
Setelah melepaskan kuncian tangannya pada Bagas, Kenanga lalu menarik kerah jas yang dipakai Bagas. Serta menatapnya dengan menusuk.
"Katakan, siapa kau sebenarnya kapten?" desisnya.
Bagas masih tak mau membuka mulutnya dan itu membuat Kenanga makin yakin dengan hipotesisnya.
"Kau sungguh anggota Miracle?" tanyanya.
Bagas menggelengkan kepala.
"Cepat katakan, kau punya mulut!" sentak Kenanga kesal. Dia sudah tak peduli lagi meski tahu Bagas adalah Kaptennya dan dia tak sepantasnya bersikap tak sopan seperti itu.
"Saya akan menjelaskannya padamu. Tapi sebelum itu, lepaskan tanganmu dahulu. Kita bicara baik-baik." pinta Bagas.
Kenanga menggeleng, "Saya tak ingin mengambil resiko."
"Kenanga, saya tidak akan kabur. Pintu juga sudah dikunci oleh kalian, bukan?"
Kenanga masih bergeming. Alfin pun mendekatinya.
"Lepaskan saja, Letnan. Saya yakin Kapten Bagas tidak akan kabur."
Kenanga akhirnya setuju setelah mendengar perkataan Alfin. Dia melepaskan cengkeramannya dari kerah Bagas. Tapi tatapannya masih sama seperti tadi. Tajam dan menusuk.
"Jelaskan semuanya." tegas Kenanga.
Bagas mengangguk.
Flashback On
Setelah kematian Nurman tersiar, Bagas dipanggil Akra ke ruangannya.
"Kapten Bagas, Anda pasti sudah mendengar tentang kabar ini. Kematian berantai para tahanan yang sudah kalian ringkus."
Bagas mengangguk, "Saya merasa gagal. Kami belum mendapat banyak informasi soal Miracle."
"Itu sebabnya, saya menugaskanmu sebuah misi rahasia. Amat rahasia karena sangatlah berbahaya."
Bagas mengernyitkan dahinya, "Misi apa itu, Panglima?"
"Miracle."
"Maaf, Panglima. Lebih tepatnya misi Miracle terkait apa?"
"Saya sudah mendengarnya dari internal militer bahwa Miracle sudah mengalami masa keruntuhan di Benua Eropa dan Amerika Serikat. Tapi tidak dengan Asia. Menurut berita yang berhembus di internal militer, Miracle sedang membangun kerajannya kembali dengan sisa-sisa kekuatannya di Benua Asia dan lebih tepatnya di Indonesia. Berdasarkan data dari DK PBB, jumlah anggota Miracle di tanah kita mencapai lima ribu orang. Diantaranya adalah para elit TNI, Kepolisian, Menteri hingga selebriti."
Bagas terkejut mendengarnya. Eksistensi Miracle masih cukup tinggi bahkan setelah pusat Miracle runtuh.
"Kau tahu alasannya kenapa Miracle begitu pesat di Indonesia?" Bagas sontak menggeleng tidak tahu.
"Karena mereka memegang tangan-tangan penguasa yang menggantungkan hidupnya kepada Miracle. Miracle begitu loyal pada anggotanya. Kau pasti ingat mengenai kasus Ahmad Hibar? Dia menyelundupkan ratusan senjata pemberian Miracle untuk kudeta pada pemerintah pusat. Dan kalian menangkapnya saat dia hendak menyelupkan ribuan pucuk senjata ke Lebanon."
Bagas ingat itu. Kasus paling merepotkan dan rumit yang pernah mereka tangani. Itu karena tak lain, target mereka adalah atasan mereka sendiri. Mereka berkali-kali dilarang melakukan misi tersebut. Kepolisian bahkan sudah tutup mata. Hanya Panglima Akra yang mau mengeluarkan surat perintah untuk mereka. Hanya saja, pengadilan memang sudah disusupi oleh oknum tak bertanggung jawab, menyebabkan Ahmad dan para cecunguknya hanya diberi hukuman sepuluh tahun penjara atas kejahatan luar biasa mereka alih-alih hukuman mati. Meski pada akhirnya Ahmad binasa dibunuh suruhan organisasinya sendiri.
