
Nalesha dan Zael sedang berada di sebuah mall. Mereka menaiki eskalator. Pandangan Nalesha tertuju pada jendela besar mall di mana di luar sana ada gedung tinggi bertuliskan Gunindra One.
"Kau mau pakaian?" Tanya Zael.
Perhatian Nalesha teralihkan padanya. "Apa boleh?"
"Selagi kita di sini, pilihlah pakaian yang bagus. Kau hanya memiliki sedikit pakaian di rumah," ujar Zael.
"Baiklah."
Mereka pergi mencari pakaian bagus. Selain memilih pakaian untuk dirinya sendiri, Nalesha juga memilihkan pakaian untuk Zael.
"Kau sangat tampan memakai kemeja hitam itu. Sebenarnya kau lebih cocok memakai warna hitam daripada ungu," celetuk Nalesha.
"Memangnya ada apa dengan warna ungu? Apa makna warna ungu bagi bangsa manusia?" Tanya Zael.
Nalesha menjawab, "Tidak ada makna khusus, tapi biasanya pria memakai warna netral seperti hitam, putih, abu-abu, merah, biru, dan hijau army."
"Bagi bangsa drucless, warna ungu itu adalah warna para bangsawan. Hanya para bangsawan tingkat atas yang bisa memakainya," ucap Zael.
"Jika seseorang memakai sweater ungu, berarti dia keturunan bangsawan kalangan atas?" Giliran Nalesha yang bertanya.
__ADS_1
"Sweater ungu yang biasa dipakai bangsa manusia berasal dari warna campuran antara biru dan merah kalau tidak salah, sementara warna ungu para bangsawan drucless berasal dari batu murni. Oleh karena itu, warna ungu di dunia drucless sangat langka," jawab Zael.
"Begitu, kah?" Nalesha tampak berpikir.
Sementara itu di gedung Gumelar Group. Farhan meletakkan dokumen-dokumen pentingnya ke dalam lemari kaca kemudian dia keluar dan memasuki lift menuju ke tempat parkir.
Saat lift terbuka, tiba-tiba dua orang pria bertopeng menyerangnya. Farhan terkejut. Perkelahian tak terelakkan lagi. Farhan melawan mereka sebisanya. Salah satu dari mereka membawa pisau dan menusuk perut Farhan beberapa kali.
Langkah Zael terhenti. Melihat Zael yang berhenti melangkah, Nalesha juga berhenti.
Zael mendengar suara decitan ban mobil. Warna matanya berubah menjadi jingga. Nalesha terkejut melihat itu. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kemudian memasangkan kacamata hitam pada Zael.
Suara ledakkan memekakkan telinga Zael. Deru napas yang terputus-putus dan detak jantung yang melemah.
"Di mana? Di mana?" Tanya Nalesha khawatir.
Zael menatap Nalesha. "Di dekat hutan menuju ke rumahku."
"Hah? Lalu untuk apa kita jauh-jauh ke sini?" Gerutu Nalesha.
"Aku rasa kita harus segera menyelamatkannya. Siapa tahu kita bisa menolongnya dari kematian," ucap Zael.
__ADS_1
Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di belakangnya ada beberapa mobil yang mengejar. Farhan tampak sangat khawatir. Dia melihat jalan menuju ke rumahnya ditutup. Terpaksa dia mencari jalan lain, tapi jalan lain pun ditutup.
Zael dan Nalesha sudah sampai di rumah di tengah hutan. Mata Zael kembali berubah menjadi jingga. Pria itu mencoba mendengar lagi, tapi suara yang tadi dia dengar di mall menghilang saat dirinya dan Nalesha kembali ke rumah hutan. Kedua matanya kembali berubah menjadi coklat.
"Seharusnya aku tahu di mana manusia itu sekarang, tapi aku tidak bisa mendengarnya lagi. Aku tidak bisa menolongnya dalam keadaan hidup," kata Zael.
Nalesha merasa terharu melihat Zael yang menyalahkan dirinya sendiri atas kematian seseorang yang belum pasti. Kecelakaan mobil atau kematian memang sebuah hal yang lumrah terjadi di dunia manusia.
Nalesha tidak pernah berpikir jika itu adalah sesuatu yang perlu dipermasalahkan, selama tidak terlibat. Tapi, Zael berbeda. Selain karena penebusan dosa yang dia lakukan, pria itu tampak tulus dan mengkhawatirkan seseorang yang tidak dia kenali, bahkan bukan dari bangsanya.
"Bukankah kau sudah bilang, tugasmu menolong manusia yang sekarat untuk menuntaskan ketidakadilan dalam hidupnya. Jadi, kau tidak bisa menyelamatkan mereka dari kematian," ucap Nalesha.
Zael memegang kedua lengan Nalesha. "Itu masalahku. Aku selalu merasa bersalah apabila melihat bangsa manusia mati di depanku."
Nalesha menatap manik jingga Zael.
...🍂🍂🍂...
^^^19.30 | 22 April 2021^^^
__ADS_1
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^