
"Jika kakakku bertanya pada Kak Febrian, bilang saja Kak Febrian tidak pernah bertemu denganku," kata Nalesha.
Febrian mengangguk. "Baiklah, tapi aku harus tahu apa yang terjadi. Kau bolos sekolah, tidak punya uang, tapi kau berada di restoran mahal ini. Bagaimana bisa seperti itu?"
Nalesha tidak menjawab.
"Kau tidak bisa menjawab? Nalesha, aku khawatir padamu. Sekarang aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu." Febrian mengulurkan tangannya.
Nalesha menatap tangan Febrian. Tiba-tiba Zael datang dan menghalangi Nalesha dari Febrian.
"Maaf, kau siapa?" Tanya Zael.
Kedua pria itu saling menatap dengan tatapan tajam.
"Seharusnya aku yang bertanya," ucap Febrian. "Bagaimana bisa kalian bersama? Kau siapa?"
Zael menoleh pada Nalesha yang tidak buka mulut. Akhirnya Zael yang menjawab, "Aku sepupunya."
Febrian cukup terkejut mendengar itu. "Sepupu? Fahreza tidak pernah menceritakan tentangmu."
"Apa pedulimu?" Zael berkacak pinggang.
"Aku polisi, Nalesha hilang di hutan dan kami sedang mencari sejak beberapa bulan yang lalu," jawab Febrian.
Zael menoleh pada Nalesha.
"Tampaknya kau berbohong. Kau bisa tunjukkan lencanamu?" Tanya Zael.
"Tentu." Febrian merogoh saku jaketnya, tapi tampaknya dia tidak membawa lencananya.
"Sudah kuduga kau berbohong. Sebaiknya kau pergi atau kupanggil security," ancam Zael.
Namun, Febrian tetap berdiri mematung.
__ADS_1
Zael mengulurkan tangannya pada Nalesha. Gadis itu menerima uluran tangan Zael lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Permisi." Zael membawa Nalesha pergi dari restoran itu.
Febrian menatap punggung mereka.
Di dalam mobil, Zael dan Nalesha sama-sama diam. Karena melihat Nalesha cemas, Zael berbicara duluan, "Kau baik-baik saja?"
Nalesha mengangguk.
"Siapa pria tadi?" Tanya Zael.
"Yang kutahu dia polisi yang menginvestigasi kasus kematian Farhan Gumelar. Dia juga pernah menanyai Arnav tentang hubungan kerjasama antara perusahaan Haden dan Gumelar," jawab Nalesha.
"Tampaknya dia mengenalmu lebih dari itu," ujar Zael.
Nalesha tidak segera menjawab.
Nalesha tetap diam.
"Aku melihat wajahmu di layar iklan sewaktu pergi ke toilet," kata Zael.
Nalesha terkejut mendengar itu. Dia menatap Zael.
"Kau sengaja kabur dari rumah dan ingin meninggalkan keluargamu?" Tanya Zael.
"Mereka bukan keluargaku. Mereka lebih jahat dari iblis. Mereka ingin aku mati agar bisa menguasai perusahaan Ayah," kata Nalesha.
"Kau pasti salah paham, keluargamu adalah satu-satunya tempatmu untuk pulang. Mereka bagian dari hidupmu, oleh sebab itu mereka mencarimu," ucap Zael.
Nalesha menghela napas berat. "Percuma kau tidak akan mengerti."
Zael menoleh sesaat pada Nalesha kemudian kembali menatap jalanan.
__ADS_1
"Mereka bahkan menjodohkanku dengan seorang polisi agar kejahatan mereka dilindungi," ucap Nalesha.
"Apa? Kau membicarakan akting kita?"
Nalesha menggeleng. "Akting kita tidak ada apa-apanya. Sebenarnya perjodohan itu memang terjadi dalam hidupku."
** Flashback **
Nalesha yang masih memakai seragam SMA duduk berhadapan dengan Febrian yang juga mengenakan seragam kepolisian.
Keduanya tampak canggung.
"Aku sudah membicarakannya dengan Fahreza. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menganggapmu seperti adikku sendiri," kata Febrian.
Nalesha tidak menjawab.
** End Flashback **
"Jadi, polisi tadi...."
Nalesha mengangguk. "Dia orangnya. Aku tahu Kak Febrian bukan polisi yang korup, tapi aku tidak menjamin atasannya begitu. Kakakku berteman baik dengan Kak Febrian."
"Tampaknya polisi itu menyukaimu. Aku bisa melihat lewat tatapannya saat menatapmu." Zael mengalihkan pandangannya.
"Kakak tertuaku bilang, kalau aku harus menyelesaikan sekolah dan menikah dengan polisi itu secepat mungkin," ucap Nalesha.
"Memangnya kejahatan apa yang dilakukan kakakmu sampai-sampai harus meminta bantuan polisi untuk menutupinya?" Tanya Zael.
...🍂🍂🍂...
^^^19.15 | 23 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1