
Amelia sedang berdiri menunggu Alfin yang sedang praktik. Tak berapa lama, Alfin keluar dari ruangan karena hendak makan siang. Amelia langsung menghampirinya.
"Alfin." panggilnya.
"Ada apa?" tanya Alfin menatap Amelia.
Amelia tersenyum, "Ayo makan siang bersama." ajaknya.
Alfin menolak halus, "Aku makan siang sendiri saja."
Usai mengatakan itu, Alfin hendak pergi. "Duluan, Mel."
"Tunggu, Fin." cegah Amelia menghentikan langkah Alfin.
Amelia langsung berjalan mendekatinya, "Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu jadi sekalian saja."
"Apa itu penting?" tanya Alfin.
Amelia mengangguk kuat-kuat, "Penting sekali."
Alfin terdiam menimbang-nimbang, dia juga tidak tega menolak tawaran Amelia ketika perempuan itu menatapnya dengan penuh harap. Akhirnya Alfin mengangguk.
"Yasudah. ayo." ajaknya.
Amelia tersenyum lebar, "Terima kasih, Fin."
Alfin mengangguk lalu mulai berjalan lebih dulu diikuti Amelia yang mengekornya tepat di belakang.
***
Kenanga, Panji dan Bagas tengah makan siang bersama di restoran dekat RSAM. Awalnya Kenanga enggan dan hendak pergi tapi juniornya bernama lengkap Panji Syaputra itu malah dengan kurang ajarnya menarik tangannya. Bagas yang kebetulan berpapasan di koridor, juga langsung diseret Panji.
Panji sepertinya telah berubah dari junior patuh yang slengean menjadi junior kurang ajar yang minta diajari tatakrama lagi.
Ting
Kenanga menaruh sendoknya dengan keras ke meja.
"Sebenarnya kenapa kita harus makan siang jauh-jauh kesini?" celetuk Kenanga.
Bagas menoleh pada Panji yang tiba-tiba berhenti makan. Ekspresinya nampak sendu.
"Ada apa?" tanya Bagas.
Panji mendesah, "Saya sengaja bawa kalian kesini jauh dari markas karena ada yang ingin saya curhatkan."
"Apa? Curhat?" tanya Kenanga sangsi.
"Tahu gitu, saya tidak akan ikut." timpal Bagas menyesal.
Panji mendesah, "Traktir sepuasnya sebagai jasanya."
Bagas dan Kenanga saling berpandangan lalu mengangguk kompak.
"Setuju."
"Giliran gratis, semangat." ujar Panji menyengir masam.
***
Amelia dan Alfin sudah berada di restoran yang sama dengan Kenanga dan kedua rekannya. Meja mereka pun bersebrangan tapi masih belum sama-sama sadar.
Alfin duduk membelakangi meja Kenanga jadi dia tidak tahu ada istri dan rekan-rekannya disana.
"Mau makan siang apa?" tanya Amelia ketika pelayan datang menghampiri meja mereka.
Alfin melihat-lihat menu, lalu berkata. "Sop buntut dan nasi panas saja."
Amelia mengangguk, "Nasi panas 2, sop buntut dan sate ayam masing-masing satu porsi." ucapnya pada pelayan.
Pelayan itu mengangguk, dia lalu mencatatnya pada kertas. "Minumannya?" tanyanya.
"Mau apa Fin?" tanya Amelia menoleh.
"Jus mangga dingin saja."
Amelia menoleh pada pelayan lagi, "Jus mangga 2."
"Itu saja?"
"Itu saja."
"Baik, tunggu sebentar." Pelayan itu pun pergi.
Sepeninggal pelayan, Amelia dan Alfin terdiam kembali. Sejak terungkapnya fakta bahwa Alfin telah menikah, Amelia merasa lebih canggung. Mungkin karena hatinya telah sakit lebih dulu.
Tapi bagai seorang masokis, Amelia ingin bertanya kejelasannya pada Alfin.
"Soal malam itu, perempuan yang naik motor itu adalah sungguh istrimu?" tanyanya dengan nada mencoba biasa saja.
Alfin langsung mengangguk. Dan Amelia merasa hatinya kembali sakit.
