The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 32. Kini Ada yang Menunggu Pulang


__ADS_3

Seusai akad, semua tamu langsung pulang. Keluarga Kenanga juga sudah pulang. Tak terkecuali Rafa, papa Kenanga itu juga harus mengejar penerbangan.


Meilani sudah memintanya untuk mengantar Rafa, tapi Kenanga menolak. Dia fikir urusannya hari ini dengan sang papa sudah selesai. Maka Rafa pun pergi dengan kekecewaan di hatinya.


Kenanga dan Alfin rencananya ingin langsung pulang. Tapi Alena menyuruhnya untuk berkumpul dahulu. Jadilah Kenanga ikut makan siang dengan keluarga barunya itu.


Seusai makan siang, Kenanga memilih menyendiri di taman belakang rumah Alfin. Alena menyuruhnya untuk beristirahat.


"Sedang memikirkan apa?" celetuk Kansha yang datang dari belakang Kenanga.


Kenanga menoleh ketika Kansha berdiri disampingnya. Dia lalu meluruskan pandangannya lagi.


"Alfin kemana?" tanya Kansha lagi.


"Dengan kakaknya." jawab Kenanga.


"Ah benar, Alan menyeretnya ke kamar. Sepertinya dia hendak diceramahi atau diberi tutor soal pernikahan." timpal Kansha.


"Berapa usia kandunganmu?" tanya Kenanga tiba-tiba.


Kansha nampak terkejut sesaat lalu tersenyum lebar, "Ini adalah kali pertama kamu berinisiatif bertanya." serunya senang. Kenanga hanya diam. Dia tak mengerti kenapa Kansha bisa sesenang itu.


"Omong-omong usianya baru dua bulan. Masih kecil." lanjut Kansha.


Kenanga hanya mengangguk.


"Oh ya Kenanga, aku sudah mendengar apa yang terjadi padamu dan papamu." ujar Kansha.


Kenanga menoleh, "Apa maksudmu?"


"Maksudku soal pertengkaranmu dengan papamu. Aku mendengarnya dari Alan. Sejak dia menikah, dia jadi sangat cerewet dan selalu bergosip setiap saat." jelas Kansha buru-buru. Kenanga justru berfikir bahwa Kansha jauh lebih cerewet.


"Oh." balas Kenanga acuh.


"Aku tidak tahu apakah kamu sudah mendengar cerita ini dari Alfin atau tidak. Tapi kita memiliki konsep permasalahan yang sama." ucap Kansha.


"Orangtuamu yang membencimu sedangkan aku sebaliknya." tukas Kenanga.


Kansha agak tersentak tapi dia kembali biasa saja. "Yah, memang benar. Tapi pada dasarnya itu sama. Pertengkaran dengan orang tua yang penyebabnya berawal dari kehilangan orang tersayang kita.


"Kalau aku bisa sedikit cerita. Kau tahu siapa orang tuaku?"


Kenanga mengangguk, "Williams."


"Benar. Kau tahu aku bukan anak kandung mereka kan?"


Kenanga kembali mengangguk.


"Yah itu sudah jadi konsumsi publik. Di profilku bahkan ada keterangan seperti itu.Tapi yang terpentingnya adalah aku pernah mengalami konflik parah dengan mereka. Aku dituduh membunuh putri mereka yang tak lain adalah kakakku saat kecil. Sejak itulah, aku dibenci bahkan diusir dari rumah. Tapi keajaiban serasa datang di saat waktu tersulit, pesawat yang kutumpangi tiba-tiba jatuh. Semua penumpang meninggal kecuali aku dan Alan. Rasanya tidak menyangka hidupku akan setragis itu. Lalu tiba-tiba hidupku malah mulai membaik. Williams meminta maaf padaku atas kesalahpahaman yang terjadi dan akhirnya kami kembali menjadi keluarga utuh." tutur Kansha.


Kenanga masih terdiam. Kansha pun meneruskan ucapannya.


"Yang ingin kukatakan adalah kamu boleh dibenci atau membenci siapapun tapi jangan pernah kedua orang tuamu. Di matamu, mungkin papamu adalah lelaki brengsek yang ingin sekali kamu enyahkan dari hidupmu. Tapi kalau kamu bisa lebih positif lagi, apapun masalahnya dan sebesar apapun kesalahannya, dia tetap orang tuamu.


