
Kenanga sudah menunggu-nunggu pop-up di akun darknet-nya mengenai tempat yang akan direncanakan sebagai pesta pembukaan perdagangan obat anestesi buatan Miracle. Namun hingga di minggu sore, belum juga muncul. Itu membuat Kenanga cukup gelisah dan mulai berfikir apakah rencananya akan gagal.
Alfin datang ke ruang tamu dan duduk bersebrangan dengan Kenanga yang tengah terdiam menatap layar laptopnya.
"Jangan melamun, sebentar lagi maghrib." tegur Alfin.
Kenanga menggeleng, "Aku tidak melamun." tukasnya.
"Lalu sedang memikirkan apa?" tanyanya.
"Pesan dari Miracle belum datang." jawab Kenanga gelisah.
"Benarkah? Aneh sekali, seharusnya sudah datang. Bagaimana kalau besok datang dan ternyata tempatnya tidak di Jakarta?"
"Itu dia. Belum lagi, besok kita harus jalan-jalan dengan Tim Rajawali."
"Ah, yang kamu katakan kemarin itu ya? Waktunya pas sekali."
Kenanga tak menanggapi. Dia menggigiti bibirnya, nampak gelisah.
"Tenang saja, aku yakin pasti pesannya akan datang. Menilik sampai sekarang belum sampai, sepertinya tempat besok tidak akan jauh-jauh dari Jakarta." ujar Alfin menenangkan.
Kenanga mengangguk, sejujurnya dia memang berharap seperti itu.
"Oh ya, apa rencanamu besok?" tanya Alfin.
Kenanga tiba-tiba mengernyit,"Kenapa rasanya sangat kesal mendengarmu berbicara sesantai itu pada yang lebih tua?" komentar Kenanga.
Alfin menarik senyumnya, "Kita sudah sepakat kemarin."
"Tetap saja rasanya sangat mengesalkan dan kenapa aku harus mau-maunya setuju." gerutu Kenanga pusing.
Alfin makin menarik garis senyumnya membuatnya menjadi senyuman amat manis, "Kenanga, apa yang sudah disetujui, tidak bisa dibatalkan."
Kenanga mendengus, "Kau bocah besar ingusan!" ejeknya.
"Eits, tidak boleh menghina suami." tegur Alfin.
"Dasar anak kecil yang belum dewasa dan kekanak-kanakan." sahut Kenanga ketus.
"Aku tidak kekanak-kanakan dan jelas sudah dewasa. Kalau tidak, aku tidak akan menikah denganmu dan kemarin kau tidak akan mendesah keenakan saat berada di bawahku." balas Alfin frontal.
Kenanga menganga tak percaya dengan ucapan Alfin yang terkesan tak disaring.
"Mesum! Kau sangat benar-benar tidak dewasa!" pekik Kenanga dengan nada penuh penekanan. Perempuan itu kemudian beranjak berdiri dan langsung menuju kamarnya.
Blam
Kenanga langsung menutup pintunya dengan keras.
Alfin berjengit kaget, dia menatap horor pada pintu kamar Kenanga yang bergetar saking kerasnya sang empu membanting pintu.
"Istriku memang bukan istri biasa." ucap Alfin mengelus dadanya.
***
Kenanga terdiam di kamarnya kesal. Dia menendang-nendang bantal dengan keras.
"Alfin, sialan! Kenapa harus membahas momen itu lagi?!" rutuknya.
Kenanga sudah berusaha mati-matian mencoba melupakan kejadian itu agar dia bisa bersikap biasa saja di depan Alfin tapi Alfin mengacaukan segalanya. Dia mau tak mau lagi mengingatnya.
Kenangan itu terputar di kepalanya seakan-akan sebuah kilasan film romantis dewasa. Kenanga ingat bagaimana malam mereka. Bagaimana Alfin mencumbunya dengan lembut namun menggairahkan baginya. Bagaimana Alfin memujanya seiring dengan tubuh mereka saling menyatu. Dan bagaimana dirinya membalas semua tindakan Alfin dengan sama sensualnya.
Dia ingat setiap inci tubuh lelaki itu. Rahangnya yang tegas, matanya yang menatap teduh dan terutama bibirnya. Dari semua fitur wajahnya, Kenanga paling ingat bibir Alfin dan ciumannya.
Setelah wajahnya, dia juga ingat dada bidang lelaki itu. Lengannya yang kekar terus melingkari tubuhnya di malam itu. Perut abs yang luar biasa dan membuatnya frustasi. Dan--
"Hah, sadar Kenanga! Apa yang kau fikirkan?!" teriak Kenanga menyadarkan dirinya yang terlarut dalam kenangan berbahaya.
