengadilan militer atas kejahatannya." papar Riko.


Siska menghela nafas pelan. Dani melirik wanita itu cukup khawatir.


"Saya ke toilet dulu setelah itu kita menjenguk Letnan Kenanga di rumah sakit." ucap Riko pada Dani.


Dani mengangguk. Maka Riko meninggalkan Dani dan Siska setelah sempat menepuk pundak rekan kerjanya itu.


Sepeninggal Riko, Dani kembali melirik Siska yang berdiri dengan tatapan kosong.


"Jangan terlalu difikirkan, aku takut kamu sakit." ucap Dani lembut.


"Bagaimana tidak difikirkan ketika orang yang kucintai akan diadili? Aku bahkan bisa menebaknya hukuman apa yang menanti Satya." ucap Siska parau.


Dani mendesah, "Tehmu sudah dingin, aku akan mengambilkanmu yang baru."


Dani terdiam menunggu tanggapan dari Siska tapi tak ada suarapun keluar dari bibir wanita itu maka Dani simpulkan ya. Ia mulai berjalan pergi.


"Dani." panggilan Siska menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" sahut Dani menoleh.


"Tehku jangan diambilkan." ucapnya.


"Kau yakin? Oh ya, kamu belum makan malam, aku akan membelikanmu nasi goreng didepan." ucap Dani hendak pergi.


"Tidak usah Dani." tolak Siska. "Aku akan beristirahat di mobil sementara kalian menyelesaikan urusan kalian masing-masing. Aku juga ingin ikut melihat kondisi Kenanga." lanjutnya.


Dani terdiam lalu menganggukkan kepala.


"Yasudah, aku harus menyusul Bang Riko. Kamu bisa berjalan ke mobil sendirian kan? atau perlu kutemani?" tawar Dani.


Siska kembali menggeleng, "Tidak perlu, terimakasih."


Dani mengangguk, dia lalu mulai berjalan kembali. Tapi lagi-lagi suara panggilan Siska mengurungkan langkahnya.


"Dani."


"Ada apa?" tanya Dani.


Siska terdiam sesaat lalu tatapannya yang awalnya menatap ke bawah lantai beralih menatap Dani. Ekspresinya serius dan tegas.


"Sebagai temanmu, aku ingin memberi nasihat untukmu."


Dani mengerutkan keningnya bingung.


"Jangan pernah mencintai orang yang hanya memberimu rasa sakit saja. Aku takut kamu akan sepertiku, lebih dungu dan bodoh suatu hari nanti."


Belum juga Dani membalas, Siska kembali melanjutkan perkataannya. Tapi dengan nada sangat serius dan sangat berbeda dari biasanya.


"Jangan mencintai orang seperti aku." tandasnya.


Mendengar kalimat terakhir itu, Dani terdiam di tempatnya.

__ADS_1


Lelaki itu lalu berkata, "Kau tahu bahwa aku tidak pernah peduli akan hal itu." tukasnya.


Kini Siska yang terdiam.


***


Satya duduk berhadapan dengan Bagas dan Riko di ruang interogasi. Ekspresi lelaki itu nampak biasa saja seperti seakan tak merasa berdosa atas apa yang sudah dia lakukan selama ini.


"Satya Lazuardi, benar kau pemimpin Miracle?" tanya Bagas mengawali sesi introgasi mereka.


Satya hanya berdecih.


Brak


Bagas menggebrak meja dengan keras.


"JAWAB." bentaknya.


Satya mengangkat satu alisnya, "Kau menangkapku ketika aku telah menjadi The Boss, kau bodoh atau apa?" balasnya congkak.


Bagas menahan emosinya. Satya sungguh berbeda kali ini.


"Apa kau mengakui atas kejahatanmu membunuh Ahmad, Nurman, Arman, Letkol Rizal dan keluarganya? Serta kakakmu, Antonio Razalea?" tanya Bagas lagi.


Satya mengangguk acuh.


"Tapi kau sama sekali tidak punya bukti soal itu."


Bagas terdiam sesaat, "Kau yang mengakuinya sendiri saat itu."


"Itu hanya perkataan, siapa tahu kalau itu mungkin hanya omong kosong?" balas Satya.


Bagas menggertakkan giginya, "Jangan berbicara omong kosong."


