
Ceklek
Pintu terbuka. Kenanga dan Rizal sama-sama menoleh ke arah pintu. Ada Alfin yang berdiri disana dengan tatapan bingung.
"Saya tidak tahu ada tamu." ujar Alfin tak enak.
Rizal hanya tersenyum.
Alfin lalu menatap kebingungan dengan ekspresi Kenanga yang terus menatapnya.
"Ada apa? Oh ya ada rekan-rekanmu diluar." ucap Alfin.
Kenanga tak menjawab. Rizal pun membuka suara.
"Intinya semoga lekas sembuh. Saya akan menghubungimu lagi." ujarnya pada Kenanga.
Kenanga mengangguk, "Carilah tempat yang aman. Hubungi saya dengan telfon sekali pakai."
"Apa itu diperbolehkan?" tanya Rizal.
"Tidak tapi demi keamanan Anda. Jangan sampai mereka melacak lokasimu." tukas Kenanga.
Rizal mengangguk, dia pun beranjak berdiri. "Kalau begitu saya permisi dulu." pamit Rizal. Dia tersenyum singkat pada Alfin lalu keluar dari ruangan.
Sepeninggal Rizal, Alfin langsung menghampiri Kenanga.
"Siapa bapak itu? Kenapa kakak menyarankannya dengan telfon sekali pakai?" tanya Alfin penasaran.
Kenanga menatap datar pada Alfin, "Bukan urusanmu. Penasaran sekali."
"Apakah dia seorang buronan dan akan kamu lindungi?" tanya Alfin lagi.
Kenanga berdecak, "Untuk apa saya melindungi buronan? Dia bukan buronan."
Alfin hendak membalas lagi ketika Kenanga mengangkat telapak tangannya, "Tadi siapa yang ada di luar?"potongnya.
"Rekan-rekanmu, Kapten Bagastra dan Letda Angga."
Kenanga mengangguk, "Suruh mereka masuk saja."
***
Bagas sedang berdiri diam menghadap pintu rawat Kenanga setelah Alfin masuk ke dalam ruangan. Lelaki itu tidak sendirian, dia bersama Angga tapi Angga mendapat panggilan alam.
Panji datang tak lama kemudian, dia terkejut melihat kehadiran kaptennya yang malah berdiri diam didepan pintu, tidak masuk. Panji langsung menghampirinya.
"Kapten Bagas?" panggil Panji.
Terlihat Bagas tersentak kaget, tapi wajahnya langsung penuh senyuman.
"Hai, Panji. Mau menjenguk Kenanga?"
Panji menganggukan kepala, "Kenapa Kapten tidak masuk? Kenapa hanya berdiri di luar?" tanya Panji.
"Ah tadi ada tamu yang menemui Kenanga. Saya tidak enak menginterupsi pembicaraan mereka. Sepertinya mereka berbicara hal yang penting." jawab Bagas.
"Ah begitu." angguk Panji mengerti.
Ceklek
Pas sekali pintu dibuka dari dalam. Rizal keluar ruangan dan langsung mendapati dua orang berseragam prajurit menatapnya didepan pintu. Rizal tersenyum.
"Pak." sapa Bagas hormat. Dia kenal dengan Rizal, yang merupakan salah satu purnawirawan TNI AD yang terkenal.
"Kapten Bagastra?" tanya Rizal bila dia tak salah ingat.
Bagas tersenyum sambil menganggukan kepalanya, "Lama tidak bertemu, pak. Saya senang saya bisa bertemu dengan Anda lagi."
Rizal tersenyum senang, "Saya juga. Rasanya seperti kembali ke masa dulu ketika saya masih aktif mengenakan seragam."
"Saya punya urusan, tidak bisa bicara lama-lama. Kalian akan bertemu Kenanga bukan?" Bagas mengangguk.
"Kalau gitu saya tidak menganggu lagi. Saya pergi ya."pamit Rizal.
"Hati-hati di jalan, pak." ucap Panji sopan.
Rizal mengangguk, dia menepuk pundak kedua prajurit itu lalu melangkah pergi.
"Tadi itu Kolonel Rizal, benar kan?" tanya Panji.
Bagas mengangguk, "Kau kenal dengannya?"
"Tentu saja. Meski tidak pernah bertemu dengannya, beliau ada di daftar purnawirawan yang berpengaruh. Tapi kenapa beliau datang menjenguk Kenanga?" tanya Panji bingung.
"Ah, Letnan Kenanga kan keponakan Danjen." lanjut Panji menjawab pertanyaannya sendiri.
