THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 02


__ADS_3

Malam harinya, Yunita dan Farhan sedang makan malam di sebuah restoran mewah. Mereka tampak seperti pasangan baru yang sedang berkencan.


"Sayang, tebak apa yang sedang aku kerjakan di perusahaan sekarang?" Tanya Yunita.


"Membuat desain gaun untuk produk baru?" Tebak Farhan.


"Kau benar, apa kau cenayang? Kau sangat peka sehingga bisa membaca pikiranku." Yunita tertawa kecil.


"Benarkah? Gaun apa?" Tanya Farhan penasaran.


Yunita menunjukkan gaun tersebut dalam tabletnya pada Farhan. "Sebuah gaun untuk acara formal. Aku rasa warna ungu gelap sangat cocok dan berkelas."


"Bagus sekali, Sayang." Farhan merangkul istrinya.


Yunita tersenyum.


"Oh, ya. Lusa adikku datang dari Jerman. Dia ingin menginap beberapa hari di rumah kita," kata Farhan.


"Benarkah? Faidan pulang? Dia sudah lulus kuliah?" Tanya Yunita.


Farhan mengangguk. "Dia akan bekerja di kantorku."


"Wah, terakhir kali aku melihatnya sewaktu dia masih duduk di bangku SMP. Dia pasti sudah besar sekarang," kata Yunita.

__ADS_1


Di hutan, Zael sedang berjalan-jalan. Gelapnya malam tidak menghalanginya. Di belakangnya dengan jarak sekitar 6 meter, Nalesha mengendap mengikutinya.


Zael menghentikan langkahnya. Pria itu menghela napas berat. Nalesha segera bersembunyi di balik pohon. Gadis itu khawatir jika Zael akan menyadari keberadaanya.


Saat Nalesha mengintip lewat pohon, dia tidak melihat Zael. Ternyata pria itu sudah berada di belakangnya.


"Kenapa kau mengikutiku?"


"Aaa!" Nalesha tersentak kaget. Dia menoleh ke belakang, tepatnya pada Zael. "Aku... aku hanya takut ditinggal sendirian di rumah."


Zael menatap gadis itu. "Lalu kau tidak takut jalan-jalan di hutan malam-malam begini? Bagaimana jika ada serigala yang datang dan menyerangmu?"


"Kau tidak akan membiarkan itu terjadi, kan?" Cicit Nalesha.


"Zael, kau tidak marah, kan?" Tanya Nalesha sambil berjalan bersebelahan dengan Zael. Dia menyamakan langkahnya dengan pria itu.


"Hm," hanya itu yang terdengar daei mulutnya.


Entah apa maknanya, tapi Nalesha berpikir jika 'hm' itu adalah pengganti kata 'iya'.


"Aku tidak mengerti, kenapa belakangan ini aku tidak mendengar teriakan atau deru napas terakhir seseorang. Apa mungkin karena aku terlalu jauh berada di dalam hutan?" Ucap Zael.


"Mana mungkin, biasanya kau akan mendengar suara orang sekarat seberapa jauh pun kau berada," ujar Nalesha.

__ADS_1


"Apa mungkin instingku sebagai drucless sudah hilang dan aku menjadi manusia seutuhnya?" Zael merasa khawatir.


"Tidak mungkin, kau tidak mungkin menjadi manusia," hibur Nalesha.


"Kau benar, mungkin aku berpikir terlalu jauh," gumam Zael.


"Bersabarlah, mungkin hari ini orang-orang sedang tidak bermasalah. Kau juga butuh istirahat. Menolong manusia itu membutuhkan tenaga lebih," ujar Nalesha.


"Bagaimana rasanya menjadi manusia?" Tanya Zael.


"Aku merasa biasa saja, tidak ada yang istimewa. Menurutku menjadi drucless lebih menyenangkan. Mereka terlahir istimewa dengan memiliki kekuatan. Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau," jawab Nalesha.


"Menjadi drucless tidak seenak itu. Banyak hal yang harus kau lakukan dan yang harus kau hindari. Bersyukurlah kau terlahir sebagai manusia," kata Zael.


"Jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi drucless," celetuk Nalesha.


Zael menatap Nalesha. "Aku berharap kau tetap menjadi manusia, sekarang maupun di kehidupan selanjutnya. Kau tidak akan mengerti seberapa menakutkan dunia drucless."


Nalesha terdiam seribu kata.


...🍂🍂🍂...


^^^19.32 | 22 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2