The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 33. Kekasih?


__ADS_3

NB : Kisah ini adalah fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tempat dan organisasi tertentu hanyalah kebetulan semata dan tidak bermaksud menyinggung.


...----------...


Misi terbaru Tim Rajawali adalah membantu rekan tim sesama kopasus nya yang tengah melakukan operasi penyelamatan beberapa peneliti dari PBB yang disandera oleh gerakan separatisme papua merdeka. Tim Kopasus yang diberi nama Tim Lembah ini dalam operasinya mengalami kegagalan setelah sistemnya dihack musuh yang mengakibatkan adanya ketidakakuratan dalam penentuan lokasi. Hingga ketika mereka manyerbu markas musuh, mereka sudah kehilangan jejak.


Dan misi Tim Rajawali tentu saja membantu sesama rekannya dalam bidang intel. Mereka ditugaskan untuk mencari letak koordinat keberadaan musuh mereka sekaligus para sandera yang ditahan. Waktu mereka tak banyak, hanya tersisa dua hari dari waktu yang sudah ditentukan. Yang dengan kata lain, waktu hidup mati para sandera adalah 48 jam saja.


Dan kini Tim Rajawali sedang dalam perjalanan menuju markas Tim Lembah di Desa Bely. Bumi Papua yang memang masih sebagiannya adalah hutan belantara, selalu menjadi medan pertempuran para kopasus untuk menumpas musuh mereka.


Setelah menghabiskan perjalanan hampir enam jam dengan mobil jeep, mereka akhirnya sampai di depan gerbang desa. Kondisi jalan yang terjal dan berbatu membuat perjalanan mereka sedikit tak menyenangkan. Belum lagi dengan suhu terik yang tepat di atas kepala mereka membuat kepala mereka seakan terpanggang hingga ke isi otak.


Di gerbang desa, mereka disambut Tim Lembah dengan ketua timnya, yaitu Kapten Mawardi dan beberapa warga desa. Tim Rajawali langsung menghampiri mereka.


"Selamat datang di Desa Bely. Bagaimana perjalanannya? Sangat panas ya?" sambutnya ramah.


"Terima kasih atas sambutannya. Suhunya memang cukup terik tapi itu tidak menggoyahkan semangat kami untuk membantu sesama saudara." balas Bagas.


"Oh ya perkenalkan, saya Kapten Mawardi. Dan ini adalah anak buah saya, Lettu Eko, Serda Bima, Sertu Yoga dan Letda Anan." ucap kapten Mawardi.


"Saya Kapten Bagastra. dan ini rekan-rekan saya. Lettu Kenanga, Letda Angga, Sertu Riko, Serda Dani dan Serda Panji." balas Bagas turut memperkenalkan anggota timnya.


Anggota kedua tim itu lalu saling berjabat tangan.


"Oh iya, ini kepala desa Bely, Pak Markus." Mawardi juga memperkenalkan seorang lelaki tinggi tegap tapi berambut botak bernama Markus.


"Halo, Pak Markus." sapa Bagas.


"Halo, Kapten Bagastra." balas Markus ramah.


"Kalau begitu sudah cukup basa-basinya, mari ke markas." ajak Mawardi.


Maka Tim Lembah pun membawa semua anggota Tim Rajawali ke markas mereka yang ada di Desa Bely itu. Desa Bely adalah salah satu desa yang berbatasan langsung dengan hutan belantara dimana di hutan itulah sering terjadi pertempuran sengit antara pasukan TNI AD dan para musuhnya tak terkececuali OPM. Itu sebabnya mereka membangun markas disini. Yang juga berfungsi untuk melindungi warga Desa Bely.


Markas mereka tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. Mereka menggunakan gedung bekas peternakan yang sudah dialihkan. Fasilitasnya cukup lengkap, ada dapur, toilet, komputer bahkan gym kecil. Jumlah penghuni di markas ini hanya ada delapan orang. Tiga diantaranya adalah satu koki dan dua dokter militer.


