
“Kita...akan baik-baik saja kan?”
Alfin terdiam begitu Kansha selesai berbicara. Lelaki itu sedikit bingung dan tidak mengerti apa yang telah terjadi pada Kenanga. Tapi jika dia harus menyimpulkan, Kenanga sedang tak baik-baik saja. Perempuan itu tidak biasanya berlaku seperti ini.
“Jawab Fin!” tuntut Kenanga.
“Saya—“Alfin menjeda ucapannya dan itu membuat jantung Kenanga berdegup kencang, “Bukan manusia sempurna tapi saya akan berusaha keras untuk membuat kehidupan kita bahagia.”
Kenanga terdiam mendengar jawaban Alfin.
“Apa itu cukup?” tanya Alfin.
Kenanga mengangguk pelan.
“Hanya itu yang ingin kutanyakan. Istirahatlah. Selamat malam.” Pamit Kenanga pergi.
Alfin tidak mengejarnya. Dia hanya berdiri diam mengamati Kenanga yang sudah masuk ke dalam lift.
Lift berdentang, dan Alfin kembali masuk ke dalam rumahnya.
***
Kenanga masuk ke dalam rumahnya. Dia berpapasan dengan Siska yang baru saja dari dapur.
“Ada apa denganmu?” tanya Siska bingung.
Kenanga menggeleng. “Aku masuk dulu.” ucapnya pelan. Lalu berlalu memasuki kamarnya.
Melihat sikap aneh Kenanga, mau tak mau Siska penasaran. Tapi dia menghargai keinginan Kenanga yang tak mau menceritakannya. Siska hanya bisa mengendikkan bahu dan duduk di atas sofa.
Siska melihat-lihat postingan di beranda IG-nya. Awalnya dia nampak biasa saja, melihat satu persatu unggahan terbaru teman-temannya tapi begitu dia melihat postingan Satya, gadis itu tertegun.
Di foto yang diunggah Satya, lelaki itu sedang berada di sebuah restoran mewah. Lelaki itu hanya memfoto dirinya sendiri tapi Siska yakin bahwa Satya sedang bersama seseorang. Siska buru-buru menelfon Satya.
Siska mengetuk-ngetuk jarinya ke casing ponselnya. lalu setelah dering lumayan lama, telfonnya akhirnya diangkat Satya.
“Halo.” Sapa Satya dari seberang telfon.
“Halo, kau dimana?” tembak Siska langsung.
Hening sebentar disana, “Di restoran.” Jawab Satya.
“Restoran? Sedang apa?” tanya Siska lagi.
“Kenapa bertanya?” tanya balik Satya tanpa menjawab pertanyaan Siska tadi.
Siska mengangkat satu alisnya, “Kita belum putus, benar kan?”
Hening lagi disana membuat perasaan Siska bertambah bergemuruh.
“Satya?”
“H-hah? Apa tadi?” sahut Satya gelagapan.
“Kita tidak putus kan?” tanya Siska lagi mengulang pertanyaan serupa.
Satya terdengar berdeham, “Lalu bagaimana dengan pertengkaran kita dua bulan yang lalu? Kamu bilang ingin berhenti.” Ujar Satya serius.
“Kita sudah sering putus-nyambung, ini bukan kali pertama.” Balas Siska.
“Jadi?”
Siska membasahi bibir bawahnya, “Jadi aku ingin kita masih pacaran.” Tandasnya.
Satya kembali terdengar berdeham dan Siska menunggu jawaban Satya dengan gugup.
“Oke. Kita pacaran lagi.” putus Satya.
Tapi Siska tak tersenyum sama sekali. Di satu sisi, dia tak menampik dia senang. Tapi di satu sisi, rasanya semakin aneh.
“Disana pasti sudah larut kan? Tutup telfonnya saja dan istirahatlah.” Ujar Satya. Satya belum tahu bahwa Siska sebenarnya sudah pulang.
“Sebenarnya aku—“ Siska berhenti. Dia bimbang haruskah mengatakan bahwa dia sudah pulang sedangkan nada suara Satya tampak tak ada nada.
"Iya?" sahut Satya.
Tidak-dia akan memberi kejutan saja soal kepulangannya.
"Sudah mengantuk sekali. Aku tidur dulu ya." desah Siska. Dia berbohong demi rencananya.
