
Gedung Gumelar Group.
Febrian dan Irfan duduk berhadapan dengan Faidan. Tampaknya Faidan tidak senang dengan keberadaan kedua polisi itu di kantornya.
"Silakan, ada yang ingin kalian tanyakan?" Ucap Faidan.
"Demi kelancaran investigasi, kami ingin menanyakan beberapa hal. Kudengar Tuan Farhan memberikan posisi karyawan untukmu," ucap Febrian.
"Iya, aku baru pulang dari Jerman setelah berkuliah di sana. Kakakku menyuruhku belajar menjadi karyawan dulu sebelum aku menduduki posisi yang cocok di kantor ini. Dia bilang, aku harus tahu bagaimana rasanya menjadi karyawan biasa agar suatu hari nanti aku bisa menjadi atasan yang baik," jawab Faidan.
"Itu pasti membuatmu kesal, kan? Kau adik kandungnya, tapi kau mendapatkan posisi rendah," ujar Irfan.
Faidan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kenapa aku harus kesal?"
"Benar juga, ya. Sekarang kau menduduki posisi tertinggi di Gumelar Group, kau tidak mungkin kesal," kata Irfan sambil tersenyum curiga.
"Kau mencurigaiku? Aku tidak membunuh kakakku sendiri. Kenapa aku menduduki posisi ini? Karena jika tidak ada yang mengurus perusahaan ini siapa lagi? Aku mengkhawatirkan masa depan perusahaan dan karyawan-karyawanku. Kakakku selalu mengutamakan kepentingan perusahaan dan karyawannya," ucap Faidan.
__ADS_1
Irfan mengangguk kemudian kembali bertanya, "Lalu bagaimana dengan Yunita? Kudengar kau memiliki hubungan spesial dengan kakak iparmu?"
Faidan menautkan alisnya mendengar pertanyaan Irfan. Febrian menatap wajah Faidan. Dia menyadari perubahan ekspresi itu.
Febrian tersenyum. "Kami melihat daftar pengunjung di beberapa hotel dan tempat liburan. Tertera nama Yunita dan Faidan. Kalian sering ke hotel dan berlibur bernama bahkan ketika Farhan masih hidup. Kalian sengaja membunuh Farhan karena kalian ketahuan selingkuh?"
Faidan mendecih pelan. "Kalau boleh jujur, Farhan tidak bisa ereksi. Yunita sangat kesepian, dia membutuhkan pria untuk menemaninya. Itu alasanku berlibur dan bermalam dengan Yunita di hotel. Tapi, aku tidak mungkin membunuh kakak kandungku sendiri. Aku hanya membantunya menghangatkan istrinya."
"Oh, aku muak sekali mendengarnya," gumam Irfan.
Faidan mendecih. "Aku tidak mengerti cara kinerja polisi seperti kalian. Kalian membuat naskah sendiri untuk menangkapku? Dengar, aku bisa membayar agen mata-mata dari ARN atau BIN untuk menangkap pembunuh kakakku. Polisi tidak becus seperti kalian lebih baik dipecat."
Febrian tertawa. "Menyewa ARN dan BIN? Kau terlalu berlebihan. Kami akan melihat CCTV perusahaanmu. Jika kau tidak terlibat dalam kasus pembunuhan ini, kau pasti akan membiarkan kami melihatnya."
Faidan tertegun sejenak kemudian mengangguk. "Kalian lihat saja sendiri."
Irfan dan Febrian pun mengecek CCTV di Gumelar Group. Tidak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak normal.
__ADS_1
"Sebagai laporan, kami membutuhkan salinan rekamannya," kata Febrian.
Faidan mendecih. "Setelah mencurigaiku dan menghinaku? Ambil yang kalian mau."
Setelah berkata demikian, Faidan pun berlalu pergi.
Irfan mendengus kesal. "Aku yakin dia pembunuhnya. Dia bahkan tidak menunjukkan rasa hormat terhadap mendiang kakaknya yang sudah meninggal."
Febrian tampak berpikir. "Dia bilang dia bisa menyewa BIN atau ARN untuk mencari pembunuh kakaknya? Aku tidak yakin, tapi justru bisa jadi dia menyewa assassin untuk membunuh kakaknya sendiri."
Irfan mencerna ucapan Febrian. "Pak Febrian benar, itu bisa saja terjadi."
...🍂🍂🍂...
^^^14.49 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1