Anggota tim Rajawali kemudian dibawa menuju salah satu sayap gedung dimana itu adalah tempat tinggal mereka selama dua hari ini. Mereka ditempatkan dalam satu ruangan dengan Kenanga yang khusus memiliki sekat untuk membatasi privasinya sebagai satu-satunya wanita.


"Silakan kalian membereskan barang-barang setelah itu mari berkumpul di ruang rapat." ucap Mawardi.


"Baik, terima kasih Kapten Mawardi."ucap Bagas.


Mawardi mengangguk, "Kalau begitu saya tinggal dulu." pamitnya.


Bagas mengangguk menyilakan. Mawardi pun pergi.


Sepeninggal Mawardi, Panji langsung menjatuhkan dirinya ke ranjang. Dia melenguh.


"Rasanya seperti ada batu-batu yang menggosok punggung kita." ucapnya.


Angga tersenyum tipis, "Sudah diberi kasur saja masih mengeluh." gelengnya.


"Saya tidak mengeluh. Itu artinya saya bersyukur saya bisa istirahat." tukas Panji.


"Siapa yang bilang istirahat? Kau tidak dengar kita harus ke ruang rapat?" celetuk Kenanga.


Panji mendesah pelan, dia menelungkupkan tubuhnya. "Kita segera selesaikan tugas ini lalu pulang dengan helikopter."


Riko yang tidak tahan lagi langsung memukul bokong Panji. Bukan sekali melainkan berkali-kali.


"Kau ini manja sekali. Astaga, bagaimana bisa TNI menerimamu hah? Aduh, dasar anak kecil." omel Riko sambil terus memukul bokong Panji berkali-kali.


Panji terus berusaha menghindar dari pukul sayang Riko.


"Bang, saya hanya becanda. Aw, jangan memukul lagi. Aw, bang." rengeknya heboh. "Tolong bantu saya. Pisahkan saya dari tukang pukul ini." pintanya panik.


Tapi anggota lain hanya tetap di posisi mereka sambil terkekeh.


Angga menggeleng tegas, "Kau memang pantas dipukuli." tandasnya.


"Ayo pergi rapat." ajak Bagas. Angga mengangguk. Kenanga dan Angga lalu mengikuti kapten mereka keluar.


"Bang, mereka pergi rapat. Hentikan, aw! Dani, bantu saya." Panji menatap memelas pada Dani yang berdiri sambil melipat dadanya.


Dani menggeleng pelan, "Saya pergi dulu." pamitnya. Dani pun pergi.


"Woy Dani!" panggil Panji kesal.


"Aw, bang hentikan. Aw, sakit!" Riko masih terus memukulnya.


"Satu pukulan terakhir." ucap Riko.

__ADS_1


Riko mengambil ancang-ancang. Mata Panji terbelalak karena terdengar suara keras dan seketika rasa panas menjalari bagian belakangnya.


Bug


****


Tim Rajawali baru saja selesai rapat dengan Tim Lembah. Mereka tengah berbagi informasi mengenai perkembangan operasi mereka.


Mereka lalu mulai bekerja. Dani dan Kenanga mulai berusaha melacak koordinat terkini kelompok mereka.


Pertama, Kenanga mencobanya dengan program buatan Tim Lembah yang sistemnya sudah diacak-acak oleh kelompok OPM itu. Dan benar sesuai dugaan, programnya error.


"Kami sudah mencoba memperbaikinya tapi tidak ada hasil. Apa kalian memiliki solusinya?" tanya Mawardi.


"Programnya sudah rusak dan tak ada cara untuk memperbaikinya. Malware yang mereka masukkan sangat kuat dan mampu mengacak-acak sistem sedemikian rupa tanpa jejak." jawab Kenanga.


"Tidak menyangka mereka juga jago soal IT." komentar Angga berdecak kagum.


"Mungkin karena mereka disupport negara asing?" opini Riko.