"Aku hanya tidak ingin kamu menyesal. Segala hal yang berawal dari keburukan maka akan mendapat hasil tragis. Jadi selagi kalian bisa saling bertemu, cobalah untuk duduk dan bicara."


Kenanga terdiam. Matanya tetap menatap lurus pada jernih air kolam. Sedangkan Kansha tetap menatap Kenanga dari samping.


"Kau tahu." Kenanga mulai berbicara, "Tidak semua manusia sama. Kau bilang kita sama. Sama-sama pernah kesepian, pernah sedih dan pernah marah. Tapi kau salah.


Lalu Kenanga menatap Kansha, "Meski ada masalah yang lebih berat menantiku karena kelakuanku, kebencianku padanya akan tetap ada. Dan aku tidak akan pernah menyesal sama sekali." tandas Kenanga.


Kenanga lalu berbalik hendak pergi.


Kansha membalikkan badannya, "Selamat atas pernikahan kalian. Aku harap Alfin bisa membawa perubahan untukmu." serunya.


Kenanga terdiam mendengar itu. Tapi akhirnya kembali berjalan pergi.


Kansha hanya bisa tersenyum kecil.


"Kau sama sepertiku, Kenanga." ucapnya menatap punggung Kenanga yang makin menjauh.


***


Kenanga sampai di ruang tamu. Alfin, Alena dan Alan sudah menunggunya.


"Eh, dimana istriku?" tanya Alan celingak-celinguk.


"Disini." celetuk Kansha dari belakang. Dia berjalan mendekati Alan.


"Bun, kami pulang dulu." pamit Alfin.


"Hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa kabari ya." ucap Alena.


Alena lalu menatap Kenanga, dia mengambil tangan Kenanga dan mengenggamnya lembut.


"Bunda belum bilang. Selamat datang di keluarga kami. Semoga kamu bisa nyaman disini." ucapnya.


Kenanga lagi-lagi merasa terenyuh oleh Alena.


"Terima kasih bunda." ucap Kenanga.


Alena tersenyum. "Bilang sama bunda kalau Alfin nakal. Dia anak yang tidak patuh. Kamu jewer kupingnya saja, dia sensitif dibagian itu." ujarnya.


"Bunda..." decak Alfin.


Kenanga tersenyum tipis, "Baik bun."


Alena kemudian memeluk menantu barunya itu. Dan lagi-lagi, Kenanga merasa damai. Bunda seperti memiliki daya magis yang membuat semua orang disekitarnya nyaman.


Setelah cukup lama, Alena melepaskan pelukannnya.


"Yasudah, hati-hati ya. Alfin, hati-hati berkendaranya. Dan jangan membuat masalah untuk Kenanga." peringat Alena.


"Iya bunda." sahut Alfin.


Alfin lalu mengambil kopernya, ini adalah sisa baju-baju miliknya yang belum diambil di rumah ini. Alfin hendak membawa semua baju-bajunya dan hanya menyisakan dua hingga tiga setel saja disini.


"Kami pamit, bun, mas, mbak. Salam untuk ayah. Assalamu'alaikum." pamit Alfin diikuti Kenanga.


"Waalaikum salam." ucap mereka serentak.


***


Setelah berkendara selama satu jam yang diisi dengan keheningan, mobil yang dikemudikan Alfin sampai di gedung apartement.


Rencana mereka berdua adalah mereka akan tinggal di apartement Alfin. Meski ini hanya perjodohan tapi mereka sudah sah dan haruslah tinggal satu atap. Jadilah Alfin memutuskan untuk tinggal di rumahnya saja karena apartement yang ditempati Kenanga ada Siska. Dan Siska akan tinggal disana sendirian.


Mereka masuk ke apartement Alfin. Ini adalah kali pertama Kenanga masuk kesini. Dia sebelumnya hanya pernah melihat di depan pintu.


Apartement Alfin semuanya diisi barang-barang mewah. Interiornya sangat elegan.


"Ini ruang tamu. Tidak ada sekat dengan dapur. Bunda bilang saya harusnya pakai sekat tapi karena saya jarang memasak jadi saya kira tidak perlu." jelas Alfin.



