The LOVE Of Guardian

The LOVE Of Guardian
Bab 56. Prince's Tears


__ADS_3

Satya terjebak. Dia tidak tahu bahwa tepat dibelakangnya ada mobil lain yang mengikutinya. Tak hanya itu, satu mobil lain juga ada di hadapannya. Dia bagai dikepung. Sirine mobil polisi terdengar lebih kencang pertanda mereka hampir mendekat.


Satya menghentikan mobilnya.


Melihat Satya yang sudah berhenti, Tim Rajawali keluar dari mobil dengan Siska. Siska ingin mendekati Satya tapi Angga menariknya ke mobil lagi.


"Jangan keluar sebelum ada yang mengizinkanmu." peringat Angga. Setelah mengatakan itu dia menutup pintu mobil.


Di sisi lain, Bagas dan anggotanya sudah siap dengan todongan senjata ke arah Satya. Mereka ingin memaksa lelaki itu menyerah.


"KELUAR SATYA. MENYERAHLAH!" Teriak Bagas.


Satya berdecih sinis mendengarnya.


"Dia fikir aku siapa? Dasar sampah rendahan." hina Satya.


Satya tak menggubris seruan Bagas. Lelaki itu bahkan tak peduli meski senjata ditodongkan padanya dari segala arah. Satya malah menekan gas mobil dengan kuat. Mobil melaju cepat.


Bagas dan Riko yang berdiri tepat di depan mobil seketika menyingkir. Tapi jarak mereka terlalu dekat dengan mobil Satya. Alhasil Bagas dan Riko berlari menjauh.


Bagas dan Riko dikejar-kejar oleh Satya yang memacu mobil dengan ekspresi kegilaan.


"Hahaha, mau kemana kalian?" tanyanya dengan nada menakutkan.


Riko tiba-tiba tersandung batu hingga tersungkur. Melihat Riko yang terjatuh, Bagas langsung berhenti berlari dan mencoba membantunya. Namun ternyata mobil Satya saat itu hendak mendekati mereka. Bagas dan Riko sudah tidak bisa lari kemana-mana dan hanya bisa memejamkan matanya dan pasrah ketika menyadari bahwa mereka sebentar lagi akan ditabrak. Semua anggota yang lainnya hanya bisa membeku karena syok.


Namun sedetik sebelum nyawa mereka melayang tiba-tiba mobil yang dikemudikan Siska datang dari arah belakang mobil Satya dan menabrak bagian belakang mobil tersebut hingga ringsek. Satya tersentak ketika tubrukan keras itu terasa. Belum juga sempat menghindar, Siska sudah memutar kemudinya dan menabrak samping mobil Satya berkali-kali.


Tim Rajawali terkejut, mereka tak menyangka bahwa Siska akan melakukan tindakan seperti itu.


"Dokter Siska, hentikan!" seru Bagas.


Tapi Siska tak bergeming. Dengan wajah datar dan bersimbah air mata, Siska memojokkan mobil Satya. Mendorong mobilnya menyingkir dari Bagas dan Riko.


Satya sudah tak berdaya dengan benturan beberapa kali itu. Sisi pelipisnya berdarah karena terantuk sana sini. Kepalanya juga pusing dan mobilnya jelas ringsek sana sini. Siska tak membiarkan Satya berlindung lebih dulu.


"Dokter Siska apa yang kau lakukan? Kau hampir membunuhnya!" seru Bagas.


Siska keluar dari mobil setelah menyambar pistol cadangan yang ada di dashboard.


"Dokter Siska, kenapa kau membawa pistol?" tanya Riko kaget.


Siska tak menjawab. Wajahnya mengeras dengan mulutnya terkatup rapat. Dia menghampiri Satya yang masih di dalam mobil.


Satya menoleh ketika pintu mobil dibuka. Dia melihat Siska yang juga menatapnya tanpa raut.


Raut Satya seketika berubah marah.


"Siska, kau gila?! Kau hampir membunuh kekasihmu sendiri!" sentaknya.


Siska berdecih, "Kekasih? Kekasih yang mana? Kekasih yang sudah membohongiku selama ini? kekasih yang pura-pura mencintaiku?"


Satya langsung diam.


"Minggir kalau kau ingin selamat." ucap Satya.


Satya hendak menyalakan mobilnya tapi langsung berhenti ketika pelatuk pistol diarahkan padanya. Dia membeku dan langsung mengangkat tangannya.


Satya menoleh dengan terkejut, "Apa yang kau lakukan?"


"Harusnya aku yang harus bertanya seperti itu. Satya, kalau kau benar-benar pemimpin Miracle maka aku bersumpah akan menembak kepalamu sebelum kau diputuskan dieksekusi mati." ucap Siska dingin.


