
Nalesha memberikan sebuah kertas berisi bahan-bahan dapur yang dia butuhkan pada Arnav. "Zael memberitahuku kalau kau orang yang bertugas membeli barang-barang atau persediaan dapurnya. Aku menambahkan sedikit yang aku butuhkan beserta merek dan jumlahnya."
Arnav melirik Zael. "Oh, baiklah. Hanya ini, kan?"
"Masih ada di bawahnya." Nalesha menunjuk kertas tersebut.
Arnav menarik ujung kertas bawahnya. Ternyata kertasnya sepanjang 2 meter ke bawah. Kedua mata Arnav membulat lebar.
"Banyak sekali," gerutu Arnav.
"Mohon bantuannya, terima kasih, Arnav." Nalesha tersenyum manis.
"Jangan memanggil namaku sembarangan. Aku lebih tua darimu," gerutu Arnav.
"Kata siapa? Zael, aku boleh memanggilnya Arnav juga, kan?" Nalesha mengadu pada Zael.
"Lihatlah, Pangeran. Dia bahkan memanggil namamu," Arnav juga mengadu pada Zael.
"Hentikanlah pertengkaran kalian." Zael tidak peduli sama sekali.
"Baiklah, aku akan membelinya." Arnav membungkuk pada Zael kemudian menghilang tiba-tiba.
__ADS_1
"Kalau dia menghilang, dia sampai di supermarket atau di jalan?" Tanya Nalesha.
"Dia bukan menghilang. Dia berteleportasi," jawab Zael.
"Oooohhhh." Nalesha duduk di samping Zael dan melihat ke layar TV. Terlihat seekor beruang yang sedang bermain dengan anak kecil berkerudung merah muda.
"Kau suka Masha and The Bear?" Tanya Nalesha tak percaya.
"Ya, memangnya kenapa? Bukankah ini film yang menyenangkan?" Jawab Zael diakhiri dengan pertanyaan.
"Kau bahkan tidak tertawa saat menontonnya. Itu film untuk anak-anak," kata Nalesha.
"Begitukah?"
"Karena waktu Dewi Amiles mengutukku dan kerajaanku, Arnav tidak sedang berada di kerajaan. Dia di luar wilayah sehingga dia tidak terkena kutukan," jawab Zael.
"Beruntung sekali."
Sementara itu di tempat lain.
Faidan tidak jadi bekerja di tempat Yunita. Dia terpaksa memilih bekerja di perusahaan Farhan, meskipun dia harus mulai dari awal. Melihat sikap manja Faidan, Farhan agak kesal, sehingga dia tidak kunjung memberikan posisi penting pada adiknya itu. Faidan juga tipikal orang yang temperamental. Farhan semakin tidak menyukainya.
__ADS_1
Yunita baru selesai mandi. Dia mencari pakaian di lemari. Dia mengernyit bingung, karena ada salah satu ****** ******** yang hilang. Sebenarnya belakangan ini ****** ******** sering menghilang entah kemana.
Malam telah tiba. Farhan belum pulang. Sementara hujan turun dengan derasnya. Yunita melihat hidangan yang tersaji di meja.
Terdengar suara bel berbunyi. Yunita segera bangkit dari tempat duduknya menuju ke pintu utama. Dia melihat pelayan yang lebih dulu membuka pintu. Ternyata Faidan yang pulang.
Karena Farhan tidak kunjung pulang, Yunita dan Faidan makan duluan. Setelah itu, mereka pergi ke kamar masing-masing.
Yunita tidak bisa tidur. Dia teringat akan sesuatu. Wanita itu pergi ke kamar Faidan. Saat mengetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban. Yunita masuk dan dia tidak melihat keberadaan Faidan. Wanita itu melihat ****** ******** ada di ranjang Faidan. Tidak hanya satu, ada 3 ****** ***** di sana.
Samar-samar dia mendengar suara ******* dari kamar mandi yang merangkap dengan kamar tidur tersebut. "Apa Faidan menyembunyikan wanita di kamar mandi?"
Perlahan Yunita melangkah mendekati pintu kamar mandi. Dia menguping. Terdengar suara ******* Faidan dan di sela ******* itu, namanya disebut. Tentu saja Yunita terkejut mendengarnya.
Rasa terkejutnya tidak sampai di sana. Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka.
"Kak Yunita? Kakak sedang apa?"
...🍂🍂🍂...
^^^10.35 | 22 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^