"Lalu bagaimana?" sela Mawardi.


"Dani sedang membuat program yang baru tapi dengan proteksi yang lebih kuat."


Semua tatapan mengarah pada Dani yang masih fokus mengetik koding di laptopnya.


Dani berdecak, "Jangan lihat saya begitu dong. Saya tidak bisa fokus."


Kenanga menjitak kepala Dani pelan, "Jangan banyak bicara. Selesaikan segera."


"Ini kan sedang dibuat." balas Dani sabar.


"Perlu waktu berapa lama?" tanya Bagas.


"Hmm, mungkin satu jam? Dua jam? Atau lima jam? Saya tidak tahu."


"Dani..." desis Bagas.


"Kapten, membuat program ulang tidak mudah. Lagipula sinyal disini putus-putus. Saya tidak bisa menjaminnya." jelas Dani.


"Dani benar kapten, bukan hal yang mudah untuk mengoding ulang apalagi di tempat seperti ini. Lebih baik sembari menunggu, bagaimana kalau kita coba terbangkan drone saja?"


Bagas menganggukan kepala, "Baiklah. Kapten, dimana dronenya?" tanyanya pada Mawardi.


Yoga mengambil drone itu. Dia menyerahkannya pada Kenanga dan Kenanga menyerahkannya pada Panji.


"Itu satu-satunya drone yang tersisa." ujar Yoga.


"Sisanya kemana?" tanya Panji sambil mengutak-atik drone itu.


"Ditembaki." jawab Eko.


"Apa?" seru Panji kaget.


"Mereka menembaki drone-drone ini saat kami sedang mengintai. Dan hanya tersisa satu drone ini saja, itupun mungkin dalam keadaan tak terlalu baik." tutur Eko.


"Ditambah kemarin sempat ada badai petir. Sinyal elektromagnetiknya kacau." timpal Bima.


"Kita hanya punya waktu 48 jam lagi. Panji bisakah kau memperbaikinya?" tanya Bagas.


Panji menganggukan kepala.


"Bisa kapt."


Bagas mengangguk. Dia lalu menatap Angga dan Riko.


"Kalian analisa informasi dari satelit ini. Lalu laporkan padaku."


"Baik kapt."


Mereka semua mulai bekerja sesuai yang diperintahkan.


Mereka terus bekerja tanpa henti. Mereka harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk operasi besok. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.


Di sisi lain, Kenanga dan Dani masih sibuk membuat program.


"Lakukan beberapa proteksi untuk mencegah hacking. Kalaupun ada peretasan lagi, buat supaya kita bisa melacak IP nya atau paling tidak ada jejaknya." perintah Kenanga.


Dani mengangguk.


Drrt

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Kenanga bergetar. Kenanga berdecak kesal karena pekerjaannya diinterupsi tapi pada akhirnya tetap menerima telfon itu.


Tanpa melihat siapa penelfonnya, Kenanga langsung mengangkatnya.


"Halo."


"Halo."


Kenanga terdiam mendengar suara si lawan bicaranya itu. Dia lalu melihat layar ponselnya.


***


Alfin memutuskan datang ke rumah sakit meski hari ini masih hari cutinya. Lagipula untuk apa di rumah ketika dia saja tidak memiliki kesibukan apapun?


Alfin datang mengenakan pakaian kasual. Hanya jeans hitam dan kaus polo putih. Rambutnya ditata rapi dan memakai kacamata hitam. Tampilannya yang charming dan tak biasa ini mengundang decakan kagum semua kaum hawa.


"Selamat sore Dokter Alfin." sapa para perawat ketika Alfin melintas.


"Sore." Balas Alfin singkat dengan senyuman. Dan karena senyum singkat itu mereka berteriak kegirangan.


Alfin lalu bertemu Riska, asistennya. Mata perempuan itu melebar karena tak menduga akan melihat Alfin.


