THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 37


__ADS_3

Yunita memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Faidan.


Faidan menunjuk wajah Yunita. "Harta suamimu adalah hartaku, dia kakakku. Aku lebih berhak dibandingkan dengan dirimu."


"Setelah apa yang kita lalui kau menamparku?" Yunita menatap Faidan dengan tatapan nanar.


Faidan membuang muka.


"Kau tidak ingat? Kita membunuh Farhan untuk menguasai semua hartanya lalu kita menikah. Itu semua idemu," ucap Yunita.


"Jangan katakan kita dan berhenti membahas pembunuhan itu!" Geram Faidan.


"Kau takut tertangkap?" Yunita menyelipkan pisau yang sejenis yang digunakan para pria itu untuk menusuk Farhan. Wanita itu menyembunyikan pisau tersebut di balik punggungnya.


"Berhenti mengancamku!" Teriak Faidan.


Tiba-tiba Yunita menusuk perut Faidan. Pria itu terpundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya yang mengeluarkan darah segar.


"Ini pisau sejenis yang digunakan untuk menusuk Farhan. Lebih baik aku menguasai hartanya sendirian," ucap Yunita sambil menusuk Faidan lagi.


"Aarrghh!"


Zael yang sedang makan malam dengan Arnav dan Nalesha menghentikan aktivitasnya tiba-tiba.

__ADS_1


Arnav dan Nalesha menoleh padanya.


"Kenapa, Pangeran?" Tanya Arnav.


"Sepertinya mereka bertengkar dan salah satunya berniat membunuh. Aku harus segera menghentikan mereka atau penebusan dosaku akan gagal," ucap Zael.


Faidan berlari keluar dari rumahnya dengan luka tusukan di perutnya, tiba-tiba dia jatuh ke jurang dan berguling-guling.


"Arrgghh! Kenapa ada lubang di sini?" Faidan mengedarkan pandangannya. Dia terkejut setelah menyadari jika dirinya tengah berada di jurang tempat Farhan mengembuskan napas terakhirnya.


"Kenapa aku ada di sini?" Gumamnya.


Tiba-tiba terdengar suara mobil. Faidan melihat mobil melintas di jalanan. "Tolong! Tolong! Ada orang di sini!"


"Kakak," gumamnya.


Seseorang menembak mobil itu hingga meledak dan Farhan terlempar beberapa meter. Faidan mundur ketakutan.


Farhan tampak kesakitan dan kepanasan, karena tubuhnya terbakar. Pria malang itu berusaha memadamkan api di tubuhnya dengan tangannya.


Faidan terus mundur. Dia tidak menyadari ada akar yang menonjol sehingga dia jatuh terduduk. Lalu tubuhnya terperosok ke dalam lubang. Serasa ada paku yang menancap di tubuhnya, Faidan meringis kesakitan.


"Akhirnya kau datang, kau mau menemaniku?" Mendengar suara yang familiar itu, Faidan menoleh ke sampingnya. Kedua matanya membulat melihat Farhan dengan wajah terbakar tengah menatapnya sambil tertawa menakutkan.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak mau mati!"


"Kau membunuhku dan menikmati kehidupan tanpa merasa berdosa sedikit pun."


"Tidak! Aku tidak sendirian! Aku bersama istrimu merencanakan ini! Jangan hanya menyalahkanku!"


Sementara Yunita mencari Faidan yang berlari keluar dari rumah. Wanita itu melihat ke sekeliling, tapi tidak ada siapa pun di luar.


"Kemana bajingan itu?"


Karena Faidan menghilang, Yunita kembali masuk ke rumahnya, tiba-tiba api muncul dan membakar rumahnya. Seseorang muncul dan menusuk perutnya beberapa kali. Darah segar mengalir ke lantai.


Yunita meringis dan mendongkak menatap Farhan yang telah menusuknya. Pria itu tertawa mengerikan.


"Kau harus ikut bersamaku!" Farhan menarik rambut Yunita dan membenturkannya ke dinding beberapa kali.


Yunita yang masih memegang pisau pun menusuk perut Farhan, tapi itu tidak membuat Farhan berhenti. Yunita menendang perut Farhan lalu berlari keluar dari rumah itu tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menabraknya hingga berguling-guling di aspal.


...🍂🍂🍂...


^^^18.53 | 23 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^

__ADS_1


__ADS_2