"Jadi saya ingin kau menyelidiki Miracle dan kalau bisa mengungkap semua mata rantai bisnis mereka. Baru-baru ini saya dengar, bahwa mereka tengah mengembangkan sebuah obat dari jenis narkotika dimana obat tersebut mampu mengelabui pemeriksaan zat senyawa berbahaya dan menjadikannya legal. Obat itulah yang nanti akan tersebar ke seluruh Indonesia."
"Tapi.." Akra berhenti sesaat. Menatap Bagas penuh keseriusan. Hawa tegang menyelimuti wajah Bagas, "Ini adalah misi pribadimu."
Bagas mengernyit, "Hanya misi saya seorang, Panglima? lalu bagaimana dengan anggota-anggota saya?" tanyanya.
"Tentu saja mereka tidak tahu. Situasi di militer sedang pelik lebih dari yang kau bayangkan. Jangan sampai orang lain tahu soal ini."
"Tapi kenapa? Anda tahu bahwa saya memiliki anggota tim dan jelas saya tidak bisa bekerja sendirian." tukas Bagas.
"Saya yakin kau pasti bisa, Kapten Bagastra. Kau perwira terhebat yang pernah kupunya. Alasan kenapa aku hanya melimpahkan tugas ini padamu seorang adalah karena kau adalah orang yang tak akan pernah bisa mereka bayangkan tengah menyelidiki mereka. Berbeda dengan yang lainnya terutama Kenanga. Anak itu sedang menyelidiki Miracle sama sepertimu. Dan pergerakannya sudah dicurigai oleh elit TNI."
Kenanga juga sedang menyelidiki Miracle? Bagas tidak tahu hal itu.
"Kenapa Letnan Kenanga ingin menyelidiki Miracle?" Bagas tak urung penasaran.
"Apa lagi kalau bukan karena mendiang ibunya. Ibunya terbunuh dalam insiden A-31 itu. Ulah Miracle tentu saja." jawab Akra.
Akra lalu menatap Bagas, "Jadi, laksanakan tugasmu dengan baik. Jangan pernah ucapkan satu katapun tentang misi ini kepada siapapun sekalipun itu anggota tim mu sendiri. Ingat, tidak ada orang lain yang bisa kau percayai sepenuhnya kecuali dirimu sendiri."
Flashback Off
"Jadi begitulah ceritanya."
Kenanga dan Alfin membeku. Lidah mereka kelu terutama Kenanga yang sudah menuduh Bagas merupakan bagian dari Miracle.
"Kau serius apa yang kau katakan? Kau tidak berbohongkan?" tanya Kenanga masih dengan tatapan menyipit curiga.
Bagas mengangguk, "Apa yang saya katakan adalah sebuah kebenaran."
"Jadi kau kesini karena mendapat undangan itu?"
Bagas kembali mengangguk. "Sepertinya kalian juga. Soal rencanamu menyelidiki Miracle sudah terendus oleh para petinggi."
Kenanga terdiam. Sial, padahal dia sudah sangat berhati-hati tapi tetap saja tindakannya diketahui.
"Jadi apa saja yang sudah kau kumpulkan, Kapten?"
"Atas dasar apa saya harus memberitahumu?"
Kenanga berdecak kesal, "Percayalah kalau saya bisa membunuhmu sekarang juga kalau kau tak mau membocorkannya." ancamnya.
Bagas tersenyum kecil, lalu menatap Alfin. "Dokter Alfin, lihatlah ironi ini. Anggota saya sendiri ingin membunuh saya hanya karena saya becanda padanya."
Alfin tersenyum kecut, "Percayalah, saya sudah sering mengalaminya."
Kenanga berdecak lebih keras, "Cepat katakan!"
Bagas mendesah, "Baiklah, Letnan. Saya rasa kita berada dalam situasi win to win jadi kita bisa saling berbagi informasi."
Bagas, Kenanga dan Alfin lalu duduk melingkar di lantai toilet yang untungnya bersih dan kering.