Dia membasahi bibirnya, "Sejak kapan kalian menikah?" tanyanya.
Alfin terdiam sesaat, mencoba menghitung berapa lama usia pernikahannya dengan Kenanga.
"Sekitar 3-4 bulan yang lalu." jawabnya.
"Ah, masih baru ternyata." komentar Amelia.
"Bagaimana bisa kamu menikah? Kufikir setelah kehilangan Syafira, kamu masih sendiri."
"Apakah aku salah karena menikah? Aku hanya ingin mencoba membuka lembaran baru. Hidupku harus terus berlanjut."
Tapi kenapa tidak denganku? batin Amelia kecewa.
"Darimana kalian saling mengenal? Kalian pacaran lebih dulu?"
Alfin menggeleng, "Di sebuah acara. Dan kami tidak berpacaran."
"Lalu bagaimana bisa kalian menikah?" tanya Amelia tidak mengerti.
Karena perjodohan balas Alfin dalam hati.
Tapi Alfin tidak mengatakan hal itu di mulutnya. Dia menjawab, "Kami menikah karena merasa cocok. Kami juga sudah dewasa, sudah cukup saling mengenal. Apalagi bukankah pacaran setelah menikah lebih baik?"
Amelia mengangguk setuju saja.
__ADS_1
"Omong-omong itukah yang ingin kamu katakan?" tanya Alfin.
"Tidak, masih banyak lagi. Tapi topiknya iya, seputar itu."
"Ada apa lagi ya?" Alfin mulai tidak nyaman karena Amelia terus mengubek kehidupan pribadinya.
"Apa pekerjaan istrimu?" tanya Amelia. Pasalnya menurutnya, istri Alfin itu nampak bukan seperti orang biasa-biasa saja.
Alfin hendak menjawab ketika dari arah belakangnya, namanya dipanggil.
"Dokter Alfin!"
Alfin dan Amelia menoleh ke sumber suara. Ternyata yang memanggil namanya adalah Panji. Namun yang jadi masalahnya, ternyata Panji tak sendirian. Ada istrinya dan Bagas yang juga menatapnya tengah dengan Amelia.
***
"Kau putus dengan kekasih yang mana?" tanya Kenanga begitu Panji selesai bercerita bahwa dia baru saja putus sepihak dengan kekasihnya.
"Tentu saja kekasih yang akan menjadi calon ibu persit mewakili saya." jawab Panji.
"Iya yang mana?" tanya Bagas.
Jangan bingung ketika Kenanga dan Bagas malah bertanya kekasih Panji yang mana. Itu karena Panji adalah jelmaan Satya di masa lalu. Sering berganti pacar.
Namun sepertinya mereka memiliki perbedaan saat ini. Panji yang ingin menikah dan Satya yang tak ingin menikah. Poor Siska.
"Kekasihmu yang namanya Inten itu?" tanya Kenanga ragu.
"Hah? Intel?" sela Bagas, gagal menangkap informasi.
Panji berdecak, "Namanya Intan dan bukan yang itu. Kami sudah putus dua bulan yang lalu."
"Lalu yang mana?" decak Kenanga.
"Namanya Sulu, dia sangat cantik dan berpendidikan. Kami baru saja pacaran satu bulan ketika dia malah memutuskan saya secara sepihak." ujar Panji sedih.
"Sulu? Nama aneh apa itu?" kernyit Bagas.
"Nama aslinya Suzanne Lusianne." jelas Panji.
"Dan di singkat Sulu?" tanya Bagas tak percaya. Panji mengangguk.
"Kufikir Sulawesi Utara." celetuk Kenanga.
Bagas setuju, "Saya juga sependapat. Berfikir bahwa kekasih Alfin adalah sebuah nama provinsi." kekehnya.
Panji berdecak kesal, "Itu Sulut. Dan ini Sulu. Dia manusia, cantik dan mempesona."
"Tapi namanya cukup terdengar kebarat-baratan. Dia orang asing?" tanya Bagas.
Panji mengangguk, "Dia orang Austria."
"Wah, kau akan menikah dengan orang asing?" seru Kenanga skeptis.
