
Arnav sedang kedatangan tamu di kantornya. Siapa lagi kalau bukan dua polisi tampan yang mendatangi Haden Corp di dekat hutan perbatasan kota.
"Aku tidak mengira ada perusahaan besar di daerah ini. Rasanya baru pertama kali aku melihatnya. Padahal dua minggu yang lalu kami datang ke jurang sebelum lokasi ini untuk mengevakuasi jenazah Tuan Farhan Gumelar," ujar Febrian.
"Begitukah? Kami sudah membangun perusahaan ini sejak lama, tapi perusahaan kami tidak sebesar Danuarga dan Adiwijaya, jadi tidak semua orang tahu," ucap Arnav.
"Apa Tuan mengenal pria ini?" Irfan menunjukkan foto Farhan.
"Kami tidak mengenal satu sama lain, tapi aku tahu dia adalah pemilik Gumelar Group sebelum Tuan Faidan Gumelar yang mengambil alih," jawab Arnav.
"Kami sedang menyelidiki pembunuhan yang menimpanya dan ada beberapa tersangka yang kami curigai. Ngomong-ngomong, kenapa Tuan memilih menjalin kerjasama dengan Gumelar Group, padahal perusahaan lain menolak bekerja sama dengan perusahaan itu bahkan ada yang sudah kerjasama, tapi memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan tersebut, karena pemimpin perusahaan itu diganti oleh Faidan Gumelar?" Tanya Febrian.
Arnav mengangguk. "Aku mengerti kenapa kalian kemari. Kalian mencurigaiku juga? Baiklah, akan kujawab jujur."
Irfan dan Febrian tampak serius mendengarkan. Tak lupa buku catatan dan pulpen mereka.
Arnav mengubah ekspresinya menjadi sendu. "Perusahaanku berada di ambang kebangkrutan. Aku menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan mana pun untuk mendapatkan sokongan. Jika tidak, bukan hanya aku yang terkena dampaknya, para karyawanku juga. Bahkan aku terpaksa menjodohkan putriku yang masih sekolah dengan seorang pengusaha kaya untuk mendapatkan sokongan darinya juga."
Irfan dan Febrian saling pandang.
"Jika kalian tidak percaya, aku akan memperlihatkan laporan keuangan perusahaanku. Setiap harinya saham mengalami penurunan. Itu yang terjadi padaku." Arnav benar-benar tampak menyedihkan.
Setelah selesai berbicara dengan Arnav, kedua polisi itu pun berpamitan. Nalesha memasuki perusahaan itu. Dia melihat Febrian keluar dari lift. Kedua mata Nalesha terbelalak. Gadis itu segera bersembunyi di balik pilar bangunan. Dia memperhatikan Febrian dan Irfan yang pergi keluar dari perusahaan tersebut.
__ADS_1
"Sedang apa dia di sini?" Nalesha tampak berpikir. "Benar juga, dia polisi. Dia pasti sedang menyelidiki kasus kematian Farhan Gumelar."
Seseorang menepuk bahunya. Nalesha tersentak kaget. Dia menoleh, ternyata Arnav.
"Kau sedang apa?" Tanya Arnav.
Nalesha menggelengkan kepalanya.
Sebelumnya Zael dan Nalesha sudah menyusun strategi.
** Flashback **
"Bagaimana jika kita sedikit berakting?" Zael menatap Nalesha.
Zael mengangguk. "Iya, kau akan menggoda Faidan dan aku akan menggoda Yunita. Mereka pasti akan bertengkar dan membuat situasi semakin rumit. Dengan mengulur waktu, para polisi pasti akan menemukan barang bukti untuk menangkap mereka."
"Aku suka idemu, tapi apa kita akan pergi ke kota untuk mendatangi mereka?" Tanya Nalesha yang tampaknya kurang setuju.
Zael mengangguk lagi. Dia menunjukkan foto Faidan dan Yunita. "Mereka target kita."
"Wah, pria ini sangat tampan. Wajar jika Yunita tergoda," ujar Nalesha dengan tatapan tertuju pada foto Faidan.
Zael menautkan alisnya. "Jangan sampai kau menyukainya, ingat dia pembunuhnya."
__ADS_1
"Iya, aku mengerti," gerutu Nalesha.
"Tidak ada sentuhan fisik seperti berciuman dan berpelukan," larang Zael.
"Aku memang belum pernah berciuman atau berpelukan dengan pria, bahkan ayah dan kakakku sendiri. Lalu bagaimana caraku menggodanya?" Tanya Nalesha.
Zael menatap Nalesha. "Cukup diam dan menatapnya. Kau sudah sangat mempesona."
Kedua pipi Nalesha memerah.
(Nalesha)
(Zael)
...🍂🍂🍂...
^^^20.51 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1