THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
Extra Part I


__ADS_3


Zael sedang membaca buku di ruang keluarga. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki pelataran rumah. Zael mengerutkan keningnya.


Ternyata yang datang adalah Febrian dengan 3 mobil polisi. Mereka memasuki rumah Zael dan menemukan pria itu sedang membaca buku.


"Kami dari kepolisian dan mendapatkan laporan kalau Nona Nalesha Gunindra tinggal di tempat ini. Kami harus melakuan penyelidikan," ucap Irfan sambil menunjukkan surat izin penggeledahan dari atasan.


Zael menoleh pada Febrian.


"Jangan tanya bagaimana caranya aku menemukan rumahmu. Kau keluar masuk hutan-kota dan aku mengikutimu. Kau menyembunyikan Nalesha di sini. Kami harus menyelidiki apakah ini kasus penculikan atau bukan," ucap Febrian.


Sementara Nalesha bersembunyi di balik dinding menguping pembicaraan mereka.


"Gadis itu kabur dari rumahnya. Dia pasti mendapatkan perlakuan buruk dari keluarganya," kata Zael.


"Kami akan menyelidikinya, kau tidak perlu khawatir," kata Febrian, lalu dia memberikan perintah, "Geledah rumahnya dan cari Nalesha."


Zael menatap Febrian. "Kau siapa?"


"Kenapa kau bertanya? Sudah jelas aku polisi," jawab Febrian.


"Maksudku, kau siapa bagi gadis itu? Apa kalian punya hubungan?" Tanya Zael.

__ADS_1


Febrian terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia menatap Zael. "Aku datang kemari karena aku polisi, tidak penting aku siapa baginya."


"Jadi, kau bukan siapa-siapa baginya? Itulah sebabnya kau tidak tahu apa pun tentangnya. Penderitaannya, masalah hidupnya, dan rasa takutnya," ucap Zael.


"Maksudmu apa? Memangnya kau siapa baginya? Kau bukan sepupunya. Kakaknya Nalesha sudah mengkonfirmasi hal tersebut. Apa yang kau lakukan padanya sehingga dia mau tinggal bersamamu?" Febrian balik bertanya.


"Aku adalah tempatnya pulang," jawab Zael.


"Zael! Aku tidak mau pulang! Zael, hentikan mereka," mohon Nalesha saat dirinya ditemukan oleh polisi yang menggeledah.


Febrian melihat pada Nalesha dan Zael bergantian. Irfan menunggu perintah dari Febrian.


"Kak Febrian, jangan lakukan ini kumohon! Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Katakan saja pada Fahreza dan yang lainnya kalau aku sudah mati," tangis Nalesha.


"Nalesha, kau tidak tahu betapa sulitnya kami mencarimu. Kakak-kakakmu sangat stres memikirkan keadaanmu selama menghilang," ucap Febrian.


Nalesha menggeleng. Dia menatap Zael. "Zael, jika aku kembali ke rumah itu, mereka akan membunuhku."


"Itu tidak akan terjadi!" Potong Febrian.


Nalesha meronta. "Zael, aku mohon jangan biarkan mereka membawaku."


"Bawa dia ke mobil. Irfan, borgol pria itu. Kita akan mengintrogasinya," suruh Febrian.

__ADS_1


"Baik, Pak."


Febrian berjalan duluan sambil membawa Nalesha ke mobil. Saat mereka sudah duduk bersebelahan, Febrian berkata, "Kau tidak perlu takut, aku akan menjagamu. Aku juga akan menyelidiki kejahatan yang dilakukan kakakmu."


Nalesha menunduk. "Jika aku mati, jadikan aku manusia sekarat yang kau tolong untuk penebusan dosamu."


Febrian mengernyit. "Maksudmu?"


Nalesha menatap Febrian dengan tajam. "Aku tidak bicara padamu. Aku bicara pada Zael."


Tiba-tiba seseorang membuka pintu mobil, ternyata Zael. Pria itu membawa Nalesha keluar dari mobil tersebut, tapi Febrian meraih tangan Nalesha.


Zael menatap Febrian. Tiba-tiba warna mata Zael berubah menjadi jingga menyala. Kedua mata Febrian terbelalak. Semuanya menjadi silau dan mendadak gelap.


"Lupakan apa yang terjadi saat ini seolah tidak pernah terjadi. Kau kembali menjalani aktivitasmu seperti biasa."


Setelah suara itu menghilang, Febrian membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling. Ternyata dia berada di kantor polisi. Para polisi tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Febrian memegang kepalanya. "Apa yang terjadi? Aku merasa ada sesuatu yang hilang dari ingatanku."


...🍂🍂🍂...


^^^14.32 | 23 April 2021^^^

__ADS_1


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2