"Saya tidak peduli dia orang asing atau bukan, tapi saya sudah terlanjur nyaman sama dia. Dia berbeda dengan kebanyakan wanita yang saya kenal."
Kenanga seketika berdecih, "Lelaki. Alasan yang sama untuk meluluhkan hati."
"Saya serius, Letnan." balas Panji sungguh-sungguh.
"Jadi penyebab kalian putus apa?" tanya Bagas.
"Sempit sekali fikirannya." decih Kenanga.
Mendengarnya, Panji mendesah.
"Seharusnya kamu jelaskan padanya terkait pekerjaan tentara seperti kita. Katakan padanya setiap pekerjaan selalu memiliki resikonya, jangan menitikberatkan pada tentara saja. Dan lagipula urusan maut sudah ada yang mengatur. Apakah setiap pergi tugas, kita akan kehilangan nyawa?" jelas Bagas.
Kenanga mengangguk setuju, "Kalau mau cari pendamping, cari yang bermental baja bukan tempe. Dan apa katamu tadi? Seragam tentara keren? Padahal bagiku seragamnya membosankan." timpal Kenanga cuek.
"Seragam tentara hijau loreng memang sengaja menjadi ciri khas pekerjaan kita. Coba bayangkan bila warnanya kuning atau bahkan pink, yang ada kita langsung ditembak musuh begitu terlihat sedikit saja gara-gara warnanya yang mencolok." tambah Bagas.
"Kau katakan saja pada Sulu Sulu itu, bila dia tidak siap berkorban demi cinta kalian, mundur adalah pilihan yang tepat. Pergilah yang jauh dan jangan kembali." tegas Kenanga.
Panji menggeleng, "Saya mana sanggup mengatakannya disaat saya ingin dia berubah fikiran."
"Karma seorang playboy memang luar biasa." decak Kenanga.
Panji tak menanggapi. Dia mengedarkan ke sekeliling, lalu matanya sedikit membulat melihat siluet tak asing yang baru saja duduk dengan seorang perempuan di meja seberangnya.
Namun Panji hanya diam saja. Dia tidak enak mengganggu acara Alfin dengan kekasihnya?
Kemudian pelayan datang menghampiri meja mereka. Panji kembali teralihkan.
"Mau pesan apa?" tanyanya.
"Nasi goreng 1, tumis capcay pedas 1. Panji kamu mau apa?" tanya Bagas setelah menyebutkan pesanannya.
"Mie ayam saja dan tempe goreng." balas Panji.
"Letnan bagaimana?" tanya Bagas kini pada Kenanga.
"Sop buntut dan nasi panas." jawab Kenanga langsung.
Bagas mengangguk, pelayan itu mencatatnya satu persatu.
"Minumannya tolong jus jeruk saja. Sekalian air putih juga." timpal Panji.
"Baik, silakan ditunggu." ujar pelayan itu kemudian pergi.
Setelah kepergian pelayan, kini Panji memutuskan menyapa Alfin.
"Dokter Alfin."panggilnya. Jaraknya cukup dekat antara mejanya dengan meja Alfin.
Kenanga terkejut mendengar Panji tiba-tiba memanggil nama Alfin. Dia sontak mengikuti arah pandang Alfin dan lebih terpaku mendapati Alfin sedang bersama Amelia.
"Serda Panji, Kapten Bagas dan..." Alfin menggantung ucapannya ketika matanya bertemu dengan mata Kenanga. "Letnan Kenanga." lanjutnya.
"Sedang makan siang dengan pacar ya?" tanya Bagas usil.
Kenanga mendelik mendengar ucapan Bagas itu. Sedangkan Alfin sudah kehilangan kata-katanya. Dia melirik Kenanga yang diam saja dengan raut datar.
"Bukan. Dia rekan kerja saya juga. Namanya Dokter Amelia." jelas Alfin. Dia lalu menoleh pada Amelia, "Ini adalah Tim Rajawali bagian dari Kopassus juga."
"Halo, saya Amelia, teman kerja Dokter Alfin di rumah sakit." ucapnya memperkenalkan diri juga.
"Halo, Dokter Amelia." sapa Panji dan Bagas terkecuali Kenanga.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka kalian adalah tentara, dibagian elit kopassus lagi." puji Amelia takjub.