Bagas tersenyum kecil, "Pak Rizal itu satu tim dengan mendiang Letjen Nike. Kau pasti paham selanjutnya, kan." jelas Bagas.
"Ah benar juga." balas Panji mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.
__ADS_1
"Eh Kapten, ayo masuk." ajaknya.
Bagas mengangguk, dia pun masuk ke dalam ruangan rawat Kenanga diikuti Panji.
***
Rizal berjalan dengan tenang keluar rumah sakit.
Drrt
Ponsel lelaki itu bergetar. Rizal mengeceknya tanpa curiga dan dia berhenti melangkah begitu dia membaca pesan yang berasal dari pengirim anonim. Wajahnya seketika pucat.
Sepuluh tahun ini kau bersembunyi dibalik seragam hijaumu bagai tikus ketakutan. Kini kau mulai mendapatkan keberanian, tapi kenapa harus mengadu pada orang lain?Ketika aku telah memberimu kesempatan untuk hidup meski kau sudah mengetahui rahasiaku.
Rizal menelan salivanya dengan susah payah. Orang itu, siapun itu sudah tahu dia bercerita dengan Kenanga. Rizal berusaha tak menggubris pesan itu dulu. Dia buru-buru berjalan menuju parkiran.
Namun ketika dia sampai di parkiran, dia berhenti melangkah lagi. Itu karena di depan mobilnya ada seseorang laki-laki berseragam loreng tersenyum menunggunya.
"Selamat siang, Pak Rizal. Akhirnya saya bisa bertemu dengan Anda."
Rizal tetap tersenyum meski masih agak kaget, "Ada urusan apa mencari saya?"
Lelaki itu hanya tersenyum menampilkan lesung pipitnya yang menawan, "Saya sangat mengagumi Anda begitu saya masuk Akmil."
"Ah begitu. Saya tidak sehebat itu." ujar Rizal agak malu. "Oh ya, maaf saya tidak bisa lama-lama. Kebetulan hari ini saya memiliki urusan." lanjut Rizal merasa tak enak.
"Tidak masalah, Pak. Saya mengerti."
"Terima kasih ya, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Rizal hendak masuk ke dalam mobil.
"Pak Rizal." panggil lelaki itu membuat Rizal urung masuk ke mobilnya.
"Ada apa?" tanyanya.
"Semoga saya bisa bertemu dengan Anda lagi." tandas lelaki itu mantap.
"Tentu, saya harap saya bisa bertemu lagi dengan junior-junior saya." balas Rizal ramah.
Lelaki itu tersenyum senang sembari menganggukkan kepala. Maka Rizal pun kembali masuk ke mobil. Melambaikan tangan sesaat lalu pergi keluar parkiran.
Lelaki berpakaian loreng itu melunturkan senyumannya. Lalu pergi dari tempat itu.
***
Bagas dan Panji tengah berada di kamar inap Kenanga. Sementara Alfin baru saja pergi begitu kedua rekan perempuan itu datang. Katanya ada urusan.
"Justru saya berfikir sebaliknya. Melihat Letnan Kenanga berada di ranjang rumah sakit dengan status sebagai pasien membuat saya merasakan perasaan yang tak asing." ujar Bagas becanda.
"Jadi Kapten suka melihat saya terluka dengan tangan tertusuk jarum infus?" sarkas Kenanga.
Bagas hanya terkekeh pelan, "Saya hanya becanda."
Kenanga tak menanggapinya, "Oh ya, dimana yang lainnya?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Setelah lelucon garing saya, kamu mau buang saya gitu aja?" skeptis Bagas.
Alih-alih Kenanga, Panji yang mengernyitkan dahinya bingung,"Kapten salah minum obat?" sela Panji.
"Kalian hanya berdua saja?" tanya Kenanga menyela kambali.
Tok tok
Belum juga kedua lelaki itu menjawab, pintu diketuk seseorang lalu seseorang yang ternyata Angga itu masuk ke ruangan. Lelaki itu juga memakai seragam lorengnya.
"Maaf Letnan, tadi saya harus ke toilet dulu. Bagaimana keadaan Anda?" tanya Angga.
"Saya sudah lumayan membaik." jawab Kenanga.
"Ah syukurlah. Saya senang mendengarnya." desah Angga lega.
"Terima kasih kalian sudah datang menjenguk saya." ujar Kenanga.
Bagas, Panji dan Angga mengangguk.
***
Malamnya, Alfin kembali masuk ke ruangan inap Kenanga. Dan rupanya Kenanga belum tidur.
"Kenapa kau suka sekali datang kesini?" celetuk Kenanga.
Alfin merebahkan dirinya di sofa, dia tak menjawab hanya terus menghela nafas pelan. Lelaki itu nampak kelelahan.
