
Yunita sedang menggambar desain tuxedo di tabletnya. Wanita itu tampak serius. Setelah selesai, dia memberikan warna hitam untuk tuxedo tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Yunita melirik pintu sambil menghela napas panjang.
"Masuk."
Andre masuk dengan ekspresi girang. "Nyonya, Nyonya, ada pria tampan yang datang. Dia tampaknya sangat kaya dan... oh, tampan sekali."
"Jadi, apa masalahmu?" Gerutu Yunita.
"Saking tampannya, aku tidak bisa berkata apa-apa di depannya, aku terlalu gugup," ujar Andre sambil membayangkan wajah seseorang yang katanya tampan itu.
"Kau sedang mabuk, ya?" Yunita keluar dari ruangannya diikuti Andre.
"Nyonya saja yang mengajaknya bicara, jangan aku," kata Andre.
Yunita berhenti melangkah. Tatapannya tertuju pada pria tampan berjas yang sedang melihat-lihat gaun yang dipasangkan pada manekin di setiap penjuru ruangan.
"Tampan, kan?" Bisik Andre.
Yunita menghampiri pria itu. Pria yang tak lain adalah Zael menoleh padanya. Alhasil pandangan keduanya bertemu.
"Nona pemilik perusahaan ini?" Tanya Zael sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Yunita juga tersenyum. "Iya, aku juga yang membuat beberapa desain gaun."
"Aku ingin membeli sebuah gaun yang paling indah untuk tunanganku," ucap Zael.
"Oh?" Yunita tersenyum. "Mari, aku akan tunjukkan beberapa gaun berkelas yang cocok dipakai oleh gadis muda."
Andre tersenyum melihat Yunita dan Zael yang pergi ke ruangan lain. "Nyonya Gumelar juga terpesona, kan?"
Yunita membawa Zael ke ruangan di mana gaun-gaun di ruangan tersebut ditutup dengan etalase. "Kami memiliki banyak gaun yang bahannya berkualitas tinggi. Sangat berkelas jika dipakai oleh seorang gadis yang sudah bertunangan. Bisa dipakai ke acara-acara mewah."
"Emm... kalau boleh jujur, tunanganku masih sangat muda," ucap Zael.
"Oh, iya tentu. Gaun-gaun di sebelah sini biasa dipakai gadis-gadis berusia 19 tahunan ke atas." Yunita menunjuk beberapa gaun.
"Tunanganku berusia 16 tahun," kata Zael.
Pandangan Zael tertuju pada salah gaun indah berwarna ungu di ruangan itu. "Gaun itu sangat cantik."
Yunita melihat arah pandangan Zael. Ternyata pria itu mengagumi gaun terbarunya yang kemarin dia desain sendiri. "Bukankah itu terlalu terbuka untuk seorang gadis berusia 16 tahun?"
"Aku menyukainya, dia pasti menyukainya. Jangan berikan gaun itu pada siapa pun. Besok aku akan datang lagi kemari dengan tunanganku," ucap Zael.
Yunita mengangguk. "Tentu, Tuan."
__ADS_1
Setelah Zael pergi, Yunita bergumam, "Dia bertunangan dengan seorang gadis berusia 16 tahun? Tidak masuk akal. Apa dia pedofil?"
"Nyonya, Nyonya, dia tampan, kan?" Andre menghampiri Yunita.
"Andre, besok dia akan kembali dan mengambil gaun itu. Semuanya harus tampak rapi dan estetik. Sepertinya dia bukan orang sembarangan," ucap Yunita.
"Gaun itu? Gaun yang mana?" Tanya Andre.
"Yang S-2.11."
"Wah, gaun terbarumu yang sangat indah itu? Dia pasti sudah punya kekasih sampai-sampai datang kemari untuk memilihkan gaunnya sendiri," ujar Andre.
Zael memasuki mobilnya. Nalesha menoleh. "Kau bertemu dengannya?"
"Iya, besok kita akan kembali untuk mengambil gaunmu," jawab Zael.
Nalesha mengernyit. "Gaun?"
"Iya, aku membelikan gaun untuk tunanganku," ucap Zael.
Kedua pipi Nalesha memerah. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela sambil bergumam pelan, "Sejak kapan kita bertunangan."
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
^^^12.35 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^