Satya terkekeh pelan, dan itu membuat Siska kembali tersenyum.
"Kan tadi sudah kubilang tidur saja. Gih, sana. Jangan begadang. Kamu harus tetap bugar, jangan sampai jatuh sakit." ucap Satya.
Siska menganggukan kepala, "Dah Satya."
"Dah." balas Satya.
Telfon pun terputus. Siska pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
***
H-1 Akad
Kenanga baru saja mengajukan cutinya selama dua hari. Untuk besok dan lusa. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri itu telah kembali ke ruangannya dan tengah membereskan barang-barangnya.
Tak lama, Angga datang. Lelaki itu tersenyum kecil sembari menghampiri Kenanga. Kenanga hanya menoleh tanpa minat ke arah Angga yang cekikan tidak jelas.
"Ada apa denganmu? Kau sudah tak waras?" ujar Kenanga.
"Iya, saya sudah tidak waras semenjak mendengar kabar pernikahanmu." Setelah itu Angga mendesah pelan. Dia menyandarkan punggungnya ke tepi meja menghadap Kenanga.
"Tapi saya senang dengan kabar itu. Akhirnya Letnan tidak sendirian lagi." lanjutnya.
Kenanga hanya berdecih pelan.
"Letnan." panggil Angga serius. Kenanga menoleh.
"Terlepas dari apakah itu adalah hasil perjodohan atau bukan, kalian harus saling mencintai. Jangan sampai kalian hanya menganggap ini hanyalah sebuah 'acara' yang membahagiakan kedua keluarga kalian. Bagaimanapun kalian yang akan menjalaninya."
Kenanga terdiam sesaat. "Apakah cinta itu penting?" tanyanya di luar dugaan.
"Tentu saja."
"Kenapa itu penting?"
"Ibaratkan saja saat Letnan mengemudikan kapal. Kalian sudah memiliki kapalnya, penumpangnya, dan bahan bakar. Anggap kapal kalian sudah berlayar, tapi tidak akan pernah bergerak dengan lancar. Karena tidak ada kemudinya. Dan cinta itu bagaikan kemudi. Dimana kepercayaan, kesetiaan dan kesabaran dicurahkan untuk menggerakkan kemudi. Sama seperti cinta.
"Jadi apakah Letnan mencintainya?"
Kenanga terdiam sesaat, "Tidak." tandasnya.
Angga tertegun dengan jawaban singkat itu.
"Aku tidak mencintainya. Dan dia juga tidak mencintaiku. Pernikahan ini hanyalah sebuah wadah untuk masa depan dua keluarga. Tidak lebih dan kurang." papar Kenanga.
__ADS_1
Angga menggeleng tidak percaya, "Sulit kupercaya kalian mempertaruhkan kebahagiaan kalian."
"Yang paling penting memang cinta tapi dalam kasus kami, yang terpenting adalah memiliki satu tujuan yang sama." ujar Kenanga.
"Jangan lupa datang besok." lanjutnya sembari menepuk bahu Angga setelah itu Kenanga mengambil barang-barangnya dan keluar dari ruangan.
***
Di sisi lain, Alfin sedang makan siang dengan Satya. Wajah lelaki yang hendak menikah besok itu tak secerah pengantin laki-laki manapun. Rautnya kusut dan nampak berantakan.
Satya memerhatikan raut Alfin sembari meneguk minumannya. Lelaki itu lalu berdeham kecil.
"Kau sudah siap?"tanyanya.
Alfin mengangguk kaku.
"Tenang saja. Jangan gugup. Kamu sudah latihan beberapa kali saat mengucapkan ijab qabul. Jangan khawatir." hibur Satya.
Alfin mendesah pelan, "Bukan itu yang sedang kukhawatirkan."
"Lalu apa?" tanya Satya penasaran.
"Menurutmu kenapa orang harus menikah?" tanya balik Alfin.
"Kenapa kau bertanya padaku yang jelas-jelas penganut paham no married?" balas Satya geli.
"Ah benar. Aku menyia-nyiakan pertanyaanku." rutuk Alfin.
"Oh ya, kemarin aku bertemu teman serumah Kenanga."lanjut Alfin.
"Teman serumah? Maksudmu..."