Satya berdecih, "Kapten, aku akan mengakuinya kalau memang ada buktinya. Tapi mana? Kau bahkan tidak menyodorkan satu bukti yang kau tuduhkan tadi."


"Kau menculik kami bahkan hendak membunuh kami. Kau bahkan ditangkap di tempat." tekan Bagas.


"Itu beda kasus. Kau menuduhku soal pembunuhan. Penculikan tidak akan membuatku dipenjara terlalu lama. Itu sepele." tukas Satya santai. "Jangan bilang, kau menyelidiku selama ini hanya untuk menjebloskanku setahun dua tahun saja?" lanjutnya pongah.


Bagas mengepalkan tangannya hingga urat-urat mencuat di lehernya yang kecoklatan.


"Jejak pembunuhan lima orang itu memiliki tanda. Logo Miracle. Kau pemimpinnya, otomatis kau pasti adalah otak dibalik pembunuhan mereka semua." sela Riko tenang.


"Itu karena ada yang memanipulasinya. Aku tahu kau memiliki orang didalam tubuh kami." desis Bagas.


Satya hanya mangut-mangut saja.


"Begini saja, kalau kau memiliki buktinya maka aku akan menjawab semuanya dengan jujur. Dan mulai saat ini, aku tidak ingin berbicara tanpa diwakili pengacaraku. Selesai." tandas Satya.


"Ini bukan kepolisian. Kasusmu sudah dibawa ke pengadilan militer." tukas Bagas tertawa.


Satya hanya mengendikkan bahunya, "Aku tetap punya hak, kan? Terserahlah."


Bagas mendesah kasar. Percuma berbicara dengan lelaki sekeras batu macam Satya yang ada dirinya bisa sakit kepala dan emosinya akan meledak.


"Kita bawa dia ke Jakarta. Dan aku pastikan setidaknya kau dapat hukuman seumur hidup atau kalau bisa eksekusi mati." desis Bagas penuh penekanan.


Satya sama sekali tak takut mendengarnya. Dia balas menatap Bagas dengan wajah menantang.


"Saya tunggu, Kapten." ucapnya tersenyum manis yang membuat Bagas muak.


***


Setelah Satya ditahan semalam untuk besok dipindahkan ke markas TNI di Jakarta, Tim Rajawali dengan Siska datang menjenguk Kenanga yang dirawat di rumah sakit.


Wajah mereka nampak syok sekaligus terkejut atas apa yang telah mereka dengar sebelum datang ke rumah sakit. Mereka mendengar kabar bahwa Kenanga keguguran.


Pertanyaannya, bagaimana bisa Kenanga hamil dan keguguran ketika dia saja belum memiliki suami? Atau mungkinkah ada sebuah rahasia yang belum Kenanga ceritakan pada mereka?


Berbeda dengan yang lainnya, Bagas berjalan cepat dengan wajah mengeras. Hatinya 1cemas ingin cepat mengetahui kondisi Kenanga dan juga menginginkan penjelasan atas kabar rancu yang sempat dia dengar.


Kenanga keguguran? Dia hamil? Anak siapa? Apakah Kenanga sudah menikah dan merahasiakannya? Kalau itu benar, maka Bagas bersumpah dia akan menghajar siapapun yang sudah membuat Kenanga seperti ini.


Dan sepertinya Bagas sudah mendapat jawabannya ketika dia bertanya dengan gamang mengenai siapa suami Kenanga pada Angga.


Dan suara dari seseorang yang tak dia duga mengejutkannya.


"Dengan saya." jawab Alfin.


Bagas langsung menatap Alfin kembali. Matanya membulat besar dan jelas dia syok.


"A-apa?" serunya tak percaya.


"Dia menikah dengan saya dan anak itu adalah anak saya." ulang Alfin dengan jelas dan tegas.

__ADS_1


Bagas melepaskan genggamannya pada kerah Alfin. Rautnya bingung dan syok luar biasa.


"Kenapa kau bertanya dan nampak peduli, kapten?" tanya Alfin terengah-engah.


Bagas menghela nafas, matanya kembali menatap Alfin tapi kini dengan raut terluka dan kecewa.