"Tahukah kalian bahwa Miracle memiliki perusahaan cangkang di Indonesia?"
Kenanga dan Alfin sontak menggeleng.
Bagas pun melanjutkan, "Perusahaan cangkang mereka bernama Circle Inc. Sebuah perusahaan yang tahun lalu berhasil membeli merek dagang beberapa obat farmasi."
"Tunggu, apa itu perusahaan cangkang?" sela Alfin bingung.
"Perusahaan cangkang adalah perusahaan yang hanya ada di atas kertas dan tidak memiliki kantor ataupun karyawan, tetapi perusahaan semacam ini memiliki rekening bank atau investasi pasif atau menjadi pemilik aset tertentu." jawab Kenanga.
Alfin mengangguk mengerti.
"Tapi perusahaan mereka sudah tidak termasuk perusahaan cangkang lagi, kan? Mereka sudah memiliki barang yang dijual." ujar Bagas.
__ADS_1
"Itu yang saya tahu. Jadi, apa yang kalian tahu?" tanya Bagas setelahnya.
Kenanga dan Alfin saling berpandangan. Lalu Kenanga mulai berbicara.
"Kau tahu Letkol Rizal?" Bagas mengangguk.
"Dia dibunuh oleh Miracle tepat setelah istri dan anaknya dibunuh di tempat berbeda. Letkol Rizal sebelumnya mendapat ancaman bahwa dia dilarang mengatakan rahasia 10 tahun itu pada siapapun. Karena melanggar, akhirnya dia dibunuh. Rahasia yang sempat dia beberkan adalah bahwa Miracle tengah mengembangkan sebuah obat anestesi bernama Klorafil selama 10 tahun terakhir ini. Kami juga tahu bahwa Miracle berada di Indonesia. Dan ada yang membukakan jalan bagi Miracle datang kesini dan jelas membantunya mendirikan perusahaan cangkangnya."
"Dan siapakah itu?" tanya Bagas.
Kenanga ragu mengatakannya. Dia melirik Alfin.
"Letnan?"
Kenanga menarik nafasnya dalam-dalam, lalu memalingkan wajahnya agar tak menatap wajah Alfin.
"Syafira Azalea." lirih Kenanga.
Alfin membeku.
"Siapa itu Syafira Azalea?" tanya Bagas bingung. Belum melihat raut syok Alfin.
Kenanga tak menjawab dan dia masih tak menatap Alfin yang mematung karena apa yang barusan dia dengar.
"Siapa itu Syafira Azalea?" ulang Bagas.
"Kekasihku yang sudah tiada." jawab Alfin pelan.
Kenanga dan Bagas langsung menatap Alfin yang kini nampak sendu.
"Alfin, aku tidak bermaksud merahasiakannya. Maaf." ucap Kenanga merasa bersalah.
"Tapi apa benar Syafira adalah orangnya?" tanya Alfin.
Kenanga mengangguk berat, "Ya, dia orangnya."
Alfin merasa lukanya 3 tahun lalu menjadi terbuka kembali.
"Ceritakan alasannya." titah Alfin tegar.
Kenanga membasahi bibir bawahnya. Jelas, dia nampak tak enak dan bersalah pada Alfin yang kini terlihat sedih.
"Letkol Rizal bercerita bahwa ada seseorang yang sudah membukakan jalan bagi Miracle datang ke Indonesia. Dia adalah seorang mahasiswi magister asal Indonesia yang berkuliah seni di Spanyol. Aku teringat dengan ucapanmu mengenai Syafira dan bagaimana dia dibunuh. Jadi aku mulai mencari tahu latar belakangnya dan menemukan bahwa Syafira mendaftarkan sebuah perusahaan bernama Life Inc. Dia mendaftarkannya dibantu ayahnya yang seorang Notaris."
"Life Inc? Itu adalah nama lama dari Circle Inc. Sebelum mereka tak lagi menjadi perusahaan cangkang." timpal Bagas.
Alfin tak percaya mendengar ini semua. Rasanya ada pisau yang menusuknya dari belakang.
