
Seorang pria berjas sedang menikmati makan malam sendirian di rumahnya yang mewah. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintunya. Pria itu mengernyit kemudian keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata para polisi. Ada banyak polisi di depan rumahnya. Bahkan BIN dan ARN pun juga datang.
Febrian menunjukkan lencananya. "Kau ditangkap atas kasus pembunuhan Tuan Farhan Mahali di perbatasan kota."
Pria yang tak lain adalah assassin itu menyerang Febrian. Dengan cepat, Febrian melawannya. Terjadi perkelahian. Para polisi masuk dan membantu Febrian melawan assassin itu.
Meskipun dia seorang assassin, pria itu tetap kalah jumlah. Ditambah lagi lawannya beberapa tim kepolisian, BIN, dan ARN. Dan mereka bersenjata. Dia tidak mau mengambil resiko. Dia melarikan diri ke lantai dua. Saat mau kabur lewat jendela, Irfan sudah berdiri di sana dan memukul wajah assassin itu.
Dan perkelahian dengan Irfan pun tak terelakan. Para polisi, ARN, dan BIN membutuhkan 30 menit untuk menangkapnya.
Assassin berkode OG itu dibawa ke kantor polisi. OG diikat dan diborgol ke kursi besi agar tidak bisa kabur atau melawan. Febrian menginterogasinya di ruangan khusus.
"Aku tidak mau menggambil risiko dengan menangkap assassin sendirian. Sekarang jelaskan, siapa yang membayarmu senilai 18 juta untuk membunuh Farhan Gumelar?" Tanya Febrian.
"Assassin dan pelanggan tidak pernah saling memberitahukan identitas masing-masing. Ada target, ada uang, ada pembunuhan, itu kode etik kami," jawab OG.
"Begitu? Tunjukkan nomor rekening pelangganmu," perintah Febrian.
"Kami tidak selalu membayar dengan kartu ATM. Kami punya aplikasi aman yang biasa digunakan untuk transaksi," jawab OG.
__ADS_1
Febrian melipat kedua tangan di depan dada. "Keamanan kalian sangat terjaga, ya. Begini saja, aku akan bernegosiasi denganmu. Hukumanmu akan diringankan dan kau beri petunjuk mengenai pelangganmu."
"Aku tidak tahu."
"Baiklah, aku tidak punya pilihan lain. Kau akan dihukum mati karena kau melakukan pembunuhan yang kau anggap sebagai pekerjaanmu selama ini," ancam Febrian.
"Aku tidak sendirian. Dua orang menusuknya di lift tempat parkir. Jika kau temukan mereka, mungkin kau akan mendapatkan dalangnya," kata OG.
Febrian mengernyit. "Jika pelangganmu menyewa dua orang lain, kenapa mereka menyewa assassin yang bisa melakukannya sendirian?"
OG mendongkak menatap Febrian. "Kau pikir tugas assassin itu hanya membunuh? Aku bertugas membersihkan TKP."
Febrian mencerna ucapan OG. Dia menyadari sesuatu. "Jadi, kau yang menghilangkan barang bukti? Kalau begitu kembalikan barang bukti itu untuk meringankan hukumanmu."
"Aku akan tetap membuka kasus yang menjeratmu. Sebagai seorang assassin andal, kau pasti pernah membunuh sebelumnya. Kasus itu akan menarik dibahas. Siap-siap di pengadilan." Febrian keluar dari ruang investigasi.
"Wah, Pak Febrian keren sekali." Irfan tampak kagum. Dia tos dengan Febrian.
Sementara itu, Yunita dan Zael sedang makan malam bersama di sebuah restoran mahal.
__ADS_1
"Aku senang bisa makan malam denganmu." Zael tersenyum tampan.
Kedua pipi Yunita memerah. "Maaf, tapi kalau boleh jujur... aku sudah menikah."
Zael tampak terkejut. "Benarkah? Tapi, kau tidak terlihat seperti sudah menikah."
Yunita menunduk. "Maafkan aku."
"Aku menyukaimu, Nona Yunita."
Yunita tampak terkejut. Dia menunduk. "Bukan bermaksud memberimu harapan palsu, tapi aku juga menyukaimu."
Zael memiringkan kepalanya. "Kalau begitu... aku harus menyingkirkan suamimu untuk mendapatkanmu."
Yunita terbelalak kemudian mengalihkan pandangannya. "Tidak, maafkan aku. Aku tidak bisa membunuh suamiku sendiri."
Zael tersenyum sinis.
...🍂🍂🍂...
__ADS_1
^^^15.57 | 22 April 2021^^^
^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^