
Para polisi menggeledah tempat parkir gedung Gumelar Group. Febrian mengedarkan pandangan ke sekeliling.
** Flashback **
Febrian duduk berhadapan dengan dua orang pria yang menusuk Farhan saat keluar dari lift tempat parkir. Kedua orang itu berhasil ditangkap di kediaman mereka.
"Assassin itu sudah mengatakan semuanya. Dia menghapus semua jejak pembunuhan termasuk menghilangkan barang buktinya. Sekarang beritahu aku di mana pisau yang kalian gunakan untuk menusuk Farhan Gumelar?" Ucap Febrian.
** End Flashback **
Febrian melihat mobil yang tertutup terpal plastik. Pria itu mengernyitkan dahinya. Sewaktu pertama kali datang ke tempat parkir tersebut untuk penyelidikan, mobil itu masih berada di sana dengan posisi yang sama.
Irfan menghampirinya. "Pak, dua orang itu bilang, pisau yang mereka gunakan untuk menusuk Farhan Gumelar diberikan langsung oleh orang yang menyuruh mereka. Dengan begitu, kita bisa mengecek sidik jari di pisau tersebut."
Febrian mengangguk kemudian berjalan menghampiri mobil itu. Irfan mengerutkan keningnya. Febrian mengintip ke kolong mobil. Ada lubang yang ditutupi semen. Febrian menyentuhnya.
"Serbuk semen. Seseorang pasti terburu-buru melubangi dan menuangkan semen ke dalamnya." Febrian bangkit kemudian memanggil Irfan.
"Iya, Pak?" Irfan menghampirinya.
"Siapa pemilik mobil ini? Ah, tidak, tidak perlu dicari siapa pemiliknya. Kita bongkar lubang bersemen di bawah mobil ini," perintah Febrian.
"Siap, Pak!"
Sementara itu, Faidan dan Nalesha (ilusi) sedang makan malam di sebuah restoran.
Faidan memperhatikan Nalesha yang sedang makan. "Apa yang membuatmu ingin mengajakku makan malam?"
__ADS_1
Nalesha menatap Faidan kemudian tersenyum kecil. "Aku hanya ingin menghabiskan akhir pekan ini bersama Kak Faidan. Pacarku pergi entah ke mana setelah kami bertengkar gara-gara waktu itu."
"Pacarmu marah gara-gara aku?" Tanya Faidan.
Nalesha menunduk. "Sebenarnya iya, tapi biarkan saja. Aku sudah muak dengannya dan ingin mengakhiri hubunganku."
"Jadi, kau menganggapku pelampiasanmu, karena pacarmu pergi?" Faidan tampak sedih.
Nalesha mengibaskan tangannya. "Tidak, bukan begitu. Aku...."
Faidan tersenyum kecut, padahal dia sedang berakting juga. "Aku terluka."
"Maafkan aku." Nalesha menggenggam tangan Faidan. "Aku...."
Faidan tersenyum. Dia juga menggenggam tangan Nalesha. "Tidak apa-apa, aku selalu mendapatkan yang terakhir."
Faidan menggeleng. "Tidak."
Nalesha mengalihkan pembicaraan, "Kak Faidan mencintai Nona Yunita?"
Faidan mengangguk. "Tentu saja, itulah sebabnya aku menikah dengannya."
Nalesha terlihat sedih. "Kenapa Kak Faidan menyukainya? Bukankah dia lebih tua dari Kakak?
"Dia cantik dan mempesona," jawab Faidan pendek.
"Benar juga," gumam Nalesha.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu? Kau sendiri berpacaran dengan pria yang lebih cocok dipanggil Om," giliran Faidan yang bertanya.
"Bukankah Kak Faidan tahu sendiri aku dijodohkan? Aku tidak mencintainya." Nalesha cemberut.
"Kalau begitu menikahlah denganku," celetuk Faidan.
Nalesha melirik Faidan kemudian berbisik, "Kakak akan meninggalkan Nona Yunita dan menikah denganku?"
"Kau akan kujadikan istri kedua," tawa Faidan meledak.
Nalesha tampak kesal. "Ih, Kak Faidan, itu tidak lucu!"
Faidan masih tertawa melihat Nalesha yang marah. "Aku bercanda. Kau bisa mencari pria lain yang seumuran denganmu."
"Ya, sudah. Oh, ya... Kak Faidan membawa mobil?"
"Iya, kenapa? Mau kuantar pulang?" Tanya Faidan.
Nalesha tersipu malu. "Tadi aku naik taksi, karena aku masih di bawah umur, jadi tidak boleh membawa mobil."
"Baiklah, nanti akan kuantar sampai rumahmu."
"Terima kasihhh."
...🍂🍂🍂...
^^^14.19 | 23 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^