Kenanga mengedarkan ke sekelilingnya. Dia lalu tertegun pada sebuah tempat yang dulu pernah dia lihat ada bingkai foto disana. Tapi kini didepan dinding sempit itu, hanya ada sebuah guci.


Kemana bingkai foto itu? gumam Kenanga.


Alfin lalu membawa Kenanga ke dapur.



"Saya jarang memasak makanya ini terlihat bersih. Pipa yang bocor itu asalnya dari wastafel." ucap Alfin.


Alfin lalu membuka kulkas. Dia mengambil sebotol air dan menyerahkannya pada Kenanga.


"Terima kasih." ucap Kenanga menerima botol minum itu lalu menengguknya sedikit.


"Kalau gitu kita lanjut lihat kamarmu." ucap Alfin. Kenanga mengangguk.


Alfin membawa Kenanga ke sebuah kamar dengan pintu jati berwarna putih. Dan begitu dibuka, sebuah kamar mewah terpampang dihadapan mereka.



"Saya dengar kamu lebih suka warna netral seperti hitam dan coklat. Awalnya saya ingin mendekorasinya sedikit lebih feminim, tapi Siska bilang...."


Kenanga masih diam memerhatikan kamar barunya. Dia masuk ke kamar diikuti Alfin yang menatapnya khawatir.


"Apa kakak tidak suka?" tanya Alfin hati-hati.

__ADS_1


"Suka." tandas Kenanga singkat.


"Ah, syukurlah." desahnya lega.


Kenanga lalu menoleh pada Alfin, "Kita tidak akan sekamar?" tanyanya.


Alfin terkesiap lalu langsung menjawab, "Untuk hal ini, saya fikir kita perlu mempunyai kamar masing-masing dulu."


"Kenapa?"


Alfin jadi gugup ditatap seperti itu, "Saya memikirkan soal perkataan kakak kalau kita harus saling mengenal. Dan sebagai teman, saya fikir ini pengaturan yang bijak." jawabnya dengan nada hati-hati.


"Lalu bagaimana kalau orangtuamu atau siapapun tahu kita tidak sekamar?"


"Soal itu..." Alfin menggaruk kepalanya, "Saya belum memikirkannya sejauh itu." akunya.


"Tidak masalah. Saya akan mengunci kamar ini tiap keluar agar orang tuamu khususnya tidak bisa masuk." ucap Kenanga.


Alfin seketika mengangguk setuju, "Terima kasih kak." ucapnya lega.


"Saya rasa sudah cukup turnya. Saya ingin beristirahat boleh?"


Alfin mengangguk, "Istirahatlah. Nanti untuk hal-hal lainnya kita bicarakan lain kali."


Kenanga mengangguk setuju. Maka Alfin pun keluar dari kamar Kenanga setelah menutup pintunya.


Sepeninggal Alfin, Kenanga mendudukan diri di ranjang barunya. Dia mengusap seprai lembut itu. Fikiran wanita itu dipenuhi berbagai pemikiran.


Dan yang paling dia pedulikan saat kini adalah bagaimana hari-harinya kedepannya? Statusnya sudah berubah, akankah dia juga akan berubah? Apa yang harus dia lakukan? Bisakah dia hidup bersama dengan Alfin ketika tidak ada cinta diantara mereka?


Kenanga mendesah kasar. Sekeras apapun dia mencari jawaban atas semua pertanyaan itu, nyatanya dia tidak pernah berhasil menjawab satupun.


***


Kenanga ternyata tertidur sepanjang sore. Dia baru terbangun kala mendengar suara ketukan pintu.


Tok tok


"Kak Anggi?"panggil Alfin dari luar.


Kenanga turun dari ranjangnya dan menghampiri pintu. Dia membukanya.


"Oh ya kakak lapar? Saya akan masak makan malam." ucap Alfin.


"Jam berapa ini?" tanya Kenanga masih setengah mengantuk.


Alfin melirik arlojinya, "Sekarang pukul enam sore. Kakak pasti baru bangun kan?" tebak Alfin tepat sasaran.


Kenanga mengangguk.