"Ah, biasa saja." ujar Panji tapi tetap senang.
"Terutama dengan Letnan Kenanga, saya tidak menyangka bahwa kamu adalah seorang tentara wanita. Pasti luar biasa bisa memiliki istri sekeren kamu." lanjut Amelia tersenyum.
Kenanga tersenyum tipis, "Terima kasih dan saya fikir pekerjaan apapun tetap sama bagusnya."
"Tapi pasti sangat sulit bagi sang suami bila tahu istrinya adalah seorang perwira TNI aktif. Alih-alih ditinggal suami dinas, ini malah suami yang ditinggal. Pasti sangat berat baginya. Terlebih apabila karirnya lebih mentereng, pasti ada rasa berkecil hati. " ujar Amelia lagi.
Suasana seketika hening. Baik Kenanga, Bagas dan Panji merasa tak enak mendengar ucapan Amelia yang terkesan menyudutkan para tentara wanita. Begitupun Alfin yang merasa ini sudah kelewatan.
"Dokter Amelia, saya yakin bahwa semua pekerjaan adalah terhormat. Lagipula apakah salah bila seorang perempuan berkarir sebagai seorang TNI? Dan seorang tentara wanita juga berhak menikah dan merasakan kebahagiaan. Bila sering ditinggal pergi, maka itu sudah menjadi resiko sang suami. Saat pengajuan nikah kantor pun, calon suami sudah diberitahu apa saja resikonya. Dan bila mereka sampai ke jenjang pernikahan, maka berarti sudah tidak ada masalah keberatan lagi." papar Kenanga tenang.
"Lagipula seorang prajurit tangguh seperti Letnan Kenanga pasti akan memilih suami yang kooperatif dengan pekerjaannya. Suami yang berpendidikan yang bisa memahami pengabdian kami pada negara." timpal Panji.
Amelia masih tersenyum, "Lalu Letnan Kenanga ingin suami seperti apa? Dari kalangan biasa, " Amelia melirik Alfin, "Atau kalangan militer?"
"Itu hak saya. Kenapa Anda penasaran sekali." tukas Kenanga.
"Kalaupun Letnan Kenanga tidak bisa mendapatkan suami yang diinginkannya dari kalangan biasa, maka lelaki yang mengejarnya sesama orang militer juga banyak." timpal Bagas.
Alfin menatap Bagas akibat perkataannya yang tegas dan percaya diri itu. Dia entah kenapa jadi curiga.
"Jadi Kapten Bagas akan memilih istri dari militer juga karena sepertinya kamu sangat mendukungnya."
Bagas tersenyum lalu mengangguk, "Saya sudah ada orang yang saya sukai."
Panji mengangguk mantap sedangkan Alfin menelisik curiga terutama ketika mengatakan itu Bagas melirik Kenanga.
"Dokter Amelia juga pasti sudah memiliki kekasih, kan?" tanya Panji berusaha mengalihkan alur pembicaraan.
Amelia langsung mengangguk, "Iya, Alfin." ucapnya menatap Alfin.
Pernyataan blak-blakan itu ditanggapi seruan terkejut dari Bagas, Panji bahkan Alfin. Dia sangat tidak menyangka bahwa Amelia akan seberani itu mengakui perasaannya. Sedangkan Kenanga hanya diam.
"Jadi ada yang ingin saya tanyakan padamu. Apakah kamu lebih suka melihat salju di dalam rumah atau justru di luar rumah?"
Alfin mengernyit tidak mengerti dengan pertanyaan Amelia.
"Apa maksudmu?"
"Kalau salju di dalam rumah, itu artinya kamu lebih suka semua kebenaran tentang hubunganmu ditutupi entah karena istrimu atau keduanya. Namun bila kamu lebih suka salju di luar rumah, dimana kamu akan diakui didepan banyak orang yang membuatmu bisa meneguhkan statusmu." jelas Amelia. "Kalian sendiri pilih apa?" tanyanya menatap Bagas dan Panji.
"Kalau saya jelas pilih yang diluar. Untuk apa menyembunyikan hubungan dan hanya menikmati hubungan romantis di belakang saja." timpal Panji.
