
Nalesha kecil melihat tiga kakaknya bermain di halaman belakang mansion Gunindra. Sementara dirinya tidak melepaskan genggaman tangannya dari ayahnya.
Tuan Gunindra berjongkok di depan putrinya. "Nalesha, bermainlah dengan kakakmu."
Nalesha kecil menggeleng. Dia mengeratkan pegangan tangannya.
"Mungkin karena perbedaan usia mereka yang jauh membuat Nona Nalesha dan saudara lainnya kurang akrab," ucap pria paruh baya yang berdiri di belakang Tuan Gunindra.
"Ya, kau benar, Brama. Tapi, aku yakin suatu hari nanti mereka akan akrab," ucap Tuan Gunindra.
Suatu hari saat makan malam, Tuan Gunindra melihat putra-putrinya yang sudah tumbuh dewasa. Nalesha sudah masuk SMP saat itu dan Joanna mau lulus semester akhir di kampusnya. Sementara Harfan dan Fahreza sudah diizinkan memegang perusahaan.
"Jika nanti Ayah pergi, kalian harus saling menjaga satu sama lain. Kalian berempat adalah pilar penting bagi Ayah. Kalian seperti arah mata angin yang akan Ayah tuju di mana pun kalian berada. Utara, Timur, Barat, dan Selatan yang tidak bisa dipisahkan."
Sepeninggal ayahnya, keempat anak itu sering bertengkar dan tidak pernah saling melindungi satu sama lain.
"Setelah lulus, kau akan bersekolah di Swedia," kata Fahreza.
Nalesha mengernyit. "Kenapa harus di luar negeri?"
__ADS_1
"Kau pernah liburan ke Prancis dan Swiss sebelumnya. Apa kau tidak senang dengan suasana di luar negeri? Bersekolah di luar negeri itu sangat menyenangkan," ujar Joanna.
Nalesha tampak berpikir. "Aku mau bersekolah di sini saja."
"Kau mau sekolah di mana?" Tanya Harfan.
"Banyak SMA favorit di sini. SMA Parameswara dan SMA Hardiswara. Kak Fahreza kenal putra dari keluarga Hardiswara, kan? Memangnya dia tidak merekomendasikan sekolahnya?" Nalesha menatap Fahreza.
Fahreza tidak menjawab.
Nalesha tersenyum kecil. "Kalian ingin aku menghilang dari sini, kan? Kalian tidak senang dengan keberadaanku."
"Kalian ingin membunuhku, kan?" Tanya Nalesha dengan tatapan tertuju pada Fahreza, kakak tertuanya. Tidak ada rasa takut sedikit pun meskipun usia mereka terpaut 16 tahun.
"Jika aku ingin membunuhmu, kenapa aku tidak melakukannya sekarang? Membunuhmu bukanlah hal yang sulit, Nalesha," kata Fahreza serius.
"Kau pasti salah paham," kata Harfan.
"Kenapa kau selalu berpikir buruk tentang kami?" Tanya Joanna.
__ADS_1
"Daripada kalian mengusirku keluar negeri, aku akan tinggal di rumah ibuku," ucap Nalesha kemudian berlalu meninggalkan ruangan.
"Hei, kami belum selesai bicara," gerutu Harfan.
"Bocah itu benar-benar tidak punya sopan santun," ujar Joanna sambil menggeleng pelan.
Fahreza mendecih sambil tersenyum sinis. "Meskipun dia masih kecil, dia pintar juga. Sebaiknya kita jangan gegabah."
Karena hal tersebut, Nalesha memilih tinggal di rumah mendiang ibunya, yaitu kediaman Mahali.
Namun, ketiga kakaknya sering datang dengan alasan ingin melihat keadaan Nalesha, padahal mereka hanya ingin tahu seberapa kaya istri pertama ayahnya itu.
Ya, Tuan Gunindra menikahi ibu Nalesha. Karena ibunya Nalesha tidak kunjung mengandung, Tuan Gunindra meminta izin untuk menikahi wanita lain, yaitu wanita yang melahirkan Fahreza, Harfan, dan Joanna. Ibunya Nalesha hamil di usia tua. Setelah melahirkan Nalesha, wanita pertama di hati Tuan Gunindra itu meninggal dunia.
Tuan Gunindra sudah memutuskan pewaris utama dari perusahaan Gunindra One adalah Nalesha. Entah apa alasannya, tapi kakak-kakaknya Nalesha tidak terima dengan keputusan itu. Mereka berpikir jika orang yang pantas mendapatkan kedudukan penting di Gunindra One adalah anak sulung, yaitu Fahreza.
...🍂🍂🍂...
^^^15.19 | 23 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah^^^