"Kalau gitu, kakak shalat saja dan sambil itu saya akan memasak. Ada makanan yang kakak sukai dan tidak sukai? Ataukah kakak memiliki alergi terhadap makanan tertentu?"


Kenanga mengibas-ngibaskan tangannya sambil menguap pelan, "Tidak." jawabnya.


"Kalau begitu saya akan memasak sekarang. Nanti saya panggil kalau sudah selesai."


Alfin akhirnya pergi sedangkan Kenanga kembali ke kamarnya. Dia harus buru-buru shalat sebelum waktunya habis.


***


Setengah jam kemudian, Kenanga yang sudah kelaparan memutuskan menghampiri Alfin yang berada di dapur.


"Aaaa!" pekik Alfin.


Kenanga yang baru saja keluar kamar seketika berlari. Dia menghampiri Alfin dengan terburu-buru tapi tertegun kala mendapati Alfin naik ke atas pantry.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Kenanga.


"Ada kecoa." jawab Alfin ketakutan.


Kenanga melirik kecoa yang dimaksud Alfin. Lalu menatap aneh pada Alfin.


"Kau takut pada kecoa?" tanyanya tidak percaya.


Alfin seketika mengangguk.


"Kamu adalah laki-laki dan sudah dewasa. Bagaimana bisa kamu takut dengan kecoa?" tanya Kenanga tak habis fikir.


Kenanga menarik nafas pelan, berusaha menahan tawa.


"Turun." titahnya.


Alfin menggeleng keras.


"Turun, Fin. Kamu bisa jatuh." ujar Kenanga tegas.


Alfin masih tetap menggeleng.


Kenanga mendesah pelan. Dia mengambil selembar tisu lalu mengambil kecoa itu dengan tisu.


"Sudah, turun sekarang."


"Bu-buang dulu." ujar Alfin menunjuk-nunjuk kecoa itu.


Kenanga mengangguk, dia membuang tisu itu ke tempat sampah.


"Sudah. Bisakah kau turun sekarang?" tanya Kenanga malas.


Alfin mengangguk pelan. Dia akhirnya turun dari atas pantry.


Kenanga melipat kedua tangannya di atas dada, "Tidak menyangka, dokter yang katanya keren ini takut dengan kecoa." ejek Kenanga.


Alfin berdeham malu, "Sa-saya punya alasannya." Kenanga mengangkat satu alisnya.


"Waktu kecil, saya pernah bertengkar dengan Mas Alan. Dan dia sungguh kakak yang keterlaluan. Hanya karena saya mematahkan mainannya, dia mengurungku di gudang yang penuh kecoa." jelas Alfin. Kalau difikir-fikir, dia kembali kesal karena kejadian itu.


"Bukankah kau pernah jadi relawan beberapa kali? Lalu bagaimana kau bisa tahan padahal kau takut kecoa."


"Menjadi relawan tidak ada hubungannya dengan kecoa. Lagipula saya selalu siap obat pembasmi kecoa." tandas Alfin diakhiri senyum lebar.


Kenanga hanya mendesah pelan, "Kau sudah selesai?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Alfin mengangguk lalu menggeleng. Kenanga mengernyit bingung.


"Supnya sudah jadi tapi belum saya bumbui. Terus saya juga harus menggoreng ikannya. Kalau saja tidak ada insiden kecoa itu, pasti sudah beres dari tadi." gerutunya.


"Siapa suruh begitu takut dengan kecoa." sahut Kenanga. Dia menatap wajan yang sudah berisi minyak goreng. "Saya bantu. Kamu bumbui saja supnya." ujar Kenanga sembari menggulung lengan bajunya.


"Kakak serius?" tanya Alfin.


Kenanga mengangguk.


"Kakak pernah memasak?" tanya Alfin sangsi. Pasalnya wajah Kenanga seakan tak menunjukkan bahwa si empunya pernah memasak. Belum lagi soal insiden banjir tepung itu.


"Tidak." jawab Kenanga jujur. "Tapi saya bisa mempelajarinya dengan cepat. Beritahukan saja harus bagaimana." lanjutnya datar.


"Sudah tidak usah kak. Menggoreng ikan harus penuh kehati-hatian. Takutnya kakak terciprat minyak." tukas Alfin.


"Kamu meragukan saya?" tanya Kenanga dengan mata menyipit.


