THE PENANCE : PEBINOR

THE PENANCE : PEBINOR
TP - 40


__ADS_3

Febrian dan Irfan sedang berada di sebuah cafe.


"Aku rasa kasus kali ini benar-benar tidak masuk akal," ucap Febrian.


Irfan mengangguk. "Aku juga berpikir begitu, Pak."


"Pertama, bagaimana bisa bangunan Haden Corporation sebesar itu menghilang begitu saja. Kedua, Yunita dan Faidan menghilang. Mereka bilang mereka berada di jurang tempat Farhan mengalami kecel, padahal kita juga berada tak jauh dari sana sedang mencari gedung Haden Corporation, seharusnya kita melihat mereka. Dan yang ketiga, apa yang membuat mereka tiba-tiba mengakui kesalahannya, sementara sebelumnya mereka selalu menyangkal. Keempat, Faidan bilang, dia dihantui rasa bersalah seumur hidupnya. Dia menghilang satu hari saja seolah-olah tersesat selama 10 tahun," jelas Febrian.


"Entahlah, Pak. Tapi, seandainya Yunita dan Faidan mengakui dari awal, pasti semuanya akan lebih mudah," kata Irfan.


"Kak Febrian?" Seorang gadis cantik menghampiri mereka.


Febrian dan Irfan menoleh.


"Joanna?" Tampaknya Febrian dan gadis itu saling mengenal.


Joanna melihat Febrian dan Irfan bergantian. "Kalian... kalian berdua?"


Irfan dan Febrian saling pandang. Merasa berada dalam kesalahan pahaman, Irfan mengibaskan tangannya. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Nona. Kami masih normal dan aku juga memiliki pacar."


Joanna tersenyum kaku. "Begitu?"


"Aku ke toilet dulu, Pak." Irfan pergi.

__ADS_1


Joanna duduk di samping Febrian. "Aku pikir kau sangat kehilangan Nalesha dan memilih pria tadi...."


Febrian menatap Joanna. "Joanna, kau benar-benar salah paham."


Joanna terkekeh. "Aku tahu aku salah paham."


Febrian mengangguk kemudian meneguk kopinya.


"Aku sudah mendengarnya dari Kak Harfan," ucap Joanna.


Febrian menoleh pada Joanna.


"Aku tidak tahu apa yang dilakukan Nalesha di belakang kami. Yang jelas pria yang bersamanya bukan sepupu kami. Kami tidak punya sepupu. Namun, kami ada kerabat dekat dan sepupu dari neneknya nenek kami, pria itu bernama Svender Gustiar, tapi tidak mungkin Svender yang bersama Nalesha, karena Svender tidak di Indonesia. Mungkin saja pria itu adalah orang yang menyelamatkan Nalesha di hutan. Kami turut bahagia mendengarnya masih hidup dan baik-baik saja," ucap Joanna.


"Kau tenang saja, aku pasti akan menemukan adikmu," ucap Febrian.


Setelah berbincang dengan Febrian, Joanna memasuki mobilnya. Dia mendengus kesal. "Ah, kenapa bocah itu masih hidup? Apa hutan itu terlalu ramah untuknya? Bukankah hutan itu hutan belantara? Pasti ada harimau atau beruang di sana. Kenapa mereka tidak memakannya?"


Sementara itu, Febrian masih berada di cafe. Irfan kembali dari toilet dan kembali duduk di samping Febrian.


"Dia siapa, Pak?" Tanya Irfan.


"Adiknya Fahreza," jawab Febrian.

__ADS_1


"Fahreza Gunindra? Kudengar keluarga Gunindra adalah keluarga terkaya ke-6 di Indonesia saat ini," ucap Irfan.


"Iya, mereka kerabat dekat keluarga Gustiar," jawab Febrian.


"Tapi, Nona yang barusan tidak terlihat seperti keluarga kaya kebanyakan. Dia banyak tersenyum dan ramah," ujar Irfan.


Febrian menoleh pada Irfan. "Tidak semua orang kaya bersikap buruk, tapi kebanyakan begitu, sih."


Irfan mencerna ucapan Febrian.


"Di mana mereka tinggal?" Gumam Febrian.


** Flashback **


Febrian melihat Zael dan Nalesha pergi meninggalkan restoran. Dia meminta tolong pada pemilik restoran untuk mengecek CCTV.


Dalam rekaman CCTV itu terlihat Zael dan Nalesha memasuki sebuah mobil. Febrian mencatat plat nomornya. Setelah itu, dia mencari nomor plat mobil itu di basis data, tapi tidak ketemu.


"Pria itu pasti memakai plat nomor palsu." Febrian tampak curiga.


** End Flashback **


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


^^^07.15 | 23 April 2021^^^


^^^By Ucu Irna Marhamah ^^^


__ADS_2