"Saya juga sama. Kalau saya memiliki pasangan, saya akan mengakuinya di depan umum. Mengumumkan bahwa wanita cantik disamping saya adalah milik saya seorang." tambah Bagas.
Amelia tersenyum puas, dia menatap Kenanga penuh kemenangan. Lalu beralih menatap Alfin.
"Kalau kamu, Fin?"
Alfin terdiam, jawabannya ditunggu banyak orang yang penasaran.
Dan diam-diam Kenanga juga penasaran dan cukup berharap.
"Saya memilih..." Alfin menggantung ucapannya. Kenanga menatap Alfin penuh keseriusan. "Memilih di dalam rumah." tandasnya menatap Kenanga.
Amelia terkejut begitupun Kenanga yang tak menyangka Alfin akan memilih pilihan sebaliknya.
"Kenapa?" tanya Amelia kecewa.
"Alasannya sederhana, karena saya tak ingin membaginya dengan dunia." pungkasnya terus menatap Kenanga dengan dalam.
Kenanga tertegun dengan ucapan Alfin, karena Alfin hatinya jadi menghangat.
Sedangkan Amelia menatap penuh kesal pada Kenanga yang dibela Alfin.
***
Alfin yang selesai mandi dan baru saja keluar dari kamar seketika tertegun melihat ruang tamu yang kini kacau balau.
"Salju! Huuu, Salju!" pekik Kenanga melempar-lemparkan kertas dan pita putih ke udara. Anggap saja itu salju.
"Kekacauan apa ini?" tanya Alfin syok. Dia masih mematung di depan kamarnya.
Kenanga yang menyadari kehadiran Alfin langsung menghampirinya.
"Salju, Fin. Wuush, hahaha." Kenanga tampak berbeda malam ini. Dia sangat ceria, bertolak belakang dari kepribadiannya.
Kenanga mengajak Alfin berputar-putar. Rambut mereka tertiup angin musim dingin buatan kipas angin. Alfin yang awalnya bingung kini sudah relaks bahkan ikut tertawa-tawa.
Mereka terus berputar-putar dengan salju ajaib Kenanga. Hingga mereka berhenti, posisi mereka saling berhadapan hanya sejengkal saja.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Alfin.
"Hanya iseng." jawab Kenanga acuh.
Alfin tersenyum, tangannya merengkuh pinggang Kenanga hingga tubuh mereka saling menempel. Kenanga terkejut dan canggung seketika.
"Fin, lepaskan." ucapnya.
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Sesuai perkataanmu, bahwa kamu lebih suka melihat salju di rumah. Jadi kuajak kamu menonton pertunjukan langsung." jawab Kenanga akhirnya.
"Tapi apakah jawabanmu serius?" tanya Kenanga.
"Bahwa aku tidak ingin membagimu dengan dunia?" Kenanga mengangguk.
"Serius. Makanya aku senang kamu melakukan ini."
Giliran Kenanga yang tersenyum, "Aku akan buat lagi tapi pasti sangat merepotkan membersihkannya."
"Tunggu, aku?" sela Alfin mengangkat satu alisnya.
Kenanga mengangguk, "Kau bilang sendiri kemarin, bocah. Bahwa kau ingin mengubah kata saya menjadi aku." timpal Kenanga acuh.
Alfin tersenyum lebar, "Terima kasih."
Usai mengatakan itu, tiba-tiba wajah Alfin mendekat. Kenanga diam saja, tidak menjauhkan wajahnya.
"Kalau dilihat-lihat, bibirmu sangat indah." ucap Alfin. "Dan aku senang bahwa itu adalah milikku."
Setelah itu Alfin mencium Kenanga dengan lembut. Awalnya Kenanga diam saja, menbiarkan Alfin menari-nari diatas bibirnya hingga lama kelamaan Kenanga makin terbuai nirwana kenikmatan ciuman Alfin.
He is good kisser. Kenanga akui itu.
__ADS_1
Dan sebagai tanggapannya, Kenanga mengalungkan kedua tangannya ke leher Alfin, memperdalam ciuman mereka.