Alfin terdiam sesaat lalu mengangguk. Dia lebih memilih jujur.


Kenanga mendatarkan wajahnya. "Saya akan mencobanya." tekan Kenanga menatap tajam Alfin.


Kemudian Kenanga langsung menyalakan kompor. Setelah memastikan minyaknya panas, dia langsung memasukkan ikan ke atas wajan.


Suara minyak yang digoreng dengan ikan terdengar keras. Kenanga nampak kewalahan saat itu juga.


"Aw." ringisnya kala tangannya terciprat minyak.


Alfin yang tadinya diam saja langsung bergegas mematikan kompor. Dia membawa Kenanga ke depan wastafel.


"Kan sudah saya bilang, tidak usah. Lihat, kakak sungguh terciprat minyak." omel Alfin.


Lelaki itu tanpa kata mengambil salep dari salah satu laci. Alfin dengan telaten mengobati punggung tangan Kenanga yang terluka.


"Jangan sampai kena air." ucapnya lalu menaruh salep itu kembali ke tempatnya.


Kenanga sedari tadi memerhatikan Alfin dan bagaimana tangkasnya lelaki itu kala menangani lukanya.


"Terima kasih." ucap Kenanga.

__ADS_1


Alfin menganggukan kepala.


"Kakak tunggu saja di kamar. Biar saya saja yang memasak. Nanti saya panggil kalau sudah siap."


Kenanga terlihat hendak protes tapi Alfin langsung menghentikannya. "Jangan membantah." tegasnya.


Kenanga mencebik kesal. Perempuan itu tanpa kata langsung pergi. Alfin mendesah leg. Dia kembali ke depan kompor dan melanjutkan memasak.


***


Keesokan paginya, Alfin berdiri tegap di depan dapur. Pakaiannya tak biasa. Dia menggunakan jumpsuit hitam dengan dalaman kaus putih dan juga memakai masker.


sret


Alfin tiba-tiba menyemprot sebuah obat ke sekeliling dapur. Asap putih seketika menyebar. Itu adalah obat pembasmi serangga.


Setelah dapur, Alfin juga menyemprotkannya ke seluruh ruang tamu bahkan toilet.


Setelah beres, Alfin masuk ke kamarnya untuk melakukan hal serupa.


Di sisi lain, Kenanga baru saja bangun tidur. Dia terbatuk-batuk karena menghirup bau menyengat yang entah darimana asalnya.


Kenanga keluar kamar sambil menutup hidungnya. Dia penasaran darimana asal bau ini.


Namun begitu keluar kamar, Kenanga terbatuk-batuk lebih kencang.


"Alfin! Alfin!"panggilnya.


Alfin keluar dari kamarnya dengan tampilan sama seperti tadi. Matanya terbelalak kala menyadari Kenanga tak memakai apa-apa untuk menutupi hidungnya. Alfin lekas mengambil masker dari kamar dan memakaikannya pada Kenanga.


"Apa-apaan ini?!" seru Kenanga.


"Tutupi hidungmu. Baunya agak menyengat." jawab Alfin.


"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?" tanya Kenanga kesal.


"Ini obat pembasmi serangga. Kejadian kemarin menyadarkan saya kalau dirumah ini masih ada kecoa. Jadi saya menyemprotkan obat ke seluruh rumah untuk membasminya."


Kenanga kehilangan kata-kata.


"Tapi tidak berlebihan seperti ini. Kau tahu, saya hampir mati keracunan karena obat itu!"


"Maaf kak. Tapi saya sungguh membenci kecoa. Saya tidak bisa tidur dengan tenang kalau memikirkan kecoa masih berkembang biak di rumah ini. Tolong mengertilah." pinta Alfin memelas.


Kenanga berdecak pelan, "Kapan bau ini akan hilang?" tanya Kenanga.


"Di keterangan tunggu sepuluh menit." jawab Alfin.


Drrt


Kenanga tak membalas perkataan Alfin. Dia memilih menerima telfon.


"Halo."


"....."


Mata Kenanga membulat seketika.


"Baik, saya segera kesana." ucapnya lalu menutup telfon.


"Apa ada sesuatu?" tanya Alfin.


"Saya ke markas dulu." pamit Kenanga langsung keluar rumah.