Wajahnya memerah, Kenanga memegang kedua pipinya yang memanas.
"Kurasa aku sudah gila!" lirihnya.
Tok tok
Kenanga menoleh ke arah pintu. Dia mendengus, tahu bahwa itu Alfin. Kenanga tak mau membukanya.
Tok tok
Pintu kembali diketuk dari luar. Kali ini lebih keras dan kencang. Kenanga berdecak.
Dasar menganggu!
Kenanga akhirnya membuka pintu. Dia menatap datar pada Alfin yang berdiri dihadapannya dengan senyuman manis.
"Dasar tak sabaran! Kalau pintunya rusak bagaimana?!" omel Kenanga.
Alfin mengangkat satu alisnya, "Aku baru teringat bahwa kamu yang duluan merusak pintu karena membantingnya."
Kenanga mengerjap, benar juga.
"Ada apa?" tanya Kenanga datar mengalihkan pembicaraan.
Alfin tersenyum manis, "Mau mengajakmu kemping."
"Kemping?" Kenanga mengernyitkan dagunya bingung.
Alfin mengangguk, "Ikuti aku."
Alfin berjalan lebih dulu disusul Kenanga. Mereka berjalan menuju ruang tamu.
"Jreng jreng!"
Kenanga terdiam melihat ruang tamu yang sudah disulap sedemikian rupa menjadi penuh nuansa perkemahan. Lampu tumblr yang bersinar pastel menambah suasana hangat. Belum lagi dengan panggangan yang berisi daging bbq menggugah selera.
"Ini kau yang buat sendiri?" tanya Kenanga.
__ADS_1
(Anggap saja kayak gini ya, tapi backgroundnya ganti jadi latar di ruangan 😉)
Alfin mengangguk, "Kalau bukan aku siapa lagi? Ayo duduklah."
Kenanga pun duduk diikuti Alfin.
"Nah, daging panggang dengan sapi betina premium akan matang satu menit lagi!" ucap Alfin layaknya pembawa acara.
Setelah itu dia mulai memanggang daging setengah matang itu. Selain itu dia juga memanggang sosis, jagung dan jamur. Kenanga memerhatikannya.
Satu menit kemudian, daging sudah matang.
"Setelah matang, kita harus memotong-motongnya agar Mbak Kenanga Anggia tidak tersedak." Alfin memotong-motong daging menjadi potongan lebih kecil untuk sekali suap. Setelah itu mengulurkan piring tadi yang penuh dengan daging.
"Silakan Mbak Kenanga cicipi. Ini tanda sayang saya." ucap Alfin.
Kenanga tersenyum tipis, dia pun mulai mencicipi satu potong. Mengunyahnya perlahan, menikmati sari daging yang menetes di lidahnya.
"Bagaimana?" tanya Alfin.
Kenanga mengangguk, "Enak. Darimana kau belajar masak bbq?"
"Tidak perlu belajar. Aku pernah menjadi relawan di kamp perdamaian di Lebanon. Tukang masak kami terkadang selalu memasak daging panggang. Aku mengikuti resepnya." jelasnya.
"Itu berarti kau harus belajar."
Alfin menggeleng, "Aku hanya mengikuti resepnya. Ini kali pertamaku."
Kenanga mengangkat satu alisnya, "Kau tidak berbohong, kan?"
"Tentu saja. Aku mana punya waktu memanggang daging?"
Kenanga terdiam. Kalau Alfin baru saja pertama kali memasaknya dan rasanya sudah seenak itu, berarti lelaki itu memang berbakat memasak. Ataukah otaknya saja yang kelewat jenius?
Kenanga akhirnya memilih tak menanggali. Dia memasukkan potongan kedua ke mulutnya.
"Maaf soal perkataanku tadi." celetuk Alfin sambil terus membolak balik daging di atas panggangan. Nampak gugup dan tak tenang.
Kenanga terus mengunyah, "Aku melihat sjsi barumu hari ini."
"Apa itu?" tanya Alfin.
"Alfin yang blak-blakan dan kadang mesum." ujar Kenanga terus makan lalu menelan makanannya meski rasanya sakit karena tenggorokannya kering.
Afin tersenyum kecil, "Kalau boleh jujur, sifatku memang seperti itu dari dulu."
"Kalau sifatmu memang seperti itu, kenapa sekarang tidak? Kau terkesan berhati-hati."