"Kau sudah melakukan apa hingga kelelahan?" tanya Kenanga kini dengan nada lebih lunak.
"Operasi." jawab Alfin singkat.
"Seharusnya kau istirahat bukannya datang kesini."
"Saya memiliki tanggung jawab menjagamu, tentu saya tidak boleh mangkir, bukan?"
__ADS_1
Kenanga terdiam mendengarnya.
"Kemarilah." titah Kenanga.
Alfin membuka matanya, "Kemana?"
"Kesini." decak Kenanga.
Alfin lalu beranjak bangun, dia berjalan lesu menuju ranjang Kenanga.
"Duduk." titah Kenanga.
Alfin duduk di kursi di samping ranjang Kenanga.
"Bukan disitu." tukas Kenanga.
"Lalu dimana?" tanya Alfin.
"Disini." ujar Kenanga menepuk ranjangnya.
"Hah?" seru Alfin tak percaya.
"Cepatlah." ujar Kenanga kembali berdecak.
Alfin mau tak mau duduk disana, di depan Kenanga.
"Pejamkan matamu." titah perempuan itu lagi.
"Kenapa?" tanya Alfin seketika waspada.
"Kau benar-benar penuh pertanyaan, tinggal menurut saja apa susahnya? Melelahkan." dengus Kenanga kesal.
Alfin pun akhirnya memejamkan matanya daripada mendengar Kenanga marah-marah lagi.
Melihat lelaki itu sudah menutup matanya, kedua tangan Kenanga lalu bertengger di sisi kepala Alfin. Lalu memijatnya pelan.
"Saya tahu beberapa titik akupuntur untuk tubuh yang kelelahan tapi karena saya masih sakit, saya hanya bisa memijatmu."
Tubuh Alfin benar-benar kaku. Awalnya rasanya seperti tersengat listrik begitu tangan Kenanga menyentuh kepalanya.
"Lemaskan tubuhmu. Istirahatkan kepalamu." titah Kenanga.
Alfin perlahan mulai rileks berkat pijatan Kenanga yang super nyaman.
"Kakak bisa memijat?" tanya Alfin.
"Hem, ibu saya yang mengajarkannya. Dia bilang selalu melakukannya pada papa saya setiap papa pulang bekerja."
"Saya semakin ingin bertemu dengan ibumu jadinya."
Kenanga mendengus, "Kalian berbeda alam, bagaimana caranya kau bertemu dengannya?"
"Kalau begitu ceritakan soal ibu kakak. Meski saya tidak bisa bertemu dengannya, tapi lewat ceritamu, setidaknya saya bisa seakan mengenalnya."
Tatapan Kenanga menjadi menerawang, memanggi rupa sang ibu dan kenangan-kenangannya.
"Ibu saya orang yang baik. Sebagai seorang ibu, beliau amat lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dan sebagai seorang prajurit, beliau adalah tentara yang paling saya kagumi. Tak banyak yang bisa diceritakan soal beliau tapi yang jelas, kalau saya diizinkan oleh Tuhan, saya ingin orang yang pertama kali melihatnya di Surga adalah ibu saya. Saya yakin dia akan masuk Surga. Dia benar-benar orang yang baik."
"Sepertinya kakak sangat merindukannya."
Kenanga mengangguk, "Kau pernah dengar istilah, cinta pertama seorang anak adalah ayah?"
Alfin mengangguk.
"Bagi saya, mendiang ibu saya adalah cinta pertama saya. Saya ingin sepertinya. Tak perlu sempurna, asalkan bahagia."
"Apa kakak sekarang sudah merasa bahagia?"
Kenanga terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab, "Tidak, saya belum bahagia."
Alfin mendesah, "Apa saya sudah gagal?" gumamnya.
Dahi Kenanga berkerut, "Apa maksudmu?"
Alfin tiba-tiba berbalik begitu saja menghadap Kenanga yang turut menatapnya.
"Tidak apa-apa ini baru hari kelima. Tapi saya pastikan hari keenam dan seterusnya hingga tidak bisa menghitung hari lagi, saya akan bahagiakan kakak."
"Kenapa?" tanya Kenanga.
"Karena saya suamimu." tandas Alfin.
Kenanga tiba-tiba menatap Alfin jauh lebih dalam, "Alfin, apa kau menyukaiku?"
Tiba-tiba sebuah pertanyaan tak terduga terlontar dari bibir Kenanga. Begitu jelas dan terus terang.
"Eh?"
Mendengarnya, mata Alfin bergetar pelan. Dia mati kutu tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1