"Kak, setidaknya pakai---" Alfin menghentikan ucapannya kala pintu sudah ditutup oleh Kenanga.


***


"Jadi kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Dan selama sepuluh menit itu, manfaatkan waktu untuk menyiapkan pakaian dan berpamitan pada keluarga." jelas Bagas.


Angga, Panji, Dani, Kenanga dan Riko mengangguk.


"Silakan bubar." tutup Bagas.


"Letnan, ayo sarapan bersama." ajak Panji menghampiri tempat duduk Kenanga.


"Tidak bisa, letnan harus pulang." sela Angga.


"Kenapa?" tanya Panji.


"Tentu saja untuk berpamitan." balas Angga lagi.


"Kepada siapa? Bukankah Danjen dan istri masih berlibur?" tanya Dani.


Kenanga menatap penuh peringatan pada Angga. Angga meringis kecil.


"Saya hendak membawa beberapa pakaian." jawab Kenanga.


Angga langsung mengangguk.


"Ya sudah. Kalau begitu saya pergi dulu. Yuk Dani." ajak Panji. Lalu mereka berdua pergi.


"Kami pergi dulu." Bagas dan Riko juga pamit pergi.


"Letnan, cepat pulang dan berpamitan." ucap Angga sepeninggal yang lainnya.


"Untuk apa?" tanya Kenanga acuh.


"Kamu tidak seperti dulu lagi. Sekarang sudah ada orang yang menanti kabar dan kepulanganmu. Jangan biarkan dia bertanya-tanya sendiri." jelas Angga.


"Terlebih lagi, kita juga tidak tahu kapan akan pulang. Bagaimana kalau saat pulang nanti kita malah sudah tiada? Maka orang itu akan merasa berkali lipat lebih sedih." lanjutnya.


Kenanga terdiam mendengar penjelasan panjang Angga.


"Saya pulang." pamit Kenanga tiba-tiba.


"Eh Letnan, saya belum selesai." cegah Angga.


Kenanga mendesah pelan, "Apa lagi?"


"Tolong dengarkan kata-kata saya. Dan kemana kamu akan pulang?"


"Menurutmu?" balas Kenanga.


***


Alfin sedang asik membaca buku. Tampilannya sudah berganti dengan celana longgar dan sweeter.


"Alfin." panggil Kenanga kala dia sudah berdiri di hadapan Alfin.


Alfin menutup bukunya, "Sudah selesai?"


"Ada yang ingin kukatakan padamu." ujar Kenanga.


"Serius sekali. Ada apa?"


"Saya akan pergi bertugas."


"Apa?" Alfin terkejut.


"Entah saya akan pulang kapan tapi saya harus berpamitan padamu. Kau tidak akan keberatan, kan?"


"Kenapa saya harus keberatan? Ini adalah tugas dan kewajiban kakak. Tapi kenapa sangat mendadak?"


"Saya tidak bisa memberitahumu hal itu. Intinya, maukah kamu menungguku pulang?" tanya Kenanga.


Alfin terdiam mendengar pertanyaan itu.


"Selama ini saya tidak memiliki siapapun untuk dikabari. Berita kepergiaan saya dan kepulangan saya hanya diketahui oleh rekan-rekan saya. Tapi kini berbeda. Saya sudah punya kamu yang harus saya beri tahu." jelas Kenanga.


Kenanga meneruskan kala tak terdengar jawaban apapun dari Alfin. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa sebenarnya. "Dan ini adalah gambaran nyata dari pekerjaan kami. Saya tahu ini hari libur kita tapi urusan negara adalah hal paling mendesak. Saya hanya ingin kamu--"


"Saya akan menunggu." potong Alfin.


Kenanga tersentak, "Apa?" sahutnya tak percaya.


"Saya akan menunggu kakak pulang." ulang Alfin. Kenanga masih membeku.


"Jadi pergilah, kak. Saya akan mendoakan keselamatanmu." lanjut Alfin dengan sebuah senyuman.


Kenanga terkejut bahwa Alfin akan mengatakan iya atas Pertanyaannya. Dia juga cukup tak percaya bahwa akan ada seseorang yang menunggunya pulang.

__ADS_1


__ADS_2