THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 36


__ADS_3

Yunita terbelalak melihat Faidan dan Nalesha yang melakukan hubungan intim dalam video tersebut. Tanpa sadar, air matanya mengalir membasahi pipinya. Zael mengusap air mata dari pipi Yunita.


Zael mendecih. "Aku bahkan tidak berani mencium kening tunanganku, tapi dia melakukannya lebih dari itu."


Sementara itu, Zael dan Nalesha yang asli sedang menonton kartun di rumah.


"Zael?"


"Hm?"


"Aku penasaran, apa yang sedang mereka lakukan?"


"Kau di bawah umur, tak perlu mengetahuinya."


"Ah, begitu?"


Tengah malam di kediaman Gumelar, Yunita dan Zael tampak tertidur tanpa sehelai benang pun. Mereka juga melakukannya.


Di kantor polisi, Febrian masih melek. Dia menunggu laporan hasil analisis pisau yang mereka temukan di tempat parkir.


Irfan juga, dia tidur di meja kerjanya.


"Bagaimana keadaannya? Apa dugaan Fahreza benar, kalau Nalesha melayani pria aneh itu? Tidak mungkin, Nalesha bukan gadis yang seperti itu." Febrian menggelengkan kepalanya.


** Flashback **


Febrian duduk di bangku taman di depan SMA Parameswara. Saat gerbang dibuka, murid-murid keluar dari SMA tersebut.


Febrian beranjak dari tempat duduknya. Dia melihat Nalesha sedang melihat ke sana kemari. Febrian menghampirinya.


"Nalesha," panggil Febrian.

__ADS_1


Nalesha menoleh. "Kak Febrian, Kakak sedang apa di sini?"


Beberapa teman Nalesha menggodanya. "Cieeee, Nalesha dijemput pacarnya."


"Nalesha selalu aman, karena pacarnya polisi."


"Pak Polisi, jaga Nalesha, ya."


Mereka pergi setelah mengatakan itu.


Febrian mengantar Nalesha pulang dengan mobilnya.


"Kak Febrian tidak bertugas?" Tanya Nalesha.


"Aku sedang cuti, makanya aku memakai pakaian biasa," jawab Febrian.


"Oh." Nalesha menatap jalanan.


Nalesha tersenyum kaku. "Tidak, jangan salah paham. Maksudku... aku tidak ingin merepotkanmu."


"Aku tidak pernah berpikir kau merepotkanku," sanggah Febrian.


"Jujur aku tidak terbiasa dijemput oleh orang lain, kecuali sopirku itu pun jika aku menelepon mereka. Bahkan ketiga kakakku tidak pernah menjemput atau mengantarku ke sekolah," ucap Nalesha.


"Aku tahu dari Harfan, kalau kalian memang kurang dekat. Aku rasa itu karena selisih usia kalian yang terpaut jauh, jadi...."


Nalesha memotong ucapan Febrian, "Mereka tidak menyukaiku."


Febrian mendengarkan.


"Ayah selalu bilang, meskipun ibuku dan ibu mereka tidak pernah akur, kami harus saling melindungi satu sama lain. Tapi, kami berempat seperti 4 sudut mata angin yang tidak akan pernah menyatu, kami beda arah," ucap Nalesha.

__ADS_1


"Kalau begitu, kau bisa menganggapku sebagai kakakmu juga. Aku akan mendengarkan keluh kesahmu. Aku akan melakukan apa pun yang tidak pernah dilakukan oleh kakak-kakakmu," kata Febrian.


Nalesha menatap Febrian.


** End Flashback **


Sementara itu, Faidan pulang ke rumah. Dia melihat Yunita duduk di sofa dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Kau dari mana? Dua malam kau tidak pulang?" Tanya Yunita.


"Biasanya aku memang pulang terlambat, kan?" Ucap Faidan.


"Aku mencarimu ke kantor dan kau tidak ada di sana," ucap Yunita.


"Aku lelah, aku mau tidur. Kita bicarakan nanti," kata Faidan kemudian berlalu menaiki tangga.


"Kau lelah? Karena menghabiskan malam dengan gadis ****** itu?!"


Langkah Faidan terhenti. Dia kembali menuruni tangga dan menghampiri istrinya. "Jangan mengada-ada."


Yunita menunjukkan video yang diberikan Zael padanya. "Kau tampak menikmati permainanmu dengannya."


Kedua mata Faidan terbelalak. Dia tidak menyadari keberadaan CCTV di rumah Nalesha.


"Kau memikat ****** itu dengan harta mendiang suamiku. Jika dia tahu kau pembunuh dan pencandu, dia pasti tidak mau tidur denganmu!" Teriak Yunita


Tamparan keras mendarat di wajah Yunita.


...🍂🍂🍂...


^^^18.24 | 23 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2