Alfin mengangguk.
Satya terkejut. "Dia sudah pulang?" serunya tidak menyangka.
"Kau tidak tahu?" tanya balik Alfin.
Satya memukul meja, "Pantas saja, dia bisa menelfonku tadi malam dengan lancar. Biasanya sambungan internet disana selalu terputus. Ternyata karena Siska sudah pulang." ucapnya.
"Dia menelfonmu untuk apa?" sela Alfin.
Satya menoleh, "Kenapa bertanya?"
Alfin mengendikkan dagunya. "Hanya penasaran." ujarnya santai.
Satya terdiam menimbang-nimbang. Dia melirik Alfin dengan perasaan ragu.
Alfin jengkel, dia berdecak kecil. "Jangan dikatakan kalau tidak mau."
Satya terkekeh, "Aku sudah balikan lagi dengan Siska." ucapnya riang.
Tapi Alfin tak bereaksi. Dia terlihat biasa saja.
"Kamu nampaknya harus diajari cara memberi reaksi." decak Satya.
"Aku sudah tahu kau akan melakukan itu. Ini bukan kali pertama kalian putus nyambung." ujar Alfin acuh.
Satya tersenyum lebar, "Hehe. Awalnya aku tidak akan menerimanya lagi apalagi setelah pertengkaran kita sebelum dia pergi. Tapi setelah kufikir-fikir lagi, tidak ada wanita yang lebih mengenal dan memahamiku daripada Siska. Jadi..."
"Terserah kau saja. Aku tidak akan ikut campur dengan hubungan percintaanmu." potong Alfin.
Alfin lalu melirik arlojinya, "Aku harus bertemu Kenanga dulu. Aku pergi." pamit Alfin langsung berdiri.
"Kau fikir ini zaman apa?" balas Alfin. "Pergi ya. Jangan lupa bayar makananku." Alfin melemparkan senyum manis dan setelah itu langsung pergi.
"Eh Fin!" seru Satya. Dia berdecak sebal karena harus membayar lagi.
***
Alfin melajukan mobilnya menuju restoran lain. Setelah berkendara selama lima belas menit, dia sampai di tempat pertemuannya dengan Kenanga.
Alfin mencari dimana meja Kenanga hingga matanya menemukan perempuan itu duduk di meja paling sudut. Alfin melangkahkan kaki mendekat.
"Kak Anggi." sapa Alfin.
Kenanga langsung menoleh. "Kau sudah datang."
Alfin mengangguk. Lelaki itu langsung duduk di hadapan Kenanga.
"Ada apa kak?" tanya Alfin.
"Saya ingin menyampaikan beberapa hal padamu."
"Apa itu?"
"Saya orang yang suka dengan keteraturan jadi nanti saya harap kita bisa saling mengenal lebih dulu."
"Maksudmu menjadi teman?" tanya Alfin.
Kenanga tersentak, "Teman?"
Alfin mengangguk dengan senyum samar.
Kenanga terdiam sesaat lalu menganggukan kepala.
"Teman." tandasnya.
"Tidak menyangka saya akan menjadi teman seorang Kenanga."
Kenanga mengerutkan keningnya, "Kenapa?"
"Karena itu berarti kakak sudah mulai membuka diri dengan saya. Saya bisa sejajar dengan Siska."
Kenanga mengangkat satu alisnya, "Kenapa membawa-bawa Siska?"
"Karena satu-satunya temanmu adalah Siska. Dan sekarang ditambah saya. Saya berjanji akan menjadi teman yang baik." ujar Alfin tersenyum.
"Terserahlah." balas Kenanga acuh.
Alfin hanya tersenyum.
***
Terdengar suara pintu apartement dibuka. Alfin masuk dengan wajah penuh lelah. Dia baru pulang setelah jam menunjukkan pukul sebelas malam. Entah darimana dia atau sedang apa hingga pulang selarut itu padahal besok adalah hari pernikahannya.
Bunda juga sebenarnya sudah meminta Alfin untuk menginap saja tapi lelaki itu menolak dan mengatakan bahwa dia masih harus mengurusi beberapa pasiennya sebelum cuti nanti.