"Dia adalah orang saya cintai. Saya mencintainya sudah selama 7 tahun." ungkap Bagas pelan.


Kini giliran Alfin yang terkejut.


Bagas tak kalah terkejutnya. Dia seakan ditampar kenyataan dan ditertawakan keadaan ketika cintanya yang sudah dia rahasiakan selama ini ternyata tak berbalas. Layu sebelum dia sempat mengatakannya.


"Kau mencintainya Kapt? Selama itu?" tanya Alfin tak percaya.


Bagas mengangguk pelan. Dan tanpa kata pergi dari tempat itu.


Dani, Riko, Angga, Panji dan Siska menatap kepergiaan Bagas dengan raut sedih dan prihatin.


"Saya akan menyusulnya." celetuk Panji.


Riko mengangguk, "Tenangkan dia, jangan sampai dia berbuat aneh-aneh."


Panji menganggukan kepala lalu berjalan pergi menyusul kaptennya yang sudah menghilan dibalik koridor.


Sepeninggal Bagas dan Panji, Alfin terduduk lemas di kursi. Angga menghampirinya merasa prihatin.


"Yang sabar ya. Tidak ada ujian yang melebihi kemampuan kita. Tuhan pasti akan membantu kita." hibur Angga.


Alfin mengangguk lesu, "Aku sama sekali tidak apa-apa. Rasa sakitku tidak sebanding dengan sakit yang akan dirasakan Kenanga. Kami belum sempat tahu mengenai keberadaan anak kami. Allah sudah mengambilnya lebih dulu." ratap Alfin sendu.


Mereka yang mendengarnya menghela nafas sedih.


"Letnan perempuan yang kuat. Dia lebih kuat dari yang kamu bayangkan." sela Dani.


Riko juga menghampiri Alfin, sebagai seorang suami dan ayah dia jelas tahu apa yang dirasakan Alfin.


"Sabar ya Dokter Alfin, mungkin ini yang terbaik bagi kalian dan calon anak kalian. Dia akan menunggu kalian di surga nanti."


Alfin mengangguk pelan.


Ceklek


Pintu terbuka, seorang suster keluar dan menghampiri Alfin dan Tim Rajawali serta Siska.


"Pasien sudah siuman." beritahunya.


Alfin mendongak dengan terkejut. Kenanga siuman, apa yang harus dia katakan padanya?


***


Kenanga duduk berhadapan dengan Alfin setelah rekan-rekannya dan Siska memilih untuk memberikan pasangan suami istri itu ruang. Mereka membiarkan Alfin menemuinya pertama kali baru mereka.


"Kau tampak berantakan, Fin." komentar Kenanga masih lemah.


Alfin menghembuskan nafas pelan, dia tertekan tentu saja.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alfin pelan.


Kenanga mengerutkan keningnya, "Baik tapi perutku rasanya sangat sakit. Aku menemukan darah di kakiku saat itu. Kira-kira apa ya?" tanya Kenanga bingung.


Alfin menegang, dia tahu apa itu. Tentu saja karena dia juga ada disana.


"Itu yang ingin aku katakan padamu. Aku tahu mungkin waktunya tidak pas saat kau baru saja siuman tapi kamu harus tahu tentang keadaanmu."


"Selain kepalaku, ada apa lagi?"


Alfin terdiam cukup lama. Bibirnya kering dan berkali-kali dia membasahinya.


"Kamu nampak sangat gugup." celetuk Kenanga.


Alfin menghembuskan nafas sekali lagi lalu mengatakan, "Kenanga, kamu hamil."


Mata Kenanga membulat, "Ha-hamil? Aku?" serunya kaget.


Alfin mengangguk, "Tapi keguguran."


Deg


Kenanga mematung. Dunianya runtuh tiba-tiba.


...-----------...


Aku minta maaf karena aku sangat jarang update belakangan ini. Aku juga udah baca komenan kaliam dan bukannya ga mau bales tapi saat ini waktu senggangku tidak banyak. Jadi aku harus pintar-pintar membagi waktu untuk menulis. Tapi aku janji, sebisa mungkin aku update lebih sering. Jadi mohon kesabarannya ya dan terimakasih karena telah setia dengan karya ini🙏🤧


Terimakasih telah membaca semuanya:)

__ADS_1


__ADS_2