"Si-siska, itu tidak benar." timpal Satya gelagapan.


"Maka lakukan yang terbaik di pengadilan nanti. Dan untuk sementara kau harus dijebloskan dahulu ke penjara."


Brak


Usai mengatakan itu, Siska menutup pintu mobil dengan keras. Dia melempar pistol ke sembarang arah dengan dibelakangnya, para anggota rajawali menangkap Satya dan memborgol tangannya untuk diserahkan ke pihak berwajib.


***


"Lapor, pemimpin tertinggi Miracle berhasil diamankan. Kini kami berada di markas militer."

__ADS_1


Tim Rajawali berkumpul di salah satu ruangan kosong yang ada di markas tentara di Bandung. Panji datang membawa tiga botol air minum lalu melemparkannya sebotol pada Bagas dan sebotol pada Dani.


"Kau sudah memeriksa keadaan Kenanga?" tanya Bagas pada Angga yang sibuk sedari tadi dengan telfonnya.


Angga mengalihkan tatapannya dari ponsel genggamnya lalu mengangguk.


"Letnan masih ada di rumah sakit. Tapi kini akan dipindahkan ke Jakarta."


Bagas yang baru saja selesai minum, mengeratkan genggamannya pada botol air lalu menatap was-was Angga.


"Apa kondisinya tidak baik-baik saja?"


Bagas dan Tim Rajawali memang tidak sempat melihat kondisi Kenanga yang sudah dilarikan ke rumah sakit karena harus menyelesaikan penangkapan Satya.


Angga mengangguk.


"Letnan..." Angga menggantung ucapannya.


Tim Rajawali sontak menatapnya penuh rasa cemas dan takut-takut.


"Katakan." desak Bagas.


"Tidak ada hal yang parah darinya selain gegar otak ringan karena kepalanya terbentur sesuatu. Tapi yang jadi permasalahannya adalah.."


"Ck, Angga bisakah kau satukan ucapanmu saja? kenapa dipotong-potong." protes Riko.


Angga menggaruk kepalanya, "Saya tidak tahu harus mengatakannya bagaimana."


"Apakah Letnan mengalami luka lebih parah di bagian lain?" tanya Panji cemas.


"Bukan begitu." geleng Angga.


"Lalu apa? Katakan." decak Bagas.


Angga mendesah, "Letnan Kenanga keguguran."


Semua orang terkejut terlebih Bagas yang tanpa sadar melepaskan genggamannya pada botol plastik itu hingga terjatuh dan airnya menggenang lantai.


***


Alfin duduk dengan kepala menunduk di kursi tunggu. Tangannya gemetar dan berlumuran darah Kananga. Alfin tidak tahu apa yang dia rasakan tapi begitu melihat banyaknya darah menggenangi tubuh Kenanga, Alfin baru merasakan ketakutan yang amat.


Ceklek


Pintu terbuka. Alfin dengan tertatih-tatih langsung menghampiri dokter yang baru memeriksa Kenanga.


"Bagaimana dok?" tanya Alfin.


Dokter itu menghela nafas pelan. "Kondisi pasien mulai stabil. Pasien hanya mengalami gegar otak ringan dan pergelangan kakinya terkilir. Sejauh ini tidak ada luka serius hanya saja..."


Alfin mulai merasa perasaan tidak enak kembali ketika dokter menggantung ucapannya.


"Hanya apa dok?" tanya Alfin.


"Saya harus menyampaikan kabar duka pada keluarganya. Apakah keluarganya ada?"


"Saya suaminya." sambar Alfin langsung.


Dokter nampak terkejut namun berubah biasa kembali.


"Apa terjadi sesuatu dengan istri saya? Saya ingat dia berlumuran darah." ucap Alfin.


"Dengan berat hati saya sampaikan bahwa istri Anda keguguran."


Deg


Alfin mematung.


"Keguguran?"


Tunggu, apa maksudnya ini? Alfin merasa otaknya tak bekerja. Keguguran katanya?


Mata Alfin terbuka lebar. Tunggu kalau begitu...

__ADS_1


"Istri saya..."


Dokter itu nampak mengernyit bingung, "Anda tidak tahu bahwa istri Anda hamil?"


Alfin makin syok.


"Hamil? Saya tidak tahu." jawabnya pelan.


Dokter itu menjadi kasihan dan simpatik, "Istri Anda hamil baru dua minggu tapi karena benturan keras yang sepertinya berulang, calon anak kalian tidak selamat. Darah di tangan Anda adalah pendarahan hebat yang terjadi pada istri Anda."


