The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 65.


__ADS_3

Kenanga memperhatikan Jack yang asik makan di kursi kerjanya. Perempuan itu mendesah melihat tumpukan pekerjaannya yang menggunung di sisi mejanya. Semua rekan rekannya sedang keluar makan siang, menyisakan dirinya dan bocah kecil itu.


Ini baru satu jam setelah Alfin menitipkan Jack padanya. Dan ketika Kenanga membawa Jack ke ruangan, semua anggota tim Rajawali terkejut dengan paras rupawan milik Jack. Mereka sampai berfikir apakah Jack adalah anak Kenanga dan Alfin yang tak pernah diketahui.


"Jangan gila. Bagaimana mungkin saya dan Alfin mempunyai anak senakal dia?" itu yang dijawab Kenanga.


Tapi Jack mudah bosan, sejak sepuluh menit hanya duduk diam di sofa, Jack sudah bosan. Dia menggoyang-goyangkan kakinya.


"Aku bosan!" celetuknya keras.


Semua orang mendengarnya tapi hanya Kenanga yang pura pura acuh dan terus melanjutkan pekerjaannya.


Melihat Kenanga mengacuhkannya, Jack bersuara lagi.


"Aku lapar. Aku ingin snack."


"Tidak ada." jawab Kenanga singkat dengan tetap memperhatikan layar komputernya.


"Kalau begitu, susu." ucap Jack lagi.


"Tidak ada." jawab Kenanga lagi.


"Yogurt."


"Tidak ada."


"Es krim?"


"Tidak ada."


"Coklat?"


"Tidak ada."


"Sereal?"


Kenanga menggeleng.


"Stroberi?"


Kembali Kenanga menggeleng.


"Apel?"


Kenanga menggeleng lagi.


"Lalu apa makanan yang ada?!" seru Jack frustasi. Dirinya sangat lapar.


"Ini bukan minimarket." ucap Kenanga.


"Rumahku bahkan lebih baik dari minimarket!" balas Jack.


"Kalau begitu pulanglah ke rumahmu dengan ibumu." sahut Kenanga sembari memutar kursinya menghadap Jack.

__ADS_1


Jack melipat tangannya di atas dada dengan muka cemberut, "Aku juga ingin pulang." ketusnya.


Semua anggota tim Rajawali yang sedari tadi hanya menjadi penonton menonton perdebatan antara dua manusia berbeda generasi ini. Bagas yang mulai melihat percikan api di bola mata keduanya mulai menengahi sebelum terjadi pertengkaran yang lebih dahsyat.


"Jack, namamu Jack kan? Om ada sedikit cemilan, kamu mau?" tawar Bagas.


Jack yang awalnya bersitegang dengan Kenanga menoleh pada Bagas dan seketika mengangguk.


Bagas tersenyum lalu kembali ke tempat duduknya dan mengambil sebungkus Chiki taro lalu memberikannya pada Jack yang tersenyum sumringah.


"Minumnya ambil di dispenser saja ya, nanti kalau tidak bisa bilang pad om, nanti om bantu ambilkan." ucap Bagas penuh kelembutan.


Jack menganggukan kepalanya mengerti. Bagas tersenyum lalu mengusap rambut Jack dengan sayang. Setelah itu kembali ke mejanya.


"Om itu baik tidak seperti Tante yang layaknya nenek sihir." ejek Jack pada Kenanga.


"Karena aku tidak punya Snack dan juga kesabaran yang cukup untuk menghadapimu." jawab Kenanga acuh. Jack mendengus lalu mulai asik memakan taro yang diberikan Bagas.


***


Istirahat makan siang, Kenanga, Bagas dan Angga mengantri untuk mengambil makan siang di kantin kantor. Kenanga khusus mengambil dua untuk Jack yang tengah menunggu di meja kantin bersama Panji dan Riko.


Kenanga dengan telaten mengambilkan makanan untuk Jack yang dia kira akan disukai anak itu. Panji dan Bagas yang berada di belakangnya memperhatikannya dengan seksama. Terlihat Kenanga mengambil lebih banyak sayur dan daging serta saus tomat untuk Jack. Itu menu makan khas anak sekali.


Setelah selesai, mereka bertiga menuju tempat duduk dimana Riko, Panji dan Jack telah menunggu.


"Makanlah." ucap Kenanga meletakkan nampan di depan Jack.


Kenanga berdecak, "Kenapa?" tanyanya.


"Aku tidak suka sayur, kenapa Tante malah membawa banyak sayuran? Tante kira aku kambing?"


Kenanga membuka mulutnya, sedangkan yang lainnya tertawa pelan.