Alfin menyalakan sakelar dan cahaya lampu seketika menerangi rumahnya yang sempat gulita. Alfin memilih masuk ke kamarnya. Tapi di depan pintu dia tertegun melihat sebuah bingkai foto besar di atas lantai. Bingkai kayu itu bersandar pada dinding kamarnya.
Alfin tersenyum samar menatap potret cantik didalam foto itu. Dia berjalan mendekati bingkai foto.
Alfin duduk memangku foto besar itu. Menyelami keindahan senyum sang kekasih yang sudah lama telah pergi dan selalu dia rindukan.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Alfin. Hanya ada senyum samar dengan mata bergetar. Lelaki itu pada akhirnya bangkit. Dia mengambil foto itu dan menuju ranjang.
__ADS_1
Alfin menaruh foto itu di salah satu sisi ranjang, bersandar pada kepala ranjang. Setelah itu dirinya ikut membaringkan tubuhnya di sisi lain. Mata lelaki itu terpejam damai.
Alfin seperti baru saja memejamkan mata kala dia membuka mata dan berada di tempat asing. Tempat itu penuh dengan pepohonan yang akarnya menjulur keluar dan daunnya bergoyang ditiup angin semilir. Pepohonan saling merapatkan diri, memeluk Alfin dan tempat itu.
Alfin mengedarkan pandangannya sekeliling. Pandangannya seakan tanpa batas dan nampak semu. Lelaki itu mencubit dirinya sendiri. Rasanya sakit.
Kalau ini bukan mimpi, maka ini apa?
Seberkas sinar tiba-tiba menusuk retinanya. Alfin memejamkan matanya. Sinar itu makin menguat dan menguat hingga tak lama mulai meredup.
Alfin membuka matanya. Dia tertegun kala melihat seseorang yang nampak anggun memakai gaun putih. Wajahnya nampak pucat tapi jelas tetap ada kecantikan yang amat pada rupa itu. Dia Syafira.
"Alfin." panggil Syafira. Suaranya pelan namun mendayu. Suara yang amat dia rindukan.
"Sya-syafira?" Alfin serasa tidak memercayai penglihatannya.
"Ka-kamu....Syafira? Tapi ka-kamu sudah meninggal kan?" tanya Alfin terbata-bata.
Syafira tersenyum manis. Dia melangkah ke hadapan Alfin. "Aku memang sudah meninggal. Tapi hatiku tetap hidup. Tetap ada denganmu.
"Tapi kudengar, kamu akan menikah besok." Syafira mengelus wajah Alfin dengan lembut. Ekspresinya nampak sedih.
Alfin membeku. "Tidak Syafira. Dengarkan aku. Aku bisa menjelaskannya." ujar Alfin panik.
"Sudah, tidak apa-apa. Wajar bila kamu akan menikah. Kamu harus berjalan ke depan meskipun itu dengan wanita lain dan bukan denganku."
"Tapi aku ingin denganmu." tukas Alfin lirih.
Syafira tersenyum, "Aku juga. Kalau begitu maukah kamu ikut denganku? Kita bisa menikah dan akan bersama selama-lamanya."
Alfin membatu, "Benarkah? Bagaimana caranya? Kamu sudah meninggal."
"Harus ada pengorbanan untuk mendapat akhir bahagia. Aku adalah akhir bahagiamu, kan?"
Alfin terdiam. Dia merasa ada yang aneh.
"Kamu sudah meninggal. Kita tidak bisa bersama." geleng Alfin.
"Tentu saja masih bisa. Sentuh aku." Syafura mengambil tangan Alfin dan menyentuhkannya ke wajahnya. Alfin tersentak.
"Kamu masih hidup?" serunya syok.
Syafira menggeleng, "Tapi itu adalah bukti bahwa kita bisa bersama. Tak peduli apapun perbedaannya, kita masih tetap bisa bersama."
Alfin mulai terpengaruh. Perasaan betapa senangnya dia bisa bersama dengan wanita yang dicintai.
Syafira tiba-tiba mengulurkan tangannya. Alfin menatap uluran tangan itu dengan bingung.
"Apa maksudnya?"
"Pegang tanganku dan kita akan bersama seperti yang kita inginkan." jawab Syafira.
Alfin terdiam menatap tangan Syafira yang terulur kearahnya.
"Ayo, Fin. Pegang tanganku." ujar Syafira.