"Loh Dokter Alfin? Kenapa Anda disini? Bukannya Anda sedang cuti?" tanya Riska bingung.


"Ah, memang benar saya sedang cuti tapi saya sedikit senggang sore ini jadi saya putuskan untuk datang ke rumah sakit." jawab Alfin.


"Kalau tahu dokter mau datang, tahu gitu saya siap-siap dulu." timpal Riska tak mampu menahan senyum.


"Hah? Apa maksudnya?" tanya Alfin mengerutkan dahinya.


Riska terkesiap, dia menggeleng. "Tidak ada dok. Oh ya, dokter kesini ada urusan apa?" tanya Riska mengalihkan pembicaraan.


"Saya hanya sekedar ingin berjalan-jalan saja dan mungkin duduk sebentar di ruangan saya."


Riska menyelipkan anak rambutnya dengan genit, "Mau saya temani dok?"tawarnya.


"Tidak perlu. Kamu lanjutkan saja pekerjaanmu." tolak Alfin halus.


"Eh tidak apa-apa. Saya senggang kok. Mari dok, saya temani saja. Dokter kan masih terbilang baru disini, belum tahu keseluruhan rumah sakit." papar Riska mencoba mencari alasan.


Alfin kembali menggeleng, "Tidak usah. Saya bisa sendiri. Kamu lanjutkan pekerjaanmu."


Riska berdecak pelan, "Sudah saya bilang, saya senggang. Dokter Alfin, tidak mau saya temani?"


Alfin langsung menganggukan kepalanya. Dan itu membuat Riska merengut sebal.


"Saya terlalu berlebihan ya makanya dokter selalu menolak bantuan saya?" tanya Riska pelan, dengan nada pura-pura kecewa.


Alfin seketika panik, "Tidak juga. Saya hanya takut merepotkan kamu." ujarnya.


Riska hanya mendesah pelan dengan bibir melengkung, "Saya tahu. Dokter pasti merasa saya merepotkan hingga dokter tak ingin berurusan dengan saya di luar pekerjaan. Saya mengerti." ucapnya sedih.


"Eh bukan seperti itu. Kamu sepertinya salah paham dengan maksud saya." tukas Alfin. Tidak mengerti dengan situasi sekarang. Dia bingung kenapa Riska malah bersikap seperti ini.


Riska lalu menatap Alfin, "Kalau gitu, dokter--"


"Ekhem." suara seseorang memotong ucapan Riska.


"Siapa sih?" sentak Riska kesal. Dia menoleh ke arah belakangnya. Begitupun Alfin yang langsung terdiam karena terkejut.


Riska menatap bingung seseorang yang sudah mengacaukan rencananya itu.


"Siapa kau?" serunya kesal.


Seseorang itu yang ternyata adalah perempuan hanya mendengus kecil. Wajahnya menampilkan senyum remeh. Dia mendekati Riska dan Alfin.


"Kalau jadi suster ya jadi suster saja, kenapa sampai menggoda seorang dokter? Kau fikir, kisah cinta dokter dan perawat akan menghampirimu? Cih, bermimpilah saja!" decihnya.


Riska menganga tak percaya dengan ucapan kasar perempuan asing itu.


"Kau fikir kau siapa?!" sentak Riska.


"Kalau kuberi tahu aku siapa, kau pasti akan menangis dipojokkan karena tak percaya." balas perempuan itu santai.


Riska berdecih keras, "Kalau begitu kau hanyalah perempuan gila!" ejeknya


Perempuan itu hanya tersenyum sinis, dia mengulurkan tangannya ke arah Riska.


"Kenalkan, aku Amelia. Kekasih Dokter Alfin yang hendak kau goda itu." tandasnya tegas.


"Apa? " Riska terkejut mendengar ucapan dari perempuan itu.

__ADS_1


Tapi dari semua itu Alfin lah yang paling syok. Bahkan ketika Amelia menatapnya dengan senyuman manisnya.


__ADS_2