"Syafira tidak mungkin akan melakukan ini." tukasnya.
"Memang tidak mungkin kecuali bila Syafira kenal dengan orang tersebut." balas Kenanga.
Alfin menatap Kenanga dengan mata memerah, "Maksudmu Satya? Kau berfikir bahwa Satya dan Syafira bersekongkol?"
"Ada dua jawaban disini. Mereka memang bersekongkol karena itu berarti baik Satya maupun Syafira adalah bagian dari Miracle. Atau justru Syafira tidak tahu hal ini. Tapi aku meragukan jawaban nomor dua." balas Kenanga.
"Kenapa?" tanya Alfin dengan nada naik setengah oktaf.
"Tanda Miracle." tandas Kenanga.
"Apa?"
"Dan Syafira memilikinya. Berbeda dengan Letkol Rizal dan keluarganya yang tidak memiliki tanda itu!" tambah Kenanga.
Alfin merasa wajahnya kebas dan hatinya nyeri. Dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin. Mereka tidak mungkin. Syafira tidak mungkin. Tidak mungkin." racau Alfin langsung beranjak berdiri dan keluar dari toilet.
"Alfin!" teriak Kenanga hendak mengejarnya tapi Bagas menahan tangannya.
"Biar saya yang mengejarnya sekaligus mengamati keadaan. Bagaimanapun masih ada dua puluh menit sebelum acara dimulai. Jadi saya ingin kamu masuk ke sistem Miracle dan meretasnya. Disana kamu akan menemukan daftar nama semua orang yang diundang Miracle. Kita bisa menjadikannya sebagai bukti valid."
Kenanga terdiam sesaat lalu mengangguk.
"Saya akan disini. Tolong kejar Alfin, jangan sampai dia melakukan tindakan gila dan membahayakan dirinya."
Bagas mengangguk, "Kau tenang saja. Oh ya, ada laptop di tas saya. Gunakanlah."
Kenanga mengangguk. Maka Bagas pun berjalan keluar toilet meninggalkan Kenanga seorang diri.
***
Kenanga sibuk mengotak-atik laptop Bagas. Dia berkali-kali gagal meretas sistem Miracle dan berkali-kali itu pula perempuan cantik itu mengumpat kesal.
Kenanga melirik arlojinya, sial, lima menit lagi sebelum acara dimulai. Dia harus buru-buru mendapatkan daftar semua nama undangan Miracle sebelum daftar itu dihapus otomatis oleh sistem begitu acara dimulai.
23.52
Berhasil!
Kenanga berhasil memasuki sistem Miracle. Kini dia sedang mencari cara untuk meretasnya. Tapi sistem proteksi mereka benar-benar komplek dan rumit. Kenanga berkali-kali mengacak-acak rambutnya. Kepalanya pusing, dan perutnya melilit.
"Auh." ringis Kenanga memegang perut bagian bawahnya yang melilit.
"Huek." kini Kenanga malah mual. Dia menekan tombol enter di laptop setelah itu langsung berlari menuju wastafel.
Bersamaan dengan Kenanga yang tengah menumpahkan isi cairannya, sistem Miracle berhasil diretas oleh Kenanga.
"Pusing sekali." keluh Kenanga berjalan lunglai menuju laptop Bagas kembali.
Matanya langsung terbuka lebar menyadari keberhasilannya. Dia tersenyum senang. Kemudian langsung mencari apa yang menjadi tujuannya.
"Print." Kenanga tersenyum senang berhasil mengambil daftar nama undangan Miracle. Dia lalu melihat satu persatu nama yang tertera.
"Wow, ini sungguh sarang para penguasa tirani." pujinya sarkas.
"Letkol Adi Purna, Letjen Maesa Jill, Kabid Humas Hendriyanto, Hakim Eko Prawiro,..." Kenanga menyebut satu persatu nama yang terlibat.
"Sungguh luar biasa mengetahui bahwa pejabat di seluruh negeri berada di tempat yang sama dalam satu waktu."
Ceklek
Kenanga menoleh begitu pintu terbuka. Alfin dan Bagas berjalan masuk dan duduk mengapit Kenanga.