"Ya ya ya terserah apa katamu. Tapi sayuran sangat bagus untuk tubuh terutama kau yang masih kecil. Jadi jangan banyak protes dan makan saja." ucap Kenanga mulai lelah.


"Kubilang tidak mau!" seru Jack kesal.


"Jack, sayuran ini sangat enak. Kantin disini terkenal dengan makanannya yang lezat. Kau akan menyesal tidak mencicipinya. Dan memakan sayuran bukan berarti kau adalah kambing. Kalau memang semuanya kambing, maka om-om ini juga kambing dan mereka mungkin harus disembelih saat ibadah qurban." jelas Kenanga.


"Uhuk." Semua anggota tim Rajawali langsung tersedak mendengar penuturan Kenanga.


"Hei, Letnan, kami bukan kambing dan kami tidak perlu disembelih." protes Panji. Jack tertawa.


Kenanga mengacuhkannya, "Aku berjanji pada Alfin akan menjagamu disini jadi turuti apa kataku dan makan makananmu oke?"


"Tidak mau." tolak Jack masih keukeuh.


Kenanga juga ikut kesal jadinya. Tapi dia sebisa mungkin menahan amarahnya. Marah-marah pada anak lelaki menyebalkan ini hanya akan membuang energinya.


"Dengarkan aku, kamu makan makanan siangmu setelah itu aku akan membelikanmu apapun yang kamu mau oke?"


Jack berfikir, lalu mengangguk. "Bawa aku melihat-lihat koleksi senjata kalian."

__ADS_1


Kenanga menggeleng, "Tidak bisa."


"Kenapa?" rengek Jack. Dia sedari tadi sudah sangat penasaran.


"Kami tidak bisa melakukannya Jack. Selain karena kamu masih kecil, kamu juga hanya pendatang." jawab Bagas kali ini.


Bibir Jack mengerucut sebal.


"Kalau begitu aku ingin jalan-jalan ke mall." ucapnya memberikan opsi lain.


Kali ini Kenanga mengangguk.


"Boleh, sekalian menunggu Alfin dan mamamu menjemputmu."


***


"Kau tampaknya sangat tidak akur dengan Jack."


"Dia anak lelaki yang paling menyebalkan yang pernah kutahu."


Bagas dan Kenanga sedang berjalan beriringan menuju ruangan mereka setelah tadi mengikuti rapat mingguan di kantor panglima. Jack dititipkannya pada keempat rekannya.


"Jack itu siapanya kau dan Alfin?" tanya Bagas.


"Anaknya teman kakak iparku dan juga teman Alfin juga." jawab Kenanga.


Bagas mengangguk mengerti.


"Meski tadi saya lebih sering melihat perdebatanmu dengan Jack tapi saya juga melihat kau memiliki sifat keibuan saat tadi mengurusi Jack."


"Apa maksudmu?" tanya Kenanga tidak mengerti.


"Saya tadi Jack yang tidak ingin makan, kau membujuknya meski dengan cara sedikit tidak lembut lalu kau juga mengelap mulutnya ketika dia sudah selesai makan. Kau juga merapikan bajunya dan rambutnya yang berantakan dan menemaninya ke toilet. Dan beberapa kali aku melihatmu menatap Jack dengan tatapan berbeda." jelas Bagas.


Kenanga terdiam mendengarnya.


"Mungkin karena saya hampir jadi seorang ibu. Saya tidak tahu rasanya memiliki anak karena anak kami sudah dibawa ke hadapan Tuhan lebih dulu. Jadi saya tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Jack. Saya berfikir Jack mungkin tidak nyaman dengan saya makanya dia lebih sering memberontak ketika bersama saya."


Ucapan Kenanga sarat akan kesedihan dan Bagas mengetahui itu.


***


Tapi Jack rupanya sudah bisa mengendalikan dirinya. Dia tidak berbuat kekacauan atau mengganggu Kenanga. Anak lelaki itu hanya terus duduk di sofa dengan ponsel Panji dan bermain game mobile.


Kenanga pun akhirnya bisa duduk tenang mengerjakan pekerjaannya. Hingga suatu dering telfon menginterupsinya. Rupanya telfon dari suaminya.


"Iya, hal---" Belum juga selesai, Alfin sudah keburu memotongnya dan mengatakan sesuatu yang membuat Kenanga terkejut.


"Baik, aku segera kesana dengan membawa Jack." ucap Kenanga.


Jack mendongak ketika namanya disebut.


Kenanga menatap Jack, "Jack, mamamu dilarikan ke rumah sakit."

__ADS_1


__ADS_2