Alfin mulai mengulurkan tangannya secara perlahan. Syafira menunggunya dengan sabar. Tak lama, telapak tangan Alfin sampai ke tangan Syafira.
Alfin menyentuh tangan Syafira dan tiba-tiba...
Ini tidak nyata, batin Alfin.
Alfin menarik tangannya kembali.
"Fin, kenapa?" tanya Syafira.
"Ini tidak nyata. Ini tidak nyata. Bagaimana bisa kita bersama kalau kamu sudah meninggal? Ini tidak nyata. Alfin bangun!" lafalnya panik.
"Fin, tidak ada yang nyata di dunia ini. Semuanya dibangun dari mimpi akibat kemustahilan. Tapi kita bisa. Kita bisa bersama dan melawan takdir. Aku adalah kabahagiaanmu, kan?"
Alfin sontak mengangguk.
"Maka kamu harus mau berkorban untukku." tandas Syafira. "Pegang tanganku dan kita akan bersama. "
"Apa yang akan terjadi bila aku memegang tanganmu?"
"Kita akan bersama." jawab Syafira.
"Tidak. Apa yang terjadi pada tubuhku nanti?"
Syafira terdiam sesaat, "Fin, tahukah kamu seberapa aku menginginkanmu disisiku? Dan aku tahu kamu juga menginginkanku. Tidak akan lama, aku berjanji."
Alfin mulai goyah kembali. Dan Syafira terus mengisaratkan agar dia memegang tangannya.
"Ayo, Fin. Waktu kita tidak banyak." desak Syafira.
Alfin mulai mengulurkan tangannya kembali. Perlahan hingga jarak antara tangannya dan Syafira tinggal sesenti.
"Ayo, Fin. Sedikit lagi."
Namun tiba-tiba wajah Kenanga muncul dalam kepalanya begitu saja. Alfin tiba-tiba menarik tangannya.
"Fin, ada apa?" tanya Syafira.
Alfin tersadar, "Tidak, ini hanya ilusi. Aku tahu ini tidak nyata. Maaf Syafira, aku tidak bisa ikut denganmu." tegas Alfin.
"Alfin, kenapa kamu melakukan ini? Ini adalah kesempatan terakhir kita untuk bisa bersama. Kamu akan menyia-nyiakannya?"
"Tidak, Syafira. Aku tidak ingin. Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" Alfin amat kecewa.
"Aku melakukan ini semua untukmu. Untuk kita. Fin, kumohon. Aku ingin bersamamu. Aku ingin menjadi cintamu selama-lamanya." pinta Syafira.
Alfin menggeleng keras, "Kamu memang cinta pertama dan terakhirku tapi kita tidak bisa bersama. Kita sudah berbeda dunia. Aku tidak ingin melawan takdir hanya untukmu." tandas Alfin.
Alfin tiba-tiba memejamkan matanya.
Bawa aku kembali, kumohon. batinnya.
Lalu Alfin mulai merasakan seberkas sinar putih menghantamnya telak pada wajahnya. Hanya singkat ketika dia membuka matanya kembali.
Mata Alfin seketika terbuka. Pandangannya menangkap langit-langit kamarnya dan bukan tempat asing itu. Tapi dia tersentak kala merasakan kedua tangannya melingkari lehernya sendiri. Seakan dia hendak mencekik dirinya sendiri.
Alfin langsung melepaskan cekikan tangannya. Dia merasa terpukul oleh kenyataan. Dia hampir saja terbuai oleh bujukan Syafira dan hampir kehilangan nyawanya. Meski sebenarnya dia tidak tahu apakah itu sungguh Syafira atau bukan. Alfin hanya merasa bahwa ilusi itu menyakitinya.
"Syafira, bagaimana bisa kamu memintaku membunuh diriku sendiri?" ratapnya pilu.
...------...
Maaf ya, karena sudah dua hari tidak up. Soalnya ada acara keluarga dan waktu nulis jadi tersita karena ini🙏☹️
Semoga tetap suka ya dan jaga kesehatannya. Part selanjutnya ga ada sedih-sedihan lagi. Kapal Kenanga-Alfin akan berlayar! Yeay😅
Jangan lupa like, koment dan votenya ya. Terima kasih semuanya🙏😊
Happy Weekend! 💙
__ADS_1