"Bagaimana?" tanya Bagas.
Kenanga yang awalnya menatap Alfin langsung menatap layar laptop kembali.
"Beres, Kapt. Kau benar, nama-nama yang menjadi wakil rakyat dalam berbagai bidang pemerintahan terlibat. Mereka ada di ruangan ini semua."
__ADS_1
Bagas mendesah kasar, "Operasi dimulai. Target kita bukan para anggotanya melainkan pemimpinnya. Menurut kabar, pemimpin Miracle juga turut hadir disini."
Setelah itu, Kenanga, Alfin dan Bagas keluar dari toilet setelah Bagas menelfon para rekannya untuk datang melakukan penyergapan.
Mereka kembali ke aula utama. Terlihat semua orang berdiri menatap satu titik. Ke sebuah panggung megah.
"I am The Boss."
Semua orang bertepuk tangan gembira melibat kehadiran seseorang berjas hitam dengan topeng seluruh wajah yang mengenalkan dirinya sebagai The Boss.
"Dia pemimpin Miracle." bisik Bagas.
"It's a pleasure to meet all of our members and VIP customers again. Miracle welcomes all of you."
Prok prok
The Boss itu terlihat amat berwibawa. Posturnya yang tegap menandakan bahwa dia adalah seorang lelaki.
"The news out there that the Miracle has been destroyed is not true. In fact, thanks to all of you, the loyalty you have shown us keeps us here. Miracle still alive. And now, I will present you with the most advanced anesthetic drug ever. Klorafil !"
Prok prok
Semua mata langsung mengarah pada panggung utama. Terlihat seorang laki-laki berbaju pasien dengan tangan dan kaki dirantai di sebuah ranjang beroda.
"Apa yang mencoba mereka lakukan?" Bisik Alfin.
"I believe that a live demonstration is better than explaining how effective the medicene is."
Setelah The Boss mengatakan itu, seseorang berpakaian serba hitam dengan seorang dokter memakai snelinya muncul dari belakang panggung.
Layar di panggung menunjukkan bagaimana cara dokter itu menyuntikkan sebuah cairan putih ke dalam nadi lelaki berpakaian pasien itu.
Keadaan menjadi hening.
"Apa yang mereka suntikkan?" bisik Alfin.
"Klorafil. Obat mereka." balas Kenanga.
"Our medicene make anesthesia painless even in the highest doses. And it will numb the injected person but remain conscious. And whatever you do to his body, even to take the heart or other organs. Although the impact might make the person go into shock. But still this is an advantage for the medical world."
"Mereka akan mengambil jantungnya?" syok Bagas.
"Sama seperti demontrasi mereka di darkweb." balas Kenanga.
Sang dokter lalu mulai membedah perut lelaki malang itu. Mata lelaki itu tampak melotot ngeri dan mulutnya megap-megap ingin berbicara tapi tidak ada suara yang keluar. Kemudian sang dokter berhasil mengambil ginjal penuh darah sebelah kanan lelaki itu dan menunjukkannya ke kamera.
Kenanga, Bagas dan Alfin langsung menutup mulut syok.
"Just information on the price of a human kidney sold for IDR 2.7 billion or US $ 200 thousand." ucap The Boss.
"2,7 Miliar?!" seru Alfin syok.
Setelah berhasil mengambil satu ginjal, sang dokter yang kini lebih mirip algojo itu lantas mengambil bagian lainnya. Kini adalah sebuah limpa.
"The spleen price is IDR 7.4 million."
Setelah mengambil ginjal dan limpa. Lelaki berpakaian serba hitam yang awalnya berdiri tenang disamping sang dokter mulai mengambil alih pekerjaan sang dokter.
"Black will try to amputate his arms. Whose selling price is quite cheap only around Rp. 5.6 million."
"Mereka akan memotong lengannya juga?!" seru Alfin.
"Lama-lama ini makin mencekam. Ini bukan perdagangan obat tapi organ manusia!" timpal Bagas ngeri.
"Lelaki itu adalah Black, tangan kanan The Boss. Orang yang merekrut Nurman dan mungkin yang mengeksekusinya juga." ujar Kenanga.
