
Jam menunjukkan pukul 10.25. Yunita melihat Faidan yang baru bangun dan langsung sarapan.
"Kau biasa bangun jam segini di Jerman? Yang kutahu Jerman itu negara sibuk," ucap Yunita.
"Semalam aku tidak bisa tidur," kata Faidan.
"Memangnya apa yang kau lakukan semalam?" Tanya Yunita penasaran.
Faidan terdiam sesaat kemudian menggeleng. "Aku hanya tidak bisa tidur. Mungkin karena aku harus beradaptasi dengan cuaca dan situasi di sini."
"Farhan sangat berharap banyak padamu. Kau satu-satunya adiknya. Jangan buat dia kecewa. Kau harus mendengarkan semua ucapannya. Tidak ada salahnya belajar menjadi karyawan biasa. Kau harus menunjukkan kemampuanmu, nanti Farhan pasti akan memberikan posisi tinggi untukmu," kata Yunita.
"Baiklah, besok aku akan pergi ke kantor. Jika bukan kau yang menasehatiku, aku malas." Faidan melanjutkan makan.
Yunita tersenyum. "Aku tahu kau pasti bisa."
"Kakak tidak berangkat kerja?" Tanya Faidan.
Yunita tersenyum kecil. "Aku mengkhawatirkanmu. Jika aku pergi tanpa melihatmu makan, aku takut kau kenapa-napa. Farhan bilang kau memiliki gangguan pencernaan yang membuatmu harus memilih makanan."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Kedua pipi Faidan memerah. Dia tersenyum.
"Pekerjaanku tidak menuntutku harus selalu berada di kantor. Aku bisa datang kapan saja."
"Kalau begitu, apa aku boleh bekerja di kantor Kakak saja?" Pinta Faidan.
__ADS_1
"Di kantorku? Apa kau yakin?"
Sesampainya di kantor Yunita, Faidan terpukau melihat gaun-gaun dan tuxedo yang dipasang di manekin menghiasi sudut ruangan.
"Mungkin kantorku tidak sebesar Gumelar Group. Aku menganggap bangunan ini seperti rumah keduaku," ujar Yunita.
"Aku rasa bangunan ini lebih besar dibandingkan perusahaan fashion yang pernah kudatangi di Jerman," ucap Faidan.
Yunita tersenyum. "Ini pegawai-pegawaiku."
Faidan agak terkejut melihat para karyawan Yunita. Beberapa pria gemulai menatap jelalatan padanya.
"Nyonya Gunelar, pria tampan ini siapa?" Tanya salah satu pria gemulai.
Yunita mengusap punggung Faidan. "Dia adalah adik iparku, Faidan Gumelar."
Meskipun dalam hati Faidan tidak mau bersalaman dengan pria gemulai itu, tetapi Faidan terpaksa bersalaman dengannya. "Faidan."
"Aku baru tahu Tuan Gumelar punya adik setampan ini. Semoga senang berada di sini. Kalau membutuhkan sesuatu, panggil aku saja," ucap Andre sambil menghirup aroma dari tangannya yang bekas bersalaman dengan Faidan.
Faidan tersenyum kaku. "Senang bertemu denganmu."
"Aku lebih senang lagi melihat wajahmu." Pria gemulai itu mencubit kedua pipi Faidan.
"Faidan berkuliah di Jerman, kalian tentu tidak pernah bertemu dengannya," ucap Yunita. "Dia baru kembali satu minggu yang lalu."
__ADS_1
"Oh, begitu."
Setelah mengunjungi perusahaan fashion milik Yunita, Faidan mengajak Yunita makan malam di sebuah restoran.
"Apa kau pernah berkencan dengan seseorang di Jerman?" Tanya Yunita.
Faidan tersenyum. "Semua orang pasti pernah berkencan."
"Kau dan pacarmu menjalani hubungan jarak jauh?" Tanya Yunita.
"Tidak, aku tidak punya pacar. Terakhir kali pacarku mencampakkanku. Dia bilang dia tidak bisa melanjutkan hubungan denganku, karena ayahnya tidak menyukaiku," jawab Faidan.
Yunita tampak kesal. "Itu jahat sekali."
Faidan tampak berpikir. "Ayahnya sudah memilih pria untuknya. Kudengar pria itu bekerja di pemerintahan."
"Wajar saja kalau begitu. Di Indonesia, para gadis juga akan tergila-gila pada pria Mahali. Sebagian besar keluarga Mahali bekerja di pemerintahan," ucap Yunita.
"Kakak pernah punya pacar dari keluarga Mahali?" Tanya Faidan yang tampak penasaran.
Yunita mengangguk. "Ya, tapi pria Mahali sungguh brengsek."
...🍂🍂🍂...
^^^08.11 | 22 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^