
"Tidak! Bukan aku!" Faidan tersentak bangun. Keringat dingin mengalir dari dahinya. Dia menghela napas lega karena itu hanya mimpi buruk buruk.
Namun, luka cakaran di lehernya terasa sangat perih. Dia menyentuhnya, daerah segar menetes dari luka itu. Luka itu nyata.
"Bagaimana luka ini...."
Dia mengedarkan pandangannya di ruangan asing itu. Saat melihat Lesha tertidur di sofa, dia baru ingat semalam dia mengantarkan Arnav pulang dan dirinya tidur di sofa, begitu pun dengan Nalesha.
Pria itu melihat Nalesha yang tampak begitu manis saat tertidur. Faidan melihat ke sekeliling. Dia mendekati Nalesha dan menyentuh betis serta paha Nalesha yang putih mulus itu.
"Kau cantik sekali." Faidan mendekatkan wajahnya akan mencium bibir Nalesha yang sedikit terbuka.
Tapi....
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Bentak Zael yang tiba-tiba sudah ada di sana.
Faidan terkejut. Dia mendongkak menatap Zael yang tampak marah. Pria itu sungguh menakutkan. Tanpa basa-basi, Zael memukul wajah Faidan dengan tangannya.
"Sialan! Beraninya kau menyentuh tunanganku!" Zael memukulnya lagi.
Mendengar suara keributan, Nalesha bangun dan terkejut melihat Zael memukuli Faidan.
"Zael! Apa yang kau lakukan?!" Nalesha berusaha menghentikan Zael, tapi pria itu mendorong Nalesha.
"Jangan hentikan aku, Lesha! Aku melihatnya akan menciumu tadi!" Geram Zael. Faidan tersungkur ke lantai.
Zael menarik bagian depan kemeja pria itu. "Kau mau merebut gadis itu dariku?!"
"Kau pasti salah paham," kata Faidan.
"Aku melihatmu, Brengsek!" Bentak Zael dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
"Aku sudah punya istri, aku tidak mungkin...."
"Wajahmu terlihat seperti pria pecundang yang suka merebut istri orang!" Potong Zael.
Faidan terdiam.
"Apa yang terjadi? Zael, apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba Arnav keluar dan menghampiri mereka. "Kau memukul kolegaku?"
"Tuan Gumelar, kau tidak apa-apa?" Tanya Arnav.
Faidan menggeleng. "Tidak apa-apa, Tuan Haden."
Nalesha mencoba menjelaskan dengan kepala tertunduk. "Zael, jangan marah padanya. Semalam Ayah mabuk dan pulang diantarkan olehnya. Saat dia mau pulang, mobilnya kehabisan bahan bakar. Dia menginap di sini."
Zael berbalik menatap Nalesha kemudian memeluknya dengan erat. Nalesha terkejut dengan apa yang dilakukan Zael.
Ini akting atau sungguhan? Zael, kau membuatku harus berimprovisasi lagi, batin Nalesha.
Zael menganggukkan kepalanya tanpa menoleh sedikit pun pada Faidan. Setelah mendapatkan kunci, Faidan pun berpamitan. Kedua matanya terbelalak melihat mobil sport ungu di depan rumah.
Faidan mendecih. "Sport? Dia pasti sangat kaya. Pantas saja Lesha takut padanya."
Melihat sport ungu itu pergi, Nalesha menghela napas lega. "Akhirnya pergi juga makhluk itu."
"Bukankah dia bangsamu juga?" Tanya Arnav.
"Iya juga, sih." Nalesha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aktingmu bagus sekali," ujar Arnav sambil tos dengan Nalesha.
Zael pergi meninggalkan mereka berdua. Arnav dan Nalesha menatap punggung Arnav.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" Tanya Nalesha.
Arnav mengedikkan bahunya.
Zael berdiri di balkon. Nalesha menghampirinya. "Kau marah? Tapi, itu cuma akting."
"Kau tampaknya senang saat bersama pria itu," gerutu Zael. "Kau membiarkannya menyentuh paha dan betismu."
"Aku tidak membiarkannya, aku tidur sungguhan. Mana kutahu dia menyentuhku," gerutu Nalesha kesal.
"Lebih baik kau sampai sini saja," ujar Zael.
"Apa? Kau marah padaku? Kau bilang aku jangan berciuman dan berpelukan dengannya. Aku...."
"Nah," Zael memotong ucapan Nalesha. "Kau berpelukan dengannya semalam."
"Ya... itu karena... aku mendalami peran." Nalesha baru ingat.
"Dasar genit." Zael melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa? Aku tidak genit!" Nalesha memukul lengan kekar Zael.
Sementara Arnav memperhatikan mereka di pintu. "Apa Pangeran Zael cemburu? Oh, ini membuatku malu."
(Zael)
...🍂🍂🍂...
^^^10.28 | 22 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^