THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 21 - ACTING


__ADS_3

Di kediaman Gumelar, Faidan dan Yunita makan malam bersama. Keduanya berbincang.


"Hari ini aku sial sekali. Para karyawan tidak bisa diandalkan, rapat dengan klien tidak berjalan baik, dan polisi datang menginterogasiku. Sangat menyebalkan," gerutu Faidan.


"Para polisi itu tidak akan berhenti sampai menemukan pembunuhnya. Seandainya mereka bisa disuap," ucap Yunita.


"Yunita, lebih baik kita segera menikah," kata Faidan tanpa beban.


"Apa?" Yunita tampak terkejut.


"Jika kita tidak menikah, para polisi itu akan mencari kesalahan-kesalahanku yang lainnya lagi. Aku tidak mau itu terjadi," kata Faidan.


"Jika kita menikah, bukankah situasinya semakin buruk? Mereka akan lebih mencurigai kita," sanggah Yunita.


"Tidak, jika kita menikah, orang-orang akan menganggapku sebagai penolong. Karena kau ditinggal mati oleh suamimu, maka aku yang berkewajiban menjagamu," kata Faidan.


Dirasa ucapan Faidan ada benarnya, Yunita pun setuju.


Pernikahan mereka dilangsungkan beberapa hari kemudian. Para awak media menyorot pernikahan mereka. Setelah kematian Farhan, bahkan kuburannya belum kering, Faidan menikahi Yunita.


"Setelah kakakku tiada, aku merasa berkewajiban untuk menjaga Kak Yunita. Karena dia seorang perempuan, aku harus menikahinya demi menghindari berita-berita buruk yang sudah beredar," itu yang dikatakan Faidan.

__ADS_1


Di kantor polisi, Febrian dan Irfan menonton beritanya. Irfan mendecih mendengar penjelasan Faidan. "Bocah itu sangat pandai mencari alasan. Tidak sia-sia dia belajar jauh di Jerman."


Sementara di rumah hutan, Zael dan Nalesha juga melihat berita itu. Mereka tampak serius.


"Kenapa tidak sekalian pasang banner dan tulis, 'kami telah berselingkuh' saja?" Gerutu Nalesha.


"Aku baru tahu bangsa manusia tidak punya malu," kata Zael.


"Aku juga baru tahu," ucap Nalesha ketus.


Faidan dan Yunita pergi ke Bali untuk menikmati bulan madu mereka. Saat menikmati makan malam outdoor di tepi pantai, seorang pria menghampiri mereka.


"Tuan Gumelar?" Sapa pria paruh baya itu.


"Putriku dan tunangannya sedang berlibur. Karena aku sangat menyayangi putriku, aku ikut dan mengawasi mereka." Arnav yang sedang menyamar menjadi om-om itu tertawa kecil.


"Begitukah? Wah, kebetulan sekali kita bertemu, ya." Faidan juga tertawa.


Yunita melihat kedua pria itu bergantian. Mereka berdua tampak akrab.


"Kalian pasti sedang berbulan madu. Maafkan aku telah mengganggu momen kebersamaan kalian." Arnav pun pergi.

__ADS_1


"Siapa dia? Kalian tampak akrab," tanya Yunita.


"Dia klienku yang paling terhormat, Arnav Haden. Di saat klien lain memandangku dengan sebelah mata, hanya dia yang menghormatiku," jawab Faidan.


Yunita tampak berpikir. "Haden? Rasanya aku pernah mendengar nama itu."


Setelah makan malam romantis mereka selesai, Yunita dan Faidan kembali ke hotel.


"Yunita?" Seseorang memanggil Yunita. Wanita itu menoleh, ternyata seorang wanita cantik yang memanggilnya.


"Elsa?" Yunita menghampiri wanita itu. "Bagaimana kabarmu?"


Faidan menunggu Yunita yang sedang berbicara dengan teman lamanya. Beberapa saat kemudian, Yunita menghampiri Faidan. "Kau duluan saja, aku mau bicara dengan teman lamaku."


Faidan mengangguk. "Baiklah."


Pria itu berlalu dan menaiki lift. Lift berhenti di lantai 16. Pintu lift terbuka. Faidan melihat gadis cantik berdiri di depan pintu lift dengan ekspresi sedih. Gadis itu masuk lalu menekan angka 21.


Faidan melirik gadis yang mulai menangis itu. Dia menjadi canggung.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


^^^18.31 | 22 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah^^^


__ADS_2