
Zael tersenyum sinis. "Aku akan merencanakannya. Kita bisa hidup bersama selamanya. Jika kau mau, aku akan membawamu Jerman."
Yunita kembali menatap Zael. Pria itu segera mengubah ekspresinya menjadi seperti pria bucin.
"Kenapa kau mengatakan ini? Kau tidak memikirkan perasaan tunanganmu? Aku juga masih mencintai suamiku." Yunita tampak sedih.
Zael tampak sedih. "Sepertinya suamimu adalah pria yang baik. Dia sangat beruntung memiliki istri yang cantik dan setia sepertimu. Tentu saja kau tidak ingin dia terbunuh, kan?"
Yunita tampak sedih. Aku sudah membunuhnya, aku membunuh Farhan.
** Flashback **
"Kalau begitu, aku harus menyingkirkan suamimu untuk mendapatkanmu," kata Faidan.
Yunita terkejut. "Kau gila? Dia kakakmu."
Faidan menangkup wajah Yunita. "Aku sudah merencanakannya. Kita bisa hidup selamanya. Kalau kau mau, aku akan membawamu ke Jerman."
Yunita tampak berpikir.
Malam itu Faidan berada di dalam mobil yang sedang mengejar mobil Farhan. Dia mengeluarkan pistolnya. Pria itu yang berdiri di tepi jurang dan menembak mobil Farhan hingga meledak.
Yunita membayar seorang assassin dan beberapa tukang pukul untuk membunuh suaminya sendiri.
Itulah kejadian yang sebenarnya.
** End Flashback **
__ADS_1
Setelah makan malam dengan Zael, Yunita pulang ke rumah. Faidan sudah berada di rumah. Pria itu menatap istrinya.
"Kau dari mana?" Tanya Faidan.
"Makan malam dengan klien. Dia pembeli gaun dan tuxedo terbaruku," jawab Yunita kemudian berlalu.
Faidan tampak curiga. "Yunita."
Langkah wanita itu terhenti. Dia menoleh pada Faidan. Pria itu memberikan sebuah kartu undangan.
"Tuan Arnav Haden mengundang kita ke acara ulang tahunnya. Kita harus datang, dia klienku yang paling aku hormati," ucap Faidan.
"Tentu, kita harus datang." Yunita melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Di tengah malam, Yunita dan Faidan tampak tidur nyenyak. Tiba-tiba asap mengepul memenuhi ruang kamar. Yunita bangun dan terkejut melihat kobaran api.
Suaminya bangun dan menyentuh bahu Yunita. "Kau sudah berjanji akan sehidup semati denganku, kan?"
Yunita terkejut mendengar suara yang berbeda yang tentunya bukan suara Faidan. Dia menoleh, kedua matanya membelalak lebar melihat Farhan yang menatapnya dengan wajah penuh darah dan menakutkan.
"Mari kita mati bersama."
"Tidak!" Yunita mendorong Farhan kemudian berlari keluar dari kamar itu, tapi api di mana-mana. Tercium bau bahan bakar di mana-mana. Tiba-tiba seseorang menjambak rambutnya. Orang itu adalah Farhan.
"Mati kau!" Farhan menindih Yunita dan mencekik leher wanita itu. Dia mencipratkan sesuatu ke lengan Yunita. Bukan air atau apa, melainkan bensin. Api menyambar lengannya.
Yunita berteriak kepanasan. Dia berusaha melepaskan diri dari Farhan yang mencoba membunuhnya.
__ADS_1
"Jangan! Jangan bunuh aku!"
"Yunita?"
Yunita terbangun dan melihat Faidan sedang menatap heran padanya. Wanita itu melihat ke sekeliling. Tidak ada api, tapi dia masih mencium bau bensin dan suara gemetirik api yang membakar rumahnya.
"Kau bermimpi buruk?" Tanya Faidan.
Yunita memeluk suaminya sambil menangis. "Aku bermimpi Farhan membunuhku. Dia sangat menakutkan."
Faidan mengusap rambut istrinya. "Dia sudah mati, ada aku di sini."
Yunita masih tampak ketakutan. Dia menangis terisak-isak dalam dekapan Faidan.
Melihat luka percikan api di lengan Yunita, Faidan tampak kebingungan. "Kau terluka? Apa yang terjadi padamu?"
Yunita melepaskan pelukannya. "Maksudmu?"
"Ini." Faidan menyentuh lengan Yunita.
"Aw." Wanita itu terkejut melihat luka di lengannya. "Bagaimana bisa...."
...🍂🍂🍂...
^^^17.09 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^
__ADS_1