Tak lama, Black berhasil memisahkan tangan dari tubuh lelaki malang itu.
"The show has been completed." ucap The Boss mengakhiri pertunjukkan menyeramkan itu.
Ranjang pasien yang berisi lelaki yang kini telah kehilangan salah satu tangannya itu dibawa pergi diikuti sang dokter. Di panggung kini hanya ada The Boss dan Black.
"Ladies and gentleman, your order about our medicine will be sent as soon as the party is over. If you are interested in kidneys, spleen and other fresh organs that are still fresh, please follow Black. We have everything you need."
Beberapa orang mulai mengikuti Black menuju ruangan lain. Sisanya masih berada di aula utama.
"We not only sell medicene and fresh organs. But some beautiful women who are ready to be yours at any time. And your favorite, drugs. So let's party!"
Puluhan wanita berpakaian seksi bahkan nyaris telanjang memasuki aula utama. Suara musik kini mengalun. Aula utama kini tak ubahnya seperti klub malam. Belasan pelayan datang membawa nampan berisi narkoba seperti ganja, sabu-sabu bahkan heroin. Wiski dan vodka juga dihidangkan. Para tamu kini bertindak lebih liar.
"Tidak bisa seperti ini. Kita harus melaporkannya segera." ucap Alfin.
"Benar, kita butuh bantuan." timpal Kenanga.
"Tenang saja, ratusan petugas polisi dan TNI yang masih loyal pada negara dalam perjalanan. Panglima Akra sudah mengerahkan semuanya."
Tepat setelah Bagas mengatakan itu, suara sirine polisi terdengar disertai bunyi tembakan.
Bug
Pintu aula utama terbuka keras akibat dobrakan dahsyat dari arah luar.
Semua tamu sontak berteriak dan berlari ke arah manapun, menghindari penangkapan.
"Target kita adalah The Boss dan Black. Ayo."
Bagas, Kenanga dan Alfin berlari mencari The Boss yang sudah turun dari panggung begitu pesta dimulai.
Mereka berlari menyusuri lorong-lorong hotel. Mencari dimana keberadaan orang nomor satu di Miracle itu.
Kenanga, Alfin dan Bagas membuka satu persatu kamar namun yang mereka temukan bukanlah The Boss atau Black melainkan banyak sepasang manusia tanpa ikatan yang asik bercinta tanpa memedulikan norma agama. Mereka berteriak kencang ketika Bagas, Kenanga dan Alfin datang ke kamar mereka. Agar mereka bisa diadili hukum, Kenanga mengikat lengan dan kaki mereka dengan tali supaya mereka tidak kabur ketika petugas datang menyisir ruangan.
Di ruangan terakhir termasuk ke dalam salah satu ruangan terbesar di hotel, mereka berhasil menemukan seseorang yang duduk membelakangi mereka di balik meja besar.
Pakaiannya persis dengan yang dikenakan The Boss saat membuka acara.
"Wow, aku benar-benar salah sudah meremehkan kalian." suara The Boss terdengar amat dingin.
"Siapa kau sebenarnya? Tunjukkan pada kami, bagaimana rupamu!" seru Bagas.
The Boss terkekeh, "Aku khawatir kalian tidak akan melihat wajahku hingga akhir hayat kalian."
Usai mengatakan itu, kepala ketiganya dipukul dari belakang oleh Black dan dua orang lainnya. Bagas, Kenanga dan Alfin langsung jatuh tersungkur.
Kursi The Boss berbalik menghadap mereka. Di ambang kesadaran yang hampir hilang, samar-samar Alfin melihat The Boss membuka topeng hitamnya. Matanya terbelalak mengetahui siapa pemilik rupa sesungguhnya dibalik topeng itu.
The Boss menyadari bahwa Alfin terkejut mengetahui siapa dirinya. Dia tersenyum iblis, "Hai, Fin. Kau kenal siapa aku, kan?" riangnya.
Tangan Alfin mengepal keras, dan rahangnya mengetat marah.
__ADS_1
"Satya..." desisnya.