Alfin menuduk, tersenyum tipis. "Kehilangan Syafira yang membuatku seperti ini."
Kenanga berhenti mengunyah, dia mengeratkan pegangannya pada garpu.
"Aku ternyata baru sadar bahwa kehilangan seseorang bisa berimbas pada kehidupan kita. Layaknya dementor pada film Harry Potter, rasanya seluruh kebahagiaanku terserap habis dan hanya menyisakan kenangan mengerikan yang memaksaku mengingatnya." tutur Alfin pelan.
Alfin lalu menoleh pada Kenanga, "Tapi sekarang rasanya sudah lebih baik. Menyadari bahwa aku sudah tak sendirian lagi membuatku mengharapkan kembalinya kebahagiaan." ucapnya tersenyum.
Mata Alfin melebar sesaat lalu mengangguk.
"Tapi belum sepenuhnya." ujar Alfin membuat Kenanga tak jadi melengkungkan senyumannya.
"Sakitnya masih ada dan aku tak yakin bahea kamu akan menjadi one and only untukku."
Kenanga terdiam. Entah kenapa ada bagian dari hatinya yang berdenyut sakit mendengar ucapan Alfin. Kenanga juga tidak mengerti kenapa Alfin mengatakan hal seperti itu.
"Maaf Kenanga, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Suasana ini membuatku mengenang masa lalu." ucap Alfin merasa bersalah.
Kenanga menggeleng, "Kau ingin pernikahan ini bertahan dalam waktu lama?" tanya Kenanga.
Aku tidak tahu.
Alfin terdiam. Dia lantas mengangguk.
"Maka coba lupakan Syafira dan mulai cintai aku." tandas Kenanga menatap dalam-dalam pada manik Alfin.
Alfin terperanjat mendengarnya. Dia membeku.
"Mencintaimu?" lirihnya.
Kenanga mengangguk, "Tidak ada one and only dalam kisah romansa. Selalu ada cinta lain untuk menggantikan cinta yang terluka. Jadi jangan menyiksa dirimu dan mulailah mencari cinta yang lain. Cinta yang akan menbuatmu merasa bahwa tinggal di bumi adalah hal yang patut disyukuri." papar Kenanga.
Mencintai Kenanga? Apa aku bisa?
***
Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi. Silakan hubungi beberapa saat lagi.
Ting tong
Siska menekan bel apartement Satya berulang-ulang sambil menelfonnya. Karena mereka tinggal berdekatan, jadi Siska tidak perlu jauh-jauh menemuinya. Tapi sayangnya, pintu tak kunjung terbuka. Satya juga tak menjawab telfonnya.
Siska terus menelfonnya hingga saat di panggilan kesembilannya, pintu terbuka. Siska langsung mematikan ponselnya begitu melihat Satya ada dihadapannya.
"Kau sudah tidak mencintaiku lagi?" sambar Siska.
Satya langsung menggeleng tegas, "Aku cinta kamu."
"Lalu kenapa kau tidak menerima telfonku? Pesan juga tidak dibalas, beberapa hari ini kamu seakan menghilang ditelan bumi." omel Siska mengeluarkan unek-uneknya.
Satya melirik apartement Alfin lalu menarik tangan Siska, "Kita bicarakan di dalam ya. Tidak enak didengar Alfin dan Kenanga."
Siska menoleh ke pintu apartement Alfin, dia baru sadar.
"Yasudah." angguk Siska.
Siska akhirnya masuk ke rumah Satya. Rumah lelaki itu lebih berantakan daripada biasanya. Dan itu membuat Siska berdecak jijik. Semenjak tinggal serumah dengan Kenanga yang sangat mencintai kebersihan, Siska juga berubah lebih perfeksionis.
__ADS_1
"Kau tidak membersihkan rumahmu sendiri?!" pekik Siska.
Satya menggaruk kepala belakangnya, "Aku sangat sibuk hingga lupa."
"Kau sibuk apa sih? Aku jadi ingin menjadi kesibukanmu agar terus bersamamu 24 jam!" gerutu Siska.
Siska lalu menatap tumpukan kertas di atas meja Satya.
"Ini apa?" tanya Siska mengambil salah satu kertas, dia hendak membacanya.
sret
Kertas itu langsung merebut kertas misterius itu dari tangan Siska. Siska bahkan belum sempat membaca judulnya.
"Apa itu? Kenapa kamu tampak tidak boleh aku menyentuhnya?"
Satya nampak gelagapan namun langsung tenang kembali.