Alfin makin mematung. Dia tidak menduga akan mendengar kabar semacam ini. Dan tidak siap sama sekali. Lelaki itu merasa langit runtuh diatas kepalanya. Otaknya macet memikirkan berita menyedihkan itu


Dokter itu menepuk pundak Alfin pelan, mengerti tentang betapa syoknya Alfin mendengar kabar ini.


"Pasien bisa dijenguk setelah dipindahkan ke ruang perawatan.Saya turut berduka cita. Kalau begitu saya permisi dulu pak. " pamit Dokter itu meninggalkan Alfin sendirian.


Setelah kepergian dokter, Alfin langsung jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Tangannya yang masih berbekas merah dari darah Kenanga. Darah calon anaknya yang harus pergi ke sisi Tuhan lebih dulu.


Alfin tak percaya. Dia memang belum mencintai Kenanga tapi tak menampik bahwa dia juga mengharapkan keturunan dari istrinya. Lelaki itu sedih dan makin sedih kala memikirkan bagaimana tanggapan Kenanga akan kabar ini. Dia saja sudah frustasi lalu bagaimana dengan Kenanga?


Dan memikirkan Kenanga akan sangat sedih dan terpukul, membuat Alfin menyalahkan dirinya sendiri. Sebagai suami dia lalai dan tidak bisa melindungi istrinya. Dan sebagai seorang ayah, dia juga tidak becus dan membiarkan anaknya pergi lebih dulu tanpa sempat diketahui oleh ayah ibunya.


Segala kesakitan dan keperihan itu, Alfin tuangkan menjadi air mata. Pada akhirnya lelaki kuat itu menangis. Menyesali kepergiaan sang anak yang bahkan belum sempat menatap dunia yang sudah disayanginya dan berharap bisa bahagia dengan ibu ayahnya.


Alfin menangis di atas lantai rumah sakit yang dingin. Meruntuhkan segala egonya dan ketidakpedulian dia pada keluarga kecilnya. Mungkin ini memang bukan kesalahan lelaki itu sepenuhnya tapi tetap saja dia adalah yang paling pantas disalahkan.


Dan dalam hati Alfin mengucap maaf sedalam-dalamnya pada sang anak. Meminta maaf karena tidak bisa menjaga dan melindunginya. Dan dia juga meminta maaf pada Kenanga. Pada semua hal tentang istrinya yang sudah dia sia-siakan. Andai Alfin lebih peka dan sadar. Andai dia lebih mau peduli pada perubahan Kenanga.


Maaf dan maaf. Satu kata yang akan menjadi pengucap penyesalan Alfin.


***


Bagas dan Tim Rajawali langsung menuju rumah sakit begitu mendengar kabar soal Kenanga. Dan begitu sampai di depan ruang UGD, langkah Bagas terhenti ketika melihat Alfin duduk di lantai dengan tatapan kosong. Tanpa kata Bagas langsung berlari menerjangnya.


Bug


Bagas menarik kerah Alfin lalu meninju mukanya. Alfin langsung jatuh kembali. Pipinya lebam.


"Kapten, apa yang kau lakukan?!" seru Riko berusaha meleraikan Bagas yang nampak emosi dan ingin memukul Alfin lagi.


Sedangkan Alfin menatap bingung pada Bagas. Kenapa lelaki itu tiba-tiba saja memukulnya.


"Kenapa kau memukulku, Kapten?" tanyanya tidak mengerti.


"Kau masih tidak tahu? Kenanga!" seru Bagas.


"Apa maksudmu?"


Bagas menarik kerah Alfin lagi memaksanya bangun.


"Kenanga keguguran. Bagaimana bisa dia keguguran saat dia belum menikah?"


"Dia sudah menikah, kapt." sela Angga.


Bagas menatap tajam Angga, "Dengan siapa?"


"Dengan saya." jawab Alfin.


Bagas langsung menatap Alfin kembali. Matanya membulat besar dan jelas dia syok.


"A-apa?" serunya tak percaya.


"Dia menikah dengan saya dan anak itu adalah anak saya." ulang Alfin dengan jelas dan tegas.


Bagas melepaskan genggamannya pada kerah Alfin. Rautnya bingung dan syok luar biasa.


"Kenapa kau bertanya dan nampak peduli, kapten?" tanya Alfin terengah-engah.


Bagas menghela nafas, matanya kembali menatap Alfin tapi kini dengan raut terluka dan kecewa.


"Dia adalah orang saya cintai. Saya mencintainya sudah selama 7 tahun." ungkap Bagas pelan.


Kini giliran Alfin yang terkejut.

__ADS_1


__ADS_2