
Febrian berkali-kali mengulang rekaman CCTV Gumelar Group. Pria itu menekan pause dan melihat layar. Dia mengernyit, "Kavin, panggil Irfan!"
"Baik, Pak."
Tak lama kemudian, Irfan datang. "Iya, Pak?"
"Lihatlah." Febrian menunjuk ke layar. "Angka di lift ini menunjukkan lantai 12 dan di menit selanjutnya menunjukkan lantai 18. Rekaman video ini sudah diedit dan sengaja membodohi kita."
"Kecurigaan kita tidak salah lagi. Faidan dan Yunita sangat pandai menyembunyikan ekspresi. Bukti pun bisa mereka sembunyikan," ujar Irfan.
Febrian mengangguk. "Aku akan mencari nama Farhan di web assassin nanti."
Irfan tampak terkejut. "Apa? Pak Febrian...."
"Aku hanya membutuhkannya untuk kasus ini," potong Febrian.
"Oh, ya, Pak. Ada satu hal yang aneh. Para klien satu per satu mulai memutuskan kerja sama dengan Gumelar Group. Tapi, ada satu perusahaan yang mengajak Gumelar Group bekerja sama, yaitu Haden Corporation," kata Irfan sambil menunjukkan sebuah map berwarna coklat pudar.
"Haden Corporation? Aku belum pernah mendengar nama perusahaan seperti itu." Febrian serius membaca isi map tersebut. "Arnav Haden? Di mana perusahaan ini berada?"
__ADS_1
Irfan mengedikkan bahunya. "Kudengar lokasinya di luar kota, aku juga baru kali ini mendengar nama itu. Tidakkah ini aneh? Haden Corporation mendekati Gumelar Group di saat perusahaan-perusahaan besar lain memutuskan kerja sama. Lalu hubungan kerjasama antara Gumelar Group dan Haden Corp terjalin 3 hari setelah kematian Farhan Gumelar."
Febrian mengernyit. "Luar kota? Bukankah jenazah Farhan dan mobilnya ditemukan di tebing dekat hutan perbatasan kota? Kita harus menyelidikinya."
"Iya juga, ya. Lebih mencurigakan lagi, Faidan dan Yunita sedang berbulan madu di Bali. Dan kabarnya Arnav Haden juga berada di sana saat ini," ujar Irfan.
Febrian memutar otaknya.
Setelah 8 hari di Bali, Faidan dan Yunita kembali ke Jakarta. Mereka melakukan aktivitas masing-masing seperti biasanya.
Yunita melihat tuxedo yang dia desain sudah jadi. "Para pekerjaku bekerja dengan baik. Besok kita akan makan malam bersama."
"Yeee!" Para karyawan Yunita tampak senang.
"Kau tampan sekali dengan tuxedo itu," puji Yunita tanpa sadar
Zael menoleh padanya. Yunita segera menutup mulutnya. "Ma-maafkan aku."
Zael tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya ke cermin. "Terima kasih sudah menyebutku tampan."
__ADS_1
Yunita tampak salah tingkah. "Kau memang tampan."
"Aku tidak merasa seperti itu. Jika iya aku tampan, seharusnya tunanganku mencintaiku," ucap Zael dengan ekspresi sedih.
"Tunanganmu... gadis yang kemarin, kan?" Tanya Yunita memastikan.
Zael mengangguk.
Yunita tampak berpikir. "Tapi, kulihat dia sangat mencintaimu."
"Dia berpura-pura mencintaiku karena kami dijodohkan. Perusahaan ayahnya sedang diambang kebangkrutan, sehingga ayahnya memilih untuk menjodohkanku dengan putrinya yang masih remaja. Ya, aku memang mencintainya. Aku adalah pria lemah yang mudah jatuh cinta," ujar Zael.
Yunita merasa sedih mendengarnya.
Zael menoleh pada Yunita. "Aku tidak mengerti, kenapa dia berpura-pura mencintaiku dan seolah-olah dia bahagia bersamaku. Seharusnya dia bilang dari awal, kalau dia tidak mencintaiku. Aku merasa terbunuh oleh cintaku dan kepura-puraannya."
Mendengar itu, Yunita menunduk. Dia merasa kalimat itu untuk dirinya.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
^^^20.27 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^