"Ini materi untuk simposium." jawab Satya.
Siska nampak curiga dan tak langsung percaya, "Benarkah?"
Satya langsung mengangguk, "Tentu saja. Alasan aku begitu sibuk belakangan ini adalah karena aku sibuk menyiapkan materi seminar simposium."
Siska akhirnya mengangguk percaya dan tak memilih memperpanjang topik itu.
"Jadi ada apa kamu kesini? Merindukanku?" tanya Satya percaya diri.
"Memang! Aku merindukanmu." balas Siska tak malu. "Tapi ada hal lain yang mau kukatakan kepadamu."
"Apa itu?" tanya Satya.
"Besok, ikutlah berlibur dengan Tim Rajawali. Ada Alfin juga kok."
Satya nampak keberatan, dia baru saja hendak menggeleng ketika Siska menyelanya.
"Tidak ada protes dan penolakan. Besok jemput aku jam delapan, oke?"
Mau tak mau Satya akhirnya mengangguk mengiyakan.
***
Jalan-jalan itu berlangsung hari ini. Untungnya cuaca sangat cerah. Rombongan Tim Rajawali sudah sampai di Lembang, Bandung. Tak hanya anggota Tim Rajawali saja, melainkan juga istri dan anak-anak Riko serta Angga. Alfin, Satya dan Siska.
Sejak menaruh barang di resort yang telah dipesan, mereka langsung berpisah-pisah. Ada yang menikmati family time di gajebo resort, ada yang sedang minum teh sambil duduk-duduk, bahkan ada yang sedang berbelanja stoberi manis di kebun buah.
"Rasanya menyenangkan bisa berada di kaki gunung seperti ini. Awalnya kufikir akan sangat membosankan tapi ternyata hanya perasaanku saja." ujar Siska.
Siska dan Kenanga sedang duduk-duduk di depan kolam renang besar vila yang disewa mereka.
"Kalau difikir-fikir, kalian belum melakukam resepsi." celetuk Siska.
Kenanga terdiam sesaat lalu menarik nafasnya dengan udara sejuk.
"Kapan kalian akan melakukannya?" tanya Siska lagi.
"Apa?" tanya Kenanga acuh.
"Mempublikasikan hubungan kalian dan membuat resepsi."
"Kau tidak perlu mengurusi hubunganku." sanggah kenanga.
"Aku juga ingin tapi kisah cintaku saja tidak berjalan mulus dan aku sangat iri dengan kisah kalian."
"Kenapa? Kau bertengkar dengan Satya lagi?" tebak Kenanga.
Siska menggeleng, "Karena sudah lama tidak bertemu terlebih lagi aku merindukannya dan tak mungkin bertengkar."
"Kalian nampaknya berada dalam suasana jenuh." tandas Kenanga.
"Jenuh? Tidak mungkin." sangkal Siska.
Drrt
Ponselnya bergetar, Kenanga langsung megecek notifikasi yang muncul. Tapi kali ini Kenanga terdiam membeku.
Notifikasi itu bukanlah pemberitahuan biasa.
"Aku ke kamar duluan."
Kenanga langsung pergi meninggalkan Siska. Perempuan itu berjalan cepat menuju kamarnya. Begitu sampai, dia langsung menyambar laptopnya.
Kenanga membuka darknet miliknya dan sebuah pesan muncul.
Datanglah ke Jalan Margaretha No.34, Jakarta Timur. Kesanalah sendiri karena kau yang membeli obatnya. Malam ini begitu siang dan malam bertemu.
Setelah Kenanga membaca pesan itu, pesan itu langsung menghilang.
Kenanga terdiam.
***
Dan rupanya tak hanya Kenanga yang menerima pesan itu melainkan ada 2 orang lain lagi.
Datanglah ke Jalan Margaretha No.34, Jakarta Timur. Kesanalah sendiri karena kau yang membeli obatnya. Waktunya begitu siang dan malam bertemu.
Bagas yang mendapat pesan itu untungnya dia tengah berada di kamarnya. Bagas terdiam sesaat lalu meraih ponselnya.
Telfonnya tersambung, "Halo?"
***
Datanglah ke Jalan Margaretha No.34, Jakarta Timur. Kesanalah sendiri karena kau yang membeli obatnya. Waktunya begitu siang dan malam bertemu.
Satya terdiam menatap tulisan kecil di layar hitam itu. Ekspresinya tak bisa ditebak.
Drt
__ADS_1
Ponselnya bergetar. Satya langsung menerimanya.
"Halo?" ucapnya.