THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
SUMMARY


__ADS_3

...šŸ‚šŸ‚šŸ‚...



Pria tampan berjirah emas itu duduk tertekuk di depan wanita bermahkota dengan cahaya berwarna keemasan di sekitarnya. Dengan pedang di tangannya, wanita cantik itu memutuskan rantai zirah emas dari tubuh pria itu hingga zirah tersebut terlepas dari tubuhnya.


"Pangeran Zael, kau telah membunuh manusia. Sebagai penebusan dosa, kau harus aku kirimkan ke dunia manusia dan membuat 7 kebaikan pada mereka agar kau bisa kembali ke Kerajaan Suci Ventalla. Separuh kekuatanmu akan aku ambil untuk sementara sampai kau membuat 7 kebaikan." Wanita yang tak lain adalah Dewi Amiles membekukan Kerajaan Ventalla termasuk para drucless di istana, dan rakyat di wilayah Ventalla dengan membuat mereka semua menjadi batu. Bahkan hewan, tumbuhan dan pepohonan, serta tanah di Kerajaan Ventalla juga berubah menjadi batu.


Pangeran Zael tidak bisa melakukan apa pun melihat istana emasnya yang berubah menjadi batu seketika.


"Semuanya ada di tanganmu, Pangeran Zael. Rakyat dan pelayanmu akan kembali menjadi drucless seutuhnya setelah kau melakukan 7 kebaikan dan kembali ke dunia drucless."


Cahaya keemasan memenuhi tubuh Pangeran Zael.


...šŸ‚šŸ‚šŸ‚...

__ADS_1


...P R O L O G U E...


Terlihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya ada mobil lain yang mengejar. Pria yang berada di mobil pertama tampak khawatir. Saat ini mobilnya melewati tebing tinggi yang curam. Mobilnya melewati tumpukan bebatuan, tiba-tiba bebatuan itu berjatuhan ke arahnya. Karena berusaha menghindari batu-batu tersebut, mobilnya jatuh terperosok dan berguling ke dalam jurang.


Pria yang sudah berlumuran darah itu keluar dari mobil tersebut. Sambil berjalan terseok-seok, dia mencoba menjauhi mobilnya yang sudah pasti akan meledak. Baru beberapa langkah, tiba-tiba seseorang dari kegelapan menembak mobil tersebut hingga meledak lebih cepat.


Pria itu terlempar beberapa meter karena ledakkan tersebut. Api membakar tubuhnya. Pria itu menggeliat kepanasan di atas tanah sambil berusaha memadamkan api di tubuhnya dengan menepuk-nepuk api tersebut menggunakan tangan kosong.


Di saat-saat terakhirnya, seorang pria dengan mantel punggung berwarna ungu gelap datang menghampiri pria itu. Dia membantu memadamkan api dengan tangannya hingga api itu benar-benar berhenti membakar tubuh pria malang itu.


"Aku sudah berada di penghujung. Aku tidak kuat lagi. Seandainya aku bisa, aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan saat ini," kata pria itu dengan napas tersengal-sengal.


Pria bermantel ungu mengangguk. "Aku akan membantumu."


...šŸ‚šŸ‚šŸ‚...

__ADS_1


Pria bermantel punggung ungu berjalan tenang. Matanya yang berwarna jingga terang seperti matahari menatap tajam. Dia berjalan melewati portal bercahaya hijau.


Cahaya matahari di alam yang berbeda itu bersinar lebih terang. Pria bermantel ungu menutupi wajahnya dengan tangan kiri. Dia melihat ke sekeliling. Banyak hewan-hewan dan tumbuhan di sana. Pria itu mengedarkan pandangannya.


Terdengar suara teriakan minta tolong, jeritan, dan deru napas yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Pria itu menganggukkan kepala lalu menghilang entah kemana.



...T H EĀ Ā  P E N A N C E : P E B I N O R...


...O l e h...


...U c uĀ Ā  I r n aĀ Ā  M a r h a m a h...


...šŸ‚šŸ‚šŸ‚...

__ADS_1


__ADS_2