THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 07


__ADS_3

Nalesha menatap Zael. "Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga seorang pangeran?"


"Kerajaanku berbeda dengan kerajaan Zeroun," jawab Zael.


"Lebih besar yang mana?" Nalesha terlihat penasaran.


Zael menatap Nalesha. "Kalau aku bilang kerajaanku terbuat dari emas dan batu suci amethyst, bagaimana menurutmu?"


"Wah, jika kau menjual istanamu, kau akan mendapatkan pulau Jawa," canda Nalesha. "Aku ingin melihatnya."


"Kerajaanku sekarang berubah menjadi batu. Seperti yang sudah aku ceritakan padamu. Aku harus menebus dosa yang telah kuperbuat agar rakyat dan istanaku kembali seperti semula," kata Zael. Dari kalimat yang dia lontarkan, tersirat kesedihan dan penyesalan yang amat dalam.


Nalesha mengusap lengan Zael. "Aku yakin kau pasti bisa membuat semuanya kembali normal, Zael."


"Hm."


"Emmm... sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Nalesha.


Zael menatap Nalesha. "Apa yang ingin kau katakan?"


"Tadi aku menonton video mukbang. Aku mau bakso lava," kata Nalesha sambil menunduk malu.


Zael terkejut. "Bakso lava? Bagaimana bisa kau memakan benda berbahaya itu? Siapa juga yang menjualnya? Dan... apa yang membelinya orang gila?"

__ADS_1


Nalesha tampak berpikir. "Mungkin memang pedas karena banyak cabenya, tapi tidak berbahaya, kok."


Zael melipat kedua tangan di depan dada. "Kau mau makan lava, sementara memegangnya saja membuat jari dan tulangmu terbakar."


Nalesha tertegun sejenak kemudian tertawa. "Maksudku bukan lava yang itu. Tapi, lava di sini adalah bakso berisi cabe rawit merah yang sangat banyak."


"Aneh sekali, bagaimana bisa manusia menganggap cabe rawit sebagai lava?" Gumam Zael yang tampak serius berpikir.


"Kau bilang kau lebih lama tinggal di dunia manusia dibandingkan aku, tapi kau tidak tahu bakso lava." Nalesha berusaha menahan tawa.


"Aku belum pernah mendengarnya." Zael menggeleng dengan ekspresi polos.


Dengan cepat, Nalesha menjelaskan, "Kau pasti akan terkejut mendengar varian bakso lainnya. Ada bakso lava, bakso beranak, bakso setan, bakso racun, bakso mercon, bakso granat, bakso apa lagi, ya?"


Nalesha tampak berpikir. "Emm, mungkin level pedanya seperti setan. Aku belum pernah mencobanya."


"Sepertinya bangsa manusia sudah kehilangan akal," gumam Zael. Pria itu kemudian bertanya,"Lalu kau mau membelinya di mana?"


"Tidak perlu membeli. Aku akan membuatnya sendiri. Aku sudah men-download tutorial membuatnya. Kau pasti akan suka. Kita makan sama-sama, ya." Nalesha menunjukkan puppy eyes pada Zael.


"Terserah kau saja." Zael mengalihkan pandangannya. "Bukankah kau sedang diet? Kau tidak boleh memakan apa pun selain sayuran."


Nalesha terkekeh. "Hanya sekali. Bakso lava tidak akan membuat berat badanku bertambah 5 kilogram."

__ADS_1


"Kau benar-benar tidak konsisten," ucap Zael pelan. Dia menganggukkan kepalanya. "Arnav akan datang untuk membeli persediaan makanan. Kulkas kita hampir kosong."


Nalesha tersenyum."Terima kasih, Zael. Ngomong-ngomong Arnav itu siapa?"


Siang harinya, pria bermantel punggung oranye datang ke rumah Zael yang sedang menonton TV.


"Pangeran, aku datang untuk membeli persediaan makananmu." Pria bermantel oranye itu membungkuk hormat.


Zael menunjuk Nalesha yang berdiri di depan pintu. Pria itu terlonjak kaget. "Siapa dia, Pangeran?"


"Dia gadis dari bangsa manusia," jawab Zael tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar TV.


"Apa? Apa tidak apa-apa?" Bisik pria itu sambil menghampiri Zael.


"Kau kebanyakan menggunakan kata 'apa', kedengarannya sangat aneh, Arnav," ucap Nalesha.


"Pangeran, bagaimana bisa dia tahu namaku?" Pria bernama Arnav itu tampak khawatir.


"Aku yang memberitahukan namamu padanya, kau tidak perlu khawatir."


... 🍂🍂